Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 8


__ADS_3

"Assalamualaikum.." ucap April, yang kembali pulang.


"Waalaikumussalam, eh maaf dengan siapa?" tanya Dina saat membukakan pintu April.


"Saya yang tinggal di rumah ini. Saya ibunya Anabel. Maaf saya mau masuk, kamu ini siapa ya?" ucap April.


"Oooh Nyonya, humm istrinya tuan Hery ya? maaf sebelumnya..." ucap Dina.


"Iya, kamu tau darimana? dan kamu siapa?" tanya April kembali.


"Saya asisten baru di rumah ini, buat bantu Bik Ina. Maaf, saya tau dari Bu Anabel dan Pak Ferdi jika orang tua mereka sedang ada urusan di luar kota dan akan pulang nantinya." ucap Dina.


"Oooh begitu, ya sudah permisi saya mau masuk." ucap April, dan Dina pun memberikan jalan buat April lewat.


"Saya harus mencari tau tentang asisten ini. Ntah kenapa, hati saya berkata lain. Jika ada maksud lain darinya di sini." lirih April yang kemudian berlalu ke dalam kamarnya.


"Benar, dia istrinya pak Hery.. Tunggu saja, permainan saya. Dendam ini akan segera terbalaskan Nyonya Hery. Akan aku buat kamu, anakmu juga cucumu hancur, keluargamu akan ku buat hancur tanpa sisa." lirih Dina dengan tersenyum, kemudian ia berlalu ke dapur.


***


"Bel, Mama sudah nyampe rumah. Mama sudah bertemu dengan asisten rumah tanggamu, tapi entah kenapa mama merasa ada sesuatu yang lain darinya." ucap April, di telfon.


"Alhamdulillah kalau Mama sudah nyampe rumah, Anabel tenang. Ma, Anabel minta tolong jangan berburuk sangka sama orang lain Ma. Anabel yakin, Insya Allah dia orang baik. Selama Anabel di


rumah sakit, dia mengurus keperluan Mas Ferdu dan anak anak. Jadi Anabel minta tolong banget ke Mama, jangan berburuk sangka ya Ma." ucap Anabel di telfon.


"Tapi Bel..."ucap April terhenti, karena Dina mengetuk pintu kamarnya.


"Bentar ya Bel.uda dulu." ucap April, memutuskan panggilan telfon.


"Iya, silahkan masuk." ucap April.


"Ada apa ya Din?" tanya April


"Humm, maaf barangkali mau minum. Ini sudah saya buatkan teh hangat untuk Ibu." ucap Anabel.


"Humm, terimakasih. Tapi sepertinya kamu tak perlu repot-repot, karena saya sebenarnya tidak ingin minum teh. Tapi yasudalah, terimakasih ya sekali lagi." ucap April.


"Iya Bu ... Maafkan saya, lain kali saya akan bertanya dahulu." ucap Dina, yang masih menatap April, dalam diam. Seakan ada sesuatu yang ia katakan dalam diam.


"Kenapa masih di sini? ada yang ingin di katakan lagi? jika tidak, bisa tolong keluar? Saya ingin istirahat dan menelfon anak saya. Tolong pahami, saya juga butuh privasi." ucap April, dengan ketusnya.


"Baik, Bu. saya permisi." ucap Dina.


Setelah keluar dari kamar April, Dina mengoceh,


"Lihat saja, issh ngeselin. Sekarang kamu bisa seperti ini ke saya, lihat saja nanti." ucapnya, kemudian berlalu ke dapur.


****


Keesokannya...


"Din, Saya berangkat dulu ya. Mau ke rumah sakit. Nitip rumah." ucap April.


"Iya Bu, Ohya Bu, maaf saya mau tanya, nanti ibu mau di masakan apa ya?" tanya Dina.


"Humm, terserah kamu saja ya Din..Saya gak mikir masakan. Yasudah saya duluan ya Din. Assalamualaikum." ucap April kembali.

__ADS_1


"Humm baik Bu, hati hati Bu. Waalaikumussalam." ucap Dina.


Dina pun segera membereskan rumah dan


memasak setelah kepergian April.


Setiap hari, selama Anabel dan Afnan masih di rumah sakit, Dina selalu memasakkan makanan untuk Ferdi, April, Hery dan ketiga anak Anabel, hingga membuat mereka menyayangi Dina pada akhirnya.


