Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Tidak ada yang bisa memisahkan kita


__ADS_3

Apartment Elbara


"Lalu di mana Akila?" tanya Elbara kemudian dengan raut wajah yang berubah menjadi khawatir.


Sedangkan Dona yang ditanya seperti itu oleh Elbara, tentu saja bingung dan tidak tahu menahu tentang keberadaan Akila saat ini.


"Apa terjadi sesuatu pak?" tanya Dona dengan penasaran.


"Tidak ada, sebaiknya kamu bawa Ibu masuk ke kamarnya dan lanjutkan masakan saya, ada sesuatu yang harus saya kerjakan secara mendadak." ucap Elbara memberikan perintah sambil melepas celemek yang ia kenakan dan memberikannya kepada Dona.


Dengan langkah bergegas dan tanpa persetujuan dari Dona, Elbara langsung melangkahkan kakinya dengan terburu buru menuju ke luar Apartemennya untuk mencari keberadaan Akila saat ini, sambil melangkahkan kakinya Elbara mulai mengusap layar ponsel miliknya dan mendial nomor Arga di sana.


"Halo tuan" ucap sebuah suara di seberang sana.


"Cari di mana lokasi Akila saat ini, jika perlu retas seluruh rekaman kamera pengawas di jalan." ucap Elbara memberikan perintah.


"Apa anda bisa memberikan detail kejadiannya tuan agar saya bisa bekerja dengan maksimal." ucap Arga kemudian karena jujur saja perintah Elbara kali ini benar benar terasa sangat mendadak sekali.


"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, hanya saja aku merasa Akila sedang tidak baik baik saja sekarang." ucap Elbara dengan nada bicara yang terdengar penuh dengan perasaan yang khawatir


"Baik tuan saya akan segera memberikan laporan perkembangannya kepada anda." ucap Arga setelah mengerti duduk perkaranya.


Elbara kemudian lantas mengakhiri panggilan ponselnya kemudian masuk ke dalam mobil dan memasang sabuk pengamannya. Di usapnya kembali layar ponselnya dan mulai membuka sebuah aplikasi semacam maps. Elbara bersyukur bahwa ia pernah memasang alat pelacak pada ponsel milik Akila kala itu, sehingga Elbara bisa mengetahui keberadaannya saat ini.


Elbara menatap layar ponselnya sambil mengerutkan keningnya dengan bingung karena posisi di mana Akila berada saat ini berada di salah satu taman yang terletak di perbatasan ibu kota.

__ADS_1


"Untuk apa Akila di sana? bukankah tadi Akila mengatakan ingin mencari keberadaan ibunya?" ucap Elbara dengan raut wajah yang bingung.


**


Taman


Setelah Delvano berhasil memasukkan cairan racun itu pada Akila, Akila langsung terjatuh dalam posisi terduduk sambil menahan perih di area lehernya akibat ulah Delvano yang menyuntikkan cairan tersebut dengan kasar.


"Ah.. apa yang kamu lakukan?" ucap Akila sambil meraba bagian lehernya mencari tahu apa yang tengah di perbuat Delvano saat ini.


"Tenang lah Ki ini tidak akan lama lagi, aku pastikan satu jam ke depan kamu dan aku akan pergi ke tempat yang indah tanpa ada satu pun orang yang bisa mengganggu kita." ucap Delvano dengan senyum yang mengembang sambil menunjuk ke arah atas.


"Kau benar benar sudah gila!" pekik Akila sambil mencoba bangkit dari posisinya.


Akila mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan seseorang untuk di mintai tolong, namun sayangnya suasana taman saat itu benar benar sepi dan tidak ada siapapun, membuat Akila frustasi harus meminta tolong kepada siapa di saat saat seperti ini.


Delvano yang melihat gerak gerik Akila nampak mencurigakan lantas langsung tersenyum dengan sinis.


