Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 24


__ADS_3

Bel pulang baru saja berbunyi. Suasana kelas yang awalnya hening seketika saja berisik karena suara anak-anak yang mulai gaduh karena berebutan untuk segera pulang.


"Aku ingin bicara denganmu," ucap Reihan yang sudah berdiri di sisi tempat duduk Lani.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pulanglah, Mutia sudah menunggumu," jawab Lani dan melangkah pergi meninggalkannya.


"Aku akan menentang perjodohan ini, asalkan kamu jangan berhubungan dengan ****** itu."


"Sejak kapan kamu mulai berkata kasar seperti itu? Dia punya nama dan dia bukan ******," jawab Lani membela Adrian.


"Kenapa kamu terus membelanya? Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya," ucap Reihan jengkel bercampur emosi.


"Itu bukan urusanmu. Aku tidak akan peduli walaupun kamu menolak perjodohan atau apapun itu, aku tidak peduli."


"Lani, aku mencintaimu," ucap Reihan sambil mendekati gadis itu.


"Aku tahu, tapi sudah saatnya aku menyerah. Aku tidak bisa mempertahankanmu karena aku memang tidak pantas untukmu. Lupakanlah aku dan biarkan aku menjalani kehidupanku," ucap Lani menahan tangis.


"Aku tahu kita masih saling mencintai, tapi itu percuma karena kita memang tidak bisa bersama," lanjutnya dengan suara yang bergetar.


"Jalani hidupmu dengan baik. Mulai sekarang, kita bisa berteman," ucap Lani sambil menyeka air matanya dan melangkah pergi meninggalkan Reihan yang masih diam terpaku.


Adrian tidak sengaja mendengar percakapan mereka dari luar. "Maaf, kalau sudah membuatmu menunggu," ucap Adrian. 


"Tidak, kok. Aku juga baru saja keluar kelas."


"Aku antar pulang?" 


"Boleh, tapi apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Lani yang membuat Adrian penasaran.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


Lani menghentikan langkahnya dan memilih duduk di salah satu bangku yang ada di tempat itu. Adrian mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Apa menurutmu, aku tidak pantas berteman bahkan menyukai seseorang karena aku lahir dari keluarga miskin? Apa kamu pikir, aku juga tidak pantas untuk dekat denganmu?" tanya Lani dengan wajah yang menunduk.


Mendengar pertanyaan Lani membuat Adrian tersenyum. Dia paham dengan pertanyaan gadis itu, karena mungkin saja Lani berpikir kalau dia juga akan memperlakukannya sama seperti Reihan.


"Aku tidak peduli dengan statusmu, karena orang-orang juga tidak peduli denganku. Apa yang aku mau, apa yang aku ingin bukanlah sesuatu hal yang akan membuat orang tuaku menentangku karena mereka juga tidak peduli dengan pilihanku," ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku sudah lelah mencari perhatian mereka. Bahkan, hal buruk yang tidak ingin aku lakukan terpaksa aku lakukan hanya agar mendapatkan perhatian mereka. Jadi, kenapa aku harus khawatir tentang hubungan kita?" ucapnya dengan serius.


"Kenapa kamu sangat baik padaku? Apa kamu tidak takut kalau aku hanya menjadikanmu sebagai tempat pelarian semata?"


Adrian tersenyum dan menatap Lani dengan sorot matanya yang terlihat sendu. Entah, apa arti dari tatapannya itu. "Aku tidak peduli karena aku tahu kamu peduli padaku dan aku tidak keberatan walau kamu hanya menjadikanku sebagai tempat pelarianmu," jawab Adrian dengan sungguh-sungguh seakan dia tidak peduli walau Lani tidak mencintainya. 


Lani terdiam. Sejenak, dia memandangi wajah Adrian yang duduk di sampingnya. "Kenapa kamu begitu baik padaku? Kenapa kamu mau menerimaku walau kamu tahu aku masih mencintai Reihan?" tanya Lani ingin tahu. 


"Karena aku mencintaimu dan aku ingin kamu bahagia," jawab Adrian spontan hingga membuat jantungnya berdetak hebat. 