Hingga hari ini, Anabel bersama Afnan akan pulang. Dina pun segera membereskan rumah dan memasak untuk menyambut Anabel.


Beberapa jam kemudian, dari luar suara


pintu terdengar di ketuk beberapa kali.


"Itu pasti mereka datang.." ucap Dina segera membukakan pintu.


"Nyonya, Tuan sudah pulang. Alhamdulillah den Afnan sudah sehat ya? yasudah silahkan masuk..." ucap Dina, dan mereka pun segera masuk.


"Iya Din, Alhamdulillah Afnan sudah sehat. Yuk mas, bantuin aku bawa barang barang ke kamar ya." ucap Anabel.


"Iya yank.." ucap Ferdi, yang mulai membantu Anabel membawa barang barang ke dalam.


Saat Ferdi tengah membawa barang barang, Dina pun sengaja menjatuhkan dirinya agar Ferdi menolongnya dan membuat Anabel cemburu.


"Aduhhhh, tolong saya.." ucap Dina yang mengaduh sakit, karena terjatuh.


"Yaa Allah Dina, kamu terjatuh.." ucap Ferdi yang syok dan bingung harus menolong Dina atau


terus membawa barang yang sudah berada di tangannya.


"Aduh, saya gak bisa jalan, tolong saya hiks." ucap Dina kembali.


Ferdi pun meletakkan barangnya dan membantu Dina untuk berjalan.


"Yaa Allah, saya bantu kamu ya Din." ucap Ferdi yang segera membantu Dina.


"Mas Ferdi..kenapa dia semesra itu sama Dina? aku harus panggil dia." ucap Anabel yang kesal dan di liputi rasa cemburu.


"Mas Ferdi... Kamu ngapain sama Dina?" panggil Anabel yang tengah di liputi rasa cemburu.


"Anabel...? humm mas bantu Dina, Dina terjatuh sayang. Tolong yank jangan terlalu di liputi rasa cemburu." ucap Ferdi.


"Serius bantu Dina? atau pacaran dengan Dina? jangan jangan pas aku gak ada di rumah kalian asyik berpacaran lagi." ucap Anabel.


"Tidak begitu sayang, tolong jangan berfikiran yang tidak tidak seperti itu, jika kamu gak percaya bisa


tanya sama Dina, ya kan Dina?" ucap Ferdi.


"Iya mbak, Pak Ferdi menolongku yang sedang terjatuh. Saya benar benar gak bisa jalan, oleh sebab itu mas Ferdi membantu saya jalan." ucap Dina.


"Mama sudah bilang apa Bel. Dari awal mama sudah kurang sreg sama dia. Seakan ada sesuatu dia ke sini. Seperti dia ingin menghancurkan rumah tanggamu dengan Ferdi. Hati hati kamu dengan Dina ini. Bahkan Mama ragu bila namanya benar benar Dina." ucap April.


"Sudah Pak, jangan bantu saya. Biar saya coba berdiri sendiri. Sepertinya mereka di sini tidak berkenan bila Bapak membantu saya." ucap Dina.


"Dina, tidak apa apa. Saya akan membantu kamu berjalan sampai kamarmu ya, supaya setelah itu kamu bisa beristirahat." ucap Ferdi.


"Ma, Yank, tolong pahami saya hanya ingin membantu Dina berjalan saja. Saya dan Dina tidak ada hubungan apa apa, selama ini pun kami tidak berpacaran. Kalian bisa tanyakan anak anak, apa

__ADS_1


pernah lihat kami berduaan saja? tolong coba tanyakan mereka saja." ucap Ferdi kembali.


"Alesan kamu Mas, hiks. Ini Afnan sudah menangis, aku mau ke kamar nidurin Afnan." ucap Anabel.


"Udah, pokoknya mama gak mau tau. Pokoknya kamu harus pilih Istrimu atau Dina asisten ini. Ohya satu lagi jika kamu pilih istri kamu, Tolong pecat Dina dari rumah ini. Mama gak mau tau, Mama


gak mau lihat Dina si pengkhianat, di rumah ini lagi." ucap April.


"Astaghfirullah, Mama jangan bilang seperti itu. Ferdi minta tolong Ma, jangan berfikiran buruk tentang kami. Ferdi gak ada hubungan apapun dengan Dina, jika Mama gak percaya Mama


bisa tanyakan ke Anabel." ucap Ferdi.


