
Jam istirahat berbunyi. Mutia kemudian melangkah ke tempat duduk Lani dan Iva untuk ikut bergabung bersama mereka. Perlahan, Mutia ingin mendekati teman-teman Reihan dan dia ingin mencari simpati dari mereka. "Hai, boleh aku gabung bersama kalian?" tanya Mutia pada kedua gadis itu yang sementara duduk di tempat duduk mereka.
"Boleh, ayo," jawab Lani dengan senyum sambil mengajak Mutia untuk duduk di tempat duduknya.
Baru saja Lani berdiri dari tempat duduknya, Reihan tiba-tiba datang dan menarik tangannya. "Ayo."
"Tapi ... " Tanpa mempedulikan Mutia, Reihan menarik tangan kekasihnya itu dan pergi keluar dari kelas.
Wajah Mutia memerah. Di depan matanya, lelaki yang seharusnya bersamanya, kini sedang bersama gadis lain. Kalau saja dia tidak ingat dengan permintaan ibunya Reihan untuk sabar menghadapi anaknya, maka dengan tegas dia akan memberitahukan perihal pertunangan mereka kepada semua orang.
"Maaf, ya. Reihan tuh, orangnya begitu."
"Oh, ya? Memangnya, mereka pacaran sejak kapan?"
"Untuk pacaran sih, baru dua bulanan, tapi Reihan sudah menyukai Lani sejak Lani pertama kali masuk ke sekolah ini," jelas Iva semangat, tanpa sadar wajah Mutia mulai berubah.
"Hanya karena gadis yang baru dikenalnya beberapa bulan lalu, dia tidak mempedulikanku yang sudah mengenalnya sejak kecil. Sungguh, kamu keterlaluan Reihan," ucap Mutia dalam hati.
"Hei, kenapa melamun?" tanya Iva membuyarkan lamunannya.
"Tidak, kok."
"Maaf, ya, aku pinjam Iva, sebentar." Tiba-tiba Raka muncul dan mengajak Iva keluar kelas.
"Iya, tidak masalah, kok," ucap Mutia ramah walau sebenarnya dalam hatinya dia sangat marah.
"Kamu diacuhkan ya sama mereka?" Tiba-tiba Riana sudah berdiri di sampingnya. Sejurus Mutia memandangi gadis itu.
"Maaf, perkenalkan, aku Riana," katanya sambil mengulurkan tangannya.
"Sepertinya, kamu berusaha ingin gabung sama mereka. Nasehatku, jangan."
"Maksud kamu, apa?"
"Reihan tidak akan mendekati gadis lain karena dia sudah tergila-gila sama gadis itu dan asal tahu saja, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Sama halnya dengan Iva dan Raka, jadi percuma kamu berteman sama mereka karena mereka tidak ada waktu buat kamu."
"Sepertinya, kamu juga tidak suka sama mereka."
"Bukan hanya tidak suka, tapi aku benci sama gadis itu."
"Memangnya kenapa?"
"Nanti aku ceritakan, kita berteman?" katanya sambil mengulurkan tangannya dan Mutia menyambut uluran tangannya itu.
"Rei, aku tidak enak sama Mutia. Sepertinya, dia ingin berteman dengan kita."
"Tidak, usah," jawab Reihan datar.
"Dia itukan sahabat kamu waktu kecil. Karena dia sahabatmu, maka dia juga akan menjadi sahabatku."
"Tidak usah bicarakan dia, kita bicarakan yang lain saja."
Lani tidak melanjutkan kata-katanya. Dia paham dengan sifat Reihan. Karena itu, dia lebih memilih untuk diam.
__ADS_1
"Aku minta maaf, kalau aku agak kasar," ucap Reihan lembut sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Kenapa minta maaf, kamu tidak salah kok."
"Aku hanya tidak suka dia mendekati kamu."
