Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 6


__ADS_3

Kedua gadis itu berjalan menyusuri kompleks yang mayoritas penghuninya adalah orang-orang menengah ke bawah. "Ternyata rumah kita searah. Walau tidak terlalu dekat, tapi aku senang karena aku sudah punya teman pulang sekolah," ucap gadis dengan rambut sebahu dengan senyum manisnya.


Afivah Afra, biasa disapa Iva. Gadis cantik dengan rambut sebahu serta kulitnya yang putih. Iva bukan hanya cantik, tapi dia sosok yang setia kawan.


Setelah menyusuri beberapa rumah, Iva kemudian berhenti di salah satu rumah yang terbilang cukup mewah. Rumah yang berdiri di depan jalan dengan pagar besi yang lumayan tinggi, menandakan bahwa keluarganya adalah keluarga yang mampu. "Ini rumahku, ayo masuk," ucapnya sambil menarik tangan sahabat barunya itu untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Aku minta maaf, aku harus segera pulang. Lain kali pasti aku akan mampir. Tidak apa-apa, kan?" ucap Lani lembut agar tak menyinggung perasaan sahabatnya itu.


"Ya, sudah. Tidak apa-apa, kok. Kamu hati-hati di jalan."


"Baiklah, aku jalan dulu," ucapnya sambil melanjutkan perjalanan.


Setelah melewati beberapa rumah, akhirnya Lani sampai di depan sebuah rumah yang terbilang sangat sederhana. Rumah yang besarnya hanya 6×7 m2 itu tampak terlihat rapi dengan pot bunga yang berjejer di salah satu sudut teras yang tidak terlalu luas.


Lani kemudian masuk ke dalam rumah itu. Walaupun rumah itu sangat sederhana, tapi rumah itu terlihat sangat bersih dan rapi. Di atas meja hias yang ada di ruang tamu, terpampang sebuah foto. Foto seorang gadis yang sedang tersenyum sambil memeluk seorang wanita yang berumur sekitar empat puluhan yang masih terlihat cantik.


Setelah berganti pakaian, Lani kemudian menuju dapur dan menggoreng telur untuk makan siangnya. Dengan nasi yang sudah dimasaknya sejak pagi, Lani kemudian menyantap makan siang ala kadarnya.


Lani, gadis cantik yang hidup sederhana, bahkan jauh dari kata mampu. Ibunya hanya bekerja di salah satu warung makan sekedar untuk menopang kehidupan mereka dan juga untuk biaya sekolahnya.


Orang tuanya sudah bercerai sejak dia berumur satu tahun, karena keluarga ayahnya tidak menyetujui ayahnya menikah dengan ibunya. Dan sampai kini, dia tidak tahu keberadaan ayahnya. Ayahnya pun tidak pernah berusaha untuk mencarinya atau sekadar menanyakan kabarnya. Hanya ibunya yang bekerja membanting tulang demi sang buah hati yang sangat disayanginya itu.


Selesai makan, Lani kemudian masuk ke kamar dan tanpa istirahat, dia kemudian mengerjakan tugas dari sekolah.


Lani adalah gadis yang rajin dan penurut. Dia selalu membersihkan rumahnya agar saat ibunya pulang kerja nanti ibunya tidak perlu mengurus rumah karena dia tahu, ibunya pasti lelah dengan pekerjaanya di warung.


Lani selalu berusaha membuat ibunya bangga dengan prestasi di sekolahnya. Lani sangat berprestasi di sekolah lamanya, tapi dia harus pindah karena harus ikut bersama ibunya.


Mereka tinggal di rumah itu baru sebulan yang lalu. Rumah itu mereka beli dengan uang simpanan ibunya yang dikumpulkan hampir setengah usianya. Karena itu, ibunya kini bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan mereka.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukan hampir jam delapan malam ketika terdengar suara seorang wanita yang mengucapkan salam dari luar. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsallam," jawab Lani sambil menghampiri wanita itu yang tak lain adalah ibunya sambil mencium tangannya.


"Anak Mama pasti sudah lapar. Ayo, kita makan," ucap ibunya sambil meletakkan sebuah bungkusan di atas meja makan.


"Lani belum lapar. Mama pasti capek, Mama istirahat saja dulu."


Tak lama kemudian, dia datang membawa segelas teh manis hangat dan ditaruh di atas meja. "Mama istirahat saja dulu. Setelah minum teh, baru kita makan," ucapnya sambil menyiapkan piring dan mengeluarkan lauk pauk yang tadi dibawa pulang ibunya.


"Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Ibunya setelah meneguk teh hangat tadi.


