Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Rekan bisnis?


__ADS_3

SB Company


Tok tok tok


Suara ketukan dari arah luar mulai terdengar menggema di ruangan Delvano, membuatnya lantas langsung menghentikan gerakannya yang tengah asyik mempelajari sebuah dokumen.


"Masuk" ucap Delvano kemudian.


Tidak berapa lama setelah mengatakan hal tersebut, perlahan lahan pintu ruangan Delvano mulai terbuka dan menampilkan sosok Rani asistennya yang tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah meja kerja Delvano.


"Saatnya kita berangkat untuk pertemuan klien di salah satu Resto yang terletak tidak jauh dari perusahaan pak." ucap Rani mengingatkan.


"Apa kamu sudah membawa semua berkasnya?" tanya Delvano kemudian sambil bangkit berdiri dan membenarkan setelan jas kerja miliknya.


"Semua sudah siap pak" ucap Rani dengan nada yang yakin.


"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi." ucap Delvano sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya di ikuti oleh Rani yang senantiasa mengikuti langkah kaki Delvano sedari tadi.


**


Resto


"Saya berharap kerja sama kita terjalin dengan baik dan bisa saling menguntungkan, anda tidak perlu khawatir akan berbagai rumor di luaran sana karena kita belum tahu jika belum membuktikannya bukan? jadi saya harap anda bisa memikirkannya kembali sebelum mengambil sebuah keputusan." ucap Delvano dengan wajah yang datar.


"Wah tidak saya sangka ternyata public speaking seorang mantan pembawa berita tidak main main rupanya, saya bahkan langsung bisa tertarik ketika mendengar gagasan ide yang keluar dalam kerja sama kita kali ini." ucap pria itu sambil tersenyum dengan lebar.


"Terima kasih banyak pak, saya anggap itu adalah sebuah pujian bagi saya." ucap Delvano sambil ikut tersenyum.


Delvano yang semula santai dengan sesekali di selingi senyum, perlahan lahan raut wajahnya berubah ketika tanpa sengaja melihat dari arah pintu masuk Akila dan juga Elbara mulai melangkahkan kakinya dan mengambil duduk di dekat jendela.


Manik mata Delvano kini bahkan sudah menatap tajam ke arah Akila semenjak kedatangannya di sana.


"Tidak bisakah mereka tidak muncul di saat saat seperti ini?" ucap Delvano dalam hati sambil terus memperhatikan setiap gerak gerik Akila dan juga Elbara.

__ADS_1


"Saya sangat senang akan kerja sama kita kali ini, saya berharap apa yang tertulis di sini bukanlah hanya sebuah omong kosong belakang." ucap pria itu lagi namun Delvano yang memang sedang fokus menatap ke arah Akila, jadi Delvano sama sekali tidak mendengar ucapan dari klien barusan.


"..."


Rani yang tidak mendengar jawaban apapun dari Delvano, lantas langsung menyikut lengat Delvano, membuat Delvano lantas langsung terhenyak ketika menerima sikutan tersebut.


"Ah maaf saya sedang tidak fokus, sampai mana tadi kita?" ucap Delvano kemudian.


"Santai saja pak, saya hanya berharap semua yang tertulis di sini akan terwujud dalam kerja nyata, bukan hanya sekedar janji ataupun iming iming semata." ucap pria tersebut mengulang kembali ucapannya.


"Anda tidak perlu khawatir akan hal itu." ucap Delvano dengan senyum yang mengembang.


"Baik, saya percaya akan hal itu." ucap pria itu kemudian bangkit berdiri dan menjabat tangan Delvano.


Setelah mendapat kesepakatan antara keduanya, pria tersebut kemudian berpamitan untuk kembali ke perusahaan. Sementara Delvano hanya terduduk diam di sana dan terus melihat ke arah meja di mana Akila dan juga Elbara berada saat ini.


"Apa bapak masih akan terus berdiam diri di sini?" tanya Rani ketika tidak melihat Delvano bergerak sama sekali dari tempatnya.


"Aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku Ran..." ucap Delvano kemudian yang lantas membuat Rani menatap dengan bingung ke arah Delvano.


