Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Keputusan yang tepat


__ADS_3

"Permisi apakah anda pak Delvano?" tanya sebuah suara yang lantas dengan spontan langsung membuat Delvano terkejut ketika mendengarnya.


Delvano yang mendengar sebuah suara menyapa gendang telinganya, lantas langsung dengan spontan menoleh ke arah sumber suara, bukan karena senang ketika mendengar suara Akila yang datang, hanya saja Delvano terkejut ketika suara yang baru saja menyapanya bukanlah suara perempuan melainkan suara laki laki yang terdengar dengan berat.


Delvano yang langsung berbalik badan begitu mendengar suara tersebut, yang ternyata adalah seorang seorang satpam kompleks rumahnya yang saat ini tengah memasang wajah tersenyum ramah menatap ke arahnya, membuat Delvano lantas langsung mengernyit dengan bingung sambil menatap ke arah sekeliling mencoba mencari keberadaan Akila di sekitar sini. Hanya saja meski Delvano sudah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut taman, ia tetap saja tidak menemukan keberadaan Akila di manapun.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Delvano dengan nada yang ketus membuat satpam tersebut lantas menjadi terkejut ketika mendengarnya sekaligus bingung dengan pertanyaan Delvano barusan.


"Saya di minta bu Akila untuk mengantar anda ke rumah dengan selamat, mari biar saya antar pak." ucap satpam tersebut sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Delvano hendak berusaha memapah Delvano karena yang ia dengar dari akila tadi, Delvano tengah dalam kondisi mabuk berat saat ini.


Sedangkan Delvano yang mendengar ucapan satpam kompleks rumahnya, lantas menjadi kebingungan dan menatap tidak percaya ke arah langkah kaki satpam tersebut yang mulai mendekat ke arahnya tanpa Delvano minta. Delvano benar benar tidak menyangka bahwa Akila akan menyuruh satpam kompleks rumahnya untuk mengantar Delvano pulang, ketimbang datang sendiri dan membantunya.


"Sial!" gerutu Delvano dalam hati sambil melirik ke arah sekeliling siapa tahu ia melihat sosok yang di rindukannya di sekitar sini, namun sayangnya Delvano sama sekali tidak menjumpainya di manapun.


Satpam tersebut yang melihat Delvano hanya diam terbengong sambil celingukan ke arah sekitar, langsung dengan perlahan memegang lengan Delvano dan berusaha hendak memapahnya, membuat lamunan Delvano buyar seketika. Delvano yang sudah terlanjur kecewa, kemudian lantas menghempaskan tangan satpam tersebut dengan spontan begitu merasakan pegangan tangan satpam itu yang hendak membantunya berjalan, membuat satpam itu yang menerima perlakuan Delvano barusan, menjadi bingung dan menatap penuh tanda tanya ke arah Delvano yang terlihat dengan raut wajah yang seakan marah dan juga kesal kepadanya.


"Kamu tidak perlu mengantar ku sampai rumah, aku bisa jalan sendiri!" ucap Delvano dengan nada yang ketus sambil melangkahkan kakinya berlalu pergi meninggalkan satpam kompleks rumahnya, membuat satpam tersebut langsung tertegun seketika di saat mendapatkan sikap ketus dari Delvano.


"Tapi...." ucap satpam tersebut hendak menolak, namun Delvano sudah lebih dulu pergi dengan langkah kaki yang bergegas dan juga seperti layaknya orang normal pada umumnya, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang mabuk berat.

__ADS_1


Satpam tersebut yang melihat kepergian Delvano hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena apa yang di ucapkan oleh Akila tadi tentu saja sangat berbanding terbalik dengan kenyataannya dan juga sikap Delvano kepadanya.


"Apa aku telah di bohongi ya? tapi mana mungkin bu Akila menipuku?" ucap satpam tersebut sambil menatap kepergian Delvano hingga menghilang dari pandangannya.