"Aku mengerti. Aku tidak tahu alasan kamu apa, tapi aku akan ikuti keinginanmu itu. Jadi, kamu jangan cemberut lagi," ucap Lani dengan senyum khasnya.
Entah mengapa, Reihan begitu terobsesi dengan gadis yang kini menjadi kekasihnya itu. Dulu, dia tidak suka dengan gadis-gadis yang terobsesi dengan dirinya. Dia tidak suka dengan gadis-gadis yang mengejar-ngejarnya hanya untuk mengungkapkan rasa suka mereka. Namun kini, dia yang mengalami itu semua. Dia begitu tergila-gila hingga tidak ingin melepaskan gadis itu. Andai dia bisa memilih, dia ingin pergi ke ujung dunia dengan gadis yang begitu di cintainya itu.
Sejak saat itu, Mutia tidak lagi mendekati mereka. Kini, dia sudah berteman baik dengan Riana. Semua hal tentang Lani, diketahuinya dari Riana. Setidaknya, kini dia sudah tahu kelemahan Lani, yaitu miskin.
"Jadi, Ibunya Lani itu bekerja di warung makan?" tanya Mutia penasaran.
"Iya, tapi aku heran, kenapa juga Reihan mau sama dia, jelas-jelas mereka itu kan tidak selevel."
"Aku dengar, kamu tinggal di rumah Reihan, apa itu benar?" tanya Riana ingin memastikan.
"Iya, aku dan Reihan sudah berteman sejak kecil. Orang tua kami sudah bersahabat sejak masih muda dulu. Kebetulan orang tuaku lagi ke luar negeri, makanya aku tinggal sementara di rumah Reihan," jelasnya panjang lebar.
"Oh, jadi begitu."
"Aku lihat, kamu kayaknya tidak suka sama Lani, apa benar?" tanya Mutia ingin memastikan.
Riana terdiam, raut wajahnya tiba-tiba berubah.
"Maaf, kalau pertanyaanku membuatmu kesal."
"Aku memang tidak suka sama dia, bahkan aku sangat benci sama dia," ucapnya dengan raut wajah penuh emosi.
"Dia sudah merebut orang yang aku suka," ucap Riana datar.
"Jadi, kamu suka sama Reihan?" tanya Mutia penasaran.
Sejenak, terlintas senyum sinis di sudut bibir Riana. "Sudah tidak lagi, tapi aku masih benci sama gadis itu."
"Oh, jadi begitu," ucap Mutia dalam hati.
Setelah mengetahui semua perihal tentang Lani, Mutia mulai merencanakan sesuatu. Dia ingin mendekati teman-teman Reihan dan berusaha untuk berteman dengan mereka. "Hai, boleh aku gabung?" tanya Mutia mencoba mendekati Ian, Rifal dan Rendi yang sedang duduk di kantin.
"Eh, Mutia. Boleh kok, ayo duduk," sambut Rifal dengan senyum.
"Loh, mana Reihan sama Raka? Kok, cuma kalian bertiga saja?" tanya Mutia pura-pura bertanya.
"Tidak usah ditanya, mereka berdua lagi asyik pacaran sama pacar-pacar mereka," jawab Rendi.
"Oh, jadi begitu, ya."
"Bagaimana dengan sekolah kita? Kamu betah, kan?"
"Yah, lumayanlah. Baru masuk saja, aku sudah punya teman dan juga kalian, eh, maaf, maksudku..."
"Tidak apa-apa, kok. Teman Reihan teman kita juga. Iya, kan, teman-teman?" Sontak saja dengan kompak mereka mengiyakan.
__ADS_1
Dalam hatinya, Mutia bersorak kegirangan. Satu tujuannya sudah tercapai dan kini dia siap untuk memulai tujuan yang selanjutnya.
"Bagaimana hari pertama sekolah kamu?" tanya ibunya Reihan saat mereka sedang makan siang.
