
Di saat Arga sedang asyik bersantai menikmati waktu istirahatnya, sebuah deringan ponsel miliknya yang menggema memenuhi ruangan kamar mandi lantas membuyarkan segalanya. Dengan gerakan yang malas, Arga lantas mulai meraba ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya tengah malam begini.
"Ah aku lupa kalau istri dari bos ku juga seorang yang tempramental... tidak bisakah mereka membiarkan ku untuk beristirahat sebentar saja?" ucap Arga menggerutu dengan kesal ketika melihat nama Viona tertulis dengan jelas pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Arga tepat setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Di mana kau?" tanya Viona yang lantas membuat Arga mengernyit dengan bingung akan pertanyaan dari istri bosnya itu.
"Saya di rumah nyonya..." jawab Arga ala kadarnya karena memang posisinya yang di rumah dan Elbara juga sama sekali tidak mem-briefing terlebih dahulu sebelumnya.
"Lalu Elbara?" tanya Viona lagi dengan penasaran.
"Tentu saja sudah pulang nyonya." jawab Arga dengan nada yang ragu ragu takut salah bicara jika menyangkut dengan tuanya itu.
"Pulang? pulang kemana? jangan mengada ngada kau Ar!" pekik Viona yang lantas membuat Arga langsung dnegan spontan menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Viona yang terlalu melengking.
"..."
"Halo? halo.... jangan pura pura tuli kau Ar, aku tidak mau tahu sekarang juga kau cari di mana Elbara dan bawa pulang ke sini sekarang!" teriak Viona kemudian lantas mematikan sambungan teleponnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Arga terlebih dahulu.
"Tapi... halo halo nya..." teriak Arga hendak menolak namun sambungan teleponnya keburu di putus oleh Viona barusan.
"Ah sial... mau bersantai saja sulit sekali rasanya...." teriak Arga dengan kesal karena niatnya untuk merileksasikan pikirannya harus pupus dan berganti dengan tugas yang harus segera ia kerjakan sebelum Viona akan kembali marah padanya.
***
__ADS_1
Supermarket
Setelah membeli beberapa bahan makanan yang ia cari, Akila dan juga Elbara saat ini terlihat tengah duduk di bangku taman kompleks perumahan Akila. Diseruputnya secangkir kopi yang Elbara beli tadi di Supermaket sambil menatap kosong ke arah depan.
"Ini salah El... kenapa kau selalu saja menghampiri sesuatu yang salah? bukankah kita sudah pernah membahasnya waktu itu?" ucap Akila tiba tiba yang lantas membuat Elbara menghentikan gerakannya yang tengah meminum kopi miliknya.
"Karena aku mencintaimu..." ucap Elbara dengan lirih kemudian kembali menyeruput kopinya dengan gerakan yang santai.
"El..." panggil Akila namun langsung di potong oleh Elbara ketika mendengar panggilan tersebut.
"Jangan melarangnya Ki... karena perasaan ku tulus padamu, biarkan saja seperti ini..." ucap Elbara sambil memejamkan matanya sekilas kemudian membukanya dan menoleh ke arah Akila.
Akila yang mendengar ucapan cinta kembali dari Elbara, lagi lagi tidak tahu harus berbuat apa? perasaan di hatinya benar benar tengah bergejolak saat ini, membuat Akila sendiri bingung akan perasaannya sendiri terhadap Elbara.
"Sejak kapan El?" tanya Akila kemudian yang lantas menghentikan gerakan Elbara yang hendak meminum kopinya kembali.
"Entahlah aku juga tidak tahu, mungkin ketika aku melihatmu berlari masuk ke dalam mobil ku dengan tiba tiba untuk bersembunyi? atau ketika aku meminta nomer mu di Resto waktu itu? atau mungkin ketika aku sangat tersentuh di saat melihat seorang wanita yang berwajah pucat tanpa sengaja menabrak diriku..." ucap Elbara sambil menerawang jauh mengingat ingat kembali sejak kapan ia mulai menyukai Akila.
