Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Ketika Cinta Harus Memilih - Ke Rumah Ibu Nila dan Pak Anang


__ADS_3

Selama perjalanan mereka pun berbincang bincang hingga hampir satu jam perjalanan mereka pun sudah sampai dan segera turun. Di sana kehadiran mereka sangat di sambut.


"Masya Allah bu April, pak Hery Anabel , Ferdi, Bulan, Bintang dan David juga Afnan dan..anak nya siapa bu ini?" ucap bu Nila.


"Ini anak angkat kami bu." ucap April.


"Masya Allah, yaudah yuk masuk." ucap bu Nila.


Dan mereka pun masuk , berbincang ringan.


"Mau di buatkan minum apa?" ucap bu Nila.


"Gak usah repot repot bu, gak papa. Kami hanya ingin silaturahim saja." ucap April.


"Gak papa.gak repot, yaudah pak buatkan minum gih." ucap bu Nila kepada pak Anang suaminya.


"Gih bu, bapak ke belakang dulu ya.pamit." ucap pak Anang.


"Iya pak." ucap mereka bersamaan.


Setelah beberapa menit minuman teh jadi dan di hidangkan oleh pak Anang.


"Terimakasih pak, maaf merepotkan." ucap mereka.


"Gak kok , gak repot." ucap pak Anang.


"Ini kami bawa oleh oleh masakan, mungkin gak seberapa tapi semoga bisa di makan dan suka." ucap April.


"Makasih loh Bu, jangan repot repot toh bu. Masak sendiri bu? " tanya bu Nila.


"Iya masak sendiri tapi yang masak bukan saya, anak anak saya yang selama ini di luar negeri untuk pertama kalinya masak masakan Indonesia, hehe semoga suka." ucap April.


"Ooo Masya Allah, sepertinya dari baunya enak loh harum Banget." ucap bu Nila.


"Coba di cicipi bu." ucap April.


"Iya bu." jawab bu Nila. Dan mencicipinya.


"Masya Allah ini enak banget, tapi saya cicipi dikit ya buat makan nanti, hehe karena takut kenyang tadi baru habis makan. Tapi beneran loh enak banget. Cocok banget menunya buat sarapan." ucap bu Nila.


"Ah , bu Nila bisa aja memujinya." ucap April.


"Yang masak ini juga di bantu sama Anabel loh bu." ucap April.


"Iyakah?" tanya bu Nila.


"Iya bu."ucap bu April.


"Ohya bu, besok ulang tahun David, semoga bisa datang ya bu." ucap April.


"Iyakah? Alhamdulillah iya insyaallah kami usahakan datang. ohya gimana keadaan David?" ucap bu Nila.


."Alhamdulillah bu, Uda baikkan. Beberapa hari lalu Uda bisa jalan di bantu teman temannya. Alhamdulillah teman temannya baik. Tapi tetap harus pelan pelan dan untuk sementara waktu tetap pakai kursi roda dulu karena belum kuat berdiri lama atau berjalan terlalu jauh tapi tetap di latih. Belajar dari pengalaman yang pas pertama kali David jalan dan berdiri entah karena memang belum kuat betul terus di kagetkan , David nya syok jatuh. " ucap April.


"Iya bu. semoga lekas sembuh. Dengar David baik baik saja, saya senang banget." ucap bu Nila.


Setelah berbicang bincang cukup lama, mereka pun pamit pulang.


"Bu, kami pamit pulang dulu ya." ucap April mewakili.


"Iya bu, hati hati." jawab bu Nila.


"Jangan lupa datang loh bu, besok." ucap April.


"Iya bu, Insyaallah." ucap bu Nila.


****


Mereka pun mampir ke beberapa toko untuk membeli beberapa persiapan untuk dekor atau kue ulang tahun David besok.


Setelah sampai di rumah mereka pun segera mempersiapkan nya untuk mendekor atau apapun itu untuk esok.


Tiba tiba Bulan, Bintang dan David pun ikut ngumpul.


"Alhamdulillah besok David tambah umur semoga sehat selalu ya." ucap Richard.


"Iya om makasih." ucap David.


Setelah mempersiapkan semuanya, mereka pun beres beres rumah, lalu melanjutkan mendekor dan menata kue ulang tahun tentunya esok pagi sebelum tamu datan bbrpg, April memanggil keluarga besar besok untuk mempersiapkan nya dan menatanya. karena untuk saat ini mereka hanya menata sederhana saja. Hingga tiba larut malam , mereka pun segera tidur agar esok bisa bangun.


 


\=====================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Ulang Tahun David


Pagi pagi sekali keluarga Anabel sangat di sibukkan untuk acara ulang tahun David.


Mereka pun mempersiapkan kue juga dekor tentunya di bantu orang yang sudah paham untuk mendekor dan menata semuanya.


Anabel pun berencana memanggil badud untuk acara ulang tahun David nantinya.


"Ayo Bulan, Bintang, David bangun..Ayo siap siap . Rumah kita ada acara." ucap Anabel.


"Acara apa ma? ucap mereka yang masih tak sadar.


"Ulang tahun David." ucap Anabel.


Mereka pun langsung teringat dan turun dari tempat tidur mereka.


"Aku." ucap Bulan.


"Aku dulu." ucap Bintang.


"Ini ada apasih?" tanya Anabel.


"Aku mau ke kamar mandi tapi sama Bulan di dahului." ucap Bintang sedih dengan wajah agak kesal.


"Udah Uda dong jangan rebutan gini, gantian aja ya ke kamar mandi ." ucap Anabel.


"Oke deh ma." ucap Bintang lesu.


"Eh Bulan.." panggil Anabel.


"Iya ma, ada apa? " ucap Bulan.


"Bulan.. tadi yang mau ke kamar mandi dulu kan Bintang, jangan di dahului dong. Ngantri biar Bintang dulu ya. Setelah Bintang baru kamu ok ?" ucap Anabel.


"Hemm okee deh ma." ucap Bulan.


Beberapa menit kemudian setelah selesai mandi, Bulan dan Bintang pun memilih baju ala princess.


"Ini bajuku." ucap Bulan.


"Bajuku." ucap Bintang.


"Bajukuuuu." teriak Bulan.


"Bajuku." ucap Bintang dengan menarik baju tersebut. Dan suara ribut mereka terdengar sampai keluar kamar.


Anabel pun datang menghampiri mereka


"Ini ada apa toh kok ribut lagi?" ucap Anabel.


"Iya bun, Bintang mau pakek baju ini padahal ini kan bajuku." ucap Bulan.


"Tapi bun aku dulu yang Uda mempersiapkan baju itu mulai tadi malam. Lagipula itu bahu sudah lama gak Bulan pakai katanya gak suka.Kalau Bulan tadi gak liat baju ini, juga pasti ambil baju lain. Kenapa gak ambil baju lain sih? kan Bintang Uda mempersiapkan ini semua semenjak malam." ucap Bintang dengan nada kesal bercampur sedih.


"Hemm Yaudah dong jangan berantem. salah satu harus ngalah." ucap Anabel, karena jujur ia pun bingung harus memutuskan yang mana.


"Hemm bunda balik dulu ya, jangan ribut . Salah satu harus ngalah, ingat kalian saudara. Lebih penting hubungan persaudaraan itu daripada acara ini jangan sampai bikin persaudaraan kalian terputus. Bunda harus ke sana dulu untuk mempersiapkan ulang tahun David .ucap Anabel.


"Iya bundaaa." ucap Bintang dan Bulan dengan nada sedih.


"Ya udah, kamu pakai baju itu gak papa. Aku pakai ini aja." ucap Bulan.


"Serius gak papa aku pakai baju ini dan kamu pakai baju itu?" ucap Bintang.


"Iya serius gak papa." ucap Bulan lagi.


"Makasih, Aku pilihkan ya baju untuk mu, menurut ku itu kurang bagus coba deh warna hijau, merah muda, ungu atau putih ini ." ucap Bintang memilih.


"Hem begitu ya?" ucap Bulan yang sedang berfikir.


***


Sementara di luar begitu sibuk mempersiapkan ulang tahun David.


Anabel pun ikut turut andil untuk mempersiapkan dan mendekor nya.


"Assalamualaikum." ucap Ana.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, mbak An. Ayo masuk." ucap Anabel.


"Mau di bantu dek? ucap Ana.


"Boleh mbak." ucap Anabel.


"Mbak sudah biasa ya mbak dekor seperti ini?" tanya Anabel.


"Bukan biasa tapi emang sudah sering sih pas ada acara di panti atau bantu teman." ucap Ana.


"oooh begitu, yaudah mbak bantuin ya, hehe." ucap Anabel.


"Siapp mbak bantu." ucap Ana.


Beberapa menit kemudian, Bulan dan Bintang pun keluar kamar dengan memakai gaun mereka masing masing yang tadi sudah dipilih.


"Halo princess nya tante, Masya Allah cantik kali , ponakkan ku ini." ucap Ana kepada Bintang dan Bulan.


"Tante jadi gemessh, cubit boleh ya atau cium? " ucap Ana.


"Ihhss jangan lah mbak An, mereka Uda cantik gini juga, jangan di rusak dandanan mereka." ucap Anabel.


"Hahahaha ok siap." ucap Ana.


"Sinii mbak An boleh kan tapi peluk , ponakkan tante ini? gemessh." ucap Ana.


"Boleeeeh." ucap Bintang dan Bulan bersamaan.


Ana pun memeluk mereka dan mencium dahi mereka.


"Issh kok di cium sih?nanti bedak Bulan sama Bintang hilang dong." ucap Bulan ngambek.


"Hahahaha gak papa dong, kan cuman dahi aja.pizzz , hehe." ucap Ana.


"Issh kamu mbak An, jahil banget." ucap Anabel.


"Hahahaha, yaudah yuk lanjut dekor." ucap Ana.


"Mbak tadi aku juga pesan beberapa nasi box buat di kirim ke panti asuhan, panti jumpo dan buat di bawakan ke anak anak panti." ucap Anabel.


"Ya bagus Bel, mbak setuju." ucap Ana.


"Jadi bukan hanya sekedar perayaan nya saja tapi juga berpahala kalau seperti itu." ucap Ana lagi sambil tersenyum.


"Assalamualaikum." ucap Amel.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Mel, akhirnya kamu datang juga, ayoo masuk. Bantu aku sini hehe." ucap Anabel.


"Wah meriah kali, dah rame pulak. Nah ada mbak Ana juga Uda datang." ucap Amel.


"Halo princess cantik, kakak kamu pangeran mana?" ucap Amel.


"Pangeran Mel? " tanya Ana.


"Iya pangeran." ucap Amel lagi.


"Pangeran siapa sih Mel? " tanya Anabel.


"Kakanya Bulan sama Bintang dong Bel." ucap Amel.


"Hah? kan David bukan pangeran." ucap Anabel masih bingung yang di maksud Ana.


"Issh maksudku ya David. kan perempuan itu di panggil princess, kalau laki pangeran." ucap Amel menjelaskan.


"Oalah Mel, ku kira.." ucap Anabel.


"Hayoo kira siapa? tanya Amel.


"Enggak, gak papa, bukan siapa siapa kok." ucap Anabel.


" 1 jam lagi acara di mulai." ucap April memperingati.


"Yaudah yuk cepat bantu aku mempersiapkan, dekor sama menata semuanya juga beres beres." ucap Anabel dan ia segera berlalu untuk mempersiapkan.


"Ok Bel." ucap Amel dan Ana dan segera mengikuti langkah Anabel.


"Setengah jam lagi di mulai, Ayo sudah siap semua kah? Sudah banyak yang hadir."


ucap April.


"Tapi tetap aja ma, rasanya masih saja kurang waktu untuk mempersiapkan segalanya." ucap Anabel dan lanjut menata kembali, begitupun dengan Amel dan Ana yang membantunya.


 


\====================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Menyukai Suami Dari Sahabatku


"15 menit lagi di mulai ya." ucap April memberitahukan.


"Waduhhh, ayo Bel apa yang belum nih? biar ku bantu." ucap Amel.


"Hemm apa ya, ohya mbak An tolong bantu di bagian tamu, sedangkan Amel bantu di bagian dapur ya urusan makanan dan minuman.nanti kita ngumpul di ruang tamu yang buat acara itu ya." ucap Anabel menjelaskan.


"Ok Bel, siappp." ucap Ana dan Amel.


Mereka pun segera membantu Anabel sesuai yang di intruksikan Anabel.


Sedangkan acara suara tilawah sudah terdengar sejak tadi.Anak anak yatim yang sudah datang, mulai membacakan tilawah bersama hingga acara ulang tahun di mulai.


****


"Pertama saya ucapkan Bismillah untuk membuka acara ulang tahun ini, kedua saya ucapkan Alhamdulillah karena bersyukur kepada Allah memudahkan acara ini dan saya ucapkan terimakasih atas kehadiran kalian semua di sini." ucap Ferdi mewakili, membuka pidato tersebut.


