
Di padang rumput yang luas dan hijau, terlihat Adrian sedang menggandeng tangan seorang gadis yang terlihat cantik dengan balutan gaun putih dengan seikat bunga di tangannya. Gadis itu terlihat sangat bahagia, sambil menggandeng tangan Adrian yang sepertinya enggan untuk dia lepaskan.
Adrian menatap gadis itu, tampak seraut wajah yang sangat dicintainya. Seraut wajah yang selalu membuat dia merasakan rindu karena lama tak jumpa. Tiba-tiba saja, datang seorang lelaki yang memakai baju hitam melepaskan tangannya dari gadis itu dan ingin membawanya. Adrian berontak, dia tidak ingin dipisahkan dengan pujaan hatinya itu, tapi sosok berpakaian hitam itu tetap memaksanya untuk pergi.
Di tengah pergolakannya, gadis itu terlihat berusaha menggapai tangannya. Dengan tangisnya yang semakin menjadi, gadis itu berusaha mengejarnya yang perlahan mulai menjauh hingga gadis itu terjatuh. Di saat itulah, Adrian melihat seorang lelaki yang tak asing baginya datang dan mendekati gadis itu. Lelaki yang tatapannya terlihat sedih saat melihat gadis itu menangis. Lelaki itu kemudian menunduk dan memeluk gadis itu dengan mesranya. Adrian yang awalnya berontak, kini terlihat pasrah. Dia membiarkan dirinya dibawa sosok berpakaian hitam itu hingga tiba-tiba saja dia tersadar dan membuka matanya.
Ditatapnya langit-langit kamar yang tak asing baginya. Matanya masih liar melihat keadaan sekitar, hingga dia terpaku pada seraut wajah yang sedang tertidur di sampingnya.
Di tempat tidur yang lumayan besar, di mana tubuhnya tengah berbaring, terlihat wajah gadis itu, gadis yang hadir dalam mimpinya. Adrian berusaha menggerakan tangannya yang sudah dua bulan terakhir tidak bisa dia gerakkan. Perlahan, jarinya mengelus lembut pipi gadis itu. Tanpa sadar, air matanya terjatuh. Dia teringat kembali dengan mimpinya. "Aku mencintaimu, aku rindu padamu," ucap Adrian lirih.
Adrian masih menatap wajah gadis itu. Dia terlihat cantik walau sedang tertidur. Adrian tersenyum walau hatinya menangis. Mungkinkah, Tuhan memberikannya kesempatan untuk bisa membuat gadis itu bahagia, pikirnya. Dalam hatinya, Adrian berjanji akan membuat gadis itu bahagia agar dia bisa tenang ketika Tuhan sudah memanggilnya.
Karena merasakan sesuatu yang hangat di pipinya, membuat Lani terbangun dari tidurnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Adrian yang sudah tersenyum ketika melihatnya. Lani mengucek kedua matanya, seakan dia tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Maaf, aku sudah membangunkanmu," ucap Adrian pelan dan sontak saja membuat Lani menangis haru.
"Aku akan membangunkan om dan tante," ucap Lani sambil berdiri, tapi dicegah oleh Adrian.
"Tidak usah, aku mohon tetaplah di sini denganku," ucap Adrian dan tentu saja Lani mengiyakannya.
Lani sangat bahagia melihat Adrian yang sudah sadar. Digenggamnya tangan kekasihnya itu. Dikecupnya dahi sang kekasih dan membaringkan tubuhnya di samping kekasihnya itu. Ditatapnya wajah Adrian dengan air mata yang mulai jatuh di sudut matanya. Rasanya, dia ingin waktu segera berhenti agar kekasihnya itu tidak akan pernah pergi.
"Maaf, karena sudah membuatmu khawatir," ucap Adrian lembut.
"Jangan bicara dulu, aku mohon tetaplah seperti ini. Aku harap ini semua bukan mimpi," ucap Lani seakan dia belum percaya kalau Adrian telah sadar.
Adrian tersenyum. Digerakkan tangannya untuk mengelus wajah kekasihnya itu. Lani terdiam, diraihnya tangan kekasihnya itu dan diciumnya dengan mesra.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menemanimu lagi, tapi aku pasti akan membuatmu bahagia walau bukan bersamaku," batin Adrian yang membuat dia menitikkan air mata.
Matahari mulai menyapa. Sinar matahari perlahan muncul di sela-sela jendela. Terlihat, kedua insan yang sedang melepaskan rasa rindu. Lani, yang sudah terbangun sejak tadi masih menggenggam tangan Adrian. Sementara Adrian, hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu. "Apa aku boleh keluar dari kamar? Aku sudah lama tidak jalan-jalan," ucap Adrian yang membuat Lani tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan panggilkan mama dan papamu dulu, bisa kan?"
"Jangan lama-lama," ucap Adrian seakan tidak ingin Lani pergi darinya.
"Apa? Adrian sudah sadar?" tanya Annisa seakan tidak percaya.
"Iya, Tante," jawab Lani dengan senyum di bibirnya.
