
Udara pagi nan sejuk menyelimuti rumah
yang terbuat dari bambu tersebut, Ana berdiri di depan jendela dapur yang
langsung menghadap ke rumput rumput liar dan tanaman hijau di luar. Udara sejuk
seolah masuk ke dalam dapur rumahnya, angin menerpa wajahnya yang membuat
beberapa helai rambutnya berterbangan.
bulir bulir air matanya tak bisa ia
tahan lagi tatkala ia melihat hanya ada tahu, tempe, dan kecap lagi untuk
sarapan pagi ini.
Dadanya terasa sesak dan ia benar
benar tak bisa menahan gemuruh hatinya yang tak menentu dan ingin sekali ia
berteriak pada takdir seakan tak adil baginya, namun ia tak ingin Syakira
mendengar teriakannya hingga Ana hanya mampu memendam sesak yang ia rasakan
seorang diri.
Ana pun melihat kembali, tahu, tempe
yang perlahan sudah ia masukkan ke dalam wajan, dengan tangannya yang gemetar.
Ana pun menuangkan minyak goreng ke
dalam wajan tersebut, bersamaan air matanya yang tak mampu ia tahan kembali.
Ana menatap miris, ke arah kecap dan
tahu juga tempe dalam wajan tersebut, yang sedang ia goreng.
"Apa iya aku harus hidangkan
tahu, tempe dan kecap lagi buat Syakira? pasti Syakira akan sedih dan bosan. Ya
Tuhan aku harus bagaimana...." lirih Ana pada dirinya sendiri.
"Bundaaa...."
"Iya sayang... Yaa Allah Syakira
panggil aku, aku gak boleh nangis atau bersedih seperti ini. Nanti Syakira ikut
sedih dan nangis lihat aku seperti ini." Ana pun segera tersadar dari
lamunannya dan segera menghapus bulir bulir air matanya karena ia tak ingin
Syakira tau bila ia sedang menangis.
_Toktoktok_
"Siapa ya bertamu pagi pagi
sekali? humm iya sebentar...." Untuk beberapa Ana terkejut dan ia pun
segera membukakan pintu tersebut.
"Bu Siska?? humm iya Bu ada apa
kok bertamu pagi pagi sekali?" tanya Ana yang bingung melihat kedatangan
Bu Siska di pagi hari.
"Iya Bu, maaf ya ganggu pagi pagi
sekali, saya hanya ingin mengantarkan makanan ini. Karena kebetulan tadi saya
masak agak banyak jadi sekalian mau anter buat ibu dan tetangga lainnya. Semoga
suka ya Bu, terutama untuk Syakira... Karena saya kemarin mendengar Syakira
menangis karena bosan makanan yang di makannya ya Bu?" tanya bu Siska.
"Maaf Bu, sebelumnya bukan ikut
campur, apa ibu selalu hidangkan ke Syakira makanan yang sama? Maaf Bu, saran
__ADS_1
saya coba ibu menunya di ganti saja tiap harinya supaya Syakira gak bosan.
Kalau ibu bingung referensinya, ibu bisa lihat google atau bantu saya kasih
buku resep masakan deh, ada juga resep seperti masakanku barangkali ibu mau
masak seperti itu juga." lanjut ucapannya, dan tanpa Bu Siska tau,
ucapannya membuat Ana merasakan sesak di hatinya, untuk sejenak Ana
menghembuskan nafas, untuk mencari pasokan oksigen sebelum menjawab pertanyaan
Bu Siska.
"Wah, terimakasih banyak ya Bu,
sudah di antarkan makanan ini. Semoga Allah membalas kebaikan ibu ya..
kebetulan sekali Bu, ini mau makan. Senengnya dapat makanan gini dari Bu Siska.
Sekali lagi terimakasih loh Bu, dan maaf sebelumnya, bukan saya malas atau gak
mau masakin anak saya, tapi keuangan kami sedang di titik terendah saat ini Bu,
sehingga harus mengirit sekali bahkan untuk membeli bahan mentah untuk masak
masakan seperti itu, kami gak mampu." ujar Ana berusaha tersenyum.
"Yaa Allah, apa itu benar Bu?
maaf, maafkan saya tidak tau Bu." ujar Bu Siska penuh sesal.