"Selanjutnya saya juga ucapkan Alhamdulillah, sangat bersyukur atas bertambah umurnya anak saya David dan kondisinya yang kembali pulih sehabis lumpuh itu. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Saat itu benar benar merasa sedih, dunia saya seakan runtuh, keluarga kami pun berduka bahkan David pun untuk sementara berhenti sekolah karena butuh waktu untuk menerima kenyataan itu terlebih yang di takutkan David harus mendengarkan ucapan ucapan yang kurang menyenangkan hati dari teman temannya. Tapi sekarang saya dan kami sangat bersyukur." ucap Ferdi kembali.


"Mari untuk itu sebelum acara tiup lilin di mulai, atau kue di potong dan di bagikan. Saya berharap David menjadi anak saya Sholeh, tegar, kuat dan apapun ujian yang di alaminya mampu menguatkannya. Semoga di umur David ini berkah ya sisa usianya, sayang kepada adik adiknya dan semoga bisa menggapai cita cita nya David." ucap Ferdi sekali lagi dan semua pun berdoa juga meng Aamiin kan


"Perkenalkan, ini Anabel istri saya sekaligus ibu David. Anabel apa ada yang ingin di sampaikan?." ucap Ferdi. Dan Anabel pun menggeleng.


"Baiklah, untuk David silahkan tiup lilinnya dan akan segera di bagikan kue nya ini. Saya ucapkan terimakasih, wassalamu'alaikum." ucap Ferdi menutup perbincangannya.


***


"Ya Tuhan, siapa lelaki itu?" lirih Ana.


"Kenapa aku merasakan perasaan tak biasa seperti ini? siapa dia?" ucap Ana berkata kepada dirinya sendiri.


"Ah tunggu, bukankah katanya tadi ia suami Anabel dan ayah David? "


"Aku gak mungkin menyukai suami dari sahabatku sendiri." ucap Ana dengan mencoba menggeleng geleng kan kepalanya.


****


Ana pun segera pamit ke kamar mandi.


Tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan ia adalah Ferdi, Suami Anabel dan Ayah nya David, seperti yang ia dengar.


"Ah maaf maaf." ucap Ana.


"Sedangkan Ferdi hanya mampu melihat dan membiarkan Ana pergi.


Setelah kepergian Ana, Ferdi berkata lirih " siapa perempuan itu ,


kenapa aku berdetak saat dekat dengannya? Astaghfirullah, ini tak boleh. Aku mempunyai istri dan anak.Aku gak mungkin mengkhianati istriku sendiri." ucap Ferdi.


**


Mereka pun kembali ke acara tersebut hingga acara selesai.


"Mbak An, Mel tolong bantu aku dong kirim ini beberapa makanan di kirim ke panti asuhan dan panti jumpo, boleh? Ucap Anabel.


"Boleh Bel, sini aku bantu ke sana. Aku sama Amel nanti naik motor buat ke sana ya." Ucap Ana.


"Sipp , betul yang di katakan mbak An, jangan khawatir Bel." ucap Amel.


Setelah 15 menit kemudian, mereka kembali.


"Assalamualaikum Bel." ucap Ana dan Amel.


"Waalaikumussalam, mbak An, Mel gimana? Sudah di kirim?" tanya Anabel.


"Alhamdulillah sudah Bel. " ucap Amel.


"Mbak An pamit dulu ya." ucap Ana.


"Amel juga Bel." ucap Amel.


"Kok kalian buru buru semua sih?."


"Iya mbak An harus segera ke panti." ucap Ana.


"Aku harus segera menjemput anakku yang tadi ku titipkan di rumah neneknya Bel." ucap Amel.


"Loh kenapa gak di bawa aja tadi Mel ke sini?" ucap Ana.


"Nenek nya kangen , karena tau ku mau ke sini jadi di di ajak oleh ibuku karena kangen juga ibuku dengan cucuk nya Bel." ucap Amel.


"ooh gitu, yauda hati hati ya. Bentar ini aku bawain juga buat kalian ya." ucap Anabel dengan memberikan makanan ke Ana dan Amel.


"Loh ini ada lebihnya ta di kasih ke kita? tanya Ana.


",Iya mbak An." ucap Anabel dengan senyumannya.


"Loh tante An sama tante Amel, mau pulang?" tanya Bulan juga Bintang.


"Iya mau pulang sayang." ucap Anabel.


"Yah , besok ke sini lagi ya." ucap Bulan, Bintang juga David yang tiba tiba muncul.


"Iya insyaAllah." ucap Ana ragu.


"David gimana keadaan nya? Bertambah umur ni ciee semoga berkah ya dan bisa menjadi contoh buat adik adiknya. Jadi kakak yang baik." ucap Ana.


"Aamiin Allahumma Aamiin, makasih tante An,kami sayang tante An dan tante Amel. Sering sering ya ke sini." ucap David.


"Iya insyaAllah." ucap Amel.


"Yaudah kami pamit dulu ya, assalamualaikum." ucap Ana dan Amel.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, hati hati." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Mbak, kenapa mulai tadi banyak bengong nya? Seperti ada masalah? Curhat boleh loh mbak." ucap Amel.


"Hah? Hehehe mbak gak kenapa napa, emang terlihat seperti ada masalah ya?" ucap Ana ke Amel.


"Iya, gak bisa bohong." ucap Amel.


"Ah enggak, mbak gak ada apa apa kok." ucap Ana dengan tersenyum.


"Bohong." ucap Amel.


"Enggak, mbak gak bohong." ucap Ana dengan tersenyum.


Dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


***


Sore harinya..


"Om harus pulang hari ini, pengennya nginap lagi sih, tapi sepertinya gak bisa." ucap Richard sedih.


"Sama om Kevin juga." ucap Kevin.


"Om William juga, maaf ya." ucap William.


Bulan, Bintang , David, Anabel, Hery dan April menangis mengantarkan kepergian mereka.


"Jujur mama gak ikhlas kamu pulang, masih rindu rasanya." ucap April.


"Sama, Papa juga." ucap Hery.


"Apalagi aku kak." ucap Anabel sedih.


"Om..." ucap Bulan,Bintang dan David bersamaan, mereka pun menangis.


"Hati hati ya, sehat sehat untuk kalian keponakan om." ucap Richard.


"Untuk David jadi kakak yang baik ya untuk Adek adeknya, semoga umur yang bertambah berkah dan menjadi makin dewasa." ucap Kevin.


"Kami pamit dulu ya Ma, Pa, Bel, dan ponakkan om yang cantik juga ganteng. Jaga kesehatan kalian semua, Assalamualaikum." ucap William.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, kamu juga nak, hati hati dan sehat selalu." ucap April dan Hery.


"Sehat sehat kak, hati hati." ucap Anabel.


"Jaga kesehatan selalu om, dadada." ucap Bulan, Bintang dan David.


"Dadada." ucap semuanya.


 


\===================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pov Ana


POV Ana


Aku tidak seharusnya mempunyai rasa ini, dia suami dari sahabatku, dia ayah dari anak sahabatku.


Oh Tuhan ini rasa yang salah..


Tapi cinta ini tak bisa di cegah, mungkinkah aku harus pergi dari sini?


Pergi meninggalkan sahabatku Anabel dan Amel ?


Tak seharusnya rasa ini ada, aku harus bagaimana?


Mengapa untuk pertama kalinya aku mencintai suami orang?


Mengapa Tuhan?


Jujur saja aku kecewa pada diriku sendiri yang sudah menodai persahabatan ini


Maafkan aku Anabel, aku sudah mengkhianati persahabatan ini, maafkan aku telah membuat mu kecewa padaku


****


Pertama kalinya aku bertemu lelaki itu dan mungkin setelahnya ini untuk terakhir kalinya karena aku ingin pergi meninggalkan kota ini.


Hari ini Aku akan pergi tanpa jejak, meninggalkan kota ini, panti dan sahabatku.


Tapi sebelum itu, aku akan menuliskan sebuah surat untuk sahabatku, aku tau mungkin setelah membaca surat ini ia akan membenci ku tapi aku harus mengungkapkan ini padanya,aku harus jujur kepadanya tentang mengapa kepergian ku ini dan meminta maaf kepadanya, walau setelahnya mungkin ia takkan ingin bertemu dan mengenalku kembali.


****


Pov Anabel


Hari ini Bintang, Bulan dan David ingin sekali ke panti untuk bertemu mbak Ana.


Aku pun menyetujui, karena ku fikir hari libur . Aku pun ingin jalan jalan juga sekalian kumpul dengan sahabatku.


Hari ini aku menelfon Amel untuk menjemput ku dan ke panti bersama kami nantinya.


Amel pun menyetujuinya.


Tak seberapa lama, aku mendengar pintu di ketuk, Ah mungkin itu Amel.


toktoktok..


Aku pun menyuruh anak anak untuk membukanya, karena aku sedang masak .


Terdengar suara ramai anak anak menyambut kedatangan Amel, sahabatku. Dan mereka sepertinya sangat ntusias untuk segera ke panti.


"Assalamualaikum." ucap Amel.


"Waalaikumussalam tante Amel." ucap Bulan, Bintang dan David.


"Loh tante Ana gak mikut?" tanya Bulan.


"Lah kita kan mau ke panti, ketemu tante Ana." ucap Amel .


"Serius tante?" tanya Bulan.


"Iya serius."ucap Amel.


"Horeee." ucap Bulan, Bintang dan David.


"Yaudah yuk berangkat sekarang." ucap David,Bulan dan Bintang.


"Bentar, tungguin bunda ya." ucap Amel.


"Iya bentar ya, tungguin bunda.Bunda jangan di tinggal." ucapku kepada mereka.


"Siapppp bundaaa." ucap Bulan, Bintang dan David.


Setelah beberapa menit kemudian aku telah selesai , dan aku pun segera menggendong Afnan juga mengajak mereka untuk segera berangkat.


"Yuk berangkat." ucapku kepada mereka.


Dan kami pun berangkat..


****


" Bu, boleh Ana mau ngomong sesuatu?" ucap Ana.


"Boleh, mau ngomong apa Na." ucap bu panti.


"Bu, Ana salah, Ana punya rasa yang salah dan Ana kecewa sama diri Ana sendiri." ucap Ana sedih.


"Ada apa nak? kamu gak biasanya seperti ini." ucap bu panti.


"Ana ada rasa sama suami sahabat Ana bu." ucap Ana takut takut juga dengan raut wajah sedih.


"Yaa Allah Astaghfirullah serius An? " ucap bu panti.


Sedangkan yang di tanya hanya diam saja.


"Yaa Allah kok bisa Na, kamu ada rasa sama suami orang? terlebih suami sahabatmu sendiri? kalau ibu boleh tau siapa dia?." ucap bu panti.


Ana pun tetap menunduk dan belum berani bicara satu kalimat pun.


"Amel atau Anabel yang kamu maksud Na?" tanya bu panti.


***


Pov Ana.


Aku harus jawab apa? dengan pertanyaan bu panti ini ? oh Tuhan..


Aku benar benar Kelu, tak sanggup mengucapkan 1 kalimat pun.


Jujur aku menyesal, mengapa harus bercerita pada bu panti? sedangkan kini aku bingung harus menjawab apa.


Aku tau bu panti pasti akan bertanya hal ini bila aku menceritakannya.Tapi aku tak menyangka bu panti seperti benar benar penasaran dan jawabannya pun hampir betul. Ah, kan bu panti tau siapa sahabatku, pantas bila beliau begitu penasaran dan bisa menebaknya.


Tapi bila aku tak bercerita, aku pun bingung harus menceritakan nya kepada siapa.


Aku pun mencoba menjawab atas pertanyaan bu panti yang di lontarkan kepadaku.


***


" Siapa Na?" tanya bu panti sekali lagi.


"Na,jujur sama ibu , siapa? bila kamu tak ingin jujur baiklah, tak apa bu panti akan pamit dulu. Banyak kerjaan yang harus ibu kerjakan." ucap bu panti.


"Tunggu bu." ucap Ana menghentikan langkah bu panti yang akan meninggalkan tempat ini.


"Ana ada rasa dengan suami sahabat Ana hiks." ucap Ana.


"Ya siapa Na ?" ucap bu panti lagi.


"Laki laki itu..suami Anabel." ucap Ana akhirnya dengan rasa takut , sedih, kecewa dan berakhir menangis.


"Ya Tuhan, Ana." ucap bu panti.


"Bagaimana bisa dan mungkin kamu mencintai suami sahabatmu sendiri begitu? " tanya bu panti yang tak mengerti apa yang sudah terjadi pada Ana.


"Maafkan Ana bu, maafkan Ana." ucap Ana berkata lirih.


"Sudahlah, jangan minta maaf sama ibu tapi sama Anabel." ucap bu panti kecewa bercampur emosi.


"Tolong jawab pertanyaan ibu, ibu masih tak paham jalan pikiranmu Na, mana mungkin dan bisa kamu mencintai suami sahabatmu sendiri?" ucap bu panti.


"Ana juga gak tau bu,Ana juga gak ingin ada rasa ini, tapi Ana gak bisa cegah." ucap Ana.


