Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 15


__ADS_3

Pembubaran geng Adrian dan perubahan penampilan mereka sontak saja menjadi berita besar di sekolah. Bukan hanya itu, Adrian yang awalnya dibenci anak-anak perlahan menjadi idola baru karena penampilannya sekarang yang terlihat menawan.


Bukan itu saja, Adrian yang selama ini terkenal suka bolos dan malas belajar kini terlihat rajin dan tidak pernah meninggalkan kelas. Teman-temannya juga melakukan hal yang sama.


"Apa aku tidak salah lihat? Kakak sudah berubah seperti ini. Kenapa tiba-tiba Kakak berubah jadi anak baik?" tanya Riana saat dia datang ke kelas Adrian.


"Kenapa? Mestinya kamu bersyukur Kakak tidak seperti dulu lagi. Terus, kapan kamu mau berubah? Jangan menyakiti diri sendiri hanya karena cemburu sama Lani."


"Kenapa? Jangan bilang kalau Kakak masih suka sama perempuan itu."


"Kakak memang masih suka sama dia, bahkan Kakak makin mencintai dia. Kakak sadar, andai perasaan ini muncul saat Kakak bukan Kakak yang dulu, Kakak yakin Lani pasti sudah menjadi milik Kakak."


"Kakak sadar tidak, sih? Lani lebih memilih Reihan, bukan Kakak."


"Itu juga yang ingin Kakak tanyakan sama kamu. Mestinya kamu sadar kalau Reihan sudah memilih Lani dan kamu harus terima itu."


"Terserah, Kakak. Pokoknya, aku tidak terima Reihan jadian sama Lani. Kakak lihat saja nanti, mereka pasti akan berpisah."


"Sudahlah, Riana. Tidak usah berpikir macam-macam, jalan kamu masih panjang. Jangan sakiti diri sendiri hanya karena cemburu. Apa kamu pikir seandainya mereka berpisah lantas Reihan akan memilih kamu? Jalani hidup dengan baik. Kakak yakin, di luar sana ada sosok pria baik-baik yang nanti akan mencintaimu dengan tulus."


"Ah, sudahlah. Sekarang Kakak sudah tidak asyik lagi kalau diajak bicara," ucap Riana sambil berlalu pergi.


Adrian hanya bisa menatap kepergian adik sepupunya itu.


*****


Tidak terasa, pertandingan basket sudah mencapai finalnya. Tim Reihan yang selama ini bertanding akhirnya bisa masuk final, walau harus berjuang mati-matian melawan tim lainnya. Walau tidak mudah, tapi setidaknya mereka sudah berhasil meraih tiket final yang menjadi impian mereka.


"Aku tidak menyangka kita bisa masuk final, kali ini kita harus menang," ucap Rifal dengan semangat.


"Makanya, kita harus tetap semangat. Kita harus membanggakan sekolah kita," ucap teman lainnya tidak kalah semangat.


"Selamat, ya. Kalian akhirnya masuk final," ucap Iva pada teman-temannya itu.


"Terima kasih, ini semua juga karena kalian yang sudah menyemangati kami," ucap Raka.


"Ya, iyalah. Bagaimana mungkin tidak semangat. Kalian kan punya pacar yang bisa menyemangati kalian, lah kita yang jomlo, bisa apa?" ucap Ian mengeluh.


"Makanya, aku kan sudah bilang untuk cari pacar. Eh, kalian saja yang betah ingin sendiri," tukas Raka tidak mau kalah.


"Sudah, pokoknya final nanti kita harus menang. Kalau kita menang, kita akan pesta kecil-kecilan di basecamp. Kalian mau, kan?" tanya Reihan.


"Ya, maulah. Janji, ya."


"Iya, iya. Aku janji."


"Terima kasih karena sudah menemani dan menyemangatiku selama ini. Jangan bosan-bosan menyemangatiku, aku tidak tahu kalau tidak ada kamu di sisiku," ucap Reihan sambil menggenggam mesra tangan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untukmu, aku janji."


"Aku percaya, kok."


Tiga hari lagi pertandingan final akan dilaksanakan. Sementara Reihan dan teman-temannya diperintah oleh pelatih untuk beristirahat total.


Siang itu, Reihan masih asyik duduk di dalam kamarnya sambil bermain game kesukaannya. Dia ingin menghabiskan waktu dengan bermain game yang sudah beberapa hari ini tidak disentuhnya.


"Rei, ayo turun. Ada tamu nih buat kamu."


Mendengar panggilan ibunya, langsung membuat dia berdiri meninggalkan gamenya yang lagi seru-serunya. Pikirnya, mungkin saja Lani dan teman-temannya datang mengunjunginya.


