
"Kita obati dulu tanganmu," ucap Lani sambil memegang tangan Reihan yang sudah mulai berdarah.
"Tidak apa-apa, tanganku baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja. Tangan memar begini, kamu bilang baik-baik saja." Tanpa sadar, Lani hampir menangis melihat tangan kekasihnya yang memar dan lecet itu.
"Aku minta maaf, karena aku tadi datang terlambat."
"Untuk apa minta maaf. Aku baik-baik saja, lagipula dia tidak akan menggangguku lagi."
"Aku janji, mulai sekarang aku akan melindungimu dan aku tidak akan biarkan siapapun menyakitimu."
Lani hanya mengangguk dan tersenyum sambil menatap kekasihnya itu.
Sementara itu, Raka mencoba meminta penjelasan dari Iva tentang kejadian tadi. "Memangnya, tadi Adrian bicara apa pada kalian?"
Iva hanya terdiam, dia masih bingung harus menjawab apa.
"Va."
"Aku, aku bingung mau menjelaskan dari mana."
Melihat sikap Iva yang seperti orang kebingungan membuat Raka jadi panik. "Kamu kenapa?" tanya Raka sambil memegang tangannya yang terasa dingin.
"Aku bukan sahabat yang baik. Aku tidak bisa membela sahabatku, aku..." Iva tak mampu lagi untuk berkata, hanya suara isakan tangis yang terdengar dari mulutnya.
Melihat Iva mulai menangis membuat Raka memeluk gadis itu dan spontan saja, teman-temannya menjadi heran melihat mereka berdua.
"Apa mereka berdua sudah pacaran?" tanya Rendi penasaran. Sementara Ian dan Rifal juga penasaran, sama seperti Rendi. Tidak hanya pada Raka dan Iva, tapi mereka juga penasaran dengan sikap Reihan dan Lani yang terlihat sangat dekat bahkan terlihat seperti pasangan kekasih.
"Apa ada yang ingin kalian katakan pada kami?" tanya Rifal pada Raka dan Reihan ketika mereka sudah berkumpul.
"Sepertinya, ada bunga-bunga cinta yang bermekaran di sekitar sini," pancing Rendi.
"Iya, iya, aku mengaku," jawab Raka dengan tersenyum malu.
"Aku sudah resmi pacaran sama Iva. Tadi habis latihan, aku langsung mengutarakan perasaanku padanya dan dia mau jadi pacarku," jelas Raka dengan ekspresinya yang seakan mengejek teman-temannya itu.
"Terus, kamu?" tanya Rendi pada Reihan.
"Apa aku harus menjelaskan juga? Tadi kalian lihat tidak aku menghajar Adrian?"
Mendengar ucapan Reihan membuat mereka bertiga langsung terdiam dan tak berani bertanya lagi. Mereka salah memilih waktu untuk bertanya karena suasana hati Reihan sedang buruk.
"Sudah, sudah. Kita lupakan saja masalah ini. Hari sudah hampir sore, lebih baik kita antar pulang anak gadis orang, nanti mereka tidak diizinkan keluar lagi sama orang tua mereka," ucap Raka mengingatkan.
"Kamu tidak cerita apa-apa kan pada Raka?"
"Aku tidak cerita apapun, aku takut kalau Reihan sampai tahu kejadian waktu itu. Kamu lihat kan, waktu Reihan marah tadi?"
__ADS_1
"Karena itu, lebih baik kita simpan rahasia ini jangan sampai Reihan tahu. Aku takut mereka akan berkelahi seperti tadi."
Kedua gadis itu menghentikan pembicaraan saat melihat Reihan dan Raka menghampiri mereka.
"Ayo, kita pulang," ajak Reihan sambil mengulurkan tangannya ke arah Lani. Dengan senyum, Lani menerima uluran tangannya dan berjalan di sampingnya.
***
"Rei, ayo turun Nak, kita makan," panggil Ibunya ketika mereka akan makan malam.
"Iya, Ma," jawabnya sambil berlari pelan menuju ruang makan.
"Tangan kamu kenapa?" Tiba-tiba ibunya bertanya ketika melihat tangannya yang dibalut perban.
"Tadi tidak sengaja Reihan terjatuh dan tangan Reihan kena batu dan sedikit memar."
"Kok kamu ceroboh begitu sih. Lain kali jalannya hati-hati, jangan sampai terluka lagi. Kamu nih bikin Mama khawatir saja."
"Iya Ma, Reihan pasti hati-hati kok."
"Dengar tuh kata Mama kamu," celetuk papanya.
"Iya Pa, iya, Reihan dengar kok."
Selesai makan, Reihan kembali ke dalam kamarnya. Sambil bersandar di tempat tidurnya, dia teringat lagi kejadian tadi siang. Perlahan, dia mengambil ponselnya dan mulai mengetik.
"Baru saja selesai buat tugas, tangan kamu bagaimana?"
