Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Ketika Cinta Harus Memilih - Ulang Tahun Anabel


__ADS_3

3 Bulan kemudian..


Sudah 3 bulan berlalu kejadian tersebut, dan Esok ulang tahun Anabel.


Tentu Anabel berharap di hari ulangtahunnya, ia bisa melupakan segalanya dan bahagia di hari spesialnya ini.


Hari ini , Richard, Kevin, juga William


kakak angkat Anabel akan datang untuk menghadiri acara ulang tahun Anabel esok hari.


Hari ini, hari terakhir Bulan, Bintang juga David sekolah, esok sudah mulai tiba hari libur, bertepatan dengan hari ulang tahun Anabel. Dan rencana mereka esok harinya setelah ulang tahun Anabel akan berlibur.


****


Pukul 10 pagi, Richard, William , Kevin telah tiba di rumah Anabel.


"Assalamualaikum." ucap seseorang di luar, mengerti pintu rumah Anabel beberapa kali.


"Waalaikumussalam kakak..." ucap Anabel membukakan pintu ketiga kakak angkatnya.


"Anabel, adik kakak sayang apa kabar?" tanya Richard.


"Alhamdulillah baik, kakak apa kabar juga?" tanya Anabel.


"Alhamdulillah baik." ucap William mewakili.


"Issh yang di tanya siapa, kenapa jadi kamu yang jawab?" tanya Richard ke Kevin.


"Hehehe gak papa, aku kan mewakili. Lagipula yang di tanya Anabel kita bertiga. Jadi sapa aja yang jawab boleh dong." ucap Kevin,membela diri.


"Iya deh terserah." ucap Richard.


"Bener kan Bel?" ucap Kevin yang tak terima.


"Hehehe iya bener kak. Ohya kalian datang kok gak kasih kabar dulu? Anabel kira kakak gak bakal Dateng di hari ulang tahun Anabel." ucap Anabel.


"Dateng dong adik kakak tersayang. Kami gak kasih tau, karena sengaja ingin kasih kamu kejutan. Maaf ya, jangan ngambek dong." ucap Richard.


"Yaudah kak, yuk masuk kak." ucap Anabel.


"Mama, Papa mana?" tanya William.


"Ada itu kak, di dalam." ucap Anabel.


"Masya Allah nak, ayo masuk. " ucap April, yang tiba tiba datang.


"Apa kabar nak? Lama gak ketemu, mama kangen." ucap April.


"Alhamdulillah Ma, kami juga kangen Mama. Maaf ya Ma, kami belum bisa berkunjung ke Indonesia dan baru sekarang bisa ke sini ucap Kevin, mewakili.


"Alhamdulillah nak kalau baik baik saja .


Gak papa nak, liat kamu baik baik saja ,


Mama senang kok." ucap April.


Di tengah pembicaraan mereka, Bulan , Bintang, juga David pun datang.


"Assalamualaikum Eyank, bunda." ucap mereka bertiga kepada April juga Anabel .


"Waalaikumussalam." ucap Anabel juga April.


"Loh ada Paman Richard, Paman Kevin sama Paman William ya? kapan datang? kok gak bilang bilang mau ke sini?" tanya Bulan .


"Eh ada Bulan, ponakkan kesayangan om Richard. Iya kami ingin kasih kejutan ke bunda kalian dan ke kalian kesayangan om." ucap Richard.


"Hanya Bulan yang ponakkan kesayangan om? Aku dan Bintang enggak?" tanya David seakan tak terima.


"Enggak dong sayang, kalian tetap kesayangan om kok. Ponakkan yang paling om sayang, hanya kalian bertiga gak ada yang lainnya dan gak salah satunya. Karena harus kalian bertiga. Titik tanpa koma, hehe." ucap Richard.


"Horeee." ucap David dan Bulan, sedangkan Bintang hanya tersenyum menanggapinya.


"Yaudah yuk masuk, mulai tadi ngobrol kok di luar. Ayo masuk." ucap April.


April dan Anabel pun masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Richard, Kevin dan William. Begitupun Bulan, Bintang juga David masuk ke dalam rumah. dan mereka melanjutkan beberapa obrolan mereka, sebelum mereka melanjutkan persiapan untuk ulang tahun Anabel besok.


"Ohya gimana kabar anak om selama sekolah? besok uda libur ya? Bisa dong ikut ulang tahun bunda dan liburan esoknya? ucap William.


"Alhamdulillah senang om sekolah kami. Iya besok kami libur dan bisa ikut ulang tahun bunda juga liburan." ucap Bulan.


"Alhamdulillah dong." ucap William .


Di tengah pembicaraan mereka, tiba tiba Kevin menasehati Anabel, adiknya.


"Bel, mas senang besok ulang tahun kamu. Mas harap, itu awal kebahagiaanmu ya dan kamu bisa melupakan luka dan kecewa di hari lalu itu. Move on ya Bel, karena hidup terus berlanjut dan kamu harus kuat untuk anak anakmu. Jangan lemah, kalau kamu sebagai ibunya lemah, bagaimana kamu bisa mengurus anak anakmu ya kan?" ucap Kevin, menasehati Anabel.


"Iya Bel, kakak harap demikian. Kakak gak ingin melihat kamu menangis terus. Matamu harus memancarkan kebahagiaan dan senyum bukan kesedihan terus ya dekku sayang." ucap Richard.


"Iya kak,makasih ya.. Ku harap begitu. " ucap Anabel.


"Jujur aku juga lelah dan aku juga ingin melupakan semuanya yang pernah terjadi. Aku ingin memulai semuanya dari awal dan semoga di ulang tahunku esok, aku bisa memulai dari awal dan itu awal yang terbaik." ucap Anabel kembali.


"Aamiin, Semoga ya dek. Karena kami ingin melihat kamu bahagia dan tersenyum." ucap Kevin.


"Iya, Bel. Mama harap juga begitu.


Ingin lihat kamu bahagia dan tersenyum terus,jangan sedih sedih terus ya anak mama." ucap April.


"Iya Ma, Anabel harap begitu. Makasih Ma dukungannya juga buat kakak kakaku tercinta,makasih banget dukungan kalian buat aku, Anabel sayang banget dengan kalian." ucap Anabel.


"Yaudah yuk, lanjut berberes buat ulang tahun besok. " ucap April.


"Yaudah yuk." ucap mereka dan mulai berberes untuk menyambut dan mempersiapkan ulang tahun Anabel besok.


γ€€


\===================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Ulang Tahun Anabel 2


Hari ini rumah Anabel begitu meriah, semua bergembira dan menyambut acara ini dengan kebahagiaan.


Mereka harap begitupun dengan hati Anabel, bukan hanya untuk hari ini saja juga untuk seterusnya.


Bulan, Bintang juga David berlarian dengan penuh kebahagiaan.


Sedangkan Anabel yang mempunyai acara, hanya mampu melihat anak anak dari jauh, melihat senyum dan kebahagiaan mereka.


Ia juga ikut senang dan bahagia, Ia harap semoga pun dengan dirinya. Meski hatinya tak bisa berbohong masih ada rasa kecewa juga luka yang pernah di torehkan oleh suaminya. Namun ia pun tak ingin terus terpukul dan terlarut dengan keadaan yang ada, bagaimanapun ia harus mempertahankan rumah tangga ini untuk keempat anaknya.


Meski ia tau, tak mudah untuk mempertahankannya seorang diri, meski kini Ferdi sudah mulai berubah. Namun tak ada yang menjamin perasaan Ferdi terbagi kembali seperti kala itu. Bukankah sebelum nikah, Ferdi selalu mengaku mencintainya bahkan semenjak mereka masih duduk di bangku sekolah, begitupun setelah mereka menikah. Tapi nyatanya hati Ferdi mampu berpaling, bahkan ia tak pernah cerita tentang masa lalunya bahwa pernah ada wanita yang singgah di hatinya. Meski tak sepenuhnya Ferdi salah dan harus bercerita tentang masa lalunya dengan perempuan itu, tapi bagaimanapun bukankah pernikahan harus di awali dengan kejujuran? " pikir Anabel.


Terlebih saat ini, bukankah bisa aja hati Ferdi berpaling begitu saja, bila sebelumnya hati Ferdi pun mampu berpaling ? Bagian selama ini Ferdi mengaku sangat mencintainya semenjak mereka masih bersekolah kala itu, tapi cinta mereka bahkan yang sudah terikat janji suci pernikahan pun tak mampu membuat Ferdi mempertahankan itu. Mempertahan cinta juga rumah tangganya. Lalu bagaimana hati Anabel tidak ragu, meski kini Ferdi mulai memperbaikinya. Jujur saja ketakutan itu masih ada di hatinya, bila Ferdi mengulang kembali, membagi hatinya.


"Bel ayuk ." panggil Amel sahabatnya, yang di minta oleh April untuk memanggil Anabel, karena acara ulangtahun akan segera di mulai.


"Eh iya, Amel?" ucap Anabel yang cukup terkejut dengan kehadiran Amel tiba tiba, panggilan Amel membuat membuyarkan lamunan begitu saja.


"Yuk, ke depan. Acara uda di mulai." ucap Amel.


"Aku tadi di minta mama kamu buat manggil kamu Bel, karena acara uda mau di mulai. Jadi yuk ke depan.


Ohya kamu ngapain di sini? seperti orang sedang memikirkan sesuatu gitu?" ucap Amel kembali.


"Ah, iya aku gak papa kok. Kamu tenang saja ya." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Yaudah yuk, kita ke depan." ucap Anabel kembali dengan tersenyum dan berlalu begitu saja meninggalkan Amel.


"Eh , tunggu aku Bel . Kok aku di tinggal sih." ucap Amel yang mengejar Anabel .


"Bel, tunggu. Kamu kok ninggalin aku sih." ucap Amel kembali, saat ia sudah dekat dengan Anabel, Amel pun segera meraih tangan Anabel untuk menahannya agar tak pergi lagi.


"Eh iya Mel, apa?" ucap Anabel yang masih tak sadar.


"Issh kamu gak sadar banget sih, apa yang sudah kamu lakukan. Kamu kenapa ninggalin aku?" ucap Amel cemberut dan kesal kepada Anabel.


"Eh iya ya. Maaf , maaf aku lupa. Hehehe." ucap Anabel kembali.


"Yaudah yuk kita ke sana bareng." ucap Anabel mengajak Amel, mencoba meraih tangan Amel untuk ke depan juga.


"Tunggu Bel, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Amel serius, yang sedang menahan tangan Anabel yang sedang mengajaknya ke depan.


"Lah, apa ya Mel?" tanya Anabel bingung.


Amel pun mencoba memejamkan matanya sebelum mulai berbicara pada Anabel.


"Kamu kenapa tadi? kok sepertinya ada masalah yang kamu pikirkan? apa itu benar dugaan ku? " tanya Amel , dan ia mengambil jeda sebelum memulai berbicara kembali ke Anabel.


"Karena tadi aku lihat kamu melamun begitu. Mungkin kamu bisa bagi cerita masalahmu ke aku agar kamu gak menanggung semuanya sendiri. Kita sahabat, bukankah begitu?." ucap Amel kembali.


Perkataan Amel benar benar membuat Anabel terdiam untuk sejenak kemudian Anabel memejamkan matanya dan menarik nafas cukup panjang sebelum ia menjawab kembali pertanyaan Amel.


"Tidak Mel, aku tidak apa apa.


Sungguh, percayalah.


Kamu tenang saja jika ada sesuatu yang membuatku resah,aku pasti akan cerita ke kamu. Untuk saat ini aku baik baik saja kok " ucap Anabel mencoba megenggam tangan Amel, untuk membuatnya percaya.


"Kamu bohong. Bibir mu mungkin bisa berkata baik baik saja, tapi tidak dengan matamu Bel. Ceritalah, ku mohon. Jangan seperti ini menanggung semuanya sendiri. Apa kamu sudah tak percaya padaku dan merasakan kenyamanan di sampingku sehingga kamu tak mau bercerita kepadaku? aku ini sahabatmu Bel. " ucap Amel, sedih.


"Mel, tidak semua hal bisa aku ceritakan,


Tidak semua hal dapat aku ceritakan begitu saja, ada beberapa yang membuatku tak mampu untuk bercerita. Tapi bukan berarti karena aku tak ingin, sungguh aku pun ingin ada teman yang bisa mendengarkan segala keluh hatiku. Tapi nyatanya sedekat apapun kita dengan seseorang, ada beberapa hal yang gak bisa kita bagi untuk bercerita kepada orang tersebut, karena ada beberapa hal yang memang benar benar tak mampu untuk di utarakan atau di jabarkan , begitupun untuk di ceritakan. Terkadang pula memang ada beberapa hal yang kita rasa cukup diri ini yang tau, tanpa perlu di bagi atau bercerita ke siapapun bahkan ke orang terdekat sekalipun. Aku harap kamu paham Mel, maaf ya." ucap Anabel, mencoba menjelaskan kepada Amel.