Sekali lagi, ucapan Adrian membuat Lani terdiam. Tanpa dia sadari, air matanya jatuh perlahan. "Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang berat pada orang sebaik Adrian? Kenapa orang sebaik dia malah tidak dipedulikan, bahkan oleh orang tuanya sendiri? Apa aku berdosa jika aku juga tidak memperdulikan dia?" Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggu hatinya dan membuat dia merasa bersalah.


"Aku akan baik-baik saja jika kamu selalu ada di sisiku." Tiba-tiba saja Adrian berkata dengan senyum di bibirnya.


"Kita pulang. Aku akan mengantarmu, mau, ya?"


"Tapi..."


"Ayolah ..." Adrian lalu menarik lembut tangan Lani dan berjalan menuju parkiran.


*****


"Assalamualaikum, Mama sudah sembuh?" tanya Lani saat dirinya baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam. Mama sudah mendingan, cepat ganti baju lalu makan."


"Iya, Ma."


Setelah mengganti pakaian dan mencuci tangannya, Lani kemudian duduk di meja makan menemani ibunya yang sudah menunggu.


"Makanlah, Mama hanya menemanimu. Mama tadi sudah makan lebih dulu karena harus minum obat."


"Tidak apa-apa, kok, Ma," ucap Lani sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.

__ADS_1


Dengan lahap, Lani menikmati santap siang yang sudah disiapkan ibunya. Jarang-jarang dia bisa makan masakan ibunya karena kesibukan ibunya yang harus bekerja dari pagi sampai malam.


Selesai makan, Lani segera masuk ke kamarnya, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara salam dari luar yang ternyata adalah Iva yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya. 


"Ayo, masuk," ucap Lani mempersilakan Iva untuk masuk.


"Aku minta maaf, soal tadi di sekolah," ucap Iva menyesal sambil duduk di tempat tidur.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, aku tahu kok kamu khawatir padaku," jelas Lani dengan senyum.


"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, aku siap mendengar dan aku akan mendukung apapun keputusanmu itu."


Lani tersenyum. Ada begitu banyak unek-unek yang selama ini ingin dia bagi bersama sahabatnya itu, tapi karena perasaannya yang masih labil maka dia memilih mengurungkan niatnya.


"Apa kamu sudah pacaran dengan Adrian?" Iva mencoba bertanya dengan hati-hati agar Lani tidak tersinggung. 


"Menurutmu, bagaimana?"


"Kok balik tanya ke aku? Aku kan tanya sama kamu."


Karena melihat Iva yang penasaran dan untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah ditimbulkan, akhirnya Lani memutuskan untuk menceritakan semuanya.


"Jadi, Adrian itu benar-benar suka sama kamu?" tanya Iva kaget.


"Menurutmu bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"


"Apa kamu juga menyukainya?"


"Aku sendiri tidak tahu, tapi jujur aku masih belum bisa melupakan Reihan dan aku sadar, Reihan sudah tidak mungkin aku pertahankan, tapi Adrian sangat baik padaku dan aku kasihan padanya karena dia ternyata sangat kesepian."


"Jadi, kamu dekat dengannya hanya karena kamu kasihan padanya?" tanya Iva penasaran.


Lani tersenyum. Dia mengakui kalau itu adalah salah satu alasan yang membuat dia dekat dengan Adrian. Bukan hanya itu saja, tapi dia melihat sesuatu yang sama dengan Reihan di dalam diri Adrian yaitu rasa sayang dan rasa takut kehilangan.


"Kamu tahu, dia bilang padaku kalau dia tidak peduli walau aku hanya menjadikan dia sebagai tempat pelarian. Bahkan, dia tidak keberatan jika aku hanya pura-pura mencintai dia," lanjut Lani dengan senyum di bibirnya.


Iva tidak mampu berkata apa-apa lagi saat melihat ekspresi Lani yang sepertinya mulai membuka diri untuk Adrian.


"Menurutku, lebih baik kalian berteman saja dulu. Kamu jangan langsung menerimanya karena bagaimanapun dia pernah menyakitimu. Aku takut kamu akan disakiti lagi, tapi jika dia memang serius denganmu, aku tidak keberatan jika kamu mau menerimanya."