"Tentang apa ini pak?" tanya Rani dengan raut wajah yang penasaran.


Delvano yang mendengar pertanyaan dari Rani, kemudian terlihat mulai mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Rani.


***


Sementara itu Akila yang mendengar suara Simfoni milik Hector Belioz tiba tiba di putar di Resto tersebut, lantas mulai membuat Akila berkeringat dingin dan merasa ketakutan.


"Tenang Ki... ini Resto klasik tentu saja mereka akan memutar musik klasik juga bukan?" ucap Akila dalam hati mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Sedangkan Elbara yang sedari tadi tengah asyik bercengkrama dengan Fahmi, lantas sedikit merasa aneh ketika melihat wajah pucat di sertai dengan keringat dingin Akila.


"Apakah ada sesuatu Ki?" tanya Elbara kemudian yang lantas membuat Fahmi ikut menoleh ke arah Akila.

__ADS_1


"Sepertinya kekasih mu sedang tidak enak badan." ucap Fahmi kemudian.


"Tidak perlu khawatir, kalian lanjut saja aku akan ke toilet sebentar." ucap Akila berpamitan pada keduanya.


"Apa kamu yakin Ki? kita bisa pulang jika kamu kurang enak badan..." ucap Elbara lagi menawarkan kepada Akila, namun Akila langsung menggeleng secara perlahan.


"Tidak perlu, kamu lanjut saja aku tidak akan lama kok." ucap Akila lagi mencoba untuk meyakinkan Elbara bahwa ia benar benar baik baik saja.


"Baiklah, jika ada apa apa hubungi aku ya..." ucap Elbara yang langsung di balas Akila dengan anggukan kepala tanda mengerti.


Setelah berpamitan dengan Elbara, Akila kemudian langsung bangkit dari tempat duduknya dan mulai melangkahkan kakinya hendak pergi ke kamar mandi untuk menenangkan dirinya barang sejenak.


"Sepertinya kau sangat menyukainya ya? aku sama sekali tidak melihat dirimu yang seperti sekarang ketika bersama dengan Viona waktu itu." ucap Fahmi kemudian setelah kepergian Akila dari sana.


"Dia adalah cinta pertama ku, sedangkan untuk mantan istri ku... aku pernah sekali salah menilai orang dan aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya." ucap Elbara kemudian dengan senyum tipis terlukis di wajahnya.


"Baiklah, dari kata katamu saja aku sudah mengerti tidak perlu di jelaskan dengan rinci karena apa yang menurut mu terbaik itu akan selalu menjadi yang terbaik jika kau percaya akan hal tersebut." ucap Fahmi dengan senyum yang mengembang.


"Jika kata katamu sudah keluar seperti itu, sepertinya kita sudahi saja drama bapak bapaka.an dan rekan bisnis kali ini, karena aku sudah merasa geli memanggil mu pak Fahmi sedari tadi." ucap Elbara kemudian yang langsung membuat gelak tawa keduanya pecah.


Ya, sebenarnya Fahmi dan Elbara adalah sahabat lama yang baru bertemu beberapa bulan belakangan ini. Mendengar perceraian temannya itu, membuat Fahmi menjadi penasaran wanita seperti apa yang berhasil mengubah cara berpikir sahabatnya tersebut.


Ada raut wajah yang lain dalam diri Elbara ketika keduanya bertemu kembali seakan akan Elbara yang dahulu kini telah kembali lagi, sehingga pada akhirnya keduanya mengatur waktu yang tepat untuk saling bertemu dan berpura pura sebagai rekan bisnis untuk melihat reaksi dari Akila.


***


Sementara itu Delvano yang melihat kepergian Akila menuju ke arah kamar mandi, lantas langsung bangkit dari tempat duduknya hendak menyusul Akila ke kamar mandi.


"Kau kembalilah ke perusahaan terlebih dahulu, ada urusan yang harus aku selesaikan saat ini." ucap Delvano kemudian berlalu pergi dari sana.


"Tapi pak anda..." ucap Rani hendak menolak namun Delvano sudah keburu pergi dari sana.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2