"Baiklah Bel, tak apa. Aku paham. Aku hanya sedikit khawatir denganmu, melihat mu melamun seperti itu. Dan aku fikir aku juga sahabatmu, mungkin sebab itu kamu bisa bercerita denganku agar gak menanggung semuanya sendiri, pikirku seperti itu." ucap Amel.


"Yaudah yuk kita ke depan, sudah di tunggu." ucap Amel kembali sebelum Anabel menjawab pertanyaannya, dan Amel berlalu meninggalkan Amel begitu saja.


Sedangkan Anabel tau, Amel kecewa dengannya. Dengan jawaban yang ia utarakan. Jujur Anabel juga sedih dan menyesal. Tapi mau bagaimana lagi.


"Maaf Mel, maafin aku." lirih Anabel, sebelum menyusul Amel juga.


Namun baru beberapa langkah berjalan, Amel berhenti dan berbalik menghampiri Anabel.


"Eh Amel ?" ucap Anabel, yang terkejut dengan kedatangan Amel tiba tiba.


"Bel, yuk kita bareng aja ke bawah." ucap Amel dengan senyum.


"Oooh, baru nyadar kamu uda ninggalin aku gitu aja tadi ?" ucap Anabel kesal.


"Hehehe iya maaf, aku lupa habisnya aku kecewa dengan jawabanmu Bel ke aku.


Aku itu peduli sama kamu, aku itu gak ingin kamu melewati semuanya sendiri.


Karena ada aku sahabatmu." ucap Amel menggemgam tangan Anabel.


"Iya, terimakasih ya atas kepedulian dan perhatianmu kepadaku. Maaf bila sebelumnya aku melukai perasaanmu dan bikin kamu kecewa ya. Aku benar benar menyesal uda lukai kamu, lukai hati sahabatku sendiri. Kamu sahabat terbaik aku Amel." ucap Anabel dengan menggemgam tangan Amel kembali, dan tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya begitu saja.


Mereka pun saling berpelukan.


"Yaudah yuk, kita ke bawah. Sudah banyak tamu menunggumu, begitupun keluargamu.


Ini kan hari bahagiamu, jadi kamu harus tersenyum bahagia ya. Jangan menangis lagi atau bersedih ya. " ucap Amel tulus dengan menghapus air mata Anabel.


"Iya makasih ya Mel. Eh tapi kan kamu uda bikin aku menangis seperti ini, menangis haru. Huhuhu.." ucap Anabel pura pura menangis.


"Isssh hahaha uda dong. Tapi kamu harus janji ke aku." ucap Amel, dengan masih menggenggam tangan Anabel .


"Iya Mel, janji apa?." ucap Anabel bingung.


"Kamu harus janji ke aku jangan nangis lagi, jangan sedih ya. Karena aku gak ingin melihat kamu bersedih atau menangis kembali.


Aku gak ingin melihat mata ini memancarkan kesedihan apalagi sampai menjatuhkan air mata, pokoknya mata ini harus memancarkan kebahagiaan okee, kamu harus janji ke aku." ucap Amel kembali dengan tersenyum.


"Shiappp okeeee. Sahabatku tersayang. " ucap Anabel, yang kemudian memeluk Amel dan mereka tersenyum bersama.


"Yaudah yuk ke bawah, tapi ingat.. aku gak mau di bawah melihat kamu menangis lagi , aku gak mau lihat matamu bersedih kembali karena ini hari bahagiamu." ucap Amel yang menggemgam tangan Anabel untuk turun ke bawah..


"Okeee sahabatku yang cerewet." ucap Anabel.


"Issh kamu ya. Yaudah yuk." ucap Amel, dan mereka pun turun ke bawah bersama.


γ€€


\=======================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Ulang Tahun Anabel 3


"Mana ya Pa, Amel kok lama banget jemput Anabel. Sampai sekarang belum kelihatan mereka turun juga. " ucap April.


"Iya Ma, sabar ya. Mungkin bentar lagi mereka turun." ucap Hery , mencoba menenangkan April dengan mengusap ngusap punggungnya. Walau ia sendiri juga khawatir mengapa Anabel belum turun juga.


"Iya Pa, tapi ini mereka lama banget loh Pa, kira kira kenapa ya Pa kok selama ini." ucap April kembali.


"Mungkin Amel masih mengobrol dengan Anabel." ucap Hery tersenyum, yang masih berusaha menenangkan April di tengah kekhawatirannya.


Di tengah obrolan mereka, Hery pun melihat Amel turun bersama Anabel. Hery pun tersenyum dan memberitahukan kepada April yang masih dengan kekhawatirannya.


"Loh Ma, Mama menangis?" ucap Hery terkejut, melihat April yang tiba tiba menangis begitu saja.


"Iya Pa, aku benar-benar cemas dengan mereka kenapa gak turun ke bawah juga. Mama takut terjadi sesuatu dengan Anabel." ucap April.


"Ma, jangan khawatir lagi ya apalagi sampai menangis. Itu mama coba lihat ke depan ada sapa itu. Orang yang mama tunggu sudah datang." ucap Hery dengan tersenyum dan tetap memeluk April.


"Siapa sih Pa?" tanya April.


"Lihat saja Ma." ucap Hery.


"Anabel ? Amel ? Alhamdulillah akhirnya mereka turun ke bawah juga. " ucap April yang terkejut juga lega dengan kehadiran Anabel dan Amel yang sudah turun ke bawah.


"Iya Ma, orang yang mama tunggu sudah datang kan? Anabel sama Amel uda di sini jadi mama jangan khawatir lagi ya apalagi sampai menangis karena ini hari bahagia anak kita, tentu ia tak ingin lihat kita menangis dan bersedih. Seperti kita yang gak ingin lihat Anabel bersedih lagi ." ucap Hery.


"Iya Pa, makasih ya uda nenangin mama. " ucap April.


"Iya Ma, sama sama." ucap Hery tersenyum kepada April, sebelum mereka melukai acara tersebut.


"Fer." panggil Hery ke Ferdi untuk memberikan sambutan pembukaan di acara ulang tahun Anabel.


"Eh, iya Pa." ucap Ferdi tersenyum , yang Kemudian mengambil mic untuk memulai acara tersebut dengan kalimat pembukaan yang akan ia ucapkan.


"Bismillah.. Mari kita mulai acara ini karena Anabel, istri saya yang mempunyai acara ulang tahun ini sudah datang." ucap Ferdi.


"Di hari ulang tahun istri saya, saya hanya berharap semoga ia bisa bahagia di hari spesialnya ini dan semoga ini awal yang baru untuknya untuk melupakan luka atau kecewa yang pernah hadir di hidupnya.


Harap saya semoga Anabel, istri saya bisa membuka lembaran baru di hidupnya dan memulai semua dari awal." ucap Ferdi kembali.


"Saya Suami dari Anabel, hanya berharap istri saya bisa tersenyum bahagia bukan hanya di hari ulangtahunnya tapi juga di hari hari selanjutnya. Dan saya harap semoga yang menghadiri acara ini juga penuh kebahagiaan. Sehingga kita bisa saling memancarkan kebahagiaan dan semoga kebahagiaan ini bisa membuat kita menikmati dan bahagia menghadiri acara ini. Saya persilahkan Anabel istri saya untuk memulai pembicaraan dan setelah itu kita akan potong kuenya ya. lanjut Ferdi.


Anabel pun beberapa kali mencoba mengusap keringat di tangannya karena nervous, dan beberapa memejamkan matanya juga mengembuskan nafasnya secara perlahan sebelum ia menggantikan posisi Ferdi untuk memberikan kalimat sambutan juga penutup sekaligus.


"Saya Anabel, sangat berterimakasih kepada kalian yang sudah meluangkan waktu untuk menghadiri acara ulang tahun saya dan saya benar benar merasa terharu karena banyak sekali yang hadir di acara ulang tahun saya ini. Sungguh saya benar benar tidak menyangka ." ucap Anabel penuh haru yang tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja di pipinya.


"Saya harap, di hari ulang tahun ini yang bahagia, hati kita masing masing juga diliputi senyum bahagia ya. Bukan hanya di hari ini saja, harap saya.. Semoga seterusnya.


Yaudah mari, kita mulai acara memotong kuenya agar bisa kita bagi bagi ya kuenya hehe. Saya tau pasti ini yang


di nantikan dan pasti kalian juga penasaran siapa yang akan saya kasih potongan kue pertama.Hemm siapa ya kira kira, ayo tebak." ucap Anabel dengan tersenyum dan memulai memotong kue ulang tahunnya.


Semua yang hadir penasaran siapa yang akan di beri potongan kue pertama oleh Anabel.


"Setelah memotong kuenya, Anabel pun akan memberikan kue tersebut ke April, mamanya. Tapi lirikan kode April seakan mengisyaratkan agar Anabel memberikan kue tersebut ke Ferdi, suaminya. Agar tak banyak mata dan tanda tanya dari para tamu terlebih ke kepoan mereka satu persatu. Anabel pun menurut dan menghampiri Ferdi untuk memberikan kue tersebut.


"Kue ini akan aku berikan kepada.." ucap Anabel yang tiba tiba berhenti berjalan dan berucap seperti itu, ingin membuat para tamu semakin penasaran.Dan Anabel pun melanjutkan berjalan ke arah Ferdi.


Anabel pun berhenti berjalan tepat di depan Ferdi dan lalu Anabel pun memulai berbicara kembali.


"Kue ini aku ingin memberikan kepada mas Ferdi dan ku harap kamu darimu suamiku tak banyak, aku hanya ingin melihatmu bisa menjaga kesucian pernikahan ini." ucap Anabel dengan tersenyum dan megenggam tangan Ferdi. Sedangkan Ferdi seakan merasa tertohok dengan ucapan Anabel istrinya.


Mereka pun bertepuk tangan, tersenyum serta ada yang meng Aamiinkan ucapan Anabel, tapi ada juga yang berkata mereka begitu "sosweeet" .


Kue selanjutnya Anabel berikan kepada April, Hery, Bu Nila, Pak Anang, kemudian ketiga saudaranya , Amel dan anak anaknya.


Acara tersebut pun selesai, setelah hampir satu jam di mulai. Para tamu pun pamit dan di berikan bingkisan kue kering oleh keluarga Anabel yang membagikan ke masing masing mereka.


"Alhamdulillah akhirnya acara ini berjalan dengan lancar ya Pa, Bel. Mama senang deh." ucap April.


"Iya Ma, alhamdulillah syukur banget. Alhamdulillah juga senang." ucap Anabel.


"Iya Papa pun sangat bersyukur." ucap Hery .


"Bulan, Bintang juga David senang kan?" tanya April ke ketiga cucunya.


"Senang dong eyank." ucap Bulan, Bintang juga David bersamaan. Terlihat jelas pancaran kebahagiaan mereka.


"Apalagi Afnan, tadi Mama lihat Afnan seperti bahagia banget gitu. Sangat antusias." ucap April.


"Syukur Alhamdulillah, Anabel juga bahagia kalau semua bahagia di acara ulang tahun Anabel ini." ucap Anabel.


"Tentu kami bahagia, dan kami harap kamu juga harus bahagia ya sayang. Bukan hanya di bibir saja tapi juga di hatimu." ucap April dengan menunjuk hati Anabel dengan tangannya yang kemudian memeluknya. Begitupun Anabel memeluk April kembali.


Setelah acara selesai, mereka pun masing masing membersihkan dirinya juga berberes. Setelahnya mereka makan siang dan segera beristirahat untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.


γ€€


\======================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Melamun


Malam harinya saat mereka makan bersama ...


"Ohya Bel, besok kalian jadikan pergi liburan? pumpung liburan sekolah juga, anak anak bisa ikutan." ucap April.


"Iya Ma, jadi. Alhamdulillah Anabel juga bersyukur banget di hari ulang tahun Anabel juga liburan besok bertepatan anak anak liburan sekolah, syukur Alhamdulillah." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Besok pasti cucu eyank senang nih di ajak liburan?" tanya April kepada ketiga cucunya.


"Iya dong eyank, senang banget." ucap Bulan. Bintang juga David bersamaan.