*****


Ujian semester awal baru saja selesai. Setelah berkutat dengan buku pelajaran, akhirnya mereka bisa bernafas dengan lega. Setelah melalui proses pendekatan, kini Adrian sudah menjadi seseorang yang spesial di hati Lani. Gadis itu sudah menerima Adrian bukan karena kasihan, tapi karena kebaikan dan perhatian Adrian yang sudah membuat dia jatuh cinta pada lelaki itu.


"Bagaimana dengan hasil ujiannya?" tanya Lani penasaran ketika Adrian baru saja menerima hasil ujiannya.


"Lumayan. Setidaknya, hasilnya lebih baik dari ujian kemarin," jawab Adrian dengan senyum.


"Mulai sekarang, kamu harus lebih giat belajar, biar nanti bisa lulus dengan hasil yang terbaik. Bisa, kan?"


"Aku pasti bisa, asal kamu yang selalu menemaniku belajar," ucap Adrian dengan manja.


"Iya, iya. Tiap hari aku temani ke perpustakaan juga tidak masalah."


Adrian tersenyum. Sudah lama dia tidak merasa sebahagia ini. Sudah lama dia tidak tersenyum sesumringah saat ini dan itu semua bisa dia rasakan kembali berkat Lani.


"Kita ke rumah, aku sudah bilang Mbok Imah buat masak yang banyak. Kamu mau, kan?" ajak Adrian.


Lani mengangguk mengiyakan yang diiringi senyuman di bibir mungilnya. 


"Hei, kalian berdua mau kemana?" Tiba-tiba saja Iva datang dan menyapa mereka berdua.


"Mau makan. kenapa, mau ikut?" tanya Lani balik.


"Tidak usah, takut mengganggu. Mending aku pergi sama yayangku." 


"Ya, sudah. Aku pergi, ya," ucap Lani yang kemudian pergi bersama Adrian dengan sepeda motornya.


"Mereka berdua mau kemana?" tanya Raka yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mau pergi makan katanya. Ah, kita makan yuk, kok aku jadi lapar," rengek Iva pada kekasihnya itu.


"Kamu itu," ucap Raka sambil merangkul Iva dan pergi ke tempat makan favorit mereka.

__ADS_1


*****


Langkah Lani terhenti ketika baru saja sampai di depan halaman rumah Adrian. Di halaman itu, sudah terparkir sebuah mobil mewah yang belum pernah dilihat sebelumnya.


"Jangan khawatir, itu mobil ibuku. Paling hanya datang ganti baju setelah itu pergi lagi," ucapnya sambil menggenggam tangan Lani dan berjalan menuju ke dalam rumah.


"Kamu baru pulang?" tanya ibunya yang baru saja turun dari tangga.


Adrian tidak menyahut, dia tidak memperdulikan sapaan ibunya itu.


"Siang, Tante," sapa Lani pada wanita yang berpenampilan modis. Waniya itu terlihat cantik dengan blus berwarna hitam dengan paduan celana jeans yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.


"Siang. Kamu temannya Adrian?" tanya wanita itu lembut.


"Iya, Tante."


"Kamu temannya atau pacarnya?" tanya wanita itu yang membuat Lani menjadi gugup.


"Dia pacarku. Apa Mama keberatan kalau aku membawa pacarku ke rumah?" Tiba-tiba saja Adrian memotong pembicaraan mereka.


"Ternyata selera kamu boleh juga. Mama tidak keberatan, kok. Malah Mama senang kamu sudah punya pacar, apalagi pacar kamu ini sangat cantik," puji ibunya dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.


"Walau dia hanya gadis miskin, Mama tidak keberatan?"


Ibunya terdiam. Sejurus, matanya memandang ke arah Lani. Menatap gadis itu dari kepala sampai ke kaki yang tentu saja membuat Lani jadi ketakutan.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan sama Mama?" tanya wanita itu dengan raut muka yang serius.


"Aku hanya ingin Mama tidak melarang hubunganku dengan Lani," jawab Adrian tak kalah serius.


Tiba-tiba saja ibunya tertawa hingga membuat Lani menjadi khawatir kalau hubungannya akan kembali kandas seperti dulu.


