
Ehem....
Dehem Elbara kembali yang lantas mengejutkan Akila yang tengah fokus membaca beberapa berkas yang berhubungan dengan bangunan yang akan ia beli sedari tadi.
"Ada apa El?" tanya Akila kemudian yang langsung dengan spontan mendongak ke arah Elbara ketika mendengar deheman yang berasal dari Elbara barusan.
"Entahlah, tenggorokan ku rasanya kering sekali dan agak gatal..." ucap Elbara salah tingkah sambil memegangi area lehernya.
"Benarkah? tadi perasaan baik baik saja." ucap Akila sambil bangkit berdiri dan mengusap area dada Elbara dengan perlahan, membuat Elbara semakin di buat salah tingkah akan reaksi dari Akila.
"Duduklah sebentar di sini aku akan membelikan mu air mineral dan sesuatu yang bisa menghangatkan tenggorokan mu, sepertinya ada supermarket tepat di sebelah bangunan ini, tunggulah sebentar ya..." ucap Akila kemudian berlalu pergi begitu saja dengan langkah yang bergegas, membuat Elbara menjadi merasa bersalah karena telah mengerjai Akila.
Setelah kepergian Akila dari sana, Elbara kemudian mulai menatap agen tersebut dengan tatapan yang serius.
"Aku akan membayar penuh segalanya termasuk juga upah mu, namun sebelum itu aku ingin meminta tolong padamu... katakan padanya bahwa kamu memberikan diskon 50 persen atas pembayaran bangunan ini." ucap Elbara dengan raut wajah yang serius menatap ke arah agen tersebut.
Membuat agen tersebut langsung merasa kegirangan, namun masih mencoba untuk tetap tenang agar tidak terlalu terlihat oleh Elbara.
"Lalu bagaimana saya mengatakan alasan tentang diskon tersebut?" tanya agen itu.
"Kamu bisa mengatakan jika Akila adalah pembeli yang beruntung karena pemilik bangunan ini memberikannya diskon 50 persen tepat di hari jadi dirinya. Atau jika tidak katakan saja ini adalah ulang tahun tempat kerja mu atau apalah sejenisnya, terserah yang penting aku terima beres..." ucap Elbara dengan nada yang santai, namun sukses membuat agen tersebut memutar otaknya mencari ide.
"Lalu bagaimana untuk uang pembayaran 50 persen itu?" tanya agen itu kembali.
"Kamu bisa memberikannya padaku dan ini uang tip untuk mu." ucap Elbara sambil menyodorkan satu lembar cek kepada agen tersebut.
Melihat nilai yang fantastis tertulis di dalam cek tersebut, membuat agen itu langsung mengambil cek dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Baik pak saya mengerti." ucapnya kemudian dengan nada yang formal.
**
Setelah menyelesaikan transaksi jual beli bangunan tersebut, keduanya kemudian melangkahkan kakinya keluar dan langsung masuk ke dalam mobil milik Elbara yang terparkir tidak jauh dari lokasi pintu masuk bangunan tersebut.
"Bukankah ini aneh El? mengapa tiba tiba pemilik bangunan tersebut memberikan diskon padaku? ini bukan karena ulah mu kan?" ucap Akila kemudian sambil melirik sekilas ke arah Elbara yang tengah sibuk memasang sabuk pengamannya.
Elbara yang mendengar tuduhan tersebut, langsung terdiam sejenak sambil memejamkan matanya dengan spontan setelah itu baru menatap ke arah Akila sambil tersenyum dengan tipis.
"Bukankah itu bagus? hitung hitung kamu bisa menghemat budget bukan? apa yang kamu risaukan?" ucap Elbara kemudian mencoba dengan nada setenang mungkin sambil memasangkan sabuk pengaman Akila.
"Memang benar sih, hanya saja ini terlalu aneh bagi ku. Awas saja kalau sampai ini ada campur tangan dari mu aku akan..." ucap Akila namun langsung terhenti seketika.