"Begitulah, Ma. Aku sekarang sudah punya teman dan rumahnya juga dekat dari sini. Jadi, aku bisa pergi dan pulang sekolah bareng dia, kebetulan dia juga teman satu kelas bahkan kami duduk bersebelahan," jelasnya panjang lebar.


Mendengar penjelasan anaknya cukup membuat wanita itu berlega hati karena dia takut, kalau anak gadisnya itu mendapat kesulitan di sekolah barunya.


"Syukurlah. Ayo kita makan, kamu pasti sudah lapar," ucap ibunya sambil menyendok nasi ke piring dan diberikan pada anak kesayangannya itu.


Tak hanya itu, Lani juga sangat giat belajar karena dia ingin mendapatkan beasiswa agar beban ibunya bisa sedikit berkurang, tapi sampai kini keinginannya itu belum bisa terwujud.


Seperti biasa, setiap pagi sebelum ke sekolah, Lani sudah bangun pagi-pagi dan memasak nasi untuk mereka sarapan dengan sisa lauk semalam. Lani tidak pernah mengeluh dengan takdir yang sudah ditetapkan untuknya. Bahkan, dia sangat bersyukur mendapatkan seorang ibu yang sangat menyayanginya. Dan itu, sudah cukup baginya.


"Ma, aku ke sekolah dulu," ucapnya sambil mencium tangan ibunya.


"Hati-hati ya, Nak," jawab ibunya sambil membelai lembut rambut anak kesayangannya itu.


Lani kemudian pergi dan tak sengaja bertemu Iva yang sudah menunggu di depan jalan dekat rumahnya.


"Kenapa masih di sini?" tanya Lani heran.

__ADS_1


"Ya, karena aku sedang menunggumu. Aku bosan tiap hari ke sekolah sendiri," jawabnya sambil menggandeng tangan sahabat barunya itu. Lani hanya tersenyum melihat tingkah Iva yang terlihat manja.


Di depan gerbang sekolah, anak-anak sudah mulai berdatangan. Tak terkecuali, lima pangeran tampan yang sedang memarkirkan motornya. Seperti biasa, mereka menjadi tontonan gratis cewek-cewek di tempat itu.


Melihat Lani dan Iva yang juga baru datang membuat Raka dan Ian berjalan mendekati mereka. "Wah, sepertinya kita sudah janjian. Kok, bisa kompak datang bersamaan begini?" canda Ian yang berjalan di sisi Lani.


"Bukankah kalian bertiga satu kelas?" Tiba-tiba Ian bertanya dan menunjuk Raka.


"Sudah tahu malah tanya. Apa kamu sengaja ya, biar ada alasan biar bisa main ke kelasku?" tanya Raka kesal.


"Sudah tahu kok malah tanya, ya iyalah. Mereka berdua saja tidak keberatan kalau aku datang ke kelas kalian, iya kan?" tanya Ian pada kedua gadis itu dan membuat mereka berdua tersenyum.


"Tuh lihat, mereka saja tidak keberatan," ucap Ian penuh kemenangan.


Setibanya di pintu kelas, Ian ikut masuk seakan mengantar kedua gadis itu dan mengundang perhatian seluruh mata di dalam kelas tak terkecuali Riana.


"Cewek itu, baru pindah beberapa hari saja sudah sok akrab. Apa sih kelebihan dia sampai mereka memperlakukan dia seperti itu? Apa mata mereka semua sudah buta?" gerutu Riana dalam hati yang membuat wajahnya merah menahan marah.


"Kenapa juga kalian masuk ke kelas ini? Sana, balik ke kelas kalian," usir Reihan sambil meletakkan tasnya di atas meja.


"Iya, iya. Kita balik kok," jawab Ian sambil berjalan mundur dan melemparkan senyum pada kedua gadis itu.


Melihat senyumnya dibalas kedua gadis itu membuat Ian melompat kegirangan. Walaupun sudah di luar kelas, dia masih sempat melihat dari balik jendela sambil melempar senyum dan hampir saja dia menabrak orang di depannya hingga membuat Reihan menggelengkan kepala.


Kedua gadis itu hanya tersenyum melihat tingkah Ian yang menurut mereka sangat lucu. Dan senyuman Lani telah menarik perhatian seseorang yang sedari tadi mencuri pandang padanya.


"Gadis itu. Kenapa hatiku jadi deg-degan begini?" ucap Reihan sambil mengusap dadanya dan menghela nafas panjang.


"Kamu kenapa?" tanya Raka ketika melihat Reihan dengan sikap yang tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa? Aku tidak apa-apa. Menurut kamu, aku memang kenapa?" tanya Reihan yang membuat Raka semakin bingung dengan sikapnya.


__ADS_2