"Syukur Alhamdulillah kalau senang, eyank juga senang terlebih bunda sama ayah kamu." ucap April.


Sedangkan di tengah pembicaraan mereka, Anabel melamun kembali, seakan ada yang di fikirkan olehnya.


"Bel, kamu gak kenapa napa?" tanya April yang melihat Anabel melamun sejak tadi.


"Eh iya Ma, gak papa kok. Maaf Anabel tadi kurang fokus. Karena memang ada yang Sedang Anabel fikirkan. Tapi gak papa kok


" ucap Anabel dengan berusaha tetap tersenyum di tengah kegundahan dan kekhawatiran hatinya.


"Mikirin apa Bel? yakin gak kenapa napa?" tanya April sekali lagi.


"Iya Ma, Anabel gak papa kok. beneran, percaya sama Anabel. Duariuuus, hehe." ucap Anabel berusaha menyakinkan.


"Syukur Alhamdulillah, kalau tidak kenapa napa. Mama juga senang kalau gitu." ucap April.


"Iya Ma, alhamdulillah Anabel gak kenapa napa kok. Alhamdulillah A'la kulli haal." ucap Anabel berusaha tersenyum. Walau kini pikirannya tak menentu dan ia benar benar tak paham mengapa perasaannya seperti seakan tak menentu seperti ini, kekhawatiran itu sulit Anabel padamkan begitu saja,


seakan memberikan simbol lampu hijau padanya untuk berhati hati. Namun Anabel berusaha mengabaikan perasaan hatinya yang tak menentu itu walau dikit ia elakkan. Setidaknya ia tak ingin keluarganya khawatir dengan dirinya.


"Yaudah Ma, Anabel pamit ya mau isrtihat dulu ya karena Anabel sedang tidak enak badan sepertinya, sama mau membereskan sisa makanan ini." ucap Anabel.


"Ya Allah sayang, kamu sakit? yaudah sekarang istirahat aja ya atau besok batal aja ya liburannya?." ucap April.


"Aku gak papa Ma. Jangan Ma, besok jangan batal liburan ya. Aku akan coba istirahat, insya Allah besok uda baikkan dan tetap bisa liburan kok Ma. Jangan khawatir ya Ma." ucap Anabel mencoba menggemgam tangan April, seakan berusaha meyakinkan April.


"Tapi nak, kalau besok kamu masih gak enak badan gimana? tetap ikut liburan?" tanya April.


"Insya Allah besok setelah istirahat gak papa Ma. Jika besok masih sakit, ya mungkin batal. Tapi Insya Allah gak papa dan bisa sembuh." ucap Anabel, yang tetap berusaha tersenyum.


"Ohya Ma, Anabel duluan ya ma, mau beres beres dulu." ucap Anabel yang mulai merapikan sisa piring dan gelas.


"Gak usah Bel, buat mama aja ya yang membereskan. Kamu segera isrtihat aja ya." ucap April ke Anabel.


"Gak papa Ma, Anabel juga gak mungkin bisa tidur duluan kalau membiarkan Mama membereskan semuanya sendiri. Jadi tolong izinkan Anabel membereskannya dulu, setelah itu Anabel isrtihat." ucap Anabel kembali, dengan tersenyum.


"Yaudah nak, kalau itu mau mu." ucap April. Dan Anabel juga April membereskan semuanya sisa makanan mereka.


Setelahnya Anabel pamit dan segera beristirahat setelah menidurkan Afnan.


"Ma, yaudah Anabel pamit dulu ya ke kamar , mau nidurin Afnan setelahnya Anabel juga mau istirahat." ucap Anabel ke April.


"Iya Bel, mimpi indah ya besok kan mau liburan." ucap April kepada Anabel .


"Jangan terlalu banyak mikir yang aneh ya, insya Allah semuanya baik baik saja. Terlebih besok liburan setelah hari ulang tahunmu ini insya Allah besok itu awal yang baru." ucap April.


"Iya Ma, Aamiin. Terimakasih Ma, Anabel istirahat dulu ya Ma karena tubuh Anabel terlalu lelah ingin segera istirahat. Mama segera istirahat juga ya Ma. Semoga mimpi indah ya Ma." ucap Anabel.


"Iya nak, bahagia selalu ya nak. Jangan sedih terus, karena gak ada yang diinginkan seorang ibu selain melihat kebahagiaan anaknya dan selalu tersenyum penuh bahagia. Begitupun keinginan Mama untuk mu Anabel, anakku." ucap April.


"Iya Ma, terimakasih." ucap Anabel yang memeluk April.


"Yaudah Ma, aku duluan ya." ucap Anabel sebelum berlalu pergi.


"Iya nak, Mimpi indah ya. " ucap April.


"Iya Ma,mama juga ya." ucap Anabel yang kemudian berlalu pergi.


γ€€


\========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Mimpi Lagi


Sesampainya di kamar, Anabel pun segera menindurkan dirinya. Karena ia tak ingin terlalu banyak berfikir, karena jujur hati dan fikirannya pun sudah cukup lelah dan ingin segera di istirahatkan.


Namun sesaat ia akan memejamkan matanya , Ferdi masuk ke dalam kamarnya dan membuyarkan tidurnya . Sedangkan Anabel hanya melirik Ferdi sebentar, dan ingin melanjutkan tidurnya kembali.


"Yank kamu kenapa?


Apa kamu gak kenapa napa? mas lihat mulai tadi di meja makan seperti melamun? Dan kata mama tadi ku dengar pembicaraan kalian,kamu sakit ya? Jika kamu sakit lebih baik batal besok liburannya , gak kenapa napa yank. Yang penting kesehatan mu terpenting. " ucap Ferdi cemas.


"Aku gak kenapa napa Mas, jangan khawatir ya. Mungkin aku hanya kelelahan saja. " ucap Anabel dengan tersenyum dan bangkit dari tidurnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Mungkin hanya butuh istirahat aja Mas, aku ingin tidur dulu ya Mas. Semoga setelah ini uda enakkan dan besok bisa ikut liburan. Lagipula jangan sampai batal lah Mas, pumpung anak anak libur sekolah jadi bisa berlibur bersama." ucap Anabel kembali dengan tersenyum, berusaha meyakinkan Ferdi.


"Yaudah istirahat ya, semoga mimpi indah ya." ucap Ferdi.


"Iya Mas, yuk tidur bareng." ucap Anabel dan Ferdi pun segera menyusul Anabel untuk tidur bersama.


Namun malam ini, Anabel kembali bermimpi tentang hal itu lagi , seakan memberikannya pertanda. Anabel pun segera terbangun dari tidurnya begitu saja, ia benar benar tak mengerti mengapa harus bermimpi tentang hal itu lagi? Berulangkali istighfar Anabel ucapkan dari bibirnya. Anabel pun mencoba melakukan cara seperti yang pernah Ferdi katakan padanya apabila bermimpi buruk.


Tanpa sadar air matanya mengalir di pipinya begitu saja, dadanya terasa sesak, napasnya tersendat sendat seakan mimpi tersebut menghantamnya hingga membuat ia tak bisa berkata kata. Mimpi yang seakan memberikan pertanda buruk kepadanya tapi Anabel harap semoga itu bunga tidur saja. Semoga..


Anabel pun mencoba menidurkan dirinya kembali karena saat ini masih pukul 1 pagi. tapi hampir 2 jam ia kesulitan memejamkan matanya kembali, hingga pukul 3 pagi tepat , Anabel memutuskan untuk melakukan shalat tahajjud untuk menenangkan hatinya yang sedang kacau saat ini, yang sedang tak menentu.


Ia ingin mengadu dan menangis pada Tuhannya .


Namun saat ia ingin turun dari tempat tidurnya, Ferdi pun terbangun dan meminta Anabel untuk shalat tahajjud bersama dengannya.


"Bel, uda bangun? ini masih jam berapa ." tanya Ferdi.


"Uda mas, ini pukul 3 pagi. Aku mau shalat tahajjud , mas mau bareng? " ucap Anabel.


"Boleh, Mas duluan ya ke kamar mandi, nanti maa tunggu kamu. Jangan lama lama juga ya yank di kamar mandinya." ucap Ferdi dengan mengusap usap kepala Anabel.


"Iya Mas, Mas duluan aja ke kamar mandi gak papa. Eh tapi ngapain aku lama lama di kamar mandi Mas?" tanya Anabel.


"Iya kan takutnya kamu lama, hehe." ucap Ferdi dengan mencubit pipi Anabel.


"Issh Mas, gak lah. Gak mungkin Anabel melamun di kamar mandi. Ini apalagi pakai cubit cubit Anabel segala." ucap Anabel sebal.


"Hehehe mungkin aja, kenapa gak mungkin? hemm?." tanya Ferdi dengan menatap ke arah Anabel, dan membuat Anabel salah tingkah.


"Issh Mas, udah deh sana, sana. Kalau gak ke kamar mandi, aku duluan ni yang ke kamar mandi terus ku tinggal Mas sholat duluan , mau?." ucap Anabel.


"Eh jangan dong, ih ngambekkan banget. Yaudah ku ke kamar mandi ya. Eh tadi kamu tanya Mas ya kenapa suka cubit pipi kamu? ya kan? mau tau gak apa jawabannya?" ucap Ferdi.


"Apa? gak pengen tau juga sih. Yaudah sana lekas ke kamar mandi kalau gak aku tinggal nih." ucap Anabel kembali.


"Ih jangan dong. Iya ya ni mas mau ke kamar mandi. Tapi Mas ingin jawab dulu kenapa Mas suka cubit pipi kamu Karena Mas gemas, Hehehe." ucap Ferdi segera berlari ke kamar mandi sebelum Anabel melemparinya guling, bantal dan mengomel.


Setelah kepergian Ferdi, Anabel tanpa sadar melamun kembali dan menangis. Namun ketika Anabel sadar dan kemungkinan sebentar lagi Ferdi keluar kamar mandi, Anabel segera menyiapkan handuk, pakaian, juga sajadah Ferdi, setelahnya Anabel menunggu Ferdi hingga Ferdi keluar dari kamar mandi.


"Kamu kenapa yank? kok mata kamu sembab gitu? seperti habis menangis?" tanya Ferdi saat melihat pancaran mata Anabel ketika ia ingin mengambil pakaian di dekat Anabel.


"Eh Mas Ferdi, gak aku gak papa. Kamu uda keluar ya? yaudah aku ke kamar mandi dulu ya Mas." ucap Anabel yang mulai melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Tunggu." cegah Ferdi.


"Apa Mas?" tanya Anabel bingung.


"Tadi barusan Mas lihat kamu juga seperti melamun deh . Pas mas datang , kamu gak tau kan?" tanya Ferdi.


"Iya Mas, maaf ya aku ke kamar mandi dulu supaya tahajjud kita gak kehabisan dan supaya bisa mekbaca Al Qur'an bersama kita." ucap Anabel yang mengakhiri pertanyaan Ferdi, dengan melepas tangan Ferdi dan berlalu meninggalkan Ferdi begitu saja menuju kamar mandi.


Setelah 5 menit, Anabel pun keluar dari kamar mandi dan menatap punggung Ferdi cukup lama hingga tanpa sadar air matanya pun mengalir begitu saja,sebelum ia mengatakan pada Ferdi telah siap untuk memulai shalat tahajjud bersama, sedangkan Ferdi tak sadar dengan kehadiran Anabel karena ia yang sibuk bolak balik halaman Al Qur'annya.


"Mas, aku sudah siap, yuk sholat." ucap Anabel ke Ferdi.


"Eh iya, baiklah yuk." ucap Ferdi yang meletakkan Al Qur'annya dan memulai sholatnya.


5 menit kemudian, Anabel dan Ferdi pun telah selesai shalat. Dan Ferdi melihat ke arah Anabel dan memberikan punggung telapak tangannya untuk di cium oleh istrinya.

__ADS_1


Anabel pun hanya mampu memandang tangan tersebut dan berharap tangan itu mampu setia dalam janji suci pernikahan yang pernah ia ucapkan dan ikrarkan.


Anabel pun mencium tangan Ferdi yang tanpa sadar membuat air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia cegah.


"Loh kamu nangis yank?" ucap Fredi yang sedikit terkejut yang melihat Anabel menangis , menumpahkan air matanya.


"Aku gak papa Mas." ucap Anabel mencoba tersenyum dan menguatkan dirinya sendiri. Meski ia ingin mengatakan pada Ferdi namun ia bisa apa? Anabel hanya tak ingin membuat semuanya makin runyam dan semakin tak menentu hatinya dari beberapa tanggapan sehingga Anabel memilih menyimpan semuanya sendiri.


