
Rumah sakit
"Anda tidak perlu khawatir pak, lukanya tidak terlalu dalam jadi tidak berbahaya, mungkin sebentar lagi pasien akan segera siuman, saya sudah menuliskan resepnya setelah pasien sadar anda bisa menebusnya." ucap dokter yang baru saja selesai memberikan pertolongan pertama kepada Viona.
"Baik terima kasih banyak dok." ucap Elbara sambil menerima resep obat untuk Viona.
"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap dokter tersebut berpamitan setelah itu berlalu pergi meninggalkan Elbara di ruang IGD.
**
Setelah kepergian dokter dari sana, Elbara menatap sekilas ke arah Viona yang kini tengah terpejam di ranjang pasien tersebut. Ada perasaan menyesal yang terselip di hati Elbara ketika melihat Viona terbaring.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjadi suami yang baik untuk mu, hanya saja... aku tidak bisa membohongi perasaan ku sendiri dan terus berpura pura menjadi suami yang baik untuk mu." ucap Elbara dengan nada yang lirih sambil terus menatap ke arah Viona.
Elbara melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ini sudah hampir malam sedangkan Viona tidak kunjung sadar juga. Pikiran Elbara melayang membayangkan tentang Akila yang kini tengah menunggunya seorang diri di kamar hotel.
Elbara yang mulai gelisah, pada akhirnya memutuskan untuk bangkit dan beranjak dari sana. Hanya saja sebuah genggaman tangan mendadak terasa melingkar di pergelangan tangannya, membuat Elbara lantas dengan seketika menghentikan gerakannya.
"Jangan pergi El..." ucap Viona dengan nada suara yang lirih namun masih bisa terdengar oleh Elbara.
"Kamu sudah sadar? bagaimana perasaan mu?" tanya Elbara kemudian, walau Elbara tidak menaruh perasaan kepada Viona setidaknya ia masihlah manusia biasa yang tidak tega ketika melihat Viona terbaring lemah seperti ini.
Viona yang mendapat pertanyaan tersebut hanya menggeleng dengan pelan, membuat Elbara yang melihat jawaban tersebut hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang.
"Apa kamu bisa bangun? ayo kita pulang aku akan membantu mu." tanya Elbara lagi yang lantas di balas Viona dengan anggukan kepala.
"Lakukan saja dengan perlahan dan hati hati." imbuh Elbara ketika membantu Viona bangun dari ranjang pasien.
"Jika Elbara memperlakukan ku dengan lembut ketika sakit, aku bersedia sakit sepanjang waktu agar perhatian Elbara hanya tertuju padaku." ucap Viona dalam hati sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Elbara bersiap untuk berjalan secara perlahan.
Elbara memapah tubuh Viona secara perlahan menuju ke arah parkiran, membuat Viona lantas semakin tersenyum dengan lebar dan menganggap bahwa semuanya sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
Hingga kemudian sebuah mobil berwarna hitam metalik, terlihat berhenti tepat di depan Elbara dan juga Viona.
"Tuan" sapa Arga yang terlihat keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk keduanya masuk.
Elbara yang melihat pintu mobil terbuka lantas langsung mendudukkan Viona di dalam mobil kemudian menutup pintu mobil, membuat Viona sedikit bingung akan perlakuan Elbara yang tidak ikut masuk ke dalam dan malah menutup pintu mobil.
"Antar kan dia ke rumah, pastikan kunci pintu mobilnya atau ia akan lompat ketika kau lengah." ucap Elbara memberikan perintah.
"Baik tuan" ucap Arga kemudian berlarian menuju ke arah kursi pengemudi dan melakukan sesuai dengan apa yang telah di perintahkan oleh Elbara barusan.
Viona yang merasa ada yang aneh dengan keduanya, lantas berusaha membuka pintu mobil namun sulit karena memang terkunci dari dalam.
"Apa yang kau lakukan Ar? buka pintunya... buka sekarang!" teriak Viona sambil terus berusaha membuka pintu mobil.