"Maaf Bu sebelumnya, suami ke
mana ya Bu? apa tidak membantu perekonomian? saya juga liat suami ibu tidak
pernah kelihatan," tanya Bu Siska yang penasaran.
Lagi dan lagi ucapan Bu Siska seolah
mencubit hati Ana dan membuat Ana Kelu untuk menjawabnya, hatinya pun semakin
terasa sesak.
menjawab apa. Ingin sekali Ana mengatakan jika Ayah dari Syakira sudah tiada,
iya tiada dari hatinya. Namun ia tak tega bila mereka salah mengartikan dan
menganggap Ferdi suaminya telah meninggal, karena tentu jawabannya akan membuat
orang salah faham.
Untuk sejenak Ana menghembuskan
nafasnya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Bu Siska lagi.
"Humm, maaf Bu, Sekali lagi saya
terimakasih atas pemberian makanan ini. Tapi maaf pertanyaan ibu tidak bisa
saya jawab, karena itu privasi saya, saya harap ibu paham dan semoga mengerti.
Cukup Allah dan saya yang tau
bagaimananya ..." ujar Ana dengan tersenyum, seolah mengartikan isyarat
yang tak mampu di ungkapkan, yang membuat Bu Siska terdiam dan bingung dalam
waktu bersamaan.
"Iya Bu, sama sama. Hemm, baik
Bu, maaf atas pertanyaan saya tadi ya dan maaf bila ucapan saya tanpa sengaja
ada yang melukai hati ibu, sekali lagi saya minta maaf... Saya hanya bisa
mendoakan yang terbaik untuk ibu sekeluarga dan tidak akan bertanya tentang
privasi lagi, dan untuk mendoakan kebaikan orang lain, tak perlu bertanya
privasi kan Bu? iya saya salah...," ujar Bu Siska yang menyesal atas
pertanyaan yang telah ia lontarkan.
__ADS_1
"Ohya Bu, jangan lupa di makan
ya, semoga suka. Yasudah saya permisi dulu ya Bu. Assalamualaikum." pamit
Bu Siska.
"Iya Bu, sekali lagi terimakasih,
dan maaf juga bila saya salah kata dengan Bu Siska. Iya Bu pasti saya makan,
waalaikumussalam Bu Siska, hati hati." ujar Ana.
Setelah Kepergian bu Siska, Ana pun
segera menghampiri Syakira, anaknya.
"Bu, tadi siapa?" tanya
Syakira.
"Eh, sayangnya Bunda. Humm itu
tadi Bu Siska sayang..." ucap Ana dengan tersenyum.
"Bu Siska siapa Bunda? ohya Bunda
sarapan pagi ini kita makan tahu, tempe dan kecap lagi ya Bunda?" tanya
Syakira sedih.
"Iya sayang tadi niatnya mau
makan tahu, tempe dan kecap, karena hanya ada itu makanannya.." Ana
sengaja menjeda ucapannya.
"Yaaaah..." ucap Syakira
sedih.
"Dan Bu Siska tadi ngantar
makanan enak untuk kita. Jadi kita makan enak dan gak jadi makan tahu, tempe
dan kecap lagi." ujar Ana dengan tersenyum dan merunduk menatap Syakira.
"Serius Bunda? Alhamdulillah
Syakira senang sekali Bunda." ucap Syakira dengan mata berbinar.
"Iya sayang, yuk makan."
ujar Ana yang segera mengambilkan makanan untuk dirinya juga Syakira.
"Nah, di makan yuk..." ucap
Ana memberikan piring yang sudah terisi lauk pauk ke Syakira.
"Iya Bunda, Syakira makan ya.
Laperrrrr, gak pernah makan seperti ini." ucap Syakira yang segera memakan
makanannya. Sedangkan ucapan Syakira benar benar membuat sudut hati Ana
tercubit dan terenyuh dalam waktu bersamaan.
"Iya sayang, ini bunda juga
makan." ucap Ana yang tersenyum pada Syakira dan segera memakan
makanannya.
"Humm, ini enak banget
bunda." ucap Syakira.
"Iya sayang, enak banget emang,
yaudah yuk lanjut makan, keburu telat nanti." ujar Ana kembali.
Dan Ana juga Syakira pun melanjutkan
makan mereka.
__ADS_1