Tanpa menunggu lama, suami istri itu langsung menuju ke kamar Adrian. Dengan tangis bahagia, mereka memeluk Adrian dengan perasaan haru. Bahkan, mereka sempat pasrah jika mereka tidak akan melihat dia tersadar kembali, tapi ternyata Tuhan masih memberikan mereka kesempatan untuk mencurahkan kasih sayang mereka untuk yang terakhir kali.
Setelah diperiksa oleh dokter dan dinyatakan kalau masa komanya sudah berakhir, maka segala peralatan yang menempel di tubuhnya mulai dilepaskan. Bahkan, dokter sempat heran dengan perubahan kondisi Adrian yang terlihat membaik walau akar dari penyakitnya belum hilang yaitu kanker.
Setelah minta persetujuan dari dokter, akhirnya Adrian sudah bisa meninggalkan tempat tidur dan duduk di kursi roda. Walau Adrian mengatakan kalau dia bisa berjalan, tapi mereka tetap memaksanya untuk tetap duduk di kursi roda.
Mendengar kondisi Adrian yang sudah tersadar dari koma membuat sahabat-sahabatnya datang ke rumahnya.
"Rei, kita ke rumahnya Adrian. Katanya, dia sudah sadar dari koma," telepon Raka pada Reihan yang sementara bersama Diana.
"Ya, sudah. Kita ketemu disana, sebentar lagi aku kesana," ucap Reihan sambil menutup teleponnya.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Diana penasaran.
"Aku minta maaf, tapi aku harus ke rumah temanku karena dia baru saja sadar dari koma," jelas Reihan.
__ADS_1
"Ya sudah, aku temani kamu,ya?"
"Apa kamu tidak keberatan?"
"Tidak apa-apa, ayo," ucap Diana sambil bergegas ke arah mobil.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah Adrian. Di ruang tamu, sudah ada Raka dan semua teman-temannya. Dan juga Lani yang terlihat bahagia di samping Adrian yang sedang duduk di kursi roda.
"Maaf, aku terlambat," ucapnya sambil memilih duduk di dekat Raka.
"Ayo, silakan duduk," ucap Lani mempersilakan Diana untuk duduk. Sejurus, Diana merasa kagum dengan kecantikan Lani dan perhatiannya yang terlihat begitu besar pada lelaki yang duduk di kursi roda itu.
"Maaf, kalau kamu bingung. Ini adalah Lani dan ini adalah Adrian, tunangannya. Kami semua ini adalah sahabatnya," jelas Iva yang dari tadi memperhatikan Diana yang sepertinya mulai bingung.
"Salam kenal, namaku Diana," ucapnya dengan sedikit malu.
"Jangan malu, kita di sini bukan orang lain, kok," jawab Lani dengan senyum khasnya hingga membuat Reihan segera memalingkan wajahnya.
"Aku senang kamu sudah sadar. Akhirnya, aku bisa melihat Lani tersenyum lagi," ucap Iva yang membuat Adrian tersenyum.
"Jangankan kamu, aku juga sudah rindu melihat senyumannya," jawab Adrian seketika membuat mereka semua tersenyum bahagia walau sebenarnya, ada seseorang yang merasakan cemburu luar biasa.
"Rei, kenapa kamu diam saja dari tadi?" tanya Adrian yang spontan saja semua mata tertuju pada Reihan.
Reihan sempat terkejut ketika ditanya oleh Adrian. Karena baru kali ini dia disapa oleh mantan musuh bebuyutannya itu, walau sebelumnya mereka juga sudah pernah bertemu.
Jangankan Reihan, Lani juga sempat terkejut melihat sikap Adrian yang terlihat begitu akrab pada Reihan, padahal sudah hampir enam tahun mereka tidak bertegur sapa.
"Tidak apa-apa, kok," jawab Reihan sedikit gugup.
"Oh, belum. Kami belum resmi pacaran, kami masih proses pendekatan," jawab Diana yang terlihat malu-malu.
Mendengar jawaban Diana membuat Adrian tersenyum. Entah apa maksud dari senyumannya itu, tapi dalam hatinya dia merasa bersyukur karena kesempatan yang di harapkan olehnya ternyata masih ada.
"Riana, kapan kalian akan menikah?" tanya Adrian pada adik sepupunya itu yang duduk di dekat Ian.
"Kami akan menikah setelah Kak Adrian menikah terlebih dulu. Iya kan, Beb?" tanya Riana mesra pada Ian yang mengangguk pelan.
"Kalau mau menikah, menikah saja kenapa juga harus menunggu Kakak?"
"Mungkin mereka masih mau pacaran dulu," ucap Lani bercanda dan di iyakan teman-temannya.
"Lalu, kalian berdua kenapa tidak membawa keponakanku ke sini?" tanya Adrian pada Raka dan Iva.
"Tadi waktu mau ke sini, dia masih tertidur. Nanti lain kali akan aku membawa dia kesini," jawab Iva.
"Kamu, apa sudah punya pacar?" tanya Adrian pada Rendy.
"Belum, kenapa? Apa ada seseorang yang mau kamu kenalkan padaku?" tanya Rendy balik.