"Ana juga gak tau bagaimana awal rasa ini ada, ini untuk pertama kalinya, Ana melihat laki laki itu dan Ana jatuh cinta pada pandangan pertama tapi saat itu Ana pun gak tau ia sudah beristri terlebih suami sahabatku tapi tak butuh waktu lama, Ana tau dan Ana pun menyesal, menangis, mencoba menghindari lelaki itu dan menghilangkan perasaan ini , Dan mungkin ini cara satu satunya dengan pergi dari kota ini. Meninggalkan panti ini juga sahabatku Anabel dan Amel. Pergi tanpa jejak." ucap Ana.


"Tapi sebelum itu, Ana ingin memberikan surat ini, tolong titip surat ini untuk Anabel bu, bila Anabel ke sini mencari Ana tolong kasih surat ini. Ini surat perminta maaf Ana kepada Anabel.Mungkin setelah membaca surat ini Anabel benci Ana tapi yasudalah mungkin itu yang terbaik dan Ana juga setelah ini akan pergi dari sini, kota ini dan meninggalkan semuanya, meninggalkan tanpa jejak. Tolong jangan cari keberadaan Ana lagi bu. " ucap Ana lagi dengan menangis sesenggukan.


"Bu Ana pamit, Tolong berikan surat ini kepada Anabel langsung bu jangan melalui perantara termasuk lewat Amel. Ana mohon jangan, Assalamualaikum bu." ucap Anabel dan berlalu pergi.


Sedangkan bu panti hanya diam tanpa bisa mengucapkan apa apa lagi.


Dan jujur tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila Anabel tau?


Apakah setelah ini Anabel membenci Ana dan persahabatan mereka retak?


Dan sebenarnya surat apa yang di tulis oleh Ana untuk Anabel?


Mengapa tidak boleh sampai orang lain tau mengenai surat ini?


Ah, benar benar pusing untuk memikirkan semuanya bu panti.


Hanya mampu menunggu menyasikkan semuanya.


 


\====================

__ADS_1


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Ana Pergi Dari Panti


"Assalamualaikum bu." ucap Anabel, Amel, Bulan, Bintang dan David .


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Anabel.." ucap bu panti untuk beberapa saat terhenti.


"Amel, Bulan, Bintang dan David, ayo ayo masuk.Ada apa nih kok ke sini?" tanya bu panti.


"Iya lagi mencari mbak Ana bu." ucap Anabel, yang membuat bu panti syok.


"Ana ?" ucap bu panti.


"Iya bu mbak Ana, ini anak anak kangen. Bulan , Bintang, David kangen pengen ketemu mbak Ana bu." ucap nabel.


"Humm maaf, memangnya ada bu dengan Ana?" ucap Anabel.


"Ana.." ucap bu panti terhenti, yang tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Yauda yuk masuk dulu." ucap bu panti.


Mereka pun masuk, dan menanyakan tentang Ana kembali.


"Iya bu, Ana kemana?" ucap Amel kali ini.


"Minum teh dulu ya dan makan kue." ucap bu panti, mengalihkan pembicaraan.


"Enggak bu, mbak An kenapa? kenapa ibu ndak jawab pertanyaan saya?" ucap Anabel mulai khawatir.


"Tenang Bel, Ana sedang pergi. sambil menunggu, kita minum teh sama kue dulu ya ." ucap bu panti.


"Oooh yasudah bu." ucap Anabel.


Mereka pun meminum teh dan makan kue nya.


"Bu, kok mbak An belum pulang juga?" tanya Anabel lagi.


"Iya bu." tanya Amel.


"Sebenarnya ada yang ingin ibu bicarakan sama Anabel." ucap bu panti akhirnya.


"Maksudnya bu? apa ini mengenai Ana? tanya Anabel.


"Iya mengenai Ana." ucap bu panti.


"Apa bu?" tanya Anabel.


"Iya apa bu?" tanya Amel.


"Ana pergi dari sini, dari panti ini dan dari kota ini. Ana pergi pamit ke kalian, meninggalkan ibu, anak anak panti juga kalian sahabatnya." ucap bu panti terhenti karena Anabel menyahut.


"Pergi? pergi ke mana bu mbak An? kok gak bilang Anabel?" ucap Anabel.


"Tenang, biar ibu jelaskan dulu dan mungkin setelah ini terjawab.Jadi tolong tenang , jangan menyela ucapan ibu dulu ya." ucap bu panti.


"Iya bu, lanjutkan." ucap Anabel.


Melihat Anabel mengangguk, bu panti pun melanjutkan ucapannya.


"Ana gak bilang mau ke mana, Ibu juga jujur sedih tapi mungkin Ana ada alasan tersendiri makanya ia harus pergi meninggalkan panti ini, kalian, kota ini dan semuanya .Mungkin itu yang terbaik. " ucap bu panti.


"Ana, tadi menitipkan ini. Surat untuk mu Bel, tapi dia berpesan surat ini hanya boleh di baca olehmu saja, tidak yang lain.Maaf termasuk Amel. Dan mungkin di Surat ini terjawab pertanyaanmu Bel. Ntah mungkin bila benar seperti itu, mungkin pandanganmu ke Ana tidak seperti dulu tapi ibu mohon jangan benci ia karena ia pun tak ingin sama sekali dalam situasi ini, ia menyesal oleh sebab itu untuk menyelamatkan semuanya ia memilih pergi. walau harus pergi dengan beribu kenangan." ucap bu panti.


"Pesan ibu cuman satu, Ingat kebaikan orang tersebut , jangan hanya ingat kesalahan, kekhilafan dan keburukannya. Itu saja yang mungkin bisa ibu sampaikan." ucap bu panti.


"Baik bu, biar surat ini Anabel baca di rumah. Anabel dan Amel pamit dulu ya bu." ucap Anabel.


"Iya hati hati, ingat ya surat ini hanya boleh di baca olehmu tidak dengan yang lain." ucap bu panti. Karena bu panti tak bisa membayangkan bila surat ini di baca oleh Amel juga bagaimana, terlebih oleh Ferdi suami Anabel, astagaaa tidak bisa membayangkan nya.


"Berarti semacam surat rahasia gitu ya bu ?." tanya Amel.


"Ntah, mungkin." ucap bu panti.


"Iya bu, baik. Anabel pamit dulu ya bu, sama Amel. Assalamualaikum." ucap Anabel.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Bel , Mel hati hati. Sering sering ke sini ya walau tidak ada Ana lagi." ucap bu panti.


"Iya bu Insyaallah." ucap Anabel.


Mereka pun berlalu pergi.


"Bel itu surat apasih? kok seperti rahasia gitu? humm." ucap Amel yang penasaran.


"Sudahlah Mel ,kali ini please hilangkan dulu kepoan kamu." ucap Anabel.


"Seperti yang ibu panti bilang, kata mbak Ana surat ini hanya boleh di baca olehku tidak yang lain. Mungkin benar surat ini hanya di tunjukkan olehku dan hanya aku yang boleh baca kecuali mungkin ku memberikan yang lain izin bila ku telah membaca ini. Jadi maaf bila kali ini aku tak bisa mengizinkan mu membaca surat ini, sekarang." ucap Anabel.


"Yaudah kita baca berdua suratnya gimana?" ucap Amel mencoba membujuk Anabel.


"Maaf gak bisa Mel, maaf tolong pengertian nys." ucap Anabel.


Setelah itu selama di perjalanan Anabel lebih banyak diam dan menangis dalam diam hingga sampai di rumahnya.


David, Bulan dan Bintang pun sedih, juga tak berani bertanya lebih lanjut setelah melihat keadaan ibunya yang diam saja dan sempat mendengarkan pembicaraan Bundanya dengan tante Amel. Oleh sebab itu mereka memilih diam selama di perjalanan.


Sesampainya di rumah, Amel pun pamit untuk segera pulang.


"Aku pamit dulu ya Bel, jangan sedih sedih, lekas buka surat itu supaya terjawab rasa penasaran mu.assalamualaikum." ucap Amel.


"Iya Mel, waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh." ucap Anabel.


Anabel, David, Bulan juga Bintang segera memasuki rumah mereka. Dan cuci tangan setelah berpergian tadi.


Setelah itu Anabel memilih masuk ke dalam kamarnya untuk membaca surat itu, sedangkan David, Bulan dan Bintang memilih ke kamar mereka untuk bermain.


Sesampainya di kamar, Anabel pun menutup kamarnya lalu segera membuka surat tersebut dan membaca isinya.


***


Dear sahabatku Anabel.


Maafkan mbak, yang belum bisa menjadi sosok kakak untuk mu.


Maafkan mbak yang telah membuat mu kecewa.


Kecewa karena mbak belum bisa menjadi sosok kakak dan sahabat yang baik untukmu


Dan mungkin setelah ini kamu akan jauh lebih kecewa kepada mbak, bila mengetahui kenyataan ini.


Ya kecewa .. maafkan mbak bila telah membuatmu kecewa karena mbak telah ada rasa dengan suamimu.


Ya mbak menyukai suami mu.


Jujur saja awalnya mbak pun gak tau bila ia suamimu Bel, ini pertama kali mbak merasakan perasaan cinta.


Mengapa harus seperti ini?


Sesakit ini?


Sungguh mbak pun tak menginginkan nya.


Tapi setelah mbak tau itu suamimu, mbak pun mencoba memilih menghilangkan perasaan ini dan menjauh


Ya mungkin ini cara satu satunya mbak untuk menghilangkan perasaan ini dan tidak melukaimu lebih dalam.


Mbak memilih pamit ya, Pergi meninggalkan panti, ibu panti, anak anak panti, kalian Amel dan Anabel sahabat juga adek mbak ini Dan meninggalkan kota ini.


Maafkan mbak bila setelah membaca ini mungkin kamu kecewa sama mbak, kamu marah , benci sama mbak.


Ya itu wajar, mbak tidak menyalahkan mu.


Oleh sebab itu mbak pun memilih pergi sungguh mbak takkan sanggup di benci dan di jauhi secara terang terangan oleh sahabat mbak sendiri, seseorang yang mbak sayang bahkan sudah mbak anggap Adek sendiri.


Maaf, mbak minta maaf. Dan mungkin setelah ini kita takkan bertemu lagi karena mbak akan pergi selamanya. Tolong jangan cari mbak lagi.


Maaf bila mbak tak mengizinkan siapapun membaca ini, karena mbak ingin kamu dulu yang membacanya sebelum orang lain kecuali setelah itu kamu ingin mengizinkan mereka untuk membaca ini, entah untuk membenci mbak atau apa, maka tak apa bagi mbak.


Semoga kelak kita di pertemukan kembali dengan keadaan lebih baik tak menyimpan benci satu sama lain. Tapi bila tidak setidaknya semoga di Jannah kita bertemu.


Kami boleh membenci mbak, habis habisan saat ini, tapi mbak harap semoga tidak lama rasa benci itu bertahan di hatimu.


Tapi mbak juga gak berhak memohon agar rasa benci itu pergi, karena mbak memang pantas untuk di benci .


Meski kamu dan mungkin Amel , Bu panti membenci mbak bila tau kenyataan ini, tapi mbak tetap menyayangi kalian dan mendoakan kalian.


Sudah dulu ya. mbak harap kamu tidak melupakan mbak, tapi bila kamu ingin melupakan mbak juga gak papa karena itu hak kamu.


*****


Anabel pun langsung lemas setelah membaca surat ini.


Ia merasa tubuhnya sangat ringan tiada yang bisa ia jadikan sandaran.


Anabel merasa sesak dadanya, sangat sesak.


Ia berusaha beberapa kali menepuk nepuk dadanya yang sesak.


Hanya air mata yang bisa menjadi bahasa yang mampu ia ungkapkan hingga tanpa sadar untuk beberapa menit , Anabel jatuh pingsan meski itu hanya sebentar.


Anabel pun segera menelfon bu panti , ingin bertemu bu panti sore ini.


**


Tepat sore hari, Anabel meminta Ferdi untuk mengantarkan nya ke panti .


Setelah sampai di panti, Anabel meminta Ferdi untuk meninggalkannya karena ia berucap kemungkinan akan sedikit lama di sini. Ferdi ia minta untuk pulang, sebelum anaknya terbangun.


"Assalamualaikum bu." ucap Anabel.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Bel. ucap bu panti.


"Buuu." ucap Anabel segera memeluk bu panti.


"Ada Apa Bel?" ucap bu panti.


"Ibu sebenarnya tau kan yang terjadi pada mbak Ana? mbak Ana apa ada menceritakan ke ibu juga?" tanya Anabel.


"Kamu sudah membaca surat itu ya?" ucap bu panti.


"Iya bu." ucap Anabel dengan sedih.


"Yaa Allah, ibu gak tau isi surat itu apa yang Ana kasih ke kamu , tapi firasat ibu berkata seperti yang Ana ucapkan pada ibu , bila melihat wajahmu sepertinya seperti itu." ucap bu panti.


"Yauda tenang, duduk dulu ya." ucap bu panti .


Anabel pun menyerahkan surat itu ke bu panti.


"Yakin ibu boleh baca? kamu sudah baca? Tapi bukankah Ana berpesan agar gak di baca oleh orang lain kecuali kamu Bel? " ucap bu panti.