"Maafkan saya nyonya, saya di perintahkan tuan untuk mengantar anda kembali ke rumah." ucap Arga sambil mulai memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran Rumah Sakit.
"Tidak bisa! jika aku pulang maka Elbara harus ikut pulang bersama ku! hentikan mobilnya sekarang ku bilang... berhenti!" teriak Viona lagi namun Arga berusaha untuk menulikan pendengarannya dan tetap melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke arah mansion Elbara.
****
"Sepertinya memang aku yang terlalu serakah dan menginginkan hal yang lebih. Sadarlah Akila... bangun! terbebas dari Delvano itu sudah sebuah karunia yang indah, jangan sampai kamu menjadi lebih serakah lagi dengan menginginkan suami orang menjadi pendamping hidup mu." ucap Akila dengan nada yang lirih pada diri sendiri mencoba untuk menyadarkan dirinya.
Cklek...
Suara pintu masuk yang di buka dari arah luar, lantas mengejutkan Akila yang tengah duduk termenung menatap ke arah pintu masuk tersebut.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Elbara ketika melihat Akila hanya duduk termenung menatap ke arah kedatangannya tanpa berkedip sedikitpun.
Akila yang tadi hanya menganggap itu sebuah halusinasinya saja, lantas sedikit terkejut ketika melihat sosok Elbara mulai melangkah mendekat ke arahnya.
"Apa ada sesuatu Ki?" tanya Elbara lagi karena Akila sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Akila yang kembali mendengar suara Elbara di telinganya, lantas langsung bangkit dan berlarian menghampiri Elbara dengan hati yang gembira.
"Aku kira kamu tidak pulang?" ucap Akila dengan senyum yang lebar menghiasi wajah cantiknya.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu akan kembali? jadi tidak ada alasan bukan untuk ku tidak menepati janji itu." ucap Elbara sambil mengacak acak rambut Akila saking gemasnya akan tingkah Akila yang lebih mirip anak anak itu.
"Terima kasih banyak karena sudah kembali El... terima kasih banyak." ucap Akila dengan nada yang lembut sambil memeluk tubuh Elbara dengan erat.
"Tentu saja, kamu tidak perlu mengkhawatirkan yang tidak penting mulai saat ini oke?" ucap Elbara lagi dengan nada lembut yang langsung di balas Akila dengan anggukan kepala.
"Apa kamu lapar?" tanya Akila kemudian yang lantas membuat Elbara tersenyum seketika.
"Sebenarnya sih lapar, hanya saja aku terlalu gengsi untuk mengatakannya kepadamu..." ucap Elbara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tak perlu sungkan, sekarang katakan kamu ingin makan apa malam malam begini?" ucap Akila kemudian sambil menatap dengan tatapan yang serius ke arah Elbara.
"Em... bolehkan aku meminta mu memasak mie seperti waktu itu?" tanya Elbara kemudian dengan nada bicara yang ragu ragu.
"Mie? apa kamu yakin? kalorinya cukup tinggi loh nanti yang ada kamu akan jadi mengembang." ucap Akila sambil memperagakan gaya layaknya seperti seorang sumo.
Elbara yang melihat Akila tentu saja menjadi kesal dan mulai mencebikkan mulutnya.
"Kamu sedang mengatai ku ya?" ucap Elbara dengan kesal.
"Tidak tidak aku hanya bercanda barusan... tidak perlu marah seperti itu El..." ucap Akila sambil tertawa dengan kerasnya, membuat Elbara yang sudah kesal lantas mendekat ke arah Akila dan langsung menggelitiknya.
"Aduh El... geli.. hentikan El... hentikan!" teriak Akila yang kegelian karena aksi Elbara yang menggelitik dirinya.
"Tidak akan pernah..." ucap Elbara dengan tawa yang bahagia.
Hahahahahaha
__ADS_1
Hahahahahaha
Bersambung