"Aku gak papa kok Mas, jangan khawatir ya. " ucap Anabel kembali mencoba menyakinkan Ferdi.


"Iya , tapi jangan nangis dan bersedih seperti ini. Mas gak mau lihat kamu menangis, atau di rundung kesedihan dan duka terus menerus. Kamu harus mampu bangkit ya, hadapin dunia dengan penuh senyum kebahagiaan sepahit apapun kenyataan yang ada, kamu harus kuat ,tabah Karena ada aku dan kita akan melewati bersama. Tolong jangan cemas atau khawatir ya dan bila ada curahan yang ingin kamu katakan padaku katakan saja, Insya Allah aku siap mendengarkan." ucap Ferdi.


"Makasih ya Mas. Makasih uda selalu ada untuk ku dan berusaha jadi suami yang baik untukku . " ucap Anabel yang sedang memeluk Ferdi ketika mereka sedang duduk bersama.


"Iya sama sama yank, kita lewati berdua .Jangan merasa sendiri ya. Bila ada keluhan yang ingin kamu katakan padaku atau pertanyaan yang ingin kamu bilang padaku, bilang aja ya." ucap Ferdi kembali, dengan mencium kening Anabel. Yang tanpa sadar membuat air mata Anabel kembali membasahi pipinya. Anabel tak mengerti hatinya yang sedang kacau saat ini. Perasaanya yang tak menentu dan memikirkan arti mimpi yang berulangkali benar benar ingin memuat kepalanya seakan pecah. Meski ia berharap itu hanya bunga tidur saja.


"Tuh kan melamun lagi. Jangan khawatir ya dan memikirkan apapun . Insya Allah besok liburan terbahagia, okeee? jadi jangan ada yang sedih.


Anabel hanya mengangguk meski hatinya sulit berbohong.


"Bukankah membohongi diri sendiri takkan mampu, termasuk membohongi hati ini? " lirih Anabel dengan memegang dadanya yang kian terasa sesak dan tanpa sadar bulir air mata kembali membasahi pipinya.


"Itu hanya bunga tidur aja. Jadi jangan khawatir atau terlalu di pikirkan ya " ucap Ferdi kembali dengan menggemgam tangan Anabel.


"Kenapa menangis kembali hemm? Mas, tidak ingin melihat kamu bersedih dan menangis seperti ini. Mas, mohon jangan lagi mata ini memancarkan kesedihan dan menangis kembali karena mas ingin mata ini memancarkan kebahagiaan. Bila mata ini memancarkan kesedihan, mas ikut bersedih terlebih bila menangis, sungguh hati Mas sangat tersayat sayat dan Mas tidak berbohong tentang hal itu." ucap Ferdi Kembali, dengan menghapus air mata Anabel.


Sedangkan Anabel hanya mampu diam dan menunduk, lalu menggeleng dan berkata


"aku baik baik saja, jangan khawatir." ucapnya dengan tersenyum dan menggemgam tangan Ferdi seolah meyakinkan Ferdi.


"Yaudah yuk lanjut mengajinya." ucap Ferdi yang berharap mampu mengalihkan pikiran Anabel sementara.


Mereka pun melanjutkan mengaji bersama, dengan perasaan tak menentu.


Berusaha menghibur hatinya bahwa esok hari bahagia karena mereka sekeluarga dapat berlibur.


****


"Ana?* ucap seorang lelaki itu, saat melihat perempuan tersebut berdiri di sana. Sedangkan yang di panggil hanya melirik sebentar , meski cukup terkejut ia mencoba menetralkan jantung nya dan berlari jauh dari lelaki tersebut.


****


Hemmm, lalu bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Anabel dan Ferdi kedepannya? apakah akan di liputi rasa kecewa, luka juga perasaan yang tak menentu seperti ini?


atau justru bahagia menghampiri mereka setelahnya?


Lalu bagaimanakah liburan mereka esok?


Apakah ulang tahun Anabel dan liburan esok merupakan awal kebahagiaan dan kebangkitan Anabel ? atau justru sebaliknya yang mendatangkan hal tak terduga dan bencana bagi rumah tangga mereka kembali?


Mengapa mimpi tersebut seringkali Anabel mimpikan ?


apakah itu pertanda? atau hanya bunga tidur saja?


Siapa perempuan itu ?


Mengapa lelaki tersebut memanggilnya Ana?


Bukankah Ana telah meninggal?


Dan siapa lelaki itu?


Hemmm penasaran? ikuti cerita ini untuk menemukan jawabannya.


γ€€


\======================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Menyiapkan Keperluan Untuk Liburan


Pagi ini keluarga Anabel begitu sibuk untuk mempersiapkan keperluan yang akan di bawa mereka nanti untuk liburan.


Mereka juga sibuk berberes rumah yang akan mereka tinggal cukup lama.


Anabel pun mempersiapkan makanan untuk mereka sarapan pagi ini dan makanan yang akan mereka bawa untuk liburan nanti ini.


Begitupun Ferdi membeli beberapa cemilan dan keperluan lain untuk di bawa selama perjalanan pergi berlibur.


"Yank buat apa nih?" ucap Ferdi, mendekati Anabel.


"Lagi goreng telur dadar dan telur ceplok untuk sarapan kami Mas, karena setelah ini Anabel harus masak untuk kita bawa pergi liburan." ucap Anabel.


"Iya yank, gak papa. Mas suka semua makanan yang kamu masak. Humm bau nya harum banget. Telur nya ini bau nya harum , apalagi masakan lainnya.


Gak bisa bayangin Mas, pasti lidah pas akan menagih terus masakan istri tercinta ini.


Mas Pati kecanduan masakanmu." ucap Ferdi, menggoda Anabel.


"Hehehe Mas bisa aja nih muji nya berlebihan banget." ucap Anabel yang malu dan risih sekaligus di goda Ferdi seperti itu, walau hatinya sedikit berbunga bunga.


"Loh, Mas ini berbicara jujur loh.


Gak salah kan Mas muji masakan istri Mas ini?" ucap Ferdi.


"Iya Mas, gak salah kok. Cuman menurutku Mas sedikit berlebihan muji nya tauk.." ucap Anabel.


"Ah masa'? Mas hanya berbicara jujur kok. Apa yang salah?" ucap Ferdi kembali, dengan menempelkan wajahnya di cekukan leher Anabel dan menghirup aroma shampo rambut Anabel, serta minyak wangi yang Anabel gunakan, benar benar kesukaan Ferdi.


"Issh Mas, uda dong godain Anabel nya. Anabel risih tauk. Apalagi Mas pakek nempel nempel gini ke Anabel.


Apaan sih Mas, gimana kalau di lihat anak anak sama Mama juga Papa? Anabel malu pasti, gak bisa bayangkan." ucap Anabel sebal, dengan berusaha menghindar dan berlepas diri dari Ferdi.


" Hehehe, Aih pakek malu segala juga ya Istri Mas ini." ucap Ferdi menggoda Anabel, dengan mencoel coel pipinya.


"Apasih Mas, uda deh.


Nah ini masakanku uda matang. Jadi ku minta Mas, minggir bentar, Anabel mau naruh makanan ini di meja makan." ucap Anabel.


"Hemm, baiklah." ucap Ferdi yang menjauhkan tubuhnya dari Anabel.


Anabel pun segera menaruh makanan tersebut di meja makan dan izin untuk memanggil anak anaknya juga orang tuanya untuk makan bersama.


"Mas, aku manggil anak anak dulu ya sama Mama dan Papa." ucap Anabel, meminta izin ke Ferdi.


"Iya yank panggil anak anak dulu sama Mama, Papa ya untuk makan bersama.


Mas, tunggu di sini dulu ya." ucap Ferdi.


"Iya Mas, aku panggil mereka dulu." ucap Anabel segera berlalu ke atas.


Beberapa menit kemudian, Anabel pun turun bersama Bulan, Bintang, David juga April dan Hery.


"Loh Mas Ferdi ke mana? kok gak ada? katanya nunggu di sini tadi , hemm?" ucap Anabel berkata pada dirinya sendiri, saat tidak melihat keberadaan Ferdi.


"Yank, Alhamdulillah uda ngumpul ya semua di sini. Yuk makan bersama kita." ucap Ferdi,yang baru keluar dari Dapur membuatkan minuman jus untuk mereka.


"Iya Mas nih uda pada ngumpul siap makan bersama. Mas dari mana aja? kok gak ada? katanya nunggu di sini?" tanya Anabel.


"Iya nih Mas, habis buatkan jus buat kalian." ucap Ferdi.


"Wah, Mas buat jus untuk kita.


Makasih ya Mas. Yaudah yuk kita lekas makan bersama dan cobain jus buatan Mas Ferdi." ucap Anabel.


"Iya yuk." ucap mereka serempak, dan segera duduk di kursi masing masing untuk makan bersama.


"Hemm, enak nih telur dadar buatan istri Mas." ucap Ferdi.


"Ya, telurnya juga enak kok." ucap Bulan.


"Ih Mas, apaan sih. Berlebihan kalian mah." ucap Anabel.


"Enggak loh Bel, serius masakanmu ini enak kali." ucap April kepada anaknya.


Mereka pun melanjutkan makan bersama dan segera meminum jus buatan Ferdi.


"Enak loh ini Fer, jus buatanmu." ucap April.


"Iya Papa juga suka jus buatanmu Fer." ucap Hery.


"Hehehe, makasih Ma, Pa. Tapi sepertinya berlebihan deh, hehe." ucap Ferdi.


"Enggak berlebih loh Mas, ini enak banget jus buatanmu." ucap Anabel.


"Iya kami juga suka kok jus buatan Ayah." ucap ketiga anaknya.


"Yaudah yuk , bentar lagi kita pergi ya supaya gak kesiangan." ucap Hery.


"Tapi Pa, bentar Anabel mau masak sebentar buat di bawa ke sana.


Tadi Anabel hanya masak ini aja buat sarapan dan belum masak satunya karena supaya bisa sarapan dulu." ucap Anabel.


"Oooh oke deh. Sorry Papa gak tau. Kalau kamu Fer, sudah beli keperluan yang buat di bawa ke sana kan?" tanya Hery.


"Iya Pa sudah, Alhamdulillah." jawab Ferdi.


"Ooh yaudah, Alhamdulillah kalau gitu. Karena yang terpenting semua harus di siapkan sebelum kita berangkat berpergian.


Yaudah Papa duluan ya , mau siap siap ." ucap Hery.


"Iya Pa, silahkan." ucap Ferdi.


Mereka pun segera berberes untuk menyiapkan segalanya untuk keperluan liburan pagi ini nanti.


Anabel pun segera memasak kembali untuk buat berpergian mereka hari ini.


Setelah masakan tersebut matang,


Anabel segera berberes dan menyiapkan segalanya untuk berpergian.


Begitupun Bulan, Bintang, David , Hery, April juga Ferdi menyiapkan keperluan mereka masing masing untuk berpergian.


γ€€


γ€€


\========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Ibu Nila Dan Pak Anang Ikut Liburan


Setelah hampir setengah jam mereka pun selesai berberes dan berkumpul untuk berdiskusi sebelum berpergian.


Setelah yakin semua telah siap, mereka pun segera berangkat berpergian .


"Sudah siap ya semuanya? yuk berangkat." Hery bertanya kepada mereka sebelum naik ke mobil.


"Iya sudah siapppp kok." ucap mereka serentak, Dan segera menaiki mobil menyusul Hery.


Sebelumnya mereka menyusul Bu Nila dan pak Anang untuk mengajaknya berlibur bersama.


Dan Anabel akan pamit ke Amel sebelum ia berangkat berlibur dan menginap beberapa hari di sana.


"Mas, kita ke rumah Bu Nila dan pak Anang dulu atau ke rumah Amel? Karena aku juga ingin pamit ke Amel, sebelum aku nginap beberapa hari di sana. Karena aku pasti merindukan Amel, begitupun Amel pasti merindukanku." ucap Anabel.


"Iya yank, boleh. Kita ke rumah Ibu dan bapakku dulu ya baru ke rumah Amel. Karena rumah Amel Jan dekat kota, sedangkan rumah Ibu bapak di desa. Jadi sekalian setelah pulang dari rumah bapak ibu terus ke rumah Amel langsung kita terus melanjutkan perjalanan karena satu jalan kan?


Bagaimana menurutmu?" ucap Ferdi ke Anabel.


"Hemm boleh juga Mas, okeeee deh aku setujuuuuu ." ucap Anabel. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Bu Nila dan Pak Anang.