***


Sementara itu Akila terlihat baru saja turun dari taksi dengan membawa kresek penuh makanan dan juga beberapa pembalut wanita untuk persediaannya bulan depan. Di langkahkan kakinya dengan langkah kaki yang ringan sambil terus mengulum senyumnya. Setelah memutuskan untuk memanggil satpam dan menyuruhnya mengantar Delvano pulang, hati Akila sedikit merasa lega, sepertinya keputusan yang baru saja ia ambil adalah satu satunya keputusan tepat yang harusnya sudah Akila lakukan sejak awal panggilan telpon dari Delvano tadi tanpa perlu harus berakting dan juga membohongi Elbara.


Akila melangkahkan kakinya memasuki lobi Apartment, sampai kemudian sebuah suara yang tak asing di pendengarannya terdengar memanggil nama Akila, hingga membuat Akila langsung membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah sumber suara.


"Bu Akila..." panggil Dona sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila dengan senyum yang mengembang menyapa majikannya itu.


"Bu Lina sudah di dalam, saya kembali turun ke bawah karena sweater Ibu tertinggal tadi, bu Akila baru dari supermarket ya? mari saya bantu..." ucap Dona sambil hendak mengambil barang bawaan Akila.


Akila yang melihat Dona hendak mengambilnya, lantas langsung menghentikan gerakan tangan Dona agar tidak mengambil barang bawaannya.


"Tidak perlu sus, biar saya bawa sendiri saja." ucap Akila menolaknya dengan sopan, namun Dona bukannya menurut malah tetap kekeh mengambil dua kantung kresek yang kini di pegang oleh Akila dan langsung menentengnya menjadi satu sedangkan tangan sebelahnya membawa sweater milik Lina.


"Jangan seperti itu bu... lagi pula saya bekerja dengan anda, jadi anda tidak perlu sungkan." ucap Dona sambil tersenyum ke arah Akila, membuat Akila pada akhirnya hanya bisa menghela nafasnya panjang kemudian membiarkan Dona membawa dua kantong kresek tersebut.

__ADS_1


Ting


Sebuah suara pintu lift yang terbuka, lantas membuat mereka kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai atas yaitu Apartment Elbara.


***


Apartment Elbara


Elbara yang baru menyelesaikan masakannya, terlihat menatap ke arah makanannya dengan tatapan yang sendu. Pikiran Elbara benar benar sedang bercabang saat ini, helaan nafas yang berhembus dengan kasar tak henti hentinya terdengar di area dapur, membuat suasana kian sunyi dan sepi walau Lina kini tengah berada di kamar.


Elbara membawa satu piring besar spaghetti garlic sous dengan satu mangkuk besar soup abalon kuah pedas, menuju ke arah meja makan kemudian menatanya dengan cantik di sana. Todak hanya dua menu itu saja Elbara juga membuatkan dua gelas susu hangat untuk Akila dan juga Lina, sedangkan untuk dirinya Elbara lebih memilih air putih hangat.


Elbara mendudukkan bokongnya di kursi meja makan dengan raut wajah yang sendu dan tak bersemangat. Elbara merasa semua hasil masakannya seakan sia sia saja karena ia tidak tahu kapan Akila akan pulang kembali ke Apartemennya. Pikiran Elbara melayang jauh memikirkan yang tidak tidak, Elbara bahkan kini tengah berpikir tentang nasibnya jika Akila lebih memilih kembali rujuk dengan Delvano.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan..." ucap Elbara sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Elbara menatap kosong ke arah meja makan, hingga sebuah suara pintu terbuka lantas langsung membuat Elbara mendongak mencoba mencari tahu siapa gerangan yang baru saja masuk ke dalam Apartemennya.


"Apa yang tengah kau lakukan dengan raut wajah seperti itu di meja makan?" tanya sebuah suara yang lantas membuat Elbara langsung mengernyit ketika mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2