Sambil berlari, Reihan menuruni tangga sambil senyum kegirangan. Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika melihat seorang gadis yang sudah berdiri di depannya. Sontak saja senyum yang tadi menghiasi bibirnya tiba-tiba menghilang.


"Kenapa? Apa kamu sudah lupa dengan Mutia?" tanya ibunya yang baru muncul sambil membawa segelas sirup dingin.


Mutiara Putri Wijaya, biasa disapa Mutia adalah gadis cantik dengan rambut panjang sepinggul dengan kulitnya yang putih mulus. Parasnya yang cantik dengan bulu mata yang lentik, bisa membuat para pria yang memandanginya tak ingin berpaling.


"Ayo, duduk sini. Tante ingin bicara sama kamu," ajak ibunya Reihan sambil menepuk sofa seraya mengajak gadis itu untuk duduk.


"Kamu juga, ayo duduk sini," ajak ibunya pada Reihan yang masih berdiri terpaku. Dengan langkah yang malas, Reihan duduk di samping ibunya.


"Kamu masih ingat sama Mutia, kan? Mutia ini temanmu saat masih bocah dulu. Ingat, kan?" Reihan hanya menggaruk-garuk kepalanya. Antara lupa dan ingat, dia hanya menganggukan kepalanya.


"Mama lupa bilang ke kamu kalau mulai hari ini, Mutia akan tinggal di sini. Papa dan mamanya sedang pergi keluar negeri karena ada urusan selama beberapa bulan kedepan, makanya Mutia dititipkan di sini. Rencananya sih, Mama ingin memasukkan Mutia ke sekolah kamu biar kalian bisa sama-sama ke sekolah," jelas ibunya panjang lebar.


"Kamu itu bagaimana, sih? Kalau pergi sama kamu kan lebih aman. Dulu katanya mau menjaga Mutia, bahkan katanya kalau sudah besar mau nikah sama Mutia. Lah, sekarang Mutia sudah di depan mata, kenapa kamu malah cuek sama dia, sih?" protes Ibunya.


"Sudahlah Tante, tidak apa-apa. Nanti biar Mutia ke sekolah naik taksi saja, tidak apa-apa, kok," ucap gadis itu dengan suaranya yang lembut.


"Sudah, ah, Reihan ke atas dulu," ucap Reihan sambil beranjak naik ke kamarnya.


"Rei, Mama belum selesai bicara," teriak Ibunya kesal.


"Sudahlah Tante, tidak apa-apa, kok. Pelan-pelan saja, mungkin karena sudah lama kami tidak bertemu jadi Reihan agak sedikit canggung."


"Maafkan Reihan ya, Nak. Nanti juga dia akan terbiasa sama kamu."


Mutia hanya mengangguk. Walau sebenarnya terselip rasa kecewa di hatinya. Selama ini, dia sangat ingin bertemu dengan sahabat masa kecilnya itu. Memang mereka sempat bertemu beberapa waktu yang lalu, tapi semakin bertambahnya usia membuat mereka semakin canggung. Keakraban di masa kecil seolah hilang berganti dengan rasa canggung yang membuat mereka hanya melepas senyum.


Dalam hati kecilnya, Mutia merasa kagum dengan penampilan Reihan yang menurutnya sudah sangat berbeda. Reihan yang dulu terlihat cupu sering menjaganya dari kenakalan anak-anak lain yang mengganggunya. Bahkan, tak jarang Reihan pulang sambil menangis karena dihajar anak-anak yang mencoba mengganggunya. Walaupun begitu, Reihan mampu menjaga Mutia walau dia harus jadi sasaran empuk anak-anak itu. Sekilas, kenangan masa kecil muncul di benaknya. Terlintas sebuah senyuman muncul di sudut bibirnya.


"Kamu boleh tidur di kamar tamu. Tante sudah menyuruh bibi untuk memasukan kopermu ke kamar. Sekarang kamu istirahat, ya."


"Iya Tante, terima kasih," ucapnya sambil pergi ke dalam kamarnya.


Sementara Reihan, sudah tidak lagi melanjutkan permainan gamenya. Pikirannya tiba-tiba kacau sejak melihat Mutia. Apalagi Mutia akan sekolah di sekolah yang sama dengannya. Dia khawatir kalau Lani akan berpikiran yang tidak-tidak padanya. "Bagaimana kalau Lani melihatku dan Mutia pergi ke sekolah sama-sama? Lani pasti akan salah paham padaku," ucapnya khawatir.

__ADS_1


Karena urusan pendaftaran sekolah belum selesai, maka hari itu Mutia belum bisa ke sekolah.