"Tidak perlu. Mungkin tidak lama lagi kamu akan bertemu dengan jodohmu," jawab Adrian spontan.
Semua pertanyaan Adrian seakan menjadi pertanyaan yang terakhir baginya. Sikapnya yang terlihat akrab dengan mereka, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan satu persatu pada sahabat-sahabatnya, bagaikan pesan terakhir yang tersirat, tapi mereka tidak menyadarinya. Mereka terlalu gembira dengan kesembuhan Adrian, hingga mereka tidak menyadari kalau pertemuan itu adalah pertemuan mereka yang terakhir dengan Adrian.
Sore itu, Lani ingin pergi ke rumahnya karena sudah beberapa hari tidak menengok ibunya. "Aku ke rumah sebentar menengok ibuku. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal? Aku tidak akan lama, aku akan kembali secepatnya," ucap Lani sambil menggenggam tangan Adrian. Adrian mengangguk pelan tanda mengiyakan. Adrian menatap kepergian Lani. Dalam hatinya, dia menangis walau air matanya tidak bisa lagi terjatuh. Air matanya seakan sudah mengering.
__ADS_1
Adrian kemudian mengambil ponselnya dan mulai menelepon seseorang.
"Hallo," sapa seseorang di telepon.
"Hallo, ini aku, Adrian."
"Ada apa?" tanya orang itu yang ternyata adalah Reihan.
"Kamu bisa datang ke rumahku sekarang?" tanya Adrian.
Sesaat Reihan terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dia jawab.
"Aku akan menunggumu datang," ucap Adrian.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Tak lama kemudian, Reihan sudah datang. Langsung saja Adrian menemuinya dan mereka pun berbicara empat mata. "Aku minta maaf, karena memintamu datang ke sini," ucap Adrian.
"Tidak apa-apa. Apa ada yang mau kamu bicarakan denganku?" tanya Reihan penasaran.
"Sebelumnya, aku ingin minta maaf padamu atas kesalahanku di masa lalu."
"Sudahlah, itu sudah berlalu. Lagipula, kita kan sudah berteman dan tentu saja aku sudah melupakan semuanya," ucap Reihan dengan tulus.
"Syukurlah kalau begitu." Sesaat Adrian terdiam. Dia masih berusaha menahan perasaannya.
"Aku ingin meminta bantuanmu, apa boleh?" tanya Adrian.
"Bantuan apa? Akan aku usahakan kalau itu bisa aku lakukan."
"Tolong jaga Lani."
Sontak saja Reihan terkejut mendengar perkataan Adrian. "Maksud kamu apa? Jangan bicara yang tidak-tidak, mana mungkin kamu menyuruhku menjaga Lani. Lani, kan sudah memiliki kamu," ucap Reihan dengan tegas.
"Aku tahu kamu masih mencintai Lani. Iya, kan?"
Reihan terkejut mendengar ucapan Adrian. "Apakah Adrian cemburu padaku atau Adrian berniat untuk meninggalkan Lani?" pikirnya.
"Kenapa bertanya seperti itu? Jangan bilang kalau kamu cemburu padaku dan ingin meninggalkan Lani. Demi Tuhan, jangan kamu berpikiran seperti itu," ucap Reihan dengan wajahnya yang terlihat cemas.
"Aku hanya ingin mendengar kejujuranmu, apa kamu masih mencintai Lani?"
Reihan semakin bingung dengan semua pertanyaan Adrian. Tanpa menjawab, Reihan langsung bangkit dan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Hidupku sudah tidak lama lagi," ucap Adrian yang sontak saja membuat Reihan menghentikan langkahnya.
"Maksud kamu, apa?" tanya Reihan sambil membalikkan tubuhnya ke arah Adrian.
"Aku menderita Leukimia dan hidupku sudah tidak lama lagi. Kamu tahu, kenapa aku terbangun dari koma? Aku melihatmu di mimpiku. Di saat Lani menangisi kepergianku, aku melihatmu memeluk dia. Dan akhirnya aku tersadar, kalau aku diberikan kesempatan untuk bisa menyatukan kalian berdua," jelas Adrian dengan air mata yang jatuh di sudut matanya.
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan. Hidup kamu masih panjang, kamu akan bahagia bersama Lani," ucap Reihan yang tanpa sadar mulai menitikkan air mata.
"Aku tahu kamu masih mencintai dia. Tolong bantu aku untuk menjaga dan melindungi dia, karena waktuku telah habis. Sekarang, aku minta padamu untuk menggantikanku untuk menjaga dia."
Reihan menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia berusaha untuk mengingkari semua perkataan Adrian. "Kamu bohong, kan? Semua itu tidak benar kan?" tanya Reihan dengan tangis yang coba dia tahan.
__ADS_1
Perlahan, Reihan mendekati Adrian dan langsung memeluknya. Reihan, yang selalu terlihat tegar, kini menangis bagaikan seorang adik yang baru kehilangan kakaknya. Sementara Adrian, membalas pelukan Reihan dan mencoba untuk menenangkannya. Tanpa sadar, kedua orang tua Adrian yang dari tadi melihat kejadian itu turut menitikkan air mata.