
Hari ini Anabel merasakan perasaan
yang tak menentu antara bahagia juga sedih.
Karena Bulan dan Bintang akan kembali
melanjutkan pendidikannya untuk kuliah.
Anabel bahagia mereka melanjutkan
pendidikannya tapi ia juga sedih karena merasa kehilangan kedua anaknya lagi.
Tapi Anabel masih bersyukur karena
David masih akan pulang ke rumah meski David juga bekerja hingga sampai sore
bahkan larut malam terkadang, begitupun dengan Afnan yang masih menetap di
rumah meski pulang sekolahnya hingga larut sore karena sering ada les tambahan
di sekolahnya.
Namun Anabel masih tetap bersyukur,
karena sebelum keberangkatan mereka masih menyempatkan waktu untuk makan
bersama pagi ini.
Hari ini Anabel pun membuatkan makanan
spesial untuk mereka dan cukup banyak agar mereka membawanya karena Bulan dan
Bintang sering mengatakan akan merindukan masakan Anabel.
Sejujurnya pagi ini, Anabel juga ingin
memberitahukan kepada Ferdi dan keempat anaknya mengenai kabar bahagianya.
Jika kini telah tumbuh janin di
rahimnya, ia semenjak fonis kala itu dan dokter meminta Anabel mengangkat
rahimnya, Anabel tak ingin kehilangan rahimnya dan kehilangan ia mengandung
kembali hingga mereka mengeluarkan biaya cukup banyak untuk ke beberapa rumah
sakit di luar kota bahkan di luar negeri hanya untuk kesembuhan Anabel tanpa
pengangkatan rahim tersebut.
Anabel pun bersyukur, usaha mereka tak
sia sia karena hingga beberapa bulan kemudian bahkan 2 tahun kemudian Anabel
sembuh total tanpa melakukan pengangkatan rahim hingga dokter mengatakan ia
bisa mengandung kembali meski butuh waktu beberapa tahun lagi dan tidak secara
langsung ia bisa mengandung kembali.
Pagi ini Anabel telah mempersiapkan segalanya
untuk memberitahu kepada mereka mengenai kabar bahagianya kini.
Namun makan pagi mereka kali ini dalam
hitungan detik berubah menjadi suasana tegang saat kedatangan tamu tersebut.
"Biar Ayah yang bukain ya."
ucap Ferdi yang segera berdiri untuk membukakan pintu tersebut.
"Iya mas." jawab Anabel, dan
kembali bercengkrama dengan keempat anaknya.
**********
"Ana? ngapain kamu ke sini? dan
bagaimana bisa kamu di sini? dan untuk apa? lalu ini siapa? ..... " tanya
Ferdi yang terkejut dengan kedatangan Ana.
"Assalamualaikum mas Ferdi,
tenang dong. Terkejut dengan kedatangan saya? humm oke saya paham, tapi
tanyanya satu satu dulu ya, biar aku bisa menjawabnya." jawab Ana dengan
tersenyum, walau hatinya sendiri sedang tak menentu.
"Ini siapa bunda? ini ayah?"
tanya Syakira pada Ana, yang membuat Ferdi cukup terkejut dengan pertanyaan
__ADS_1
yang Syakira lontarkan pada Ana.
Belum hilang terkejutannya, Anabel
yang dari belakang menghampiri Ferdi.
"Mas Ferdi, siapa yang bertemu
pagi pagi?" tanya Anabel yang menghampiri Ferdi.
Dan untuk beberapa saat mereka bertiga
cukup terkejut dan saling pandang.
"Humm, Ana yang datang... seperti
yang kamu lihat. " ucap Ferdi lemah.
"Iya, aku tau..siapa gadis kecil
ini?" lirih Anabel lemah.
"Assalamualaikum Anabel, senang
bisa bertemu kembali." ujar Ana dengan tersenyum kepada Anabel.
"Ana, kamu datang kembali? iya
senang bisa bertemu kamu juga.. akhirnya kamu kembali, sudah lama
menunggumu.." ujar Anabel yang berhenti sejenak, untuk mengambil pasokan
oksigen untuk ia bernafas.
"Kami sudah lama mencarimu,
terlebih Ferdi, ya kan? Ferdi pasti rindu ingin bertemu anaknya terlebih
setelah kematian anakku, tentu ia merasa kesepian dan kehilangan buah hatinya
dan harus kehilangan anakmu juga Ana, yang juga anaknya. Ohya ini siapa? gadis
kecil ini? apa ini.. anak kamu dan Ferdi? ia sudah besar ya.. jadi gadis kecil
yang cantik sama sepertimu." ujar Anabel dengan menahan tangisnya.
"Iya ini anakku dengan Ferdi,
tapi mungkin lebih tepatnya ini anakku. Karena nyatanya Ferdi tak
meneruskan ucapannya tentu itu akan melukai hati Syakira dan ia tak ingin
Syakira mengetahui kenyataan itu.