"Ok, Mama gak mau tau. Jika memang benar kamu gak ada hubungan dengan Dina, pecat Dina sekarang juga!! atau jika kamu tidak ingin, berarti kamu ada hubungan dengan Dina. Dan pergi dari


rumah ini bersama Dina jika kamu memilih Dina." ucap April.


"Astaghfirullah Ma. Terserah Mama saja lah , Ferdi pusing kenapa Mama memberi keputusan yang sulit. Lagipula yang memperkerjakan Dina di rumah ini Anabel Ma, bukan aku. Jadi aku gak bisa buat


memutuskan apapun itu." ucap Ferdi yang kemudian berlalu dan segera melanjutkan membantu Dina menuju kamarnya


"Ferdi..dengerin Mama." teriak April.


"Mas, Eumm maaf Pak Ferdi tolong. Sudah tidak perlu membantu saya lagi. Saya akan coba berjalan sendiri, sepertinya Nyonya tidak berkenan saya di sini, insya Allah saya akan pergi dari rumah ini secepatnya bila perlu malam ini juga." ucap Dina.


"Apa Din? kamu mau pergi dari rumah ini? malam ini? jangan bercanda, kakimu saja sedang sakit. Lalu bagaimana kamu berjalan dan pergi ke mana malam seperti ini?" ucap Ferdi.


"Saya juga tidak tau harus ke mana semalam ini, dan kaki saya memang benar benar sakit untuk buat berjalan,hiks." ucap Dina.


"Tolong kamu isrtihat saja dulu ya di rumah ini. Jika pun ingin pergi dari rumah ini, besok saja ya." ucap


Ferdi.


"Humm iya Pak terimakasih atas pengertiannya, Insya Allah besok saya akan pergi dari sini." ucap Dina.


"Baguslah, pergi dari sini secepatnya. Karena kami tidak mengharapkan kehadiranmu di sini." ucap April , yang kemudian berlalu.


"Pak, sepertinya saya esok akan benar benar harus pergi dari sini. Padahal saya sangat betah di rumah ini, saya juga sudah menyayangi anak anak dan menganggap kalian seperti keluarga saya.


Saya tak punya keluarga sama sekali. Saya anak yatim piatu. Tapi yasudalah, mungkin sampai sini batas saya harus bekerja. Besok saya akan segera pergi dari sini, sebenarnya malam ini juga ingin pergi dari sini, tapi kaki saya benar benar sedang sakit dan tidak bisa buat berjalan." ucap Dina.


"Saya juga sebenarnya sedih. Tapi ya mungkin ini yang terbaik. Saya minta maaf sebelumnya, karena sepertinya mertua saya dan istri saya tidak menyukai kehadiranmu. Saya juga gak tau harus


bagaimana. Atau tidak kamu mungkin bisa menunggu keputusan Anabel, istri saya. Karena yang memperkerjakan kamu yang di rumah ini kan Anabel, saya juga gak bisa berbuat apa apa karena memang Isrti saya yang memperkerjakan kamu di sini kan?" ucap Ferdi.


"Iya Pak, saya paham. Yang memperkerjakan saya di rumah ini Nyonya, saya juga paham Bapak gak bisa berbuat apapun untuk mengubahnya. Sekali lagi saya minta maaf ya Pak, bila karena kehadiran saus membuat kacau seperti ini dan membuat istri bapak cemburu dengan saya. Saya ingin isrtihat dulu ya Pak, insya Allah besok saya pulang. "


ucap Dina.


"Pak, boleh tolong lepaskan saya? saya ingin segera beristirahat." ucap Dina.


"Biar saya bantu kamu ya berjalan sampai kamar, setelah itu kamu boleh beristirahat." ucap Ferdi, yang menuntun Dina hingga ke kamarnya.


"Terimakasih ya Pak, sudah mau membantu saya. Bapak juga segera beristirahat ya." ucap Dina.


"Iya Dina, saya keluar dulu ya. Selamat beristirahat." ucap Ferdi, yang kemudian keluar dari kamar Dina.


Dina pun segera beristirahat dan tersenyum seakan ada sesuatu yang ia pikirkan..

__ADS_1


__ADS_2