"Iya bila aku belum membacanya, bila sudah maka boleh surat itu di baca oleh yang lain bu." ucap Anabel.


"Ooh baiklah,ibu baca dulu ya surat ini." ucap bu panti.


Setelah membaca surat itu bu panti melihat ke arah Anabel dan berkata lirih "Yaa Allah."


"Bu Anabel benar benar gak menyangka persahabatan kami akan seperti ini , hiks." ucap Anabel menangis.


"Sabar nak, sabar." ucap bu panti.


"Anabel benar benar merasa kehilangannya, selama ini Anabel menganggap ia sebagai sosok kakak juga sahabat yang baik untuk Anabel yang selalu mengingatkan Anabel tentang kebaikan juga selalu memberikan Anabel nasehat bila salah, tapi Anabel gak menyangka mbak An akan ada rasa dengan suamiku dan meninggalkanku seperti ini." ucap Anabel.


"Apaaa? ada rasa dengan Ferdi, Bel?" ucap Amel tiba tiba datang.


"Mel?" ucap Anabel syok dengan kedatangan Amel.


"Amel?" ucap bu panti yang juga tak kalah syok dengan kedatangan Amel di panti ini, saat ini juga.


"Kamu kok bisa di sini sih Mel?" ucap Anabel bertanya.


"Jadi apa itu benar?" tanya Amel.


"Iya aku di sini karena tadi ke rumah mu dan kata Ferdi kamu di panti , akhirnya aku nyusul kamu buat ke panti , aku gak nyangka dan benar benar gak percaya dengan apa yang aku dengar ini, sungguh. Mbak An ada rasa dengan suamimu Bel? omg , bagaimana bisa?? " ucap Amel.


"Iya Mel, Aku tak menyangka, padahal ia selalu mengingat ku tentang kebaikan dan ia sahabat syurgaku. Semoga di manapun ia berada ia baik baik saja.


Aku rindu dia , jadi ingat kajian kita pas itu tentang persahabatan sesyurga dan kini aku kehilangan sahabat syurgaku." ucap Anabel sedih.


Sedangkan tanpa mereka sadar, ada seseorang di sana juga mendengarkan perbincangan mereka yaitu Ferdi.


 


\====================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pov Ferdi


Tanpa mereka sadari, di sana ada seseorang yang mendengarkan mereka yaitu Ferdi.


Pov Ferdi


Aku tidak menyangka dengan apa yang aku dengar saat ini, Ana juga ada rasa denganku? Ana menyukaiku? dan kini Ana pergi meninggalkan kota ini, termasuk panti dan sahabatnya? hanya karena ia merasa bersalah dengan perasaannya?


Ah, Tuhan... Mengapa aku merasa sesak saat mendengarkan ini semua? ada apa denganku?


Sebenarnya aku ini sedih karena merasa kehilangan Ana? atau sedih karena istriku kehilangan sahabat terbaiknya ? atau aku juga merasa bersalah karena kepergian Ana di sebabkan oleh ku? Ah entalah, yang jelas aku sangat sedih dan merasa sesak mendengarkan ini semua. Mendengarkan kabar kepergian Ana benar benar membuatku sangat lemas dan tubuhku seakan limbung seketika.


Lalu aku harus berbuat apa? untuk membawa ana kembali ke kota ini dan tidak membuat istriku terus bersedih ? Setidaknya aku harus berbuat apa dengan keadaan ini untuk memperbaikinya?


Ya, aku masih terus memikirkan cara ini, sehingga tanpa ku sadari saat aku masih sibuk dengan pemikiran ku , istriku dan Amel sahabatnya berpamitan akan pulang. Aku pun ketika sadar, segera pergi dari sini sebelum istriku mengetahui keadaaan ku di sini.


****


"Bu panti, kami pamit pulang duluan ya, terimakasih bu sudah mau mendengarkan curhatan saya dan makasih atas waktunya." ucap Anabel.


"Ya Bel, sama sama. Ibu pun senang bisa mendengarkan keresahan mu ini, setidaknya ibu bisa membabtu memberikan mu saran supaya kamu tidak menerus galau atau tidak menentu dengan perasaan mu . Jika ingin curhat, jangan sungkan ya Bel." ucap bu panti.


"Amel, ibu lihat dari tadi kamu lebih banyak diam terus , kenapa?" tanya bu panti kepada Amel.


"Hehehe iya bu, gak kenapa napa." ucap Amel.


"Iya bu, terimakasih banyak sekali lagi. Dan kami izin pamit dulu ya bu, assalamualaikum " ucap Anabel.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh Bel." ucap bu panti, menjawab salam Anabel.


Sedangkan Amel hanya diam saja, karena ia masih tidak percaya dengan apa yang tadi ia dengar. Ia tidak menyangka, Ana akan mempunyai rasa dengan sahabat suaminya sendiri. Dan Amel benar benar membenci itu membenci Ana. Amel sangat kesal ingin rasanya memarahi Ana, tapi justru Anabel dan bu panti membela Ana.Ah rasanya Amel semakin muak dengan semuanya, hingga Amel pun memilih diam untuk meredakan emosi dan rasa kesalnya saat ini.


"Mel, kamu kenapa selama di panti lebih banyak diam, setelah perbicangan kira tadi? bagian saat aku berpamitan ke bu panti kami diam? dan Sekarang selama di perjalanan kamu juga diam? kamu sebenarnya kenapa Mel? sedang memiliki masalah? sedang sakit ? atau sedang sengaja mendiamkan ku? jawab dong Mel, jangan membuatku bingung seperti ini dengan sikapmu. Setidaknya jika aku salah atau ada sikap ku yang tidak kamu suka, bilang saja tapi tolong jangan seperti ini membuat ku Bingung. Kita Uda bersahabat berapa lama sih Mel? hingga kamu gak mau terbuka gini sama aku? biasanya apa apa kamu juga terbuka dengan ku? ." ucap Anabel."


Sedangkan Amel justru mempercepat jalannya setelah Anabel berbicara seperti itu.


Anabel pun segera mempercepat langkahnya untuk mengikuti langkah Amel. Ketika semakin dekat dengan Amel, Anabel pun segera memegang erat tangan Amel dan mengajaknya untuk berbicara.


"Mel, bentar aku ingin berbicara padamu. Ku mohon jangan seperti ini. Bicarakan apa yang kamu gak suka dariku tapi jangan diam saja." ucap Anabel.


Setelah memandangi Anabel cukup lama, Amel pun segera berbicara.


"Oke, aku akan mengatakan kepadamu Bel, Aku gak suka dan benci dengan Ana. Dan aku kesal denganmu juga ibu panti yang justru membela Ana yang jelas jelas pengkhianat seperti itu. Aku gak habis fikir apa yang kalian pikirkan tentang Ana , hingga kalian membelanya. Terlebih kamu Anabel, aku gak ngerti yang di fikiranmu itu. Bisa bisanya kamu membela Ana yang sudah menghancurkan kepercayaanmu juga persahabatan kalian. Termasuk Ana penghianat yang hampir saja merebut suamimu darimu dan menghancurkan rumah tangga kalian, bangun Bel pleseee bangun.!! " ucap Amel dengan emosi.


"Amel." ucap Anabel, hanya perkataan itu yang mampu Anabel lontarkan kepada sahabatnya.


"Maaf Bel, aku berbicara seperti ini. Aku hanya kesal melihatmu membelanya. Ok lah bu panti membelanya karena Ana anak asuhnya sekaligus yang mengurus panti ini. Walau harusnya gak boleh membela karena alasan seperti itu. Awalnya aku juga tak menyangka bu panti membela Ana tapi aku pun memaklumin karena alasan yang tadi aku sebutkan, sedangkan kamu Bel? membelanya untuk apa? hah? " ucap Amel.


"Aku benar-benar tak mengerti jalan fikiranmu Bel." ucapnya lagi dan berlalu pergi.


Sedangkan Anabel hanya bisa menangis, jujur saja ia terlalu lelah, harus membela siapa? Ia memang kecewa dengan Ana, tapi ia tak bisa membenci Ana bagaimapun Anabel sadar perasaan itu tidak bisa di elakkan, dan Ana pun justru memilih pergi daripada bertahan dengan perasaan tersebut. Baginya cukup, Ana sebenarnya mungkin juga tersiksa dengan perasaan tersebut. Hanya saja AnBel tak menyangka bagaimana mungkin datangnya perasaan itu di hati Ana? .


Memikirkan tentang Ana, membuat Anabel benar benar pusing dan membuat Anabel memikirkan suaminya.


"Apakah suamiku juga ada rasa dengan Ana?.". lirih Anabel dan tanpa terasa air mata itu membasahi pipinya.


"tuuuutt... tuuuutt...tuuuu..." terdengar hp nya berbunyi , Anabel pun segera merogoh tasnya dan melihat siapa yang menelfonnya.


"Ferdi, suamiku." tulisan kontak di hp nya. Sebenarnya saat ini Anabel benar benar ingin sendiri dulu, dan tak ingin mengobrol dengan siapapun dulu karena ia ingin menangkan pikirannya. Tapi bila ia tak mengangkat telfon suaminya, yang ia takutkan suaminya akan cemas dan pasti masalah ini akan panjang.


Anabel pun memutuskan untuk mengangkat sebentar panggilan telefon tersebut.


"Assalamualaikum mas Ferdi.Iya mas, ada apa ? tumben telfon? anak anak rewel kah?" tanya Anabel.


"Tidak, kamu di mana sekarang? kenapa belum pulang juga? aku hanya mencemaskan kondisimu." ucap Ferdi.


"Iya mas,maaf ya membuatmu khawatir. Bentar lagi aku nyampe kok mas, ini lagi di perjalanan menuju pulang. Anak anak baik baik aja kan mas? sehat? mereka Uda makan? ." tanya Anabel.


"Ohya mas, tadi mereka gimana pas aku tinggal ? apa mereka gak tanya tentang aku ke mana?" tanya Anabel kembali.


"Yaa Allah sayangku, pertanyaannya satu satu dong sayang. Biar mas , gak bingung harus jawab yang mana dulu." ucap Ferdi.


"Hahaha oke mas, sorry. Baiklah, anak anak gimana keadaannya sekarang?" ucap Anabel.


"Nah gitu dong, supaya mas bisa jawab satu persatu. Anak anak Alhamdulillah baik sayang." ucap Ferdi.


"Terus mereka Uda makan?" tanya Anabel kembali.


"Udah barusan, mas belikan makanan tadi karena gak ada masakan dan mas gak bisa masak sementara mereka kelaparan sayang. Sorry sayang, gak papa kan sesekali beli makanan di luar?" tanya Ferdi.


"Yaa Allah, iya mas gak papa. Aku yang minta maaf, belum bisa menyediakan makanan tadi pagi karena mood ku gak baik dan maaf belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian ya." ucap Anabel penuh sesal.


"Iya sayang gak papa." ucap Ferdi.


"Terus gimana tadi anak anak gak kecariaan aku kah?" tanya Anabel


"Iya tadi anak anak pastinya kecariaan kamu sayang, kecariaan ibunya. Cuman aku berusaha ngasuh pengertian ke mereka dan aku bilang sayang mau pulang." ucap Ferdi.


"Alhamdulillah, syukurlah sayang. Terimakasih ya Uda bantu kasih pengertian ke anak anak." ucap Anabel.


"Ohya mas, aku bentar lagi mau pulang. Mau nitip apa? barangkali ada yang mau di titipkan atau pesan apa gitu?" tanya Anabel.


"Gak usah yank, kamu cepat sampai di rumah aja itu sudah bikin kami bahagia." ucap Ferdi.


"Ok yank, makasih ya. pintar merayu ku juga ya suamiku ini hehe." ucap Anabel.


"Ya dong wkwkwk., hati hati yank.serius." ucap Ferdi.


"Ok yank, udah dulu ya." ucap Anabel mengakhiri panggilan telfon itu.


"Ya yank, byeee." ucap Ferdi.


Anabel pun mampir sebentar ke warung di sebrang sana untuk membeli martabak untuk suami dan anak anaknya meski Ferdi bilang tidak usah, bagaimanapun Anabel tetap ingin membelikannya. Setelah itu Anabel pun melanjutkan perjalanannya.


 


\==================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Kesedihan Anabel


Sesampainya di depan rumahnya, Anabel lewat pintu belakang di sampingnya untuk mencuci mukanya agar tak terlihat bekas tangisannya tadi.


Setelah itu ia pun kembali ke pintu utama rumah nya dan mulai mengetuk pintu beberapa kali, Anak anaknya pun membukanya pintu.


Bulan dan Bintang menyambut kedatangan Anabel. di belakang mereka, Ferdi pun menunggunya.


"Bundaaaa." ucap Bulan dan Bintang bersamaan.


"Halo sayang, anak bunda baik? sehat? gimana di rumah tadi?." tanya Anabel.


"Alhamdulillah bundaaa, sehat, luar biasa." ucap Bulan dan Bintang bersamaan.


"Syukurlah, ohya ini bunda bawa martabak buat kalian." ucap Anabel.


"Yeeee, yuk kita makan bundaa." ucap Bulan dan Bintang.