"Lancar kok, Tante. Aku sudah punya teman dan teman-temannya Reihan juga berteman sama aku," jawabnya dengan senyum.
"Baguslah kalau begitu."
"Rei, kenapa kamu diam saja?" lanjutnya sambil melihat anaknya yang sedang makan.
"Rei, Mama lagi bicara sama kamu."
"Sudahlah, Tante."
Belum selesai Reihan menghabiskan makanannya, dia langsung berdiri dan pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian, dia sudah keluar sambil memegang helm di tangannya dan pergi berlalu dengan motornya.
"Kamu mau kemana, Rei!!" panggil ibunya.
"Tuh anak, kenapa berubah kayak begitu. Sebelumnya, dia tidak pernah membantah kata-kataku," ucap ibunya lirih.
"Sudahlah, Tante. Untuk sementara, Reihan jangan dikekang, nanti dia tambah membangkang. Mutia tidak apa-apa kok, Tante," bujuk Mutia.
"Maafkan Reihan ya, Nak."
"Iya, Tante. Mutia maafkan, kok."
*****
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Raka ketika melihat Reihan sudah berdiri di depan pintu rumahnya.
Tanpa menjawab, Reihan langsung saja masuk dan berjalan menuju salah satu kamar yang ternyata adalah kamarnya Raka. Dengan langkah yang agak malas, Reihan lalu menuju ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk dan menutup kepalanya dengan bantal.
"Kamu kenapa?" Yang ditanya hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Ada apa? Apa kamu punya masalah?" tanya Raka sambil duduk di salah satu kursi di sudut kamarnya.
Reihan masih tetap diam seribu bahasa. Pikirannya melayang entah kemana. Dia ingin berterus terang pada Raka, tapi dia takut mendengar tanggapan dari sahabatnya itu.
Melihat sikap Reihan, Raka tak lagi bertanya, seakan dia paham kalau sahabatnya itu sedang mengalami masalah.
Reihan kembali ke rumahnya setelah hari hampir malam. Tanpa basa basi, dia langsung saja naik ke kamarnya dan mengunci diri di dalam kamar. Melihat sikap Reihan, lama kelamaan ibunya jadi naik darah.
"Rei, buka pintunya, cepat!!" teriak ibunya sambil mengetuk pintu kamarnya. Setelah hampir lima menit pintu kamarnya diketuk paksa, akhirnya Reihan membuka pintu kamarnya.
"Kamu kenapa bertingkah seperti ini? Kamu sudah mulai membangkang sama Mama, iya?" tanya ibunya dengan marah.
Reihan hanya terdiam. Dia tidak ingin membantah perkataan ibunya. Karena mendengar keributan, Mutia dan ayahnya keluar menuju ke sumber keributan dan mendapati ibunya yang sedang menangis.
"Kamu kenapa menangis? Rei, kamu buat apa sampai Mama kamu menangis begini?" tanya Ayahnya tak kalah emosi.
"Reihan tidak ingin dijodohkan dengan Mutia. Reihan ini sudah besar, Pa. Reihan ingin menentukan jalan hidup Reihan sendiri."
"Tapi ini semua kan bisa dibicarakan baik-baik. Lagi pula, apa kamu pikir gadis itu akan selamanya bersama kamu? Jalan hidup kamu masih panjang, bisa saja nanti kalian akan berpisah. Jangan hanya karena gadis itu, kamu tega menyakiti orang tua kamu."
__ADS_1
"Lantas Papa pikir, apa keputusan Papa dan Mama tidak menyakiti perasaan Reihan? Selama ini Reihan tidak pernah membantah apapun perkataan Papa sama Mama, tapi kali ini Reihan tidak bisa," ucapanya lantang.
Mendengar perkataan Reihan, sontak saja ibunya menjadi syok. Perlahan, kepalanya mulai terasa pusing dan pandangan mulai terasa kabur dan akhirnya tubuhnya ambruk ke lantai.