
Di dalam mobil
Elbara terlihat mengendarai mobilnya menuju ke arah taman sesuai dengan gps yang ada di ponselnya. Ketika Elbara sedang fokus berkendara, sebuah deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan Elbara ketika melihat panggilan telpon tersebut berasal dari Akila. Elbara yang melihat Akila menelpon, lantas langsung bergegas menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo Ki..." ucap Elbara begitu telponnya terhubung.
"Halo El... tolong aku El.." ucap Akila dengan nada yang berbisik sambil menatap ke arah belakang berharap Delvano tidak menemukannya.
"Kamu di mana Ki? apa yang terjadi?" ucap Elbara di seberang sana sambil mengambil ponselnya yang ia letakkan di dasboard.
Elbara yang fokusnya terpecah karena khawatir akan keadaan Akila, lantas langsung mengerem secara mendadak ketika melihat sebuah mobil yang tiba tiba saja menyalip dari arah kanan dan langsung memotong jalannya.
Duk... duk...
Ponsel Elbara jatuh ke bawah tepat ketika ia menginjak rem secara mendadak barusan. Elbara yang melihat ponselnya jatuh, lantas menjadi kesal dan berkata kasar karena ponselnya harus jatuh di saat yang tidak tepat. Elbara kemudian lantas menepikan mobilnya di bahu jalan dan langsung mencoba mengambil ponselnya yang jatuh ke bawah dengan susah payah karena memang posisinya yang tepat berada di bawah rem dan juga gas mobilnya.
Butuh usaha yang lebih untuk mengambil ponselnya yang jatuh, hingga setelah Elbara berhasil membawa naik ponselnya panggilan dari Akila malah sudah berakhir yang semakin membuat Elbara kesal bukan main, tak ingin kehilangan akal Elbara mulai menelpon balik Akila namun sayangnya panggilannya sama sekali tidak terhubung.
"Ah sial!" pekik Elbara dengan nada yang kesal.
Baru saja Elbara merutuki kebodohannya, sebuah suara deringan ponsel miliknya kembali terdengar dan membuat Elbara langsung menatap ke arah layar ponselnya dengan seketika.
"Halo" ucap Elbara tepat setelah mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
__ADS_1
"Tuan saya sudah berhasil melacak keberadaan Akila tuan, jika mengikuti dari jejak kamera pengawas jalanan Akila saat ini sedang berada di sebuah taman yang terletak di perbatasan ibu kota." ucap Arga memberikan laporan kepada Elbara.
"Sudah ku duga" ucap Elbara lagi.
"Hanya saja... sepertinya ada sesuatu yang tengah terjadi kepada Akila tuan karena saya mendengar ada laporan yang masuk ke kepolisian dan lokasi terakhir si pelapor berada sama dengan lokasi Akila saat ini." ucap Arga lagi.
"Setidaknya kita harus bergerak lebih cepat dari polisi untuk menyelamatkan Akila." ucap Elbara dengan nada penuh penekanan.
"Tentu saja tuan." ucap Arga
Tepat setelah Arga mengucapkan hal tersebut, sambungan telpon langsung di matikan oleh Elbara. Dengan gerakan yang cepat Elbara kemudian lantas langsung menancap gasnya dengan kecepatan yang tinggi menuju ke arah taman terbuka hijau, di mana lokasi Akila berada terakhir kalinya.
**
Akila yang ponselnya tiba tiba di ambil tentu saja terkejut bukan main, Akila kemudian bangkit dari posisinya dan mulai berjalan dengan mundur secara perlahan hendak kembali kabur dari Delvano, namun sayangnya kepalanya yang tiba tiba saja berputar, lantas langsung menggoyahkan langkah kaki Akila dan membuatnya terjatuh ke tanah dalam posisi yang terduduk.
Akila memegang kepalanya dengan erat ketika rasa sakit yang teramat menyerang kepalanya, kedua kakinya kini bahkan terasa sangat lemas seakan tak bertulang, membuatnya tidak lagi bisa bangkit dari posisinya saat ini. Delvano yang melihat hal tersebut tentu saja senang bukan main karena obat tersebut nyatanya bekerja kepada Akila, dengan langkah yang lebar Delvano kemudian lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila dan langsung mengangkat tubuh Akila dari belakang dan menyeretnya secara perlahan.
Akila yang merasakan kakinya lemas sama sekali tidak bisa berbuat apa apa ataupun melawan Delvano, seluruh tenaganya terasa benar benar terkuras habis seakan tidak lagi tersisa.
"Ap... apa yang sebenarnya kau berikan padaku?" ucap Akila dengan nafas yang berat tepat setelah Delvano menidurkannya di dalam pondokan rumah goblin tadi yang sempat di pakai Akila untuk bersembunyi.
Delvano tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Akila sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu pondokan tersebut karena memang apa yang di rasakan oleh Akila sama dengan apa yang di rasakan oleh Delvano saat ini. Delvano mengatur nafasnya dengan panjang karena ia mulai merasa sesak di bagian dadanya.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengakhiri kisah cinta kita seperti Simfoni favorit ku Ki, apa aku salah?" ucap Delvano dengan nada yang lirih.
Mendengar penuturan Delvano barusan tentu saja membuat Akila terkejut bukan main, jika saat ini Akila tidak merasakan lemas mungkin Delvano sudah di tendang dari tadi oleh Akila.
"Ini jelas salah Van... apa yang kamu lakukan malah merugikan mu dan juga aku... aku bahkan baru memulai hidup yang baru tapi kamu.. kamu malah tega teganya merenggut segalanya dari ku." ucap Akila dengan nada yang sendu, membuat Delvano langsung menoleh dengan seketika ke arah Akila.
Mendengar ucapan Akila barusan entah mengapa membuat jantung Delvano seakan seperti tercubit. Kata kata memulai hidup baru yang keluar dari mulut Akila, benar benar membuat Delvano merasa kesal dan tentu saja tidak menyukainya. Entah mengapa Delvano malah terbayang bayang wajah tengil Elbara ketika mendengar Akila menyebut kata memulai hidup yang baru.
"Cih hidup baru... maksud mu Elbara bukan? tentu saja tidak akan aku biarkan kau menjalaninya tanpa aku. Kau pikir aku tidak terluka apa ketika melihat kau lebih bahagia bersama orang lain? tentu saja aku hancur Ki... jadi aku harap jangan coba coba melakukannya!" ucap Delvano dengan nada yang dingin.
Akila yang mendengar ucapan dari Delvano hanya terdiam dan tidak menanggapinya, tubuhnya kini bahkan sudah benar benar lemas di sertai sakit kepala yang hebat dan juga nyeri di sekujur tubuhnya, berdebat dengan Delvano sama sekali tidak akan ada habisnya. Lagi pula cairan itu sudah benar benar masuk ke dalam tubuhnya, lalu apa lagi yang harus Akila sesalkan?
Dalam keadaan yang hening, air mata Akila menetes secara perlahan, rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya benar benar tidak lagi Akila rasa saking hebatnya rasa sakit itu, hanya menangis dan terus menangis tanpa suara yang membuat Akila sampai melupakan rasa sakitnya.
"Akankah ini akhir hidup ku? Mama... Elbara.... bisakah aku meninggalkan kalian berdua..." ucap