"Iya bentar, bunda persiapkan dulu ya." ucap Anabel.


"Okeeeee bundaaa." ucap Bulan dan Bintang.


Setelah beberapa menit, Anabel sudah selesai mempersiapkan martabak yang ia beli tadi dan mereka pun makan bersama.


"Yeee yuk makaaaan." ucap Bulan, Bintang dan David bersamaan.


"Bismillah dulu."ucap Anabel.


"Iya bunda." ucap mereka bertiga.


Ketika mereka sedang makan, tiba tiba Bintang melontarkan kata kata yang membuat semuanya terdiam.


"Bun, Tante Ana kok gak ke sini? besok minta ke sini dong. Kemarin Uda gak ke sini, pas kami ke panti Tante Ana juga gak ada, kami rindu Tante Ana bun." ucap Bulan dan Bintang sedih.


Untuk sejenak Anabel terdiam mendengarkan ucapan yang terlontar dari Bintang.


Begitupun dengan Ferdi hanya mampu menatap Anabel lalu menunduk terdiam. Jujur saat ini Ferdi merasa serba salah.Ikut menjawab Ferdi takut salah, sedangkan tidak menjawab kasian Anabel merasa tertekan dengan pertanyaan yang Bintang lontarkan. Ah, maklum anak anak tidak mengetahui tentang hal ini, saat ini Bulan , Bintan dan David penasaran dengan jawaban dari sang bunda.


Ferdi pun memutuskan untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Yuk lanjut makan, tanyanya nanti aja ya setelah makan . Bundamu capek , ingin segera isrtihat."ucap Ferdi.Dan benar apa yang di takutkan olehnya, Anabel pun segera melihat ke arahnya. Sungguh Ferdi benar benar bingung harus berbuat apa saat ini, ia merasa tersudutkan dan serba salah.


Anabel pun mencoba memejamkan matanya, menenangkan irama degub jantungnya sebelum menjawab pertanyaan Bintang, anaknya.


"Iya, Tante Ana lagi di luar kota ada tugas. Tadi bunda ke panti, menanyakan keberadaan tante Ana. Dan kata bu panti , Tante Ana pergi meninggalkan panti juga untuk waktu yang cukup lama hingga urusannya selesai."ucap Anabel.


"Apa bun? Yah berarti kami gak bisa ketemu tante Ana."ucap mereka terkejut dan seakan tak mempercayai yang mereka dengar dan tentu saja mereka bersedih dengan kepergian Ana.


"Berarti gak ada yang bisa main bareng atau dogengin kami cerita lagi hingga tertidur terus gak ada yang ngajari kami belajar ." ucap Bulan sedih.


"Bunda yang akan ngajari kalian." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Kita doakan saja, semoga tante Ana selalu baik baik saja dan dalam lindungan Allah ya." ucap Anabel.


"Iya bunda, semoga tante Ana sehat dan baik baik saja di manapun berada dan segera kembali ke sini, kami rindu." ucap Bulan.


Sedangkan Anabel dan Ferdi diam tanpa bisa mengucapkan apapun.


Setelah selesai, Anabel pun segera membereskannya dan masuk kedalam ke kamarnya. Ia ingin curhat ke Ferdi tentang kepergian Ana.


"Mas." panggil Anabel, kini Ferdi tengah sibuk dengan komputernya.


"Iya yank, kenapa?" tanya Ferdi.


"Aku sedih mas, Ana pergi dari panti,dari kota ini meninggalkanku dan entahlah saat ini Ana berada di mana. Jujur aku merasa kehilangannya." ucap Anabel sedih.


"Sabar ya yank, mas percaya di manapun Ana sekarang berada. Ia baik baik saja dan mungkin suatu hari kembali untuk menemui mu dan Amel , sahabatnya. Juga datang kembali ke panti itu. Mungkin kepergiannya untuk saat ini karena suatu alasan yang terbaik untuk kebaikan bersama." ucap Ferdi, walau jujur saat mengucapkan hal tersebut Ferdi ragu dan takut salah ucap.


"Iya mas, kamu benar. Mas boleh aku bertanya sesuatu ke kamu?" ucap Anabel.


"Boleh, mau nanya apa yank?." tanya Ferdi.


"Hemm, mas seandainya seseorang mencintai suami dari istri tersebut sedangkan ia sahabat baik istri itu, maka menurutmu harusnya respon Istri tersebut membencinya atau tidak? Dan apa wajar jika istri tersebut kecewa pada suami dan sahabatnya? ." ucap Anabel.


Ferdi mencoba memejamkan matanya sebentar, menenangkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Anabel karena jujur ia tau yang di maksud oleh Anabel.


"Hem, wajar kecewa karena ia tau sahabatnya yang ia sayangi dan percayai ada rasa cinta kepada suaminya. Untuk respon harus membenci atau tidaknya sebenarnya tergantung rasa sayang dalam persahabatan tersebut. Sekalipun terluka terkadang seseorang takkan mampu membenci seseorang yang ia sayangi, jika pun ia membenci orang yang ia sayangi pada akhirnya, sebenarnya itu lebih ke rasa kecewa, ya menurut mas seperti itu Anabel , istriku." ucap Ferdi, mencoba menjelaskan ke Anabel.


"Hemm gitu ya mas." ucap Anabel sambil berfikir.


"Berarti terkadang karena rasa sayang tersebut walau terluka tapi tak bisa membencinya? jika pun ada rasa benci tapi itu lebih tepatnya kecewa? begitukah?" tanya Anabel dengan mencondongkan tubuhnya ke Ferdi.


"Yups benar." ucap Ferdi dengan tersenyum dan menggenggam tangan Anabel.


"Tapi, kenapa nih istri ku kok tanya seperti ini? tumben hemm? " tanya Ferdi ke Anabel.


"Hehehe, gak papa mas, pengen tanya aja." ucap Anabel dengan mengalihkan tatapan matanya ke segala arah.


"Ohya mas, besok mau ku masakkin apa?" tanya Anabel mulai mengalihkan pembicaraan.


"Hemm masakan apa aja yang penting istriku yang buat." ucap Ferdi .


Sedangkan Anabel hanya tersenyum mendengarkan rayuan Ferdi.


"Mas , aku pamit ke kamar samping ya , mau kasih susu Afnan . Mas kalau mau tidur dulu aja gak papa." ucap Anabel.


"Iya yank, mas juga masih ada tugas kantor yang harus mas selesaikan. Kamu juga lekas tidur." ucap Ferdi .


"Iya mas." ucap Anabel dan segera berlalu ke kamar Afnan , memberikan susu pada Afnan.


Setelah hampir 2 jam , setelah memastikan Afnan tertidur. Anabel pun segera kembali ke kamarnya, dan Anabel melihat Ferdi sudah tertidur pulas. Anabel pun berinisiatif untuk menyelimuti Ferdi.Setelahnya Ia melihat laptop Ferdi masih menyala, Anabel pun segera cekatan untuk mensave data di laptop Ferdi dan mematikannya tapi tiba tiba gerakan Anabel terhenti saat ia melihat tulisan yang Ferdi ketik di laptop tersebut.


***


Hayooo tebak, tulisan apakah? Hemm?


 


 


\=========================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pov Anabel


POV Anabel


Aku benar benar tidak menyangka, apa yang aku baca ini. Rasanya dadaku terasa sesak seketika.


Tuhan, apa benar .. Ferdi suamiku telah mencintai Ana?


Mengapa rasanya sesakit ini saat mengetahuinya, lebih sakit saat tau ketika Ana mencinta suamiku.


**


Tanpa terasa air mata Anabel pun jatuh membasahi pipinya. Beberapa kali Anabel mencoba memukul dadanya untuk menghilangkan rasa sesak yang ia rasakan.


Anabel pun segera mensave data tulisan tersebut, dan sebelum mematikan laptop Ferdi Anabel memfoto tulisan tersebut. Setelahnya Anabel segera mematikan laptop Ferdi Dan segara ikut tertidur di samping Ferdi.


Tapi kali ini Ana memilih tidur menyamping, tidak menghadap Ferdi karena jujur ia tak sanggup menatap wajah Ferdi setelah ia membaca tulisan itu. Anabel pun tak ingin Ferdi tau jika ia menangis.


pagi ini Anabel bangun lebih awal, biasanya ia akan bangun saat mendekati subuh, tapi kali ini Anabel bangun tepat pukul 2 pagi.


Anabel benar benar tidak bisa tidur, ia merasa harus segera bersimpuh dan menangis di hadapan Tuhannya.


Sungguh saat ini Anabel membutuhkan tempat curhat.


Anabel pun segera bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi untuk berwudhu lalu menunaikan tahajjud.


Ia percaya doa 1/3 malam, doa yang mudah terijabah.


Tanpa Anabel sadari, saat ia khusyuk dalam tangisnya di 1/3 malam, Ferdi sudah terbangun sejak tadi memperhatikan Anabel.


Jujur saja hati Ferdi merasa teriris melihat Anabel menangis seperti itu, Ia yakin Anabel pasti masih menangis semenjak tau ungkapan Ana kepadanya melalui surat itu.Ia yakin Anabel masih kecewa pada Ana dan jujur hati Ferdi pun tak tenang.Karena ia merasa, ia lah penyebab ini semua .


Tapi Ferdi bersyukur, karena Anabel belum mengetahui perasaannya kepada Ana.


Ferdi tak bisa membayangkan bila Anabel tau. Mungkin Anabel akan jauh kecewa lebih dalam lagi. Tapi Ferdi bersyukur hingga detik ini Anabel belum tau tentang hal itu.


Setelah melihat Anabel berhenti menangis dan melanjutkan membaca Al Qur'an, Ferdi pun segera bangun dan ingin melaksanakan ibadah seperti Anabel.


"Mas, Kamu Uda bangun? sejak kapan?


kok aku gak tau? " tanya Anabel saat tiba tiba melihat Ferdi keluar dari kamar mandi.


"Hemm, masih baru saja kok." ucap Ferdi berbohong.


"Owhhh." ucap Anabel dan segera melanjutkan mengajinya. Jujur ia masih terlalu malas berbasa basi dengan Ferdi.


Ferdi pun sebenarnya cukup sedikit aneh dengan sikap Anabel yang tidak seperti biasanya.


"Yank, kenapa sih kok cuek banget?" ucap Ferdi , menghampiri Anabel.


Sedangkan Anabel pura pura tidak mendengarnya dan melanjutkan membaca Al Qur'annya.


"Yank." panggil Ferdi.


"Yank, kok aku di cuekkin? Yasudalah aku sholat dulu ya." ucap Ferdi.


Sedangkan Anabel mengangguk dan melanjutkan mengajinya.


Setelah selesai sholat, Ferdi mendekati Anabel kembali.


"Yank, kalau ada masalah ceritalah, tolong jangan seperti ini. Kita ini berumah tangga harus saling terbuka yank, akan di bawa kemana rumah tangga ini bila kamu tidak ingin saling terbuka dan aku mana tau apa yang kamu rasakan, bila kamu tidak bercerita yank."ucap Ferdi.


"Benar seorang suami harus peka dengan perasaan istrinya tapi aku juga bukan Tuhan yang bisa memahami perasaanmu begitu saja tanpa kamu ceritakan atau utarakan kepadaku." ucap Ferdi lagi.


Sedangkan Anabel masih bimbang ingin menanyakan atau tidak.


Ingin membicarakannya atau lebih baik diam.


Namun jujur untuk saat ini , Anabel belum sanggup membicarakannya ke Ferdi dan ia lebih memilih meninggalkan Ferdi seorang diri. Bukan karena apa, Anabel butuh waktu untuk menenangkan dirinya sendiri sebelum membicarakan ini ke Ferdi. Karena ia takut terbawa emosi bila mengungkapkannya saat ini sementara hatinya masih tak menentu.


Dan ketika mendekati Adzan subuh, Anabel kembali lagi ke kamar dan mempersiapkan pakaian untuk Ferdi ke masjid dan kerja.


"Mas, mau sholat subuh ya? aku persiapkan ya pakaiannya." ucap Anabel.


"Iya yank, terimakasih ya sayangku." ucap Ferdi. Sedangkan Anabel hanya mengangguk.


Setelah siap, Ferdi pun segera berangkat ke masjid untuk shalat subuh.


"Hati hati." ucap Anabel mencium tangan Ferdi. Bagaimanapun ia tetap harus menghormati Ferdi sebagai suaminya.


Tapi ketika Ferdi hendak mencium kening Anabel, Anabel menghindar karena ia ingin Ferdi tau bahwa ia marah kepadanya.


Namun untuk saat ini Anabel belum ingin mengutarakan kekecewaannya pada Ferdi.


Setelah Ferdi hilang dari pandangannya, Anabel ambruk di lantai dan menangis.


Jujur saja, hatinya masih sangat sakit mengetahui kenyataan itu. Kenyataan suaminya mencintai sahabatnya sendiri.


Anabel benar benar tak menyangka, perasaan mereka berbalas. Hatinya semakin terasa sakit mengetahui kenyataan itu.


Anabel mengambil handphonenya untuk membaca kembali tulisan yang Ferdi tulis untuk Ana.


