
"Apa yang tengah kau lakukan dengan raut wajah seperti itu di meja makan El?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Elbara langsung mengernyit ketika mendengar sebuah suara yang tidak asing di pendengarannya.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik Apartmentnya, terdengar semakin mendekat ke arah meja makan yang lantas membuat Elbara semakin penasaran karena samar samar Elbara seperti mendengar suara tidak asing di pendengarannya barusan, namun Elbara tidak yakin jika suara yang ia dengar barusan adalah Akila.
Sebuah senyuman yang mengembang lantas terlihat menghiasi wajah tampan Elbara, ketika melihat Akila melangkahkan kakinya mendekat di ikuti dengan Dona di belakangnya sambil membawa dua kresek belanjaan besar di tangannya.
"Kamu sungguh benar benar keluar untuk berbelanja Ki?" tanya Elbara dengan raut wajah terkejut yang lantas membuat Akila langsung mengernyit ketika pertanyaan itu keluar dari mulut Elbara barusan.
"Memang kamu pikir aku ke mana?" tanya Akila kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Elbara yang mendengar pertanyaan dari Akila barusan, lantas langsung menjadi salah tingkah dan bingung hendak mengatakan apa kepada Akila untuk menjawab pertanyaannya, hingga kemudian ketika Elbara yang melihat Dona melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk meletakkan barang belanjaan Akila, Elbara kemudian lantas mengikuti langkah kaki Dona dan hendak membantu Dona menyusun barang belanjaan tersebut, seakan mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya bersama dengan Akila.
Akila yang melihat Elbara hendak melangkahkan kakinya pergi, lantas langsung menarik tangan Elbara sehingga menghentikan langkah kaki laki laki itu. Akila yang melihat raut wajah sendu Elbara tadi sebenarnya sudah curiga bahwa Elbara mengetahui sesuatu, namun belum sempat Akila bertanya akan hal yang membuatnya murung, Elbara malah lebih dulu keceplosan yang lantas langsung membuat Akila yakin bahwa sebenarnya Elbara mengetahui tentang tujuannya ijin keluar tadi.
"Kamu pasti mengetahui sesuatu bukan..." ucap Akila sengaja dengan nada yang memanjang.
Membuat Elbara yang mendengar pertanyaan Akila barusan, pada akhirnya tidak lagi bisa berkelit dan mulai menganggukkan kepalanya dengan perlahan seakan mengiyakan pertanyaan Akila barusan. Sedangkan Akila yang melihat anggukan kepala dari Elbara, langsung terdiam sejenak. Di dalam benaknya Akila mulai bertanya tanya akan mengapa Elbara sama sekali tidak mencegah kepergiannya jika memang Elbara sudah mengetahui segalanya.
__ADS_1
Kediaman Akila yang tepat ketika Elbara menganggukkan kepalanya, membuat Elbara hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian menatap ke arah manik mata milik Akila dalam dalam.
"Mengapa kamu tidak mencegah ku El?" ucap Akila pada akhirnya karena penasaran akan alasan Elbara yang sama sekali tidak melarang Akila pergi dan membantu Delvano.
Elbara yang mendapat pertanyaan tersebut lantas langsung terdiam, Elbara sendiri pun tidak terlalu yakin akan alasan apa yang mendasari dirinya membiarkan Akila pergi begitu saja, walau dalam hati Elbara sebenarnya sama sekali tidak rela jika Akila harus kembali bertemu dengan Delvano.
"Mungkin sebuah kepercayaan... aku percaya padamu Ki dan sampai kapan pun aku akan tetap percaya kepadamu." ucap Elbara sambil mengelus pipi Akila dengan lembut.