Cup
"Apa yang kau lakukan?" pekik Akila yang terkejut akan serangan secara tiba tiba yang berasal dari Elbara.
Cup
Bukannya menjawab pertanyaan dari Akila, yang ia lakukan malah kembali memberikan kecupan kepada Akila dan menarik nafas secara perlahan. Pandangan keduanya bertemu sepersekian detik dalam tatapan keheningan dan hanyut dalam kejernihan manik mata masing masing.
Hingga tidak berapa lama, Elbara terlihat langsung menarik tengkuk Akila mencoba mengikis jarak di antara keduanya dan langsung m*lu**t bibir Akila tanpa aba aba terlebih dahulu, membuat Akila langsung melotot karena terkejut akan tindakan Elbara yang menciumnya dengan tiba tiba.
"Apakah sekarang aku sudah bisa terbang dengan bebas? apa sangkar ku benar benar telah lepas dan tidak lagi mengurung ku?" ucap Akila bertanya tanya dalam hati dan membiarkan Elbara mengeksplor bagian mulutnya dengan antusias, sedangkan yang Akila lakukan hanya menerima tanpa membalas sama sekali l*m**tan demi l*m**tan yang Elbara berikan dengan sengaja untuk memancing Akila.
****
__ADS_1
Ruangan Delvano
Suasana hening dan juga dingin nampak terasa di ruangan itu, ketika Faris mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Delvano secara perlahan.
Tidak ada yang Faris katakan sejak awal kedatangannya sedari tadi, kecuali hanya diam dan menunduk menunggu Delvano membuka pembicaraan.
Sedangkan Delvano yang melihat Faris diam, lantas mulai bangkit dari kursi kebesarannya sambil membawa beberapa map di tangannya, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Faris saat ini.
Srak...
Suara lemparan beberapa berkas yang langsung berhamburan tepat ketika mengenai area dada milik Faris, membuat Faris yang mendapat perlakuan tersebut lantas terkejut seketika.
"Apa kau bisa menjelaskan maksud dari beberapa laporan tersebut?" ucap Delvano dengan senyum yang sinis ke arah Faris.
Faris yang mendengar teriakan Delvano hanya bisa menatap sekilas ke arah beberapa lembar kertas yang sudah berserakan di lantai. Tanpa perlu Faris menamatkannya secara detail, Faris benar benar tahu berkas apa yang baru saja di lempar oleh Delvano kepadanya.
Melihat bukti bukti sudah terpampang dengan nyata di hadapannya, lantas membuat Faris mau tidak mau harus mengakui perbuatannya. Faris yang tidak ingin hidupnya terancam lantas langsung bersimpuh dan memegang kaki Delvano dengan erat.
"Maafkan saya pak, saya benar benar hanya di suruh di sini... bukan saya pelakunya pak, jika bapak tidak percaya bapak boleh mengecek transaksi keuangan saya pak... saya benar benar hanya di suruh di sini pak." ucap Faris sambil bersimpuh memohon ampun kepada Delvano.
Delvano yang mendengar rengekan dari Faris, lantas tersenyum dengan sinis kemudian langsung menendang kakinya yang sedari tadi dipegang oleh Faris, membuat Faris langsung tersungkur seketika.
Delvano yang melihat Faris tersungkur, lantas langsung mengambil posisi jongkok dan mencengkram dengan erat area dagu milik Faris, membuat Faris sedikit meringis karena merasakan cengkraman dari Delvano yang begitu menyakitkan.
"Bukankah berita di luaran sana sudah menyebar? jika istri ku saja mendapatkan perlakuan seperti itu... apa kau bisa membayangkan nasib mu yang statusnya bukan siapa siapa di hidup ku?" ucap Delvano dengan nada yang penuh penekanan, membuat Faris lantas langsung menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar ucapan Delvano barusan.
"P... a.... k....." ucap Faris dengan nada yang terbata bata sambil menahan rasa sakit akibat cengkraman dari Delvano.
__ADS_1
Bersambung