Hingga beberapa detik, Anabel mematikan kembali handphonenya , karena jujur ia tak sanggup membaca terlalu lama tulisan itu.


Anabel segera bersiap untuk shalat subuh dan melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan rumahnya.


.................


Ketika Anabel sibuk mempersiapkan sarapan pagi, Ferdi mengampiri Anabel dan memeluknya dari belakang.


Ferdi mencoba mendekatkan dagunya di sisi pundak Anabel dan mencoba menghirup bau shampo Anabel. Ferdi sengaja melakukan itu karena ia ingin membuat Anabel amarahnya hilang kepadanya. Ferdi harus mengembalikan mood Anabel dan membuat Anabel mau berbicara padanya.


"Ih, mas udah deh jangan seperti ini, malu di lihat anak anak ntar."ucap Anabel dengan kesal dan mencoba menyingkirkan tangan Ferdi dari perut nya. Anabel juga berusaha menjauhkan dagu Ferdi dari lehernya atau di sisi pundaknya.


"Aih sayangku, pakai malu juga ya hihi."ucap Ferdi mencoba menggoda Anabel.


"Udah deh yank, aku juga risih tau." ucap Anabel kesal karena terus di goda Ferdi.


Setelah Masakan siap, Anabel segera mengangkat nya dari wajan gorengan omelett yang ia buat dan menyajikan di meja makan. Selama ia memasak benar benar ujian banget baginya, bagaimana tidak ? Ferdi terus mengintipnya dan menggodanya meski ia sudah berusaha menjauh dan menghindar dari Ferdi. Hingga karena ia terlalu lelah di goda terus dan tenaga nya tentu saja kalah dengan Ferdi , hingga membuat Anabel menyerah dan membiarkan Ferdi menggodanya selama ia memasaknya tadi di kompor.


"Bulan, Bintang, David, Ayo makan." panggil Anabel kepada ketiga anaknya.


"Iya bundaaaa." ucap mereka menuju ruang tengah.


Sesampainya di ruang tengah, Anabel menyuruh anak anaknya untuk cuci tangan dulu sebelum makan. Bagaimanapun ia ingin anaknya menjaga kebersihan dan kesehatannya.


Setelahnya, mereka membaca bismillah dan makan.

__ADS_1


Anabel memang mengajarkan anak anaknya untuk membaca doa dalam segala hal terlebih dahulu.


Mereka pun makan dan sambil sesekali mengobrol ringan, setelah selesai makan Anabel pun segera membereskan sisa makanan dan mengantarkan anak anaknya untuk berangkat ke sekolah.


Sebenarnya bisa saja untuk Anabel tidak mengantarkan ketiga anaknya sekolah dan cukup dengan supir saja yang mengantarkannya. Tapi Anabel hanya ingin mereka merasakan bahwa Anabel menyayangi dan peduli dengan mereka sehingga selama Anabel bisa mengantarkan mereka, Anabel akan mengantarkannya.


Karena seusia mereka membutuhkan pendampingan orang tua.


***


Setelah pulang mengantarkan mereka, Anabel meminta turun di jalan dekat taman, sedangkan Ferdi terus menuju kantornya.


Anabel hanya ingin menenangkan dirinya sejenak, melihat pasangan suami istri bermesraan ataupun melihat beberapa orang berjalan bersama teman teman mereka, tanpa terasa Anabel menangis. Air matanya turun tanpa bisa ia cegah ketika mengingat apa yang terjadi saat ini padanya. Hatinya terasa sesak, dulu ia sama seperti mereka. Memiliki teman , sahabat atau suami yang romantis dan setia padanya.


Meski kini Ferdi masih setia padanya, tapi jujur saja hati Ferdi telah di miliki perempuan lain dan perempuan itu tak lain sahabatnya sendiri.


Kini pun Amel satu satunya sahabat yang ia miliki, seperti seakan menjauh karena Anabel yang masih memihak pada Ana.


Tanpa terasa waktu terus berjalan, Anabel masih menikmati kesendiriannya di taman itu saat ini. Angin kencang membelai pipinya, tubuhnya sedikit mengigil padahal ini masih pagi menurutnya.


Tanpa ia duga, langit pun berubah menjadi mendung dan hujan pun turun .


Anabel segera bersiap untuk pulang, termasuk beberapa orang yang saat ini berada di taman.


Namun hujan turun begitu derasnya membuat Anabel bingung harus melanjutkan perjalanan pulang atau bagaimana. Anabel pun memutuskan untuk menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya. Bagaimanapun Anabel tak mungkin menunggu di taman ini terlalu lama hingga hujan reda, karena tentu saja Afnan sedang menunggunya di rumah dan membutuhkan kehadirannya. Selain itu, Ia juga tak ingin sakit bila terus menunggu di sini. Bagaimanapun anak anaknya masih membutuhkannya dan sebagai seorang ibu, Anabel berusaha untuk tak jatuh sakit.


Hampir satu jam , supirnya belum datang ataupun memberitahu kabar ke Anabel. Segala prasangka mulai memenuhi dada Anabel.


Anabel pun memutuskan untuk pulang berjalan kaki, namun baru beberapa langkah Anabel berjalan, terlihat sopirnya datang .


Mobil itu melaju ke arahnya, Anabel pun tersenyum dan menunggu mobil itu tepat di tempatnya. Setelah itu Anabel segera masuk kedalam mobil tersebut menuju perjalanan pulang. Jujur saja Anabel benar benar kedinginan. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali berusaha memeluk dirinya sendiri dan mengusap usap tangannya agar rasa dingin itu sedikit berkurang.


 


\==============


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Sakit


Selama perjalanan pulang , Anabel bersin bersin dan Anabel memperkirakan ia terkena flu.


"Non, sakit flu?" tanya sopir itu kepada Anabel, saat melihat Anabel bersin terus menerus.


"Iya pak, mungkin karena terguyur air hujan tadi." ucap Anabel.


"Ya Tuhan Non, nanti sampai rumah bikin teh hangat, jahe atau madu non untuk meredakan flu nya dan buat istrirahat untuk meredakan sakit kepalanya non." ucap sopirnya.


"Iya pak, makasih ya." ucap Anabel.


Anabel pun memejamkan matanya selama perjalanan tersebut dan menyandarkan kepalanya untuk meredakan rasa pusing yang mulai menghampirinya. Rasa pusing yang mulai menghantamnya.


Perjalanan yang memakan waktu hampir 1 jam, membuat Anabel benar benar tertidur. Setelah sampai, supir segera membangunkan Anabel.


"Non, bangun non, bangun, kita sudah sampai di depan rumah." ucap supirnya kepada Anabel.


"Hemm, Iya apa pak? bentar lagi." ucap Anabel sambil mengigau.


"Non, bangun.Kita sudah sampai di depan rumah non."ucap sopir itu kepada Anabel.


"Iya pak." ucap Anabel, dan segera turun dari mobil, tetapi Anabel hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh, jika saja Ferdi tidak segera mendekap dan menolong Anabel. Ferdi yang memang sejak tadi sudah menunggu di depan rumah menanti kehadiran Anabel.


Ferdi pun segera membopong Anabel untuk segera masuk kedalam rumah.


Bulan dan Bintang juga David menyambut kedatangan Anabel , tetapi Ferdi menyuruh mereka kali ini untuk tidak terlalu ribut dan tidak meganggu bundanya untuk sementara waktu. Ferdi mencoba memberikan mereka pengertian jika bundanya, sedang sakit.


David, Bulan juga Bintang pun paham dan mereka segera bermain sendiri.


Ferdi segera menidurkan Anabel di tempat tidur setelah ia masuk kedalam kamarnya.


Dengan cekatan , Ferdi merawat Anabel yang sedang sakit. Setelah mengganti pakaian Anabel yang basah, Ferdi segera menaruhnya di tempat pakaian kotor. Dan melanjutkan memasak bubur untuk Anabel.


Ferdi juga membuatkan Anabel susu dengan campuran madu, agar tubuh Anabel merasa bertenaga dan tidak terlalu lemas.


Selama menunggu bubur matang, Ferdi segera mengambil air hangat untuk mengompres Anabel, mulai dari dahi, pipi, tangan, kaki juga perut karena jujur saja Ferdi khawatir dengan keadaan Anabel yang mulai naik suhu tubuhnya.


Ferdi pun kembali ke dapur, untuk melihat kembali, buburnya sudah matang atau belum.


"Ah, ternyata sudah." lirih Ferdi, dan segera mematikan kompor lalu Ferdi segera menyiapkan bubur untuk segera di suapkan kepada Anabel.


Setelah sampai di kamarnya, Ferdi segera membangunkan Anabel dan menyandarkan tubuh Anabel di antara banyak yang sudah ia jejer. Anabel yang masih kesulitan untuk bangun dan membuka mata hanya mampu memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya.


Ferdi pun segera menyuapi Anabel makan.


"Uda yank, aku kenyang." ucap Anabel setelah suapan kedua.


"Aih sayang, ini baru suapan kedua kok kenyang sih?Gimana kamu mau liat dan gak mudah sakit? jika makan saja kami dikit dikit seperti ini?" ucap Ferdi.


"Kalau mau sembuh ya harus makan dan jangan dikit. Selama sayang sakit, mas gak bolehin anak anak buat main sama sayang,bukannya apa.Mas hanya takut kamu anak anak ikut sakit. Jadi sayang kalau mau main sama anak anak, Harus sembuh dulu ." ucap Ferdi kembali.


"Hemm , tapi aku kok neg ya yank mau lanjutin makan ni rasanya tak sanggup. Bukan gak mau sembuh atau gak mau makan akunya, tapi bener bener ngerasa mual mas." ucap Anabel.


"Tapi harus paksain sayang, jangan terlalu dikit.besok kita cek ke dokter, selama belum ke dokter sayang harus paksain makan walau dikit ,dikit .Mas kan suapin sayang."ucap Ferdi.


"Udahlah mas gak usah sok peduli, mas juga Uda buat Anabel sakit seperti ini." ucap Anabel dengan lemas dan segera menidurkan dirinya kembali.


Ferdi yang merasa di abaikan oleh Anabel terlebih dengan ucapan Anabel baru saja, benar benar membuat hati Ferdi cukup bergemuruh untuk menanyakan maksud Anabel dan dari sikap Anabel beberapa hari ini.


" Maksud sayang apa?" Kenapa bilang seperti itu? hemm? mas ini suamimu tentu saja mas peduli padamu, Isrti mas."ucap Ferdi penuh tekanan pada setiap kalimat yang ia ucapkan.


Namun Anabel masih berusaha mengabaikan Ferdi dan mencoba menekan matanya kembali, karena jujur ia benar benar merasa malas untuk berdebat dengan Ferdi untuk kali ini.


"Yank." panggil Ferdi.


"Yank."


"Sayang."


Ucap Ferdi beberapa kali, hingga kesabaran Ferdi terasa habis.


"Bel" ucap Ferdi Setelahnya.


Jujur saja Anabel merasa hatinya tak karuan karena kali ini Ferdi memanggil namanya langsung tidak dengan panggilan "sayang", namun Anabel masih berusaha bersikap tenang dan mencoba mengabaikan Ferdi.


Namun tak di sangka Ferdi segera mendudukkan tubuh Anabel saat Anabel hampir memejamkan matanya kembali.


"Auh."lirih Anabel yang terasa sakit saat di tarik paksa oleh Ferdi.


"Sakit mas, lepasin aku mau istrirahat." ucap Anabel.


"Aku gak mau kita berantem karena hal ini. Aku lagi males berantem denganmu. Jika memang kamu tak menyadari kesalahanmu yasudah, tidak perlu memaksaku seperti ini. Aku ini sakit, apa kamu tega ajak istrimu yang lagi sakit ribut?" ucap Anabel kesal.


"Udah lah mas, mana obatnya biar ku minum. Aku mau lanjut tidur kepalaku benar benar pusing."lirih Anabel.


Ferdi yang tak tega dengan Anabel pun pada akhirnya, memberikan Anabel obatnya dan membiarkan Anabel tidur kembali. Walau jujur ia sangat penasaran ucapan yang di maksud Anabel. Ferdi pun mencoba memikirkan maksud perkataan Anabel.


 


\==================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Ferdi Merawat Anabel


Keesokannya ...


Hari ini Ferdi sengaja tidak ke kantor, karena ingin merawat dan menjaga Anabel sepenuhnya.


Ferdi pun segera membereskan rumah dan mempersiapkan dirinya untuk ke rumah sakit mengantarkan Anabel.


"Yank, bangun. Yuk makan, uda mas siapakan bentar lagi kita ke dokter."ucap Ferdi yang tengah siap menyuapkan Anabel makan.


"Buat apasih mas ke dokter? Udah deh jangan sok peduliin aku. Peduliin aja Ana, cari sana di mana ia berada , agar kau tak kehilangan cintamu."ucap Anabel tanpa sadar, karena saat ini kepalanya benar benar pusing terlebih ia mengingat bagaimana hubungan cinta dalam diam antara Ana dan Ferdi,. entar benar membuat Anabel tak dapat membendung emosinya yang selama ini ia coba untuk rendam.


