Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 43


__ADS_3

Udara pagi nan sejuk menyelimuti rumah


yang terbuat dari bambu tersebut, Ana berdiri di depan jendela dapur yang


langsung menghadap ke rumput rumput liar dan tanaman hijau di luar. Udara sejuk


seolah masuk ke dalam dapur rumahnya, angin menerpa wajahnya yang membuat


beberapa helai rambutnya berterbangan.


bulir bulir air matanya tak bisa ia


tahan lagi tatkala ia melihat hanya ada tahu, tempe, dan kecap lagi untuk


sarapan pagi ini.


Dadanya terasa sesak dan ia benar


benar tak bisa menahan gemuruh hatinya yang tak menentu dan ingin sekali ia


berteriak pada takdir seakan tak adil baginya, namun ia tak ingin Syakira


mendengar teriakannya hingga Ana hanya mampu memendam sesak yang ia rasakan


seorang diri.


Ana pun melihat kembali, tahu, tempe


yang perlahan sudah ia masukkan ke dalam wajan, dengan tangannya yang gemetar.


Ana pun menuangkan minyak goreng ke


dalam wajan tersebut, bersamaan air matanya yang tak mampu ia tahan kembali.


Ana menatap miris, ke arah kecap dan


tahu juga tempe dalam wajan tersebut, yang sedang ia goreng.


"Apa iya aku harus hidangkan


tahu, tempe dan kecap lagi buat Syakira? pasti Syakira akan sedih dan bosan. Ya


Tuhan aku harus bagaimana...." lirih Ana pada dirinya sendiri.


"Bundaaa...."


"Iya sayang... Yaa Allah Syakira


panggil aku, aku gak boleh nangis atau bersedih seperti ini. Nanti Syakira ikut


sedih dan nangis lihat aku seperti ini." Ana pun segera tersadar dari


lamunannya dan segera menghapus bulir bulir air matanya karena ia tak ingin


Syakira tau bila ia sedang menangis.


_Toktoktok_


"Siapa ya bertamu pagi pagi


sekali? humm iya sebentar...." Untuk beberapa Ana terkejut dan ia pun


segera membukakan pintu tersebut.


"Bu Siska?? humm iya Bu ada apa


kok bertamu pagi pagi sekali?" tanya Ana yang bingung melihat kedatangan


Bu Siska di pagi hari.


"Iya Bu, maaf ya ganggu pagi pagi


sekali, saya hanya ingin mengantarkan makanan ini. Karena kebetulan tadi saya


masak agak banyak jadi sekalian mau anter buat ibu dan tetangga lainnya. Semoga


suka ya Bu, terutama untuk Syakira... Karena saya kemarin mendengar Syakira


menangis karena bosan makanan yang di makannya ya Bu?" tanya bu Siska.


"Maaf Bu, sebelumnya bukan ikut


campur, apa ibu selalu hidangkan ke Syakira makanan yang sama? Maaf Bu, saran

__ADS_1


saya coba ibu menunya di ganti saja tiap harinya supaya Syakira gak bosan.


Kalau ibu bingung referensinya, ibu bisa lihat google atau bantu saya kasih


buku resep masakan deh, ada juga resep seperti masakanku barangkali ibu mau


masak seperti itu juga." lanjut ucapannya, dan tanpa Bu Siska tau,


ucapannya membuat Ana merasakan sesak di hatinya, untuk sejenak Ana


menghembuskan nafas, untuk mencari pasokan oksigen sebelum menjawab pertanyaan


Bu Siska.


"Wah, terimakasih banyak ya Bu,


sudah di antarkan makanan ini. Semoga Allah membalas kebaikan ibu ya..


kebetulan sekali Bu, ini mau makan. Senengnya dapat makanan gini dari Bu Siska.


Sekali lagi terimakasih loh Bu, dan maaf sebelumnya, bukan saya malas atau gak


mau masakin anak saya, tapi keuangan kami sedang di titik terendah saat ini Bu,


sehingga harus mengirit sekali bahkan untuk membeli bahan mentah untuk masak


masakan seperti itu, kami gak mampu." ujar Ana berusaha tersenyum.


"Yaa Allah, apa itu benar Bu?


maaf, maafkan saya tidak tau Bu." ujar Bu Siska penuh sesal.