"Apa yang kamu cari Ki? aku sudah menutup tempat ini dan aku rasa tidak akan ada satu pun orang yang lewat sini. Ini adalah tempat pertemuan pertama kita dan akan menjadi tempat terakhir kita menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya." ucap Delvano dengan senyum yang mengembang seakan ia benar benar bahagia jika ia akan mati hari ini.


"Jangan pernah berharap Van!" teriak Akila.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut, Akila langsung berbalik badan dan berlari pergi meninggalkan Delvano, membuat Delvano lantas terkejut dengan aksi Akila yang tiba tiba saja melarikan diri, benar benar di luar rencananya.


Delvano yang melihat Akila melarikan diri, lantas langsung berusaha mengejarnya dengan langkah kaki yang lebar, ia yakin sebentar lagi cairan itu akan bereaksi pada Akila sehingga tidak mungkin jika Akila bisa lari terlalu jauh dari taman ini.

__ADS_1


Akila berlari dan terus berlari mencari pertolongan sambil berusaha memfokuskan pandangannya yang entah mengapa terasa sedikit kabur, Akila berhenti sejenak mencoba untuk memusatkan pandangannya yang kabur sambil menatap ke arah sekitar mencoba mencari tempat sembunyi. Pandangan Akila terhenti pada sebuah pondokan yang mirip rumah goblin di mana biasanya di gunakan untuk spot foto para pengunjung taman tersebut. Dengan langkah yang berputar Akila langsung melangkahkan kakinya ke arah rumah pondokan tersebut dan bersembunyi di balik patung smurf yang berjajar di pinggir pondokan tersebut.


Dengan nafas yang terengah engah Akila merogoh saku roknya dan berusaha mengambil ponsel miliknya. Di tatapnya layar ponsel dengan tatapan yang menelisik karena pandangannya yang kabur dan seakan akan seperti melihat dua bayangan di setiap benda yang ia lihat termasuk tulisan pada layar ponsel miliknya. Dengan berusaha bersusah payah, Akila mulai mendial nomor Elbara di sana, berharap Elbara akan langsung mengangkat panggilan telponnya.


"Halo El... tolong aku El.." ucap Akila dengan nada yang berbisik sambil menatap ke arah belakang berharap Delvano tidak menemukannya.


"Kamu di mana Ki? apa yang terjadi?" ucap Elbara di seberang sana.


"Ceritanya panjang datanglah cepat ke sini El, aku saat ini berada di..." ucap Akila namun mendadak terdengar suara seperti benda jatuh yang lantas mengejutkan Akila ketika mendengarnya berasal dari seberang sana.


Duk....


Suara benda jatuh yang lantas membuat suara Elbara tidak bisa terdengar dengan jelas oleh Akila selain hanya suara gemerasak di seberang sana, yang lantas membuat Akila langsung khawatir karena takut terjadi sesuatu dengan Elbara saat ini.


"El apa yang terjadi... halo... haloo... Elbara!" ucap Akila mencoba untuk memanggil Elbara namun tetap saja tidak ada suara apapun yang terdengar.


Akila benar benar tidak tahu lagi harus berbuat apa, sambil menggigit bibir bagian bawahnya Akila mencoba mencari cara lain dan menghubungi pihak kepolisan. Suara deringan panggilan masuk yang terdengar dengan lama, semakin membuat Akila ketar ketir akan kedatangan Delvano yang mungkin berhasil mengejarnya.


"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat Akila merasa sedikit lebih lega ketika mendengarnya.


"Pak tolong saya, ada yang sedang ingin membunuh saya.." ucap Akila kemudian dengan nada bicara yang terburu buru.


"Tenanglah bu.. katakan secara perlahan agar kami bisa membantu ibu." ucap sebuah suara di seberang sana.


"Saya... saya sedang di kejar seseorang yang hendak berusaha membunuh saya... tolong kirimkan bantuan kemari pak saya mohon..." ucap Akila namun terhenti karena tiba tiba sebuah tangan kokoh menarik ponsel di telinganya.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita Ki!" ucap Delvano dengan senyum yang mengembang sambil melempar ponsel milik Akila ke sembarang arah.


Bersambung


__ADS_2