Hampir setengah jam, mereka pun sampai di rumah Bu Nila dan pak Anang. Mereka pun segera turun.


"Yuk turun." ucap Hery dan Ferdi.


Mereka pun segera turun mengikuti Ferdi dan Hery.


"Assalamualaikum Pak, Bu." ucap Anabel dan Ferdi, mengetuk pintu rumah ini beberapa kali.


"Waalaikumussalam." ucap Bu Nila yang membukakan pintu.


"Eyaaaaank." ucap Bulan, Bintang dan David.


"Cucu Eyankkkk. Kok ke sini gak bilang bilang?" ucap Bu Nila dan Pak Anang.


"Iya kami ingin mengajak Bapak juga Ibu liburan bersama kami. Maaf sebelumnya kami gak ada bilang dulu, karena niatnya mau kasih kejutan.


Gimana mau ikut Pak , Bu? Kalau iya yuk segera siap siap supaya gak kesiangan ke sana." ucap Ferdi.


"Wah boleh banget.Bapak juga uda lama nih gak liburan sekalian pengen ngulang hanymoon sama ibumu hehe ." ucap Pak Anang.


"Issh Bapak ini bikin malu. Boleh Nak, Ibu mau banget, Tapi kok ya mendadak. Ibu tadi baru siap habis masak. Terus gimana masakannya ini? sayang kalau di buang kan? atau Ibu kasih tetangga ya?


"Iya Bu, maaf ya kami kasih taunya mepet banget dan baru hari ini. Masya Allah Alhamdulillah ibu baru masak ya? ya gak papa Bu, makanannya yang sudah matang bisa di bawa ke sana. Karena tadi aku masak juga buat sarapan sama sengaja masak buat di bawa ke sana. Kalau Ibu mau, bisa Bawak masakan Ibu ke sana. Atau kalau Ibu mau kasih tetangga juga boleh sih ." ucap Anabel kembali.


"Hemm gitu ya, boleh deh daripada mubazir makanan Ibu yang sudah di masak ini kan ? Tapi apa gak berat di bawa ke sana Bel? karena kasih tetangga juga gak enak kalau hanya kasih satu orang doang, takutnya tetangga lain lihat dan belum tentu suka masakan Ibu. Karena jujur Ibu juga gak pede masakan Ibu." ucap Bu Nila.


"Iya Bu betul, lebih baik bawa saja kalau begitu. Tapi masakan Ibu enak kok.


Kenapa gak pede ? " ucap Anabel dengan tersenyum.


"Hehehe ntah Ibu gak pede aja Nak. Oke kita bawa aja ya makanan ini." ucap Bu Nila.


"Iya Bu sipp, yauda kalau begitu Bapak sama Ibu siap siap dulu ya terus kita Berangkat berpergian." ucap Anabel.


"Iya Nak." ucap Bu Nila yang segera bersiap siap siap, begitupun Pak Anang.


"Yaudah yuk, ni bapak sudah siap, begitupun ibumu." ucap Pak Anang.


"Bu, ayooo..lah kok menghilang ibumu Iki, perasaan tadi ada sama bapake." ucap Pak Anang.


"Iya Pak, Ibu nyiapin makanan buat kita bawa ini." ucap Bu Nila dari arah dapur.


Beberapa menit kemudian Bu Nila pun telah selesai mempersiapkan makanan dan siap untuk berangkat.


"Yaudah yuk, Ibu sudah siap" ucap Bu Nila.


"Iya Bu , yuk Mas." ucap Anabel, dan mereka pun segera berangkat.


"Ke rumah Amel dulu ya Mas,jangan lupa." ucap Anabel mengingatkan Ferdi.


"Okeee yank." jawab Ferdi, Dan terus melajukan mobil tersebut.


Selama perjalanan, mereka ada yang bernyanyi, mengobrol atau tidur bersandar di kursi mobil.


Hampir setengah jam, mereka pun sampai di rumah Amel.


"Yaudah yuk turun Mas." ucap Anabel.


"Iya yank." ucap Ferdi yang mulai turun dan membukakan pintu mobil, mereka pun segera turun.


"Assalamualaikum Mel." ucap Anabel yang mengetuk rumah Amel beberapa kali menunggu hingga sang pemilik rumah keluar.


"Yank , uda.. Uda lebih dari tiga kali kamu ngetuk pintu rumahnya. Sedangkan dalam hadist maksimal tiga kali saja yank. Berhenti dulu yank, tunggu Amel. Mungkin masih bersiap di dalam.


"Tapi yank, ini Amel seperti gak ada. Apa kita pergi saja ya? menunggu di sini, sayang waktu kita yank. Kita tinggal saja kali ya." ucap Anabel berbicara sendiri.


"Sabar yank. Kita tunggu sabar bentar ya." ucap Ferdi.


Tak lama kemudian, Amel pun datang..


"Loh Bel, kamu di sini?" tanya Amel.


"Eh Amel uda datang, iya aku semenjak tadi nungguin kamu. Mau pamit, aku mau liburan. Kamu dari mana saja kok lama banget? " ucap Anabel.


"Hehehe iya sorry, tadi habis belanja nih aku. Eh kamu mau pamit ke mana?" tanya Amel.


"Mau liburan zheyeng. Owh habis belanja." ucap Anabel.


"Eh liburan ke mana? kok aku gak tau? aku di ajak gak? hehehe." ucap Amel.


"Sama keluarga, boleh kalau mau ikut hayuuuk." ucap Anabel.


"Hehehe aku bercanda, gak mungkin juga ikut. Wah senang deh dapat kabar kamu mau liburan bareng keluargamu, semoga bahagia ya. Semoga senang liburannya terlebih kemarin setelah ulang tahunmu. Gak boleh sedih lagi harus tersenyum bahagia." ucap Amel menggemgam tangan Anabel.


"Iya Amel, makasih bangeeeet ya sahabatku tersayang dukungan mu untukku.


Untuk segalanya.


Kalau liburan kali ini ada kamu pasti aku senang." ucap Anabel.


"Aah, aku selalu di buat terharuuu olehmu." ucap Amel, dan mereka pun saling berpelukan.


"Hemmm." dehem Ferdi , setelah cukupama mereka berpelukan.


"Eh, iya uda ya Mel, aku harus segera berangkat. Supaya gak kesiangan." ucap Anabel yang melepaskan pelukannya dengan Amel.


"Iya Bel, gak papa. Kamu hati hati ya.


Nanti kabarin aku ya kalau sudah sampai sana. Dan ingat kamu harus bahagia selama liburan ini, jangan bersedih apalagi menangis ya." pesan Amel sebelum Anabel pergi.


"Iya, Amel sahabatku sayang. Yaudah ya, Assalamualaikum aku pamit. Lain kali pokoknya kamu harus ikut supaya makin seruu liburannya." ucap Anabel.


"Okeeee shiappp. kamu kasih tau nya mepet say, aku harus masak karena sudah beli belanjaan terus belum beres beres rumah dan mempersiapkan buat di bawa pergi. Jadi gak mungkin juga aku bisa ikut sekarang. Tapi makasih uda ajakkin, walau aku gak bisa akhirnya hehe. Mungkin next aku ikut." ucap Amel.


"Okeee maaf ya, karena awalnya emang gak kepikiran ajakin kamu Mel, ini kan liburan keluarga saja hehe. Yaudah Mel aku mau pamit dulu ya, Assalamualaikum. Kamu baik baik di sini, jaga kesehatan selalu, Jangan rinduuuu sama aku ya, berat hehehe." ucap Anabel.


"Aih, kamu itu ya. Hati hati ya. Ya kamu juga sehat sehat ya di sana, jaga kesehatan selalu dan baik baik ya. Jangan rindu juga berat, cukup aku hehehe. Waalaikumussalam." ucap Amel.


"Dadadada." ucap Anabel sebelum menaiki mobil.


"Dadadada." ucap Amel kembali.


Mereka pun segera pergi dan melanjutkan perjalanan.


Hampir 3 jam perjalanan, mereka pun sampai di hotel yang di tuju.


"Nah, sudah sampai. Yuk turun." ucap Ferdi dan mereka pun segera turun mengikuti Ferdi masuk ke dalam hotel itu.


"Wah, hotelnya besar ya." ucap Bu Nila.


"Iya Bu, besar." ucap Anabel dengan tersenyum.


"Ohya siapa ini yang mau lakukan chekin?" tanya Hery.


"Biar saya aja Pa, yang daftar chekin . Papa sama kalian tunggu saja ya. Atau ikut juga gak papa hehe." ucap Ferdi.


"Kami tunggu saja deh Fer, tapi nunggu di mana? di sini Papa lihat semuanya full." ucap Hery.


"Coba tunggu di sana aja Pa, itu ada kursi kosong." ucap Ferdi.


"Eh iya oke, Yuk kita duduk di sana." ucap Hery.


Mereka pun mengikuti untuk duduk di Sana. Sedangkan Ferdi melakukan cekin.


Namun saat Ferdi menunggu mengantri untuk cekin, Ferdi tanpa sengaja melihat seorang perempuan yang berdiri tidak jauh darinya, di sebrang sana.


"Siapa perempuan itu? mengapa seperti tidak asing baginya" lirih Ferdi.


Saat Ferdi ingin mendekati menuju ke arah perempuan tersebut, tanpa sengaja saat perempuan itu akan pergi dari tempat tersebut, Ferdi terus menatapnya dan melihat sosok perempuan itu seperti tak asing baginya. Namun Ferdi seakan lupa siapa perempuan itu, hingga nama Ferdi di panggil di antrian tersebut. Ferdi pun segera kembali untuk mengambil nomer antrian dan hanya bisa menatap dari jauh perempuan itu hilang dari pandangannya. Ferdi tak mampu menebak siapa perempuan itu .


Namun saat perempuan itu sudah benar benar hilang dari pandangannya, Ferdi baru teringat dengan seseorang.


"Ana?" lirih Ferdi dalam diam, meski ia ragu .


"Tapi bukankah Ana sahabat istriku sudah meninggal?"


"Ah, apa iya itu Ana?"


Pertanyaan yang Ferdi lontarkan pada dirinya sendiri.


***


Hemm apa itu Ana?


Ana masih hidup ?


Lalu bagaimanakah liburan mereka?


Penasaran? Terus ikuti cerita ini ya.


γ€€


\===========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Bulan Cemberut


Sedangkan di tempat lain, Bulan, Bintang juga David bosan menunggu ayahnya yang mengantri dan belum kembali.


"Kok Bulan cemberut? kenapa hemm? coba bicara sama bunda." tanya Anabel kepada Bulan.


"Bulan betee' dan bosan menunggu mulai tadi, ayah belum kembali juga." ucap Bulan, yang mayun.


"Hemm, yaudah gimana kita jalan jalan sebentar. Nanti kembali lagi ke sini ok? supaya ayah juga gak kecariaan kita.


Tapi bunda takut ayah mu ke sini pas kita jalan jalan, gimana ya Ma , Pa?" tanya Anabel.


"Boleh Bel, ide bagus. Biar Mama sama Papa yang jaga di sini ya. Nanti kalau suamimu uda kembali ke sini, biar Mama telfon kamu ya seumpama kamu belum balik. " ucap April.


"Iya Nak, Papa setuju. Biar Papa yang jaga di sini sama Mamamu. Nanti kita hubungin kalau suamimu datang." ucap Hery.


"Yakin gak mau ikut Ma? gak papa ikut saja atau kita batal saja jalan jalannya , hemm?" ucap Anabel.


"Gak papa Nak,jalan jalan saja. Karena Mama juga kaki mudah capek jadi gak kuat jalan jauh jauh , mungkin Mama sama Papa di sini aja nunggu suamimu. Jangan khawatir nanti Mama kabarin kamu ya." ucap April.


"Makasih ya Ma, yaudah yuk jalan jalan. Ma, Pa , kami izin jalan jalan dulu ya. Nanti hubungin ya Ma, Pa kalau Ferdi uda datang." ucap Anabel.


"Iya nak, hati hati." ucap April dan Hery .


Anabel pun segera berjalan jalan bersama ketiga anaknya.


"Bunda, aku haus pengen minum." ucap Bintang.


"Haus ya? Yaudah Bunda beli minum dulu ya, ke sana." ucap Anabel ke ketiga anaknya.


"Siapa yang mau titip minum lagi? biar bunda sekalian belikan." tanya Anabel.


"Aku , aku." ucap Bulan dan David.


"Yaudah bunda belikan ya ke sana." ucap Anabel.