"Rei, hari ini kan pertandingan final. Bagaimana kalau kamu mengajak Mutia nonton, kamu mau, kan?"


"Tidak bisa, Ma. Reihan harus buru-buru karena teman-teman Reihan sudah menunggu. Rei pergi dulu, Ma, assalamualaikum," ucapnya sambil mencium tangan ibunya.


Setibanya di sekolah, Reihan langsung menemui Lani. Entah apa yang ada dalam benaknya. Yang jelas, dia ingin segera bertemu Lani, dia ingin melihat wajah kekasihnya itu.


"Kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi manja begini?" tanya Lani pada Reihan yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Kenapa? Kamu tidak suka aku memegang tanganmu? Ya sudah, aku lepaskan," ucapnya sambil melepas genggaman tangannya.


"Bukan begitu, sini tangan kamu," ucap Lani sambil meraih kembali tangan Reihan dan menggenggam erat tangan kekasihnya itu.


"Kamu harus menang, aku akan duduk paling depan biar kamu bisa melihatku," ucap Lani mencoba merayu Reihan yang terlihat kesal.


Reihan tersenyum. Sejenak, kekhawatirannya tentang kehadiran Mutia perlahan mulai menghilang. Dia tidak ingin kekasihnya cemburu dengan kehadiran gadis itu. "Aku sayang sama kamu, aku tidak akan mengecewakanmu," tatapan mata Reihan begitu tulus. Entah sudah berapa kali dia ucapkan itu sekedar untuk meyakinkan Lani kalau apa yang dia rasakan pada gadis itu benar-benar tulus.


"Aku tahu, kok," balas Lani dengan senyum manis di bibirnya.


"Masuklah, teman-teman dan pelatih sudah menunggumu."


"Aku masuk, ya. Jangan lupa duduk di depan," teriaknya sambil berlari pelan ke arah teman-temannya.


"Kalian semangat, ya," teriak Lani pada Reihan dan teman-temannya dan di balas acungan jempol oleh mereka.


"Va, ayo," panggil Lani pada Iva yang masih berduaan bersama Raka.


"Sana, nanti kamu dimarahi sama pelatih," ucap Lani pada Raka yang masih asik berbicara dengan Iva.


"Iya, iya. Doakan biar kita menang."


"Iya, tenang saja kita doakan kok."


*****


Karena ini adalah pertandingan final, banyak sekali penonton yang datang. Acara yang disuguhkan sebelum pertandingan juga sangat menarik. Ada beberapa pertunjukan dari sekolah-sekolah yang ikut berpartisipasi, mulai dari menari, menyanyi dan yang paling menarik perhatian adalah pertunjukan Dj dari sekolah mereka. Sorak sorai dan tepuk tangan menghiasi di arena lapangan. Rentak irama Dj membuat mereka ikut bergoyang dan tentu saja menambah meriah suasana.


Kedua gadis itu sudah duduk di kursi penonton yang paling depan. Dan dengan mudahnya, mereka bisa menyaksikan pujaan hati mereka berlaga.


Sementara di tempat duduk yang lain, Adrian memandang lurus ke arah Lani. Walau dia sadar, Lani bukanlah miliknya. Dia masih berharap, kalau dia masih punya kesempatan untuk bisa memiliki gadis itu. Entah pesona apa yang di hadirkan seorang Lani hingga membuat Adrian begitu tergila-gila padanya. Seakan di matanya, hanya ada Lani seorang. Walau nyatanya, dia harus menahan cemburu yang jelas-jelas semakin membuat hatinya merasakan sakit luar biasa.


Pertandinganpun dimulai. Laga awal, Reihan dan teman-temannya sedikit mengalami kesulitan mengimbangi permainan lawan. Postur tubuh tim lawan yang tinggi juga menjadi kendala buat mereka. Namun, itu tidak menyurutkan semangat mereka. Tak lupa, Lani dan Iva yang sedari tadi memberi semangat dari kursi penonton juga menjadi penyemangat tersendiri buat Reihan dan Raka.


Akhirnya, dengan perlawanan yang cukup sengit, Reihan dan teman-temannya akhirnya bisa meraih kemenangan. Sorak sorai dan tepuk tangan menghiasi kemenangan mereka. Setelah pertandingan usai, Reihan kemudian berlari ke arah Lani dan segera memeluk kekasihnya itu.


"Kita menang, kita menang," ucap Reihan sambil memeluk kekasihnya itu. Sontak saja semua mata tertuju pada mereka berdua, tak terkecuali ibunya dan Mutia yang juga hadir di tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2