"Aku anaknya bunda dan aku bukan
anaknya ayah. Karena selama ini ayah tak pernah mengharapkan kehadiranku, ayah
tak pernah merindukanku dan meganggapku sebagai anaknya, buktinya ayah tak
pernah peduli dan menjenguk kami." ujar Syakira yang menahan emosinya, dan
ucapan Syakira benar benar membuat mereka di sana terdiam dan cukup terkejut.
"Sayang..." lirih Ana
menahan emosinya dan tangisnya yang rasanya tak sanggup ia pendam kembali.
"Nak Syakira, ayah sayang kamu.
Ya kan Fer?" tanya Anabel kepada Ferdi, dan ia segera merunduk menghampiri
Syakira.
Sedangkan Ana hanya bisa menyaksikan
dengan diamnya karena ia mencoba menenangkan hatinya yang tengah menahan emosi
juga tangisnya yang berusaha ia pendam.
Begitupun dengan Ferdi dan keempat
anaknya hanya bisa menyaksikan semuanya tanpa bisa berkata kata.
Ingatan mereka terasa seolah kembali
ke masa lalu, begitupun dengan David seolah rasa benci itu tumbuh kembali dan
dendam yang pernah dulu ia ucapkan.
Namun ia ragu, haruskah ia benar benar
melakukannya? sedangkan kini ia melihat sendiri bagaimana kebencian Syakira
kepada ayahnya seakan menginsyaratkan keterlukaan dan kekecewaan yang terpendam
__ADS_1
cukup lama, begitupun dengan Ana yang hanya bisa menahan tangisnya, dan David
bisa melihat itu dari ekspresi dan kata yang mereka ucapkan.
Meski David kini telah menjadi dosen
yang mengajar matematika, tapi ia juga pernah cukup lama mempelajari tentang
dunia psikolog sehingga ia cukup tau mengenai ekspresi sikap ataupun perkataaan
orang orang di sekitarnya.
Mereka cukup tegang menanti jawaban
Ferdi, namun sayangnya Ferdi seakan tak memberikan jawaban hingga membuat Syakira
terluka kembali semakin dalam.
"Mas, jawab..!!" tegas
Anabel kembali kepada Ferdi.
"Enggak, ayah gak sayang Syakira
juga bunda. Kalau ayah sayang kami, sayang Syakira, ayah akan menengok kami,
menengok Syakira, sesibuk apapun itu, kecuali ayah benar benar gak merindukan
Syakira dan gak menganggap kami lagi, begitupun gak menganggap Syakira sebagai
anaknya." ucap Syakira menahan tangis, dan untuk sejenak ia berhenti
sebelum melanjutkan ucapannya kembali.
"Teman teman Syakira, ayahnya
juga bekerja dan beberapa dari mereka ayahnya juga ada yang bekerja di luar
kota tapi mereka selalu bisa bertemu ayahnya meski gak setiap hari. Tapi ayah?
...gak pernah menyempatkan waktu untuk menengok kami, menengok Syakira anaknya
ini.
Bunda selalu mengatakan bila ayah sibuk
bekerja untuk membiayai kami, untuk membahagiakan kami. Tapi apa?....Aku dan
bunda selalu bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami bahkan untuk sekolahku agar
aku bisa terus bersekolah, ya aku harus bekerja agar aku bisa melanjutkan
sekolah dan agar kebutuhan kami tetap tercukupi. Ayah tak sedikitpun ke rumah
kami dan memberikan kami nafkah, ayah membiarkan bunda bekerja sendiri ke sana
ke mari, tentu aku sebagai anaknya juga tak tega, aku membantu bunda agar kami
bisa tetap makan untuk kebutuhan keseharian kami dan agar aku bisa melanjutkan
sekolahku.
Sebenarnya bunda berulangkali
mengatakan agar aku tak bekerja tapi jika aku tak bekerja, aku tak bisa
melanjutkan sekolahku dan bunda juga ingin aku tetap melanjutkan sekolah agar
aku jadi anak pandai yang kelak membahagiakan bunda, walau berulangkali aku
mengatakan pada bunda gak papa aku bekerja saja, tapi bunda menolak itu dan itu
untukku, karena bunda menyayangiku dan ingin melihatku bahagia, main seperti
anak seusiaku yang tak perlu menanggung kesusahan dan kesulitan hidup, tapi
ayah sementara tak pernah peduli sedikitpun pada kami!! bahkan ayah gak pernah
merindukan kami, karena memang ayah tak pernah peduli pada kami, apapun tentang
kami.!! jadi jangan harap aku rindu juga menyayangi lelaki ini, yang sudah
cukup lama mengabaikan kami, sementara ia bahagia sepertinya di rumah kaya ini
dan keluarganya yang ini ya.!!" ujar Syakira dengan menunjuk Ferdi, dengan
menahan tangis dan emosinya meski bulir bulir air mata mulai membasahi pipinya.
Mereka semua di sana cukup terkejut
dan terdiam setelah mendengar ucapan yang terlontar dari Syakira.
Ada rasa iba di hati mereka masing
masing, untuk Syakira juga Ana.
__ADS_1