"Ohya Bunda itu bukannya tempatnya yang tadi kita nunggu Papa antri?" tanya Bulan.


"Iya Ma, David juga ingat itu tempat kita nunggu Papa tadi, sebelum ke sana." ucap David.


"Iya nak, mau ikut ke sana? atau tunggu di taman sebelah itu?" tanya Anabel.


"Kami di sini aja Bun." ucap Bulan, Bintang juga David.


"Yaudah, kalian tunggu di sini ya. Jangan ke mana mana. Biar Bunda ke sana dulu ya." ucap Anabel.


"Iyaaa Bunda." ucap Bulan, Bintang dan David. Anabel pun segera berlalu ke tempat tersebut.


Setelah beberapa langkah berjalan, tanpa sengaja Anabel melihat Ferdi dari kejauhan di tempat yang minuman dan makanan tersebut yang ingin ia beli.


"Ferdi?" lirih Anabel.


"Kok di sini? tidak ikut antrian , hemm ?" ucap Anabel kepada dirinya sendiri. Anabel pun segera berlalu membeli minuman dan makanan tersebut juga menghampiri Ferdi.


*****


Pov Anabel..


Setelah anak anak mengucapkan titipan yang ingin mereka beli. Aku pun segera berlalu untuk membelikannya ke tempat dekat Ferdi mengantri. Namun tanpa sengaja aku melihat Ferdi di sana, berdiri di tempat tersebut. "Bukankah seharusnya Ferdi di tempat antrian?" pikirku.


Aku pun segera menghampiri Ferdi tapi saat aku semakin dekat dengannya tanpa sengaja aku mendengar Ferdi mengucapkan sesuatu yang membuatku sangat terkejut..


"Ana." ucap Ferdi, yang aku dengar.


Sontak aku terkejut dengan apa yang aku dengar, dengan apa yang Ferdi ucapkan..


Tiba tiba tanpa terasa dadaku terasa sesak, air mataku tumpah begitu saja, aku tidak menyangka Ferdi masih mengingat Ana dan mengharapkannya. Jika tidak, untuk apa dia menyebut nama Ana dengan tiba tiba ?


Bukankah Ana sudah meninggal, lalu untuk apa Ferdi memanggil nama Ana?


Hatiku sakit, sangat sakit. Jujur saja..


Aku pun segera pergi dari sini, sungguh aku benar benar tidak sanggup lebih lama lagi di sini.


Aku pun segera membeli titipan anak anak, Bulan, Bintang juga David. Setelahnya aku pun segera pergi dari tempat ini. Cukup sudah , aku tidak terlalu lama di sini.


γ€€


\=========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Anabel Sedih


Setelah mendengar apa yang Ferdi ucapkan, Anabel pun segera membeli titipan ke-tiga anaknya, Bulan, Bintang juga David. Lalu Anabel pun segera pergi dari tempat itu, karena ia tak sanggup lebih lama lagi di sana. Anabel pun mengatur nafasnya sebentar dan menghapus bulir air mata yang membasahi pipinya sebelum ia menghampiri ketiga anaknya. Lalu Anabel mengajak ketiga anaknya untuk pergi ke taman.


"Bulan, Bintang, David. Ini Bunda sudah beli titipan kalian. Yuk gimana kita ke taman aja gimana, mau?" tanya Anabel.


"Mauuu Bunda, boleh. Tapi kita tidak ke Ayah dulu sebentar Bun?" tanya David.

__ADS_1


"Iya Bunda, Bulan pengen ketemu ayah dulu, sekalian nanya Ayah masih lama apa gak kita nunggunya." ucap Bulan.


"Hemm gini ya sayang, kan nanti bisa ketemu Ayah, kalau untuk tanya ke Ayah bisa nanti bunda Whatsapp Ayah ya. Karena cari Ayah sekarang sulit, banyak orang di sana. Ayah juga pasti sibuk ngantri ya sabar, jangan ganggu Ayah dulu sayang." ucap Anabel mencoba menjelaskan ke ketiga anaknya.


"Sayang gak papa kan? maafin bunda ya. Lebih baik kita ke taman saja yuk, keburu Ayah kembali." ucap Anabel lagi.


"Baik bunda, gak papa. Yaudah yuk kita ke taman." ucap Bintang, mewakili.


Mereka pun segera ke taman..


Sesampainya di taman, Bulan , Bintang juga David segera bermain ke sana ke mari.


Bulan, Bintang juga David sangat bahagia bisa bermain di taman tersebut.


Anabel pun mengikuti mereka bermain bersama.


"Bunda, itu ada orang jual Balon David pengen deh, beli Balon gambar spirdemen dan Upin Ipin." ucap David ke Anabel.


"Iya Bunda, Bulan juga pengen beli balon Marsha sama Upin Ipin juga." ucap Bulan.


"Hemm boleh, Bentar Bunda beliin ya. Kalian ikut atau Bunda aja ni yang ke penjual balonnya?" tanya Anabel ke ketiga anaknya.


"Ikuuuut bundaaa." ucap ketiga anaknya.


"Yaudah yuk." ucap Anabel mengajak ketiga anaknya untuk membeli balon.


Setelah mereka memilih balon yang akan di beli, Anabel pun membayarnya.


Setelahnya Anabel menunggu dan menemani mereka bermain balon.


Anabel tersenyum melihat ketiga anaknya begitu gembira dan bahagia.


Tertawa lepas seakan tiada beban.


Sedangkan dirinya?


Ia jujur ingin menangis, berteriak hatinya terasa sesak.


Ia ingin seperti anak anak yang bisa tertawa lepas, tersenyum tiada beban dan bermain juga berlari kemanapun mereka inginkan.


Tanpa sadar bulir demi bulir air matanya membasahi pipinya.


Masih teringat sangat jelas bagaimana Ferdi menyebut nama Ana tiba tiba begitu saja, sungguh Anabel benar benar tak memahami bagaimana bisa Ferdi menyebut dan memanggil nama Ana sedangkan bukankah Ana sudah tiada?"


Saat Ana sudah tiada saja, Ferdi masih terus mengingat Ana hingga menyebut nama Ana, bagaimana bila Ana masih hidup?"


fikir Anabel.


****


"Pa, Mama mau ke kamar mandi bentar ya." ucap April.


"Oooh oke Ma." ucap Hery.


"Loh , Ma kok ke arah sana? bukankah kamar mandi arah sini?" ucap Hery mencoba memegang lengan April yang akan pergi ke arah tersebut.


"Iya Pa, Mama sengaja ke kamar mandi sebelah sana, sebelah tempat antrian yang tadi kita nunggu Ferdi. Karena di kamar mandi ini agak kotor Pa , mama kurang senang.


Mama lebih senang ke kamar mandi sana bersih." ucap April.


"Oooh begitu, baiklah Ma. Papa tunggu ya, jangan lama lama. Karena Papa sendirian dan mungkin bentar lagi Ferdi kembali." ucap Hery.


"Okeee Pa, shipppp. Dadada Pa. ucap April.


"Iya Ma, dadada." ucap Hery.


April pun segera ke kamar mandi di arah sana.


Setelah beberapa menit keluar dari kamar mandi, April mampir sebentar ke warung sebelah dekat antrian untuk membeli roti.


"Hemm, beli roti bentar deh ke sana, sekalian beliin Papa sambil nunggu Ferdi." ucap April kepada dirinya sendiri.


April pun ke warung tersebut, setelah memilih roti dan ingin kembali tanpa sengaja April melihat Ferdi dan menghampiri ke sana.


"Hemm, beli ini aja ya mbak, berapaan ya mbak?" tanya April.


"satu harganya lima belas ribu Bu, kalau dua ya tiga puluh ribu Bu." ucap mbak penjual tersebut.


"Boleh mbak, beli dua ya." ucap April dan segera membayarnya.


Saat ingin kembali, tanpa sengaja April melihat Ferdi berdiri di arah sana menunggu antrian dengan bermain handphone.


"Loh Ferdi, masih belum kah antriannya?


apa masih lama ya? hemm lebih baik aku Landung tanya langsung aja deh ke Ferdi.


Yaudah deh ku hampiri Ferdi aja kali ya." ucap April kepada dirinya sendiri dan segera menghampiri Ferdi.


"Fer." panggil April dengan memegang pundak Ferdi.


"Fer." ucap April kembali, karena Ferdi sepertinya tidak mendengarnya.


"Eh iya Ana?" ucap Ferdi sontak dan ketika ia telah menoleh cukup terkejut ternyata April, mama mertuanya yang berada di sana.


"Hemm Mama April maksud saya, maaf Ma Ferdi salah sebut." ucap Ferdi menyesal.


"Fer, kamu apa apaan?" ucap April.


"Ana siapa Fer? teman Anabel yang sudah meninggal itu iya? " tanya April kembali ke Ferdi.


"Jawab pertanyaan Mama, Fer !!


Kamu keterlaluan, Mama gak mau tau awas aja kamu sakitin Anabel , anak mama." ucap April yang di liputi emosi dan rasa kecewanya pada menantunya , Setelahnya April berlalu pergi meninggalkan Ferdi.


"Tunggu Ma, Ferdi mohon tunggu. Biar Ferdi jelaskan, tolong jangan salah faham Ma. sebelumnya Ferdi minta maaf ke Mama." ucap Ferdi berusaha menjelaskan dan mengejar April dengan menahan lengan April yang akan pergi.


"Apa lagi Fer? tidak ada yang perlu di jelaskan, Mama dengar sendiri apa yang kamu ucapkan itu. Mama gak tuli, Mama dengar Fer !!, Jujur Mama kecewa denganmu. Cukup, sudahlah Fer jangan cari pembelaan diri lagi. Kamu benar benar, sudah membuat Mama kecewa. Ana sudah meninggal tapi masih saja pikiranmu di liputi Ana hingga tanpa sadar kamu memanggilnya. Keterlaluan, Mama kecewa padamu Fer.


Mama kecewa padamu.!! " ucap April yang mulai di liputi rasa emosi yang tak mampu ia kendalikan.


"Ma,maafin Ferdi. Ferdi mohon Mama, jangan marah dengarin dulu penjelasan Ferdi, Ferdi mohon Ma." ucap Ferdi menahan tangisnya.


"Cukup Mama gak mau tau dan gak mau mendengarkan penjelasan apapun darimu. Dari menantu pembohong dan pengkhianat seperti mu.!! Mama gak butuh penjelasan darimu dan Mama juga gak mau dengar apapun yang kamu katakan, tak ada yang bisa Mama percayai lagi darimu.


Bukankah kamu pernah mengatakan pada Mama, "takkan pernah sakitin anak Mama dan mengkhianatinya terlebih kamu juga bilang saat itu tidak ada kebohongan di antara kalian, tidak ada yang harus di sembunyikan satu antara lain".. Tapi apa yang Mama lihat dan dengar sekarang? semua berbanding terbalik dengan apa yang pernah kamu ucapkan kala itu ke kami, ke Anabel , ke Mama, Papa , kakak angkat Anabel bahkan juga ke kami semua, bukankah begitu Fer? atau kamu sudah lupa?. Kecuali kamu sudah lupa wajar, bila tidak lupa kamu benar benar keterlaluan.!!" ucap April.


"Ohya kamu pernah dengar pepatah ini gak Fer, orang yang mencintai seseorang takkan mungkin melukainya apalagi mengkhianatinya dan membohongimu bila itu benar benar di lakukan maka kemungkinan ia tak mencintaimu atau cintanya padamu sudah pudar dan tergantikan oleh yang lainnya. Bukankah begitu Fer? benar?


lalu kamu saat ini di posisi mana Fer?


Sudah pudar cintamu pada Anabel, anak mama? hingga tergantikan oleh perempuan lain dan cintamu pada Anabel istrimu, kini benar benar tiada, iya? hingga dengan mudah kamu sakiti anak mama?" ucap April dengan tenang tapi menohok Ferdi, hingga Ferdi pun terdiam di buatnya.


"Jawab Fer, kenapa diam? jawab mama!!." ucap April kembali, memaksa Ferdi untuk menjawabnya.


"Ma, maafin Ferdi. Ferdi mohon. Ferdi bisa jelaskan..tapi jika.." ucap Ferdi terpotong karena April yang menyahut perkataannya.


"Cukup , cukup Fer. Mama gak mau dengar penjelasan apapun darimu. Bukankah sudah jelas apa yang mama katakan? atau kurang jelas untuk kamu mengerti dan memahami yang mama katakan? " ucap April kembali.