"Ah... kamu bahkan tidak mengetahuinya sejak kapan, lalu apakah kamu bisa yakin bahwa yang kamu rasakan adalah cinta bukan rasa kasihan semata?" ucap Akila sambil tersenyum ke arah Elbara yang tengah terdiam seakan mencoba mencerna ucapan dari Akila barusan.
"Apakah yang di katakan Akila barusan adalah benar?" ucap Elbara dalam hati bertanya tanya akan perasaanya terhadap Akila saat ini.
Akila yang tidak mendengar jawaban dari Elbara atas pertanyaannya barusan, lantas tersenyum kemudian bangkit berdiri dan menatap ke arah Elbara dengan lekat.
"Sepertinya kau tengah bimbang menjawab pertanyaan ku barusan ya? tak perlu di paksakan El... aku juga tidak berharap lebih akan hal itu, terima kasih banyak..." ucap Akila sambil tersenyum tulus ke arah Elbara kemudian melepas jaket yang membalutnya perlahan dan memberikannya kepada Elbara.
__ADS_1
Akila melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Elbara di bangku taman itu sendiri, membuat Elbara lantas termenung dengan tatapan yang bingung ke arah Akila yang bergerak semakin jauh pergi meninggalkannya.
"Tidak! ini bukanlah hanya sebuah perasaan simpati semata... aku mencintainya... ya aku mencintai Akila wanita berwajah pucat yang selalu mengusik hati ku..." ucap Elbara dalam hati dengan nada yang yakin bahwa perasaannya adalah cinta.
Elbara yang yakin akan perasaannya, lantas langsung bangkit berdiri dan berlarian mengejar Akila yang berlalu pergi meninggalkan dirinya.
Ketika jarak keduanya semakin dekat Elbara lantas menarik tangan Akila dengan spontan, hingga menghentikan langkah kaki Akila secara tiba tiba.
Akila yang sedikit terkejut akan tindakan Elbara yang tiba tiba menariknya, lantas di buat semakin terkejut ketika Elbara langsung menarik tengkuknya dan kemudian mendaratkan bibir miliknya tepat pada bibir milik Akila.
Akila terdiam membeku di tempatnya ketika menerima ciuman dadi Elbara yang tiba tiba. Kantung kresek yang terdapat di tangannya, lantas langsung terjatuh ke tanah saking terkejutnya akan serangan Elbara yang tiba tiba itu.
Di tengah rasa keterkejutan yang menyerang Akila saat ini, respon tubuh Akila malah menunjukkan yang sebaliknya. Tepat ketika Elbara mulai mel***t bibir miliknya, dengan spontan Akila mulai menutup matanya dan menikmati gerakan Elbara yang mulai menjelajahi area bibirnya.
Elbara yang melihat respon yang di berikan oleh Akila barusan, lantas tersenyum tipis dan melanjutkan aksinya kembali mengeksplor bagian mulut Akila dengan lembut dan hati hati, Elbara benar benar tidak ingin menyakiti Akila dengan permainan liarnya.
Hingga beberapa menit keduanya saling memberi dan menerima, suara bel mobil yang terdengar tak jauh dari tempat keduanya berada, lantas langsung menyadarkan Akila dari kenikmatan sesaat itu.
Dengan gerakan yang spontan Akila lantas mendorong sedikit tubuh Elbara hingga melepaskan tautan keduanya.
"Ada apa Ki?" tanya Elbara dengan tatapan yang bingung ke arah Akila akan sikap penolakan yang tiba tiba dari Akila.
Akila yang mendapat pertanyaan tersebut, lantas langsung mengarahkan rambutnya ke belakang dengan kasar kemudian memejamkan matanya sebentar.
"Ini salah El... ini salah... apa yang telah kita lakukan barusan itu salah..." ucap Akila dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Elbara yang terkejut akan ucapan dari Akila barusan.
__ADS_1
Bersambung