"Maksud kamu apa? aku dan Ana? tanya Ferdi yang tak mengerti sepenuhnya ucapan Anabel.


Namun Anabel hanya menatap sekilas ke arah Ferdi , seakan mengisyaratkan bahwa Ferdi tak salah dengar. Dan Anabel ingin memberitahu Ferdi dari apa yang ia rasakan , memendam kerlukaan dan kesedihannya selama ini.


"Maksud apa yank." tanya Ferdi yang mulai melunak.


"Mas, ingin tau maksud kamu. Mas tak Mungin mengerti maksud kamu selebihnya, seperti yang mas tadi bilang. Mas bukan Tuhan jadi mas gak tau sepenuhnya perasaanmu dan apa yang kamu inginkan bila kamu tak mengungkapkan pada mas."ucap Ferdi.


"Mas , ada rasakan dengan Ana?" tanya Anabel dengan lirih.


"Yank.." ucap Ferdi yang tiba tiba saja kesulitan melanjutkan perkataannya.


"Maafin aku yank." lirih Ferdi yang menyesal.


"Jadi benar kamu ada rasakan dengan Ana?"ucap Anabel dengan penekanan.


"Jawab mas." ucap Anabel kembali.


"Iya benar, mas memang sempat ada rasa dengan Ana tapi.." ucap Ferdi yang terhenti karena perkataan yang Ana lontarkan.


"Jadi benar? Sempat atau sampai sekarang mas ada rasa itu dengan Ana?" ucap Anabel kembali yang mulai emosi.


"Sabar, tolong dengarkan penjelasan mas dulu." ucap Ferdi dengan mencoba memegang tangan Anabel.


"Yaudah jawab."ucap Anabel ketus.


"Ya, benar mas memang sempat ada rasa dengan Ana dan mungkin hingga kini tapi mas janji akan berusaha menghilangkan perasaan ini , perasaan yang gak seharusnya. Dan mas janji akan membuktikan ke kamu , jika kamu tetap menjadi satu satunya wanita di hatiku."ucap Ferdi kembali dengan menggenggam tangan Anabel.


"Hemm." ucap Anabel.


"Mas janji sayang." ucap Ferdi kembali.


"Udahlah mas, tinggalkan aku sendiri. Aku ingin sendiri untuk saat ini. Biar ku makan bubur ini sendiri." pinta Anabel.


"Hemm, baiklah." ucap Ferdi yang mencoba memahami lalu pamit keluar kamar.


"Bundaaa."ucap Bulan dan Bintang bersamaan. Sedangkan David menunggu di belakang mereka tanpa suara.


"Ssst, bunda tidur sayang, jangan terlalu berisik ya. Bunda sakit."ucap Ferdi kepada anak anaknya.


"Ohya , Afnan gimana rewel gak! atau Uda tertidur?" tanya Ferdi kepada Bulan dan Bintang.


"David , Afnan Uda tidur?" tanya Ferdi jwmbi kepada David kakak tertua di sini.


Ferdi memang tadi meminta anak anak menjaga Afnan, selama ia mengurus Anabel.


"Afnan Uda tertidur yah, setelah kami ambil susu di flezer itu, yang kata ayah dan bunda siapkan untuk Afnan." ucap David mencoba menjawab pertanyaan Ferdi .


"Bunda, nanti ke dokter ?" tanya David kembali.


"Iya nanti bunda ke dokter, Ayah titip Adnan ya. Tolong jaga yang baik Adek kalian ya." ucap Ferdi.


"Yaudah ayah mau membereskan rumah dan mempersiapkan kalian makan ya ." ucap Ferdi dan berlalu pergi ke dapur.


"Iyaaa siappp ayah." ucap Bulan, Bintang dan David bersamaan.


Setelah menggoreng telur dadar , Ferdi pun segera menyajikan untuk makan Bukan, Bintan dan David sebelum berangkat ke sekolah. Tak lupa Ferdi memberikan caos di telur yang telah ia goreng sebagai penyedap rasa. Karena anak anak pasti akan semakin lahap makannya.


"Taraaaa." ucap Ferdi dengan menaruh piring di meja makan kepada Bulan dan David yang telah siap di meja makan.


"Loh Bintang mana?" tanya Ferdi saat tidak melihat kehadiran Bintang.


"Masih mempersiapkan pakaian dan buku atau alat sekolah yah, karena tadi ada barangnya yang hilang." ucap Bulan.


"Oooh begitu, Bulan gak bantu Bintang?" tanya Ferdi.


"Bulan lapar yah, hehe. Tadi bulan udah pamit duluan ke Bintang untuk makan hehe."ucap Bulan cengengesan.


"Hemm, baiklah." ucap Ferdi..


"Yaudah, kalian makan duluan ya, Ayah mau mengecek Bintang sebentar setelah itu ke kamar bunda."ucap Ferdi dan berlalu pergi setelah mendapatkan respon dari Bulan, David dan Bintang.


"Iyah, Ayah." ucap mereka bersamaan.


kreeeeek, "Bintang sudah ketemu barangnya? gak ikut makan? mau ayah bantu?" tanya Ferdi setelah membuka pintu kamar Bintang.


"Gak usah yah , gak papa.Biar Bintang cari sendiri hehe.' ucap Bintang mencoba tersenyum.


"Hemm yakin? ayah bantu bentar gak papa kok." ucap Ferdi kembali.


"Cari apasih?" tanya Ferdi lagi.


"Buku dan seragam juga alat sekolah ku beberapa hilang yah." ucap Bintang sedih , tanpa sadar meneteskan air matanya.


Ferdi pun segera menghampiri Bintang dan memeluknya.


"Sabar yah , biar Ayah bantu. Dan Nike belum ketemu Ayah belikan Bintang yang baru.Jadi jangan sedih ya."ucap Ferdi.


"Hemm tapi Bintang bukan ingin beli baru. Bintang akan merasa bersalah telah merepotkan ayah, Karena Bintang ingin seragam Bintang ketemu, juga buku dan alat sekolah Bintang. Karena banyak catatan di buku itu yah,dan kenangan di barang barangnya jadi sulit tergantikan. " ucap Bintang sedih.


"Yang Bintang inginkan barang Bintang ketemu bukan beli baru.Tapi terimakasih ayah mau membelikan Bintang yang baru. Tapi bukan itu yang Bintang inginkan."ucap Bintang lesu.


"Hemm iya, Yaudah ayah bantu ya cari." ucap Ferdi akhirnya.


"Serius yah? terimakasih." ucap Bintang.


"Iya serius, sama sama sayang." ucap Ferdi segera membantu Bintang mencarikan barangnya yang hilang.


Setelah beberapa menit kemudian, Barang tersebut telah ketemu satu persatu.


"Alhamdulillah Uda ketemu." ucap Ferdi.


"Iya yah, Alhamdulillah. Terimakasih ya yah." ucap Bintang.


"Sama sama sayang,lain kali taruhnya di tempat yang mudah di ingat ya jangan tercecer seperti tadi." ucap Ferdi.


"Yaudah yuk turun buat makan. Bintang kan belum makan, Ayah Uda mempersiapkan makanan kesukaan Bintang." ucap Ferdi.


"Iya yah, kan Bintang sekamar dengan Bulan. " ucap Bintang yang kesal karena Bulan yang seringkali memakai barangnya tanpa mengembalikan ke tempat semula membuat barang barangnya hilang.


"Wah apa yah?" tanya Bintang antusias saat Ferdi mengatakan makanan kesuksa Bintang.


"Ingatkan Bukan dan ajarkan gimana menata barang pada tempatnya agar barang kalian gak hilang lagi. Sayang, kalau Uda hilang." ucap Ferdi.


"Yaudah kalau penasaran, turun ya terus maka . Oke?" ucap Ferdi.


,"Telur dadar sama caos dan nasi anget , ayah persiapkan untuk mu." ucap Ferdi.


"Yeee, Alhamdulillah. Oke yah siap meluncur ke bawah hehe." ucap Bintang.


"Yah , ayah mau ke mana?gak ikut makan? tanya Bintang.


"Ayah mau ke kamar bunda dulu ya." ucap Ferdi yang hendak berlalu ke kamar Anabel.


"Oke yah, tapi Uda makan kan tadi? kalau belum makan dan tetap jaga kesehatan ayah bagaimanapun ayah mengurus bunda dan butuh tenaga." ucap Bintang.


"Sama sama sayang." ucap Ferdi mengampiri Bintang dan mengelus kepalanya juga mencium dahi dan pipi Bintang karena gemas dengan nasehat Bintang seperti orang dewasa.


"Yaudah makan ya , nanti telat sekolahnya kalau Bintang gak makan makan. Karena sekalian kita satu mobil, bentar lagi ayah mau antar bunda ke rumah sakit juga." ucap Ferdi dan berlalu pergi meninggalkan Bintang menuju ke kamar Anabel.


"Ok sipp yah." ucap Bintang yang turun dari tangga menuju Meja makan.


"Uda ketemu Bintang barangnya?" tanya David, sesampainya Bintang di meja makan.


"Uda dong, di bantu ayah." ucap Bintang penuh senyum.


"Alhamdulillah." ucap Bulan dan David bersamaan.


"Makan yuk, sebelum telat." ucap Bulan.


"Iya." jawab Bintang dan segera makan


 


\===================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Ketus


Ferdi pun masuk ke kamar Anabel.


Anabel yang awalnya duduk langsung menidurkan dirinya ketika mendengar pintu kamarnya di buka. Anabel sangat yakin Ferdi yang tengah masuk ke kamarnya saat ini.


Setelah Ferdi membuka pintu dan melihat Anabel tertidur , Ferdi tersenyum untuk beberapa saat dan segera mendekati Anabel untuk membangunkan nya.


"Yank, kok belum bangun? bangun yuk, kita siap siap ke dokter." ucap Ferdi yang berusaha membangunkan Anabel dengan lembut, sesekali Ferdi melirik tempat makan Anabel yang sudah tinggal kosong, Setidaknya Ferdi bersyukur, Anabel telah menghabiskan makanannya.


"Yuk ke dokter yank." ucap Ferdi kembali.


"Anak anak belum berangkat?" tanya Anabel.


"Belum yank." ucap Ferdi.


"Setelah anak anak ke sekolah, kita juga siap siap ke rumah sakit ya." ucap Ferdi.


"Anak anak di antar supir aja? tanya Anabel.


"Iya yank. Gimana lagi untuk sementara waktu, anak anak juga paham kok keadaan ini." ucap Ferdi.


"Mereka Uda makan?" tanya Anabel kembali.


"Uda yank." jawab Ferdi.


"Siapa yang masakkin? Beli?" tanya Anabel.


"Aku yang masakkin." jawab Ferdi.


"Bohong." ucap Anabel.


"Serius kok, bener ." ucap Ferdi yang membuat Anabel meliriknya sekilas.


"Hemm, terus Afnan kita bawa ke rumah sakit?" tanya Anabel kembali.


"Enggak, nanti di titipkan sama mamamu. Mamamu Uda ku chat tapi lagi di pasar katanya baru ke pasar, daripada kita telah telat ke rumah sakit, mas minta ibu ke sini nunggu mama Dateng, untuk sementara.Mugkin ibu juga kangen Afnan cucu nya. " ucap Ferdi.


"Hemm baiklah, tapi kenapa kamu tanpa persetujuanku terlebih dahulu sih?" tanya Anabel.


"Iya sorry yank." ucap Ferdi.


"Hemm" ucap Anabel.


"Yaudah yuk kita ke bawah mengantarkan anak anak ke mobil sebelum mereka ke sekolah. Sama nunggu ibu." ucap Ferdi kembali.


"Iya.." ucap Anabel.


"Yank, kamu kok masih ketus gitu, Gak enak ntar di lihat anak anak, aku minta maaf ya." ucap Ferdi kembali.


"Iya, gak papa. Untuk di depan anak anak tenang saja, aku bisa memainkan drama di depan mereka, jangan khawatir." ucap Anabel yang masih dengan nada ketusnya, hingga membuat Ferdi hanya bisa mengelus dada.


"Untuk maafin kamu entah kenapa sulit dan hatiku masih terlalu sakit terlebih mengingat semuanya." ucap Anabel dengan memegang dadanya seakan menunjukkan ferdi rasa sakit itu yang tak mampu ia ungkapkan.


"Mas, minta maaf bila telah lukai hatimu. Mas janji akan membuktikannya." ucap Ferdi.


"Hemm" ucap Anabel dan berlalu pergi turun ke bawah .


Kedatangan Anabel ke bawah di sambut oleh Bulan, Bintang dan David.


"Bundaaa." ucap mereka bersamaan.


"Iya sayang, uda makan? siap berangkat sekolah?" ucap Anabel.


"Siappp dong bun." ucap Bulan, Bintang dan David.


"Kami berangkat dulu ya bun." ucap Bulan.


"Yaudah hati hati ya sayang."ucap Anabel.


Setelah memastikan anak anak berangkat, Anabel menunggu kedatangan bu Nila.