"Ma, maaf. Ferdi minta maaf. Baiklah bila Mama tak ingin mendengar penjelasan Ferdi tak mengapa, tapi mohon maafin Ferdi Ma. Ferdi benar benar menyesal dan mohon maafin Ferdi Ma." ucap Ferdi kembali, memohon dan mencoba mencium tangan April namun April segera menjauhkan dirinya hingga Ferdi berlutut kepadanya.


"Mohon, maafin Ferdi Ma, maafin Ferdi." ucap April kembali dengan berlutut di hadapan April.


"Kamu apa apaan? Berdiri gak ? Mama gak suka liat kamu berlutut seperti ini." ucap April kepada Ferdi.


"Berdiri Fer.!!" ucap April kembali.


"Enggak Ma, Ferdi takkan berdiri sebelum Mama maafin Ferdi." ucap Ferdi kembali.


"Sudahlah Fer kamu ini apa apaan sih. Mama gak suka, benar benar gak suka. Ayo berdiri." ucap April.


"Enggak Ma, Ferdi akan berdiri kalau Mama sudah maafin Ferdi." ucap Ferdi.


"Ya Tuhan Ferdi, kamu kenapa sih? kamu kenapa memaksa Mama maafin kamu dengan cara seperti ini? jujur bagaimana mungkin semudah itu Mama maafin kamu? sedangkan Mama masih sangat kecewa padamu." ucap April kembali.


"Iya Ma , Ferdi tau salah dan sudah bikin Mama kecewa. Tapi Ferdi benar benar minta maaf dan Ferdi ingin Mama maafin sehingga Ferdi rela berlutut seperti ini hingga mama maafin Ferdi." ucap Ferdi.


"Ya Tuhan Ferdi, lihatlah makin banyak orang liatin kita, kita jadi bahan tontonan Fer.


Baiklah, Mama maafin. Sekarang berdirilah , ayo berdiri." ucap April mencoba membantu Ferdi berdiri.


"Serius Mama uda maafin Ferdi?" tanya Ferdi.


"Iya, Mama sudah maafin . Yaudah berdirilah Fer, jangan terlalu banyak drama. Kita makin di lihat banyak orang." ucap April, hingga Ferdi pun berdiri.


"Ingat Fer, Mama memang sudah maafkan kamu walau Mama masih sangat kecewa padamu. Tapi ingat satu hal ini, tolong ingat ucapan Mama dan dengarkan dengan baik.


Mama gak mau tau, apapun itu jangan sampai Anabel mendengar kamu menyebut nama Ana tanpa sadar lagi, awas aja kamu sampai melakukannya itu di hadapan Anabel atau Anabel tau.


Mama akan sangat kecewa padamu.


Mama gak mau tau, awas aja sampai kamu sakitin Anabel anak mama, kamu paham?." ucap April kepada Ferdi.


"Iya Ma, Ferdi paham. Ferdi minta maaf. "


ucap Ferdi penuh sesal.


"Yasudah kami menunggumu di sana, jangan lama lama. Kalau sudah selesai mengantri segera kembali." ucap April sekali lagi dan berlalu pergi meninggalkan Ferdi dengan penuh rasa kecewa.


"Iya Ma setelah antrian ini selesai Ferdi kembali Ma." ucap Ferdi kembali, walau April sudah tak mendengarnya karena sudah berlalu pergi.


γ€€


\===========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - April Kecewa Dengan Menantunya


April pun berusaha menetralkan emosinya sebelum ia kembali ke tempat mereka menunggu tadi dan menghampiri Hery, suaminya.


"Sudah kembali Ma?" tanya Hery, saat April telah kembali ke tempat mereka menunggu Ferdi.


"Iya Pa sudah. " ucap April.


"Kamu kenapa Ma? " tanya Hery.


"Emang aku kenapa Pa ? Aku gak kenapa napa." ucap April yang tak mengerti maksud Hery dan berusaha menyangkalnya.


"Tapi kamu terlihat beda Ma, gak seperti biasanya." ucap Hery kembali.


"Terlihat beda gak seperti biasanya? beda bagaimana Pa? gak ah, itu perasaan Papa saja karena Mama baik baik saja kok." ucap April kembali.


"Hemm yasudalah, kalau Mama gak ingin mengakuinya dan jujur kepada Papa, gak kenapa napa. Papa paham kok, tapi Papa harap jika kamu ada masalah, keresahan atau kecemasan, kamu cerita ya ke Papa. Bagi ke Papa, bagaimanapun Papa ini suami Ma. " ucap Hery.


"Papa sudah rumah tangga dengan Mama cukup lama bukan? tentu Papa paham, bagaimana sifat Mama termasuk ketika Mama jujur atau bohong ke Papa.


Papa pun tau ketika Mama baik baik saja atau ada yang sedang Mama sembunyikan dari Papa dan pura pura baik baik saja." ucap Hery dengan tersenyum.


Tanpa sadar setelah mendengar ucapan Hery , suaminya April. segera bersandar di dada Hery untuk menumpahkan rasa kecewa juga sesak yang ia rasakan hingga tanpa sadar air matanya tumpah begitu saja.


"Ma, kenapa kamu? Mama baik baik saja? Cerita ke Papa, Ma." ucap Hery ke April.


"Mama .... Mama gak kenapa napa Pa." ucap April kembali, dengan menahan Isak tangisnya.


"Ma, tolong jujur dan cerita ke Papa." ucap Hery kembali.


"Mama, gak kenapa napa Pa. Papa jangan terlalu mencemaskan keadaan ini atau kondisi Mama ya. Karena Papa juga harus perhatikan kesehatan Papa. Ingat Papa pernah mengalami serangan jantung dan Mama gak mau Papa kambuh sakitnya karena banyak pikiran dan memikirkan hal ini. Jadi tolong jangan paksa Mama lagi untuk bercerita ke Papa, Mama sayang ke Papa dan gak mau Papa gak kenapa napa apalagi sampai kambuh sakitnya. Mama gak mau Pa, terlebih bila itu karena mama, mama akan merasa bersalah banget." ucap April kembali mencoba menenangkan Hery, suaminya.


"Baiklah Ma, tapi Papa insya Allah baik baik saja, Papa gak akan mikir. Papa juga gak ingin Mama menanggung semuanya sendiri dan Papa ingin sebagai suami yang baik mendengarkan segala curahan hati istrinya. Izinin Papa ya Ma." ucap Hery memegang April.


"Makasih Pa, tapi Mama juga gak ingin Papa kambuh sakitnya, terlebih itu karena Mama. Mama akan merasa bersalah banget pastinya Pa." ucap April.


"Enggak Ma, kan Mama hanya mencurahkan isi hati mama saja." ucap Hery yang masih menggenggam tangan April dan berusaha meyakinkannya.


"Mama bingung dan jujur kecewa dengan mantu kita Pa, dia itu..." ucap April terjenti karena sadar apa yang hampir saja ia katakan.


"Astaghfirullah , Mama Gak papa Pa, sudah jangan terlalu di pikirin dan banyak pikiran dulu Papa, ya.. ." ucap April kembali berusaha menenangkan Hery, suaminya.


"Hemm baiklah tapi kenapa dengan mantu kita Ma? bikin kecewa? bikin Mama bingung?


memangnya dia kenapa lagi Ma?" tanya Hery.


"Enggak kenapa napa kok Pa. Sudahlah jangan di bahas lagi. Papa pikirin dan jaga kesehatan Papa ya. Dan mama gak ingin membahasnya lagi." ucap April ke Hery.


"Tapi Ma..." ucap Hery.


"Sudahlah Pa, Mama gak ingin membahasnya, tolong dan Papa jaga kesehatan Papa. Pikirin kesehatan Papa, jangan yang lain oke Pa. "ucap April dengan memegang telapak tangan Hery.


"Hemm iya Ma, baiklah jika itu mau Mama , Papa gak maksa. Mama tenang saja ya jangan terlalu khawatirkan Papa, Papa bisa jaga diri. Begitupun dengan Mama jaga kesehatan mama dan jangan terlalu banyak pikiran, mikirin yang lain. Papa juga gak mau Mama sakit. Papa harap mama paham akan hal itu." ucap Hery ke April dengan menggemgam tangan April, berusaha menenangkannya kembali.


"Iya Pa sama sama.." ucap April dengan tersenyum dan masih menggenggam tangan Hery.


Pembicaraan mereka terhenti, dengan kedatangan Ferdi.


"Fer, sudah kembali? " tanya April.


"Baiklah, mama telfon Anabel dulu ya buat beritahu kamu sudah kembali." ucap April yang mulai mengeluarkan handphonenya dari dalam tas dan mulai mengetik mencari nama Anabel di kontaknya, untuk menelfon Anabel.


"Fer, tadi gimana tadi cekin nya kok lama banget? antriannya banyak ya?" tanya Hery mengalihkan suasana tegang yang ada di antara mereka, dengan menunggu kedatangan Anabel.


"Iya Pa, Alhamdulillah untuk mengurusnya lumayanlah Pa dan memang lumayan ramai tadi Pa , bisa di bilang cukup padat di sana tadi itu sehingga Ferdi cukup lama harus nunggu antrian di sana. Maafin Ferdi ya Pa." ucap Ferdi.


"Iya Fer, gak papa. Santai aja, Papa paham kok." ucap Hery dengan tersenyum.


"Uda Mama telfonkan, katanya bentar lagi ke sini. Suruh nunggu ya sama Anabel." ucap April menyampaikan kepada Ferdi.


"Iya Ma, gak papa. Maafin Ferdi juga ya uda buat kalian nunggu lama." ucap Ferdi.


****


γ€€


\========================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Ferdi Sudah Kembali


Saat sedang asyik bermain dengan ketiga anaknya, tiba tiba handphonenya berbunyi...


Anabel pun segera merogoh handphonenya dan melihat siapa yang menelfonnya.


"Mama?" ucap Anabel kepada dirinya sendiri.


"Mama menelfon? hemm, mungkin mama ingin memberitahu Ferdi sudah kembali ya. Yaudahlah aku angkat saja." ucap Anabel kepada dirinya sendiri dan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Ma." ucap Anabel, kepada April di sebrang telfon sana.


"Bel, Mama cuman mau kasih tau, Ferdi sudah kembali. Segera ke sini ya, kami tunggu. Jangan lama lama tapi tetap hati hati. " ucap April kepada putrinya.


"Eh Ferdi dah balik ya Ma? Alhamdulillah syukurlah, oke Ma aku segera ke sana ya. Tunggu Anabel ya Ma." ucap Anabel kepada April.


"Oke Bel, sipp. kami tunggu kamu. Hati hati ya" ucap April di sebrang telfon sana dan segera mengakhiri panggilan tersebut.


"Iya Ma, lah eh di matikan?" ucap Anabel pada diri sendiri yang kemudian meletakkan handphone tersebut kembali ke dalam tas.


"Bunda mau ke mana?" tanya Bintang saat melihat Anabel berdiri.


"Ayah uda datang, jadi yuk kita ke sana." ucap Anabel Kepada ketiga anaknya dan mereka bersegera ke tempat tersebut, menghampiri Ferdi, April juga Hery.


Beberapa menit kemudian Anabel tiba di tempat tersebut..


"Nah itu Anabel sudah datang Fer, yuk kita langsung ke kamar masing masing. Mama capek." ucap April.


"Loh Ma, Pak Anang sama Bu Nila ke mana ya? kok gak ada di sini?" ucap Anabel.


"Oh iya Mama lupa mau beritahu kalian. Kalau Bu Nila dan Pak Anang tadi izin ke rumah sakit sebelah karena ingin cek kesehatan di rumah sakit itu. Cek kesehatan di sana, bisa lebih detail daripada di rumah sakit ini karena peralatannya lebih memadai dan lengkap di sana memang." ucap April menjelaskan.


"Yaa Allah kambuh kah sakit mereka ?


Pak Anang dan Bu Nila? " tanya Anabel.


"Iya Nak, kita doakan saja ya untuk pak Anang dan Bu Nila." ucap April yang menghampiri Anabel dan menggemgam tangannya. Kemudian April memeluk Anabel dan menuntunnya menuju kursi bersamanya.


"Sabar Nak, kita doakan saja ya. " ucap April yang masih menggenggam tangan Anabel.


"Iya Ma." ucap Anabel yang kemudian menangis di pundak April dan April pun menepuk nepuk punggungnya.


Setelahnya Anabel menghapus air matanya dan menoleh ke arah Ferdi yang terlihat gelisah.