"Sudah aku obati, besok pagi aku tunggu di depan gang rumah kamu, ya?"
"Tapi Iva bagaimana, masa aku biarkan dia naik angkot sendiri?"
"Tenang saja, aku akan ajak Raka kok."
"Rei..."
"Ada apa?"
"Tidak kok, tidak jadi."
"Aku sayang sama kamu, aku akan jagain kamu, aku janji."
"Aku tahu, kok. Terima kasih karena sudah mau menjaga dan melindungiku."
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu. Tidurlah, besok aku tunggu di depan gang."
"Baiklah, selamat malam."
Reihan masih tersenyum memandangi ponselnya. Seakan dia tidak percaya kalau sekarang Lani sudah menjadi kekasihnya. Rasanya, dia ingin agar pagi cepat menyapa agar dia bisa segera bertemu dengan kekasihnya itu. Tak lupa, dia segera menghubungi keempat sahabatnya agar besok mereka bertemu di depan gang rumah Lani.
__ADS_1
*****
Kelima cowok itu sudah menunggu di depan gang dan menjadi objek perhatian orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu, terutama gadis-gadis yang hendak pergi ke sekolah.
Tak lama kemudian, Iva dan Lani muncul. Rasa bosan yang sedari tadi menghiasi wajah Reihan, tiba-tiba menghilang berganti dengan senyum di wajahnya.
"Kalian berdua telat sedikit saja, aku yakin kedua makhluk ini bakal meluncur ke rumah kalian," goda Rifal karena melihat tingkah kedua temannya itu.
"Kalian bikin kita iri saja," sambung Ian dengan kepala tertunduk lesu.
"Makanya, cari pacar biar tidak jadi obat nyamuk," celetuk Raka yang membuat ketiga temannya itu ramai-ramai memukulnya.
"Hei, kenapa kalian memukul pacarku?" lerai Iva sambil berdiri di depan Raka.
"Sudah, jangan bercanda lagi nanti kita terlambat," ucap Reihan mengingatkan.
Saat mereka tiba di gerbang sekolah, sontak saja mereka menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, mereka yang tidak pernah membonceng gadis manapun, kini dengan santainya membonceng seorang gadis dan itu membuat cewek-cewek menjadi iri.
Bahkan, Riana dan Adrian yang kebetulan baru datang juga menyaksikan kejadian itu. Tanpa peduli, mereka berdua melangkah pergi seakan tidak melihat apapun. Walau sebenarnya di dalam hati keduanya tersimpan rasa cemburu.
"Tidak usah pedulikan mereka, ayo jalan," ucap Reihan sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Biarkan saja mereka, nanti mereka juga bosan sendiri," ucapnya pada Lani yang sepertinya mulai merasa minder.
Bukan hanya itu, satu persatu anggota geng yang kebetulan melihat kejadian itu malah ikut berjalan di belakang mereka seakan mereka ingin menunjukan loyalitas pada ketua geng mereka.
Setibanya di dalam kelas, satu persatu anggota geng datang dan ikut berkumpul di dalam kelas sehingga membuat kelas mereka hampir penuh.
"Akhirnya ketua kita punya pacar juga," celetuk salah satu anggota dan disambut siulan dan tepuk tangan yang meriah.
"Perhatian, perhatian!! Mulai sekarang, pacar-pacar kita juga harus saling mengenal biar kita semua bisa lebih akrab, setuju tidak?"
"Setuju!!" jawab mereka serempak.
Pagi itu, suasana di dalam kelas sangat riuh dengan kehadiran seluruh anggota geng Smantilaz yang sengaja berkumpul untuk ucapkan selamat pada Reihan dan Raka yang akhirnya punya pacar. Andai saja bel masuk tidak berbunyi, mungkin saja mereka tidak akan bubar.
Di dalam kelas, perhatian Reihan selalu tertuju pada Lani. Sementara Bu Mira sedang menerangkan di depan kelas, kedua cowok yang sedang dimabuk asmara itu malah melihat ke arah Lani dan Iva.
Plaaakkk
Sontak saja kedua sahabat itu menjadi kaget karena spidol yang dilempar Bu Mira jatuh pas di atas meja mereka.
"Kalian berdua sedang melihat apa? Dari tadi Ibu berdiri di sini, kenapa pandangan kalian ke arah Lani sama Iva?" tanya Bu Mira yang membuat anak-anak sekelas tertawa.
"Biasa Bu, mereka lagi kasmaran," celetuk salah satu murid yang membuat mereka berdua menggaruk-garuk kepala.
"Nanti saja lihat-lihatnya kalau pelajaran sudah selesai. Dasar anak muda jaman sekarang. Sudah, jangan ribut, mulai lagi menulis catatannya."
Lani dan Iva hanya tersenyum karena tingkah pacar-pacar mereka, sedangkan Reihan dan Raka berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya wajah mereka sudah mulai memerah karena berusaha menahan malu.
__ADS_1