Beberapa menit kemudian, bu Nila pun datang dan Anabel segera bersiap untuk ke rumah sakit.


"Assalamualaikum sehat Bel?" tanya bu Nila.


"Waalaikumussalam buk, Alhamdulillah. Terimakasih ya bu, Uda mau ke sini. Maaf merepotkan." ucap Anabel.


"Iya gak papa, ibu Alhamdulillah sehat. Ibu juga senang kok ke sini, bisa main sama cucu ibu sama ketemu besan ibu." ucap bu Nila


"Yaudah bu, kami pamit duluan keburu telat.


ucap Ferdi.


"Iya nak, Afnan masih tidurkah?" tanya bu Nila.


"Tadi Uda bangun, barusan." ucap Anabel.


"Ooh gitu yaudah , ibu segera ke Afnan ya kalian hati hati." ucap bu Nila.


"Iya bu, kirim salam ke mama April ya bu." ucap Ferdi


"Iya nak." jawab bu Nila.


Setelah itu, Ferdi dan Anabel segera berangkat, selama perjalanan ke rumah sakit mereka hanya diam saja hingga Ferdi membuka pembicaraan.


"Yank, aku minta maaf.Udah dong diemin atau cuekin akunya." ucap Ferdi.


"Aku janji akan buktikan ke kamu kalau kamu wanita satu satunya di hatiku dan yang paling berharga dan takkan tergantikan." ucap Ferdi yakin dengan memegang tangan Anabel dan Ferdi berjanji akan benar benar membuktikan kepada Anabel.


 


\=======================


 


Ketika Cinta Harus Memilih - Pembuktian Cinta Ferdi


Setelah mengantarkan Anabel pulang dari rumah sakit, Ferdi berjanji akan membuktikan kepada Anabel jika dia Anabel satu satunya wanita yang ia cintai dan di hatinya. Dan ia akan berusaha melupakan perasaan kepada Ana .


Hari ini Ferdi sengaja meliburkan diri untuk tak bekerja karena ia ingin memberikan waktunya sepenuhnya untuk Anabel yang saat ini sedang sakit.


Ferdi ingin merawat Anabel sepenuhnya hingga Anabel sembuh. Terlebih Ferdi pun sudah berjanji pada Anabel untuk membuktikannya. Dengan Ferdi meliburkan diri tak bekerja, Ia berharap Anabel menyadari bahwa ini sebagai pembuktian darinya yang menyayangi dan peduli kepada Anabel.


Untuk kerjaan kantor atau rapat Ferdi telah menyerahkan kepada orang-orang yang ia percayai untuk menghandle semuanya. Walau jujur beberapa partner kerja Ferdi bsrharap Ferdi yang dapat menghandle dan memimpin rapat. Namun Ferdi mencoba menyakinkan kepada mereka bahwa orang orang yang ia pilih, orang yang terpilih dan dapat menghandle semuanya juga memimpin rapat. Ferdi juga mengatakan kepada mereka bahwa ia tetap melakukan pengecekan lewat online data data kantor, selama ia di rumah.


Setelah pulang dari rumah sakit, Ferdi pun segera menata kamar Anabel agar nyaman di tidurin Anabel dan segera membereskan rumah.


Setelah membereskan rumah, Ferdi yang melihat Anabel menuju kamarnya dengan sempoyongan segera menuntut Anabel agar tidak jatuh.


Setelah memastikan Anabel beristirahat dengan nyaman, Ferdi pun pamit dan mulai membereskan rumah kembali.


Setelah hampir 2 jam , Ferdi telah selesai membereskan pekerjaan rumah dan segera memasak untuk Anabel juga David, Bulan dan Bintang untuk makan mereka, yang sebentar lagi pulang.


Siang ini Ferdi ingin memasak capcay goreng dan segera melihat di YouTube totirial memasak , dengan semangat Ferdi segera mempersiapkan bahan-bahannya.


Ferdi melihat ke kulkas masih tersisa bahan apa saja, dan Ferdi bersyukur bahan untuk membuat capcay goreng tersedia jadi dia gak perlu pergi ke pasar lagi, karena jujur tubuhnya pun sudah sangat lelah.


Dan Ferdi pun dengan gesit segera memasak, dengan hati senang tak butuh waktu lama, masakan capcay goreng Ferdi telah jadi.Dengan tersenyum Ferdi pun segera menyajikan di meja makan , namun Ferdi tetap membagikannya porsi untuk anak anak dan Anabel.


Setelah itu Ferdi segera membereskan sisa bahan atau bumbu yang masih tercecer bekas ia masak tadi.


Setelahnya, Ferdi segera melihat ke kamar Anabel untuk melihat kondisi Anabel yang sejak tadi ia tinggal memasak.


Melihat Anabel tertidur, jujur saja hati Ferdi sedikit lega dan merasa bersalah.


Lega karena Anabel baik baik saja. Merasa bersalah mungkin Anabel kelelahan menunggu ia selesai memasak.


Setelah mengecek kondisi Anabel, Ferdi menuliskan surat untuk Anabel jika ia mau pergi sebentar untuk menjemput anak-anak sekolah.karena yang di takutkan Ferdi , Anabel terbangun saat ia tengah pergi dan Anabel akan mencari keberadaannya.


Ferdi pun berharap ini sebagai bentuk pembuktian kepada Anabel , bahwa ia peduli dengan Anabel juga menyayanginya.


Setelah menuliskan surat untuk Anabel , Ferdi segera mengunci pintu dari luar, Ferdi bersyukur punya kunci ganda sehingga untuk keluar ketika Anabel tidur tak perlu membangunkan dan mengganggu tidur Anabel.


**


Sesampainya di sekolah,


Dari kejauhan Ferdi melihat Bulan, Bintang sudah berhamburan bersama teman teman lainnya.


Ferdi pun segera menyambut kehadiran mereka.


"Halo Bulan, Bintang anak Ayah gimana sekolahnya tadi? sangat menyenangkan dong tentunya? ohya David kakak kamu ke mana? kok gak keliatan? .tanya Ferdi.


"Iya yah, tadi kak David izin ke Bulan dan Bintang, ada les sampai sore.," ucap


"Hemm yasudah, yuk kita pulang duluan. Nantinya sore ayah jemput kak David." ucap Ferdi.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pulang, karena Ferdi juga tak ingin membuat Anabel terlalu lama menunggu.


Selama perjalanan hampir memakan waktu 1jam, akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Ferdi segera membuka pintu rumah dan Bulan, Bintang segera berhamburan untuk masuk ke dalam rumah.


Ferdi juga berpesan pada anaknya agar tak terlalu berisik karena bundanya sedang tidur.


"Bulan, Bintang, kalian cuci tangan dulu setelah itu lihat bunda masih tidur atau enggak ya. Kalau misal bunda masih tidur , tolong kalian jangan terlalu keras suaranya saat main juga jangan terlalu heboh mainnya ya. Ayah mau mandi dulu soalnya, Badan ayah lengket semua sedari pagi ngurus kerjaan rumah." ucap Ferdi dan berlalu pergi.


"Okeeee siapppp Yah." ucap Bulan dan Bintang bersamaan.


Bulan dan Bintang pun bergantian ke kamar Aqu mandi setelahnya mereka segera melihat bundanya, sedang tidur atau tidak seperti pesan ayahnya.


Ketika melihat bundanya sedang tidur, Bulan dan Bintang memilih bermain di ruang tamu agar jauh dari kamar Anabel dan menunggu David pulang.


Setelah selesai mandi, Ferdi segera melihat Bulan, Bintang lalu Anabel.


Melihat Bulan dan Bintang bermain, Ferdi menghampiri mereka, "Halo anak ayah, kok mainnya di sini? " tanya Ferdi.


"Iya ayah supaya bunda gak kedengaran suara kita main sambil nunggu kak David pulang." jawab Bulan.


"Ooh begitu, baiklah. Ayah ke kamar bunda dulu ya, mau lihat bunda kalian." ucap Ferdi kepada Bulan dan Bintang.


"Ok ayah." ucap Bulan dan Bintang.


Ferdi pun segera ke kamarnya untuk melihat Anabel.


Melihat Anabel tertidur, Ferdi segera mendekati tempat tidur Anabel.


Ferdi mengelus pelan kepala Anabel dan mencium kening Anabel. Dan apa yang Ferdi lakukan membuat tidur Anabel sedikit terusik, perlahan tapi pasti Anabel pun terbangun dari tidurnya. Menggeliat pelan dan perlahan membuka kelopak matanya.


"mas Ferdi." ucap Anabel dengan lirih.


"Anak anak gimana mas? tanya Anabel kembali.


"Bukan dan Bintang sedang main, David masih di sekolah ada les." ucap Ferdi.


"Les?" tanya Anabel kembali.


"Iya les."jawab Ferdi.


"Ohya makan ya." ucap Ferdi.


"Beli?" tanya Anabel


"Enggak, aku tadi udah masak capcay goreng untuk kamu dan anak anak" ucap Ferdi bangga.


"Iyakah? tanya Anabel kembali.


"Iya istriku, kok gak percaya sih?" tanya Ferdi gemas.


"Bukan gak percaya, tapi kok rasanya gak bisa di percaya. Serasa bohong ." ucap kembali.


"Isssh serius kok, aku ambilkan dulu ya buburnya terus kamu rasakan." ucap Ferdi.


"Hemm baiklah, tapi Bulan dan Bintang juga Uda makan kan?" tanya Anabel.


"Belum sih, tapi Uda ada makanan tersedia,. mereka bisa ambil sendiri." ucap Ferdi.


"Hemm, tapi tanya dulu aja ke mereka, atau siapkan dulu aja."ucap Anabel"Hemm, baiklah. Setelah ini aku menyuapimu ya." ucap Ferdi.


"Hemm." ucap Anabel.


Ferdi pun segera pergi dari kamar menuju ruang tamu melihat Bulan, Bintang.


"Bulan, Bintang gak istrirahat? tidur siang? Uda makan?" tanya Ferdi.


"Belum, iya bentar lagi ambil makan." ucap Bulan dan Bintang.


"Mau ayah ambilen makan?" tanya Ferdi.


"makasih yah, tapi nanti kami ambil sendiri. Kami tidak ingin merepotkan ayah." ucap Bintang.


"Hemm, baiklah ayah persiapkan capcay nya di meja makan ya sama Nasik nya supaya kalian tinggal ambil nanti." ucap Ferdi.


"okee, ayah terimakasih. ucap Bulan.


"terimakasih ayah." ucap Bintang.


"iya sama sama" ucap Ferdi.


Ferdi pun segera mempersiapkan capcay goreng di meja makan dan Nasik untuk Bulan dan Bintang makan.


Setelah itu Ferdi kembali lagi menghampiri Bulan dan Bintang.


"Ayah Uda persiapkan ya capcay goreng dan Nasiknya di meja makan.Kalian tinggal ambil aja ya. " ucap Ferdi.


"Oke ayah." ucap Bulan dan Bintang.


"Ayah, mau kembali ke kamar yah, menemani bunda makan ya." ucap Ferdi Kembali.


"Iya ayah." ucap Bintang dan Bulan.


Ferdi pun segera ke kamar Anabel untuk menanyainya.


"Yank." ucap Ferdi setelah memasuki kamar, dan melihat Anabel sedang membaca buku.


"Iya mas, apa?" ucap Anabel lemas.


"Mas ambilkan makan ya." ucap Ferdi kembali.


"Hemm,iya deh. Bulan dan Bintang Uda makan? " tanya Anabel.


"Belum, tapi Uda mas persiapkan lauk dan Nasiknya di meja makan, mereka tinggal makan aja." ucap Ferdi.


"Oooh baiklah, kamu sendiri Uda makan mas?" tanya Anabel.


"Belum." ucap Ferdi dengan tersenyum.


"Yaudah mas, kamu makan aja dulu." ucap Anabel.


"Enggak mau." ucap Ferdi dengan menggelengkan kepala ,mencoba menggoda Anabel dan itu membuat Anabel mengerutkan alisnya. Sebelum Anabel berbicara kembali.


Ferdi berbicara kembali.


"Ya mas gak mau makan dulu, mau nya Bateng kamu . Hehehe." ucap Ferdi.


"Makanya, mas mau ambilkan kamu makan, sekalian kita makan ya." ucapnya kembali.


"Ooh oke mas." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Ihh tapi sebel aku di kerjain. Awas kamu mas." ucap Anabel pura pura merajuk dan mencoba mencubit Ferdi.


"No, no, no, gak kena hahaha." ucap Ferdi mencoba menghindar dari Anabel . Dan tawa mereka pecah.


"Hemm, Yaudah mas ambilkan makan dulu ya?" ucap Ferdi Kembali, menghentikan acara kejar kejaran mereka.


"Iya mas." ucap Anabel.

__ADS_1


Ferdi pun segera berlalu dari kamar.


Sedangkan Anabel , mencoba tersenyum mengingat perubahan Ferdi hari ini. Ia harap semoga ini awal yang baik dan Ferdi bersungguh-sungguh. Jujur saja, Anabel sangat menghargai perjuangan Ferdi hari ini untuk membuktikannya.


__ADS_2