"Mas, kamu uda tau kabar ibu? kamu kenapa Mas terlihat gelisah seperti itu? apa kamu juga kepikiran keadaan Ibu dan bapak ?" tanya Anabel ke Ferdi.


"Eh yank, Iya yank. Aku Kepikiran kondisi Ibu dan bapak." ucap Ferdi berusaha tenang dan menormalkan detak jantungnya agar tidak ada yang curiga dengannya.


Tak lama kemudian, Ferdi merasa ada yang mengikuti dan mengawasinya dari jauh


Ferdi pun segera menoleh namun yang ia lihat nihil, tak ada apa apa.


"Yank, kamu kenapa sih? ku lihat mulai tadi kamu itu uda aneh. Apalagi dengan kamu menoleh ke arah sana sini." ucap Anabel setelah memperhatikan tingkah Ferdi.


"Eh, iya yank. Maafin Mas ya, Entah mengapa barusan Mas merasa ada yang memperhatikan kita yank." ucap Ferdi akhirnya.


"Hah? serius Mas? ada yang memperhatikan kita?" tanya Anabel bingung.


Iya yank.. hemm tapi yasudalah mungkin mas salah lihat." ucap Ferdi.


Anabel bingung sendiri melihat sikap Ferdi semenjak tadi.Tapi untuk berbicara lebih lanjut dengan Ferdi, Anabel masih terlalu malas karena ia masih sangat kecewa dengan Ferdi.


"Okeee, yaudah yuk Fer cepat ke kamar Mama capek pengen segera istirahat, kan uda di cekin ya? " ucap April.


"Iya Ma, sudah yaudah yuk kita segera ke kamar supaya bisa istirahat ya." ucap Ferdi.


Mereka pun segera ke kamarnya masing masing untuk segera beristirahat...


***


"Mas, kamu kenapa sih ? mulai tadi aku lihat kamu cemas begitu, resah ada apa denganmu?" tanya Anabel.


"Aku gak papa yank. Sudah ya Mas mohon jangan di bahas lagi." ucap Ferdi.


"Hemm, baiklah yank. Gimana kita pesan cuppicino sama pizza saja sore ini." ucap Anabel menawari Ferdi.


"Boleh yank. Nanti malamnya kita makan di sini bareng Mama Papa atau di restoran makan bersama yank?" tanya Ferdi.


"Aku kurang tau Mas. nanti coba kita tanyakan Mama , Papa ya. " ucap Anabel.


"Yaudah aku telfonkan dulu ya Mas, pesanannya." ucap Anabel, segera menelfon untuk memesan pesanannya.


Beberapa menit kemudian, kurir datang untuk mengantarkan pesanannya.


"Aku mandi dulu ya Bel, setelah itu kamu. karena risih belum mandi sejak tadi." ucap Ferdi.


"Iya Mas, aku siapkan pakaian mu ya." ucap Anabel.


"Iya yank, makasih ya. Aku ke kamar mandi dulu." ucap Ferdi segera berlalu ke kamar mandi.


Anabel pun segera menyiapkan baju , celana juga handuk untuk Ferdi .


Untuk beberapa saat Anabel termenung, mengingat sekelebat apa yang sudah terjadi sejak tadi pagi tanpa terasa bulir demi bulir air mata membasahi pipinya dan dadanya terasa sangat sesak. Setelah ia sadar dari lamunannya, Anabel pun segera mengusap air matanya sebelum Ferdi kembali keluar kamar mandinya dan tau bila ia menangis.


"Bel." panggil Ferdi dan memegang pundak Anabel, ketika tau Anabel sedang melamun.


"Eh iya Mas?" ucap Anabel terkejut dengan keberadaan Ferdi yang sudah ada di hadapannya.


"Kamu kenapa?" tanya Ferdi ke Anabel.


"Ah, aku gak papa Mas." ucap Anabel berusaha tersenyum dan menyakinkan Ferdi.


"Ah, Mas sudah keluar kamar mandi ya?" tanya Anabel, untuk mengalihkan pembicaraan.


"Iya, sudah. Yaudah kamu ke kamar mandi dulu ya, Refresh dulu dengan air dingin supaya pikiranmu tidak sering melamun." ucap Ferdi.


"Iya Mas, yaudah ya aku ke kamar mandi dulu. Itu sudah aku siapkan baju, celana juga handuk kamu ya." ucap Anabel dengan menunjuk pakaian yang sudah ia siapkan untuk Ferdi dan segera berlalu ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Anabel pun keluar dari kamar mandi dan melihat Ferdi sudah tidak ada di kamarnya.


Setelah berganti, Anabel mencari keberadaan Ferdi.


"Fer." panggil Anabel, saat melihat Ferdi berada di luar teras kamar.


"Fer." panggil Anabel kembali karena Ferdi tak mendengarnya.


"Mas Ferdi." ucap Anabel dengan memegang pundaknya . Ferdi pun terkejut dan secara spontan memanggil nama "Ana." yang membuat Anabel mengeryit dan seakan tercubit hatinya.


"Mas." lirih Anabel bersamaan dengan bulir bulir air matanya yang membasahi pipinya.


"Ya Tuhan, yank maafin aku ya." ucap Ferdi penuh sesal, dengan meraih tangan Anabel dan mencoba menggemgamnya.


"Sudahlah Mas, Ana siapa yang kamu maksud ? Ana temanku? iya? ." tanya Anabel .


"Jawab Mas. Sudahlah Mas, tak cukupkah tadi pagi kamu menyebut nama Ana tiba tiba terus sekarang lagi? apa di pikiranmu hanya Ana dan Ana? bahkan ia sudah meninggal Mas, sadar.!!.


Aku ini istrimu, tapi yang di pikiranmu hanya Ana , Ana sahabatku yang sudah meninggal bisa menggeser posisiku di hatimu Mas?" ucap Anabel dengan menangis dan menahan sesak.


"Bel, maafin Mas. Tapi tunggu maksudmu apa? Kamu tadi pagi berada di sana..? di tempat antrian itu? Apa kamu juga melihat Mama berada di sana juga?" tanya Ferdi.


"Ya Mas, tadi pagi aku ada di sana, di tempat antrian tersebut." ucap Anabel.


"Enggak Mas, tadi pagi aku hanya melihat kamu berada di sana, yang tiba tiba saja memanggil dan menyebut nama Ana.


Ana sahabatku yang kini sudah meninggal." ucap Anabel kembali.


"Tega kamu Mas, apa di pikiranmu selalu Ana hingga tanpa sadar kamu menyebut namanya?. Aku hancur Mas, hatiku sangat sakit melihat suamiku seperti itu. " ucap Anabel yang mulai tersulut emosi dan berlalu pergi meninggalkan Ferdi.


Anabel berusaha menahan tangis dan sesak yang ia rasakan.


γ€€


\==================


γ€€


Ketika Cinta Harus Memilih - Ferdi Ingkar Janji


"Tunggu Bel, dengarkan penjelasan Mas dulu. Mas melihat Ana tadi pagi itu, percayalah." ucap Ferdi yang mencoba meraih tangan Anabel yang akan pergi.


"Cukup Mas, gak ada lagi yang perlu di jelaskan. Semua sudah cukup jelas dan tidak perlu berbohong mengenai keberadaan Ana. Ana sudah meninggal. Hentikan omong kosong mu itu. Aku kecewa padamu, tolong lepasin aku. Aku lelah dan gak ingin berdebat dengan mu." ucap Anabel yang berusaha melepaskan genggaman dari Ferdi.


"Tunggu Bel, dengarkan Mas. Bukan hanya kamu yang lelah, Mas juga lelah bila kalian seperti ini. Gak kamu, gak Mama sama aja menyalahkan Mas terus menerus tanpa mau mendengarkan penjelasan Mas. Dengerin dulu penjelasan Mas. Tolong jangan terlalu mendramatisir keadaan seperti Mama . Mas sama sekali tidak seperti yang kamu tuduhkan."


"Bukankah Mas sudah berjanji akan berubah dan hanya menjaga hati Mas untuk mu? Apa kamu masih meragukan itu Bel ? jawab Mas ?!! . Tolong jangan buat Mas, kecewa juga sama kamu." ucap Ferdi yang mulai tersulut emosi dan menggemgam tangan Anabel dengan sangat kuat, hingga tanpa sadar itu sangat melukai tangan Anabel yang mulai memerah.


"Maaf Mas, apa Mama juga tau hal ini? Maaf bila kami sudah buat Mas kecewa dan lelah dengan kami. Mas, iya aku tau Mas pernah berjanji seperti itu. Tapi bukankah seringkali Mas mengkhianati janji Mas sendiri? Lalu bagaimana mungkin aku bisa percaya dan tau Mas akan menepatinya? meski aku berungkali berusaha percaya tapi kenyataannya Mas sering ingkar janji , tidak menepatinya hingga membuat aku kecewa padamu Mas. Ohya satu lagi , cukup Mas, aku lelah bukan hanya kamu juga dan liat genggaman kamu ini Mas sangat sakit. Liat tanganku sampai memerah , apa kamu sadar kamu uda menyakiti aku?? Lepasin aku Mas atau kamu akan menyakitiku jauh lebih dalam dari ini dan membuat tanganku semakin sakit." ucap Anabel yang menahan tangis.


"Maaf." ucap Ferdi dengan melepaskan genggaman tangan tersebut.


Di tengah pertengkaran mereka ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


Toktoktok


( Seseorang mengetuk pintu kamar mereka)


"Mas, sepertinya ada yang mengetuk pintu kamar ini, biar aku bukain dulu ya Mas."


ucap Anabel, sedangkan Ferdi hanya mampu merespon dengan mengangguk.


Anabel pun berjalan membukakan pintu tersebut.


"Bel bukain." ucap orang yang berada di luar kamar tersebut.


"Eh iya Ma, bentar.. Ini Anabel bukain Ma." ucap Anabel, yang kemudian membukakan pintu tersebut.


"Bel, cepat turun ke bawah ya. kita makan bersama, ajak suamimu juga." ucap April.


"Eh iya Ma, makasih uda kasih tau kami.


Ohya Ma , ini makan bersama di hotel ini atau kita makan ke restoran bareng ?" tanya Anabel.


"Kita makan bersama di restoran hotel ini aja ya, gak perlu di luar." ucap April.


"Oooh begitu ya Ma, baiklah." ucap Anabel.


"Yaudah Ma, aku panggil Ferdi dulu ya Ma, Mama duluan turun ke bawah gak papa. Biar nanti kami menyusul saja Ma." ucap Anabel.


"Iya Bel, ohya Mama boleh tanya gak?" ucap April.


"Tanya? boleh, mau tanya apa ya Ma?" ucap Anabel.


"Maaf ya Bel sebelumnya, Mama tadi kok dengar seperti suara orang sedang bertengkar. Apa kamu sedang bertengkar dengan Ferdi? maaf loh sebelumnya.


"Eh, enggak Ma. mungkin perasaan Mama aja." ucap Anabel yang berusaha menjawab dengan tenang, walau ia cukup terkejut dengan pertanyaan yang April lontarkan.


"Tapi Bel, tadi Mama dengar beneran, suara ribut gitu.." ucap April kembali.


"Enggak Ma, tenang saja ya. Tadi kita dengar YouTube dan tv jadi mungkin suara itu berasal dari YouTube dan tv yang kami tonton. Karena kebetulan kami nonton tentang perang perangan juga, gitu Ma. " ucap Anabel berusaha tersenyum dan menenangkan April .


"Oooh begitu ya, yasudah . syukur Alhamdulillah lah. " ucap April.


"Yaudah kalian turun ke bawah ya. Kami tunggu ." ucap April yang kemudian berlalu pergi dari kamar Anabel. Begitupun Anabel, setelah kepergian April, ia menghampiri Ferdi.


"Mas, Mama suruh kita turun, makan bersama. yuk kita turun saja." ucap Anabel setelah mengampiri Ferdi dan kemudian Anabel pun berlaku duluan meninggalkan Ferdi.


"Tunggu Bel, kita turun bareng ya. Supaya mama gak curiga. Karena dari yang Mas dengar tadi sepertinya Mama curiga dengan kita kan? Jadi lebih baik kita turun bareng." Ferdi.


"Ohya , jadi kita makan bareng di restoran hotel sini saja ya gak ke restoran luar?" tanya Ferdi.


"Iya Mas, ke restoran sini. Yaudah yuk kita bareng aja , kamu benar supaya Mama gak curiga." ucap Anabel.


"Yaudah yuk." ucap Ferdi, yang kemudian menggemgam tangan Anabel untuk menuju ke restoran hotel di sini.

__ADS_1


__ADS_2