"Maaf Bu sebelumnya, suami ke


mana ya Bu? apa tidak membantu perekonomian? saya juga liat suami ibu tidak


pernah kelihatan," tanya Bu Siska yang penasaran.


Lagi dan lagi ucapan Bu Siska seolah


mencubit hati Ana dan membuat Ana Kelu untuk menjawabnya, hatinya pun semakin


terasa sesak.


menjawab apa. Ingin sekali Ana mengatakan jika Ayah dari Syakira sudah tiada,


iya tiada dari hatinya. Namun ia tak tega bila mereka salah mengartikan dan


menganggap Ferdi suaminya telah meninggal, karena tentu jawabannya akan membuat


orang salah faham.


Untuk sejenak Ana menghembuskan


nafasnya beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Bu Siska lagi.


"Humm, maaf Bu, Sekali lagi saya


terimakasih atas pemberian makanan ini. Tapi maaf pertanyaan ibu tidak bisa


saya jawab, karena itu privasi saya, saya harap ibu paham dan semoga mengerti.


Cukup Allah dan saya yang tau


bagaimananya ..." ujar Ana dengan tersenyum, seolah mengartikan isyarat


yang tak mampu di ungkapkan, yang membuat Bu Siska terdiam dan bingung dalam


waktu bersamaan.


"Iya Bu, sama sama. Hemm, baik


Bu, maaf atas pertanyaan saya tadi ya dan maaf bila ucapan saya tanpa sengaja


ada yang melukai hati ibu, sekali lagi saya minta maaf... Saya hanya bisa


mendoakan yang terbaik untuk ibu sekeluarga dan tidak akan bertanya tentang


privasi lagi, dan untuk mendoakan kebaikan orang lain, tak perlu bertanya


privasi kan Bu? iya saya salah...," ujar Bu Siska yang menyesal atas


pertanyaan yang telah ia lontarkan.

__ADS_1


"Ohya Bu, jangan lupa di makan


ya, semoga suka. Yasudah saya permisi dulu ya Bu. Assalamualaikum." pamit


Bu Siska.


"Iya Bu, sekali lagi terimakasih,


dan maaf juga bila saya salah kata dengan Bu Siska. Iya Bu pasti saya makan,


waalaikumussalam Bu Siska, hati hati." ujar Ana.


Setelah Kepergian bu Siska, Ana pun


segera menghampiri Syakira, anaknya.


"Bu, tadi siapa?" tanya


Syakira.


"Eh, sayangnya Bunda. Humm itu


tadi Bu Siska sayang..." ucap Ana dengan tersenyum.


"Bu Siska siapa Bunda? ohya Bunda


sarapan pagi ini kita makan tahu, tempe dan kecap lagi ya Bunda?" tanya


Syakira sedih.


"Iya sayang tadi niatnya mau


makan tahu, tempe dan kecap, karena hanya ada itu makanannya.." Ana


sengaja menjeda ucapannya.


"Yaaaah..." ucap Syakira


sedih.


"Dan Bu Siska tadi ngantar


makanan enak untuk kita. Jadi kita makan enak dan gak jadi makan tahu, tempe


dan kecap lagi." ujar Ana dengan tersenyum dan merunduk menatap Syakira.


"Serius Bunda? Alhamdulillah


Syakira senang sekali Bunda." ucap Syakira dengan mata berbinar.


"Iya sayang, yuk makan."


ujar Ana yang segera mengambilkan makanan untuk dirinya juga Syakira.


"Nah, di makan yuk..." ucap


Ana memberikan piring yang sudah terisi lauk pauk ke Syakira.


"Iya Bunda, Syakira makan ya.


Laperrrrr, gak pernah makan seperti ini." ucap Syakira yang segera memakan


makanannya. Sedangkan ucapan Syakira benar benar membuat sudut hati Ana


tercubit dan terenyuh dalam waktu bersamaan.


"Iya sayang, ini bunda juga


makan." ucap Ana yang tersenyum pada Syakira dan segera memakan


makanannya.


"Humm, ini enak banget


bunda." ucap Syakira.


"Iya sayang, enak banget emang,


yaudah yuk lanjut makan, keburu telat nanti." ujar Ana kembali.


Dan Ana juga Syakira pun melanjutkan


makan mereka.

__ADS_1


__ADS_2