"Apa Mama harus sekejam itu? Kalau kamu bahagia dengan gadis ini, Mama tidak masalah. Mama senang akhirnya kamu bisa kembali seperti dulu. Apa kamu pikir, Mama tidak akan suka dengan gadis ini hanya karena dia miskin?" tanya ibunya dengan senyum.


"Mama tidak seegois itu. Kalau kamu bahagia dan nyaman bersama dia, Mama tidak keberatan. Asalkan melihatmu bahagia, Mama juga akan ikut bahagia," ucapnya dengan serius


"Nama kamu, Lani?" tanya wanita itu sambil berdiri di depannya.


"Iya, Tante."


"Kamu benar sayang sama Adrian?"


Lani terdiam. Dia memandang ke arah Adrian, menatap seraut wajah yang sudah membuatnya melupakan masa lalunya.


"Iya, Tante. Aku sayang sama Adrian," jawabya sambil menggenggam erat tangan Adrian yang sedari tadi  menggenggamnya.


"Ya, sudah. Kalau kalian saling suka, kenapa Mama harus melarang, tapi pesan Mama, jangan kalian coba-coba melakukan perbuatan yang dilarang. Mama ingin kamu menjaga anak gadis orang, paham!" ucap ibunya mengingatkan agar mereka tidak melakukan perbuatan yang bisa menghancurkan masa depan mereka.


Mendengar perkataan ibunya, Adrian lantas memeluk wanita itu dengan air mata yang mulai jatuh. "Terima kasih, Ma," ucap Adrian dalam pelukan ibunya dan tanpa sadar wanita itu ikut meneteskan air mata karena baru kali ini dia merasakan pelukan dari anak semata wayangnya itu.


"Sudah, nanti riasan Mama luntur gara-gara menangis," ucap ibunya sambil menyeka air matanya. Adrian tidak peduli, bahkan dia mencium pipi ibunya yang tentu saja membuat wanita itu semakin terharu.


"Ternyata, kamu sekarang sudah dewasa. Mama sayang sama kamu, Nak," ucap ibunya sambil membelai wajah anaknya itu.


"Aku juga sayang sama Mama."


"Lani, tolong jaga anak Tante. Kalau dia menyakitimu, bilang sama Tante biar Tante menghapus jatah uang jajannya selama setahun." 


Lani hanya tersenyum. Siang itu, rumah yang biasanya terlihat sepi, kini sudah terasa hidup dengan tawa dan tangis ibu dan anak yang selama ini jarang bertemu. Walau terasa singkat, tapi semua itu sangat berarti bagi keduanya.


Sang ibu yang kini sudah pergi, terlihat tersenyum di dalam mobilnya yang membawanya ke tempat kerja. Sejenak, dia mengingat senyum Adrian yang sudah lama tidak dilihatnya. Dia pun tersenyum dan menghapus air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.


"Kamu senang?" tanya Adrian pada Lani ketika ibunya sudah pergi.


Lani mengangguk dengan senyum, seakan dia merasa bahagia karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi.


"Ibu kamu ternyata baik, ya," puji Lani yang membuat Adrian memandangnya.


"Kenapa? Iya, iya. Kamu juga baik, kok," ucap Lani yang sontak saja membuat Adrian tertawa.


*****


Annisa Wardhani, wanita cantik yang terlahir dari keluarga kaya raya, harus merelakan kekasihnya yang hanya dari kalangan biasa dan dijodohkan dengan seorang pengusaha muda. Karena kecewa dengan perjodohan dengan orang yang tidak disukainya, membuat dia lebih menyibukkan diri dengan pekerjaannya hingga membuat dia lupa dengan buah hatinya. Dan kini, anak semata wayangnya telah mencintai gadis biasa dan membuat dia teringat kembali dengan kisah cintanya di masa lalu.

__ADS_1


Dia tidak ingin, membuat anaknya harus mengalami hal yang sama seperti dirinya. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, dia merasa telah melakukan sesuatu yang baik untuk anaknya. Dengan senyum, dia mengawali hari dengan hati yang bahagia.


__ADS_2