Akila yang mendengar ucapan Elbara barusan tentu saja langsung merasa berbunga, baru kali ini ia bertemu dengan sosok laki laki yang memberikannya kepercayaan sepenuhnya dan tentu saja tidak pernah bermain tangan sama sekali walau semarah apapun Elbara kepadanya. Akila memeluk erat tubuh Elbara dan tenggelam ke dalam pelukan laki laki yang kini namanya menjadi satu satunya yang tercatat jelas di hatinya.
"Terima kasih banyak El... terima kasih banyak kamu sudah mempercayai ku..." ucap Akila dengan senyum yang mengembang walau tertutup dengan pelukan Elbara.
Sedangkan Elbara yang mendengar ucapan terima kasih Akila, lantas tersenyum dengan manis kemudian mengecup puncak rambut Akila dan mengeratkan pelukannya, membawa Akila semakin masuk ke dalam hangatnya dekapannya. Beberapa detik saling berpelukan dan berbagi rasa, Elbara lantas sedikit membungkukkan tubuhnya dan berhenti tepat di telinga Akila hendak membisikkan sesuatu kepada Akila.
"Mengapa kamu tidak makan saja El? lalu bagaimana dengan mama?" tanya Akila kemudian setelah mendengar ucapan Elbara barusan.
Elbara yang di tanya oleh Akila tentu saja dengan spontan langsung melepaskan pelukannya dan menatap Akila sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
"Astaga aku sampai melupakan bu Lina karena terlalu fokus menunggu mu!" ucap Elbara kemudian yang langsung membuat Akila menatap tak percaya ke arah Elbara saat ini.
__ADS_1
"Dasar Elbara...... kalau begitu tunggu apa lagi? mama dan juga suster Dona pasti sudah lapar sedari tadi!" ucap Akila kemudian sambil menarik tangan Elbara agar segera bergerak dan menuju ke arah meja makan dengan langkah yang terburu buru.
***
Kediaman Delvano
Bruk....
Suara pintu yang di buka secara keras terdengar nyaring dan menggema memenuhi seluruh ruangan yang dalam kondisi kosong tanpa ada seseorang pun di dalamnya. Suasana yang begitu gelap membuat delvano langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya, setelah sebelumnya membanting pintunya dengan kasar karena kesal akan ketidakdatangan Akila ke area taman kompleks rumahnya tadi.
"Benar benar sialan!" teriak Delvano sambil menendang meja ruang tamunya dengan kesal.
Entah mengapa Delvano merasa sangat marah walau sebenarnya hal ini bukanlah kesalahan Akila karena tidak datang ke taman komplek tadi. Akila bahkan tidak pernah menjanjikan apapun termasuk kedatangannya ataupun tidak, ketika mengetahui Delvano tengah mabuk berat saat itu.
Delvano yang sudah gelap mata lantas mulai menghancurkan satu persatu perabot rumahnya, setelah kepergian Akila dari hidupnya tidak ada lagi kepuasan yang biasanya Delvano lakukan kepada Akila, sehingga membuatnya malah melampiaskan kekesalannya kepada barang barang miliknya. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak barang yang pecah atau bahkan hancur akibat amukan dari Delvano semenjak kepergian Akila hingga saat ini.
Delvano yang melihat sebuah meja terpajang jelas di hadapannya, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja itu. Dengan kesetanan Delvano langsung dengan spontan mengangkat meja tersebut dan bersiap untuk membantingnya. Hanya saja sebuah ucapan ibunya yang mengatakan untuk lebih bersabar dan menunjukkan ketulusannya jika Delvano menginginkan Akila kembali, lantas langsung menghentikan gerakan Delvano yang semula hendak membanting meja tersebut.
Delvano yang teringat ucapan Sarah kemudian mengembalikan meja itu dengan kasar dan langsung menendangnya.
__ADS_1
"Ketulusan... ketulusan... persetan dengan ketulusan..." ucap Delvano sambil menjambak rambutnya dengan kasar saking kesalnya dengan kenyataan yang sama sekali tidak ingin Delvano minta untuk menyapa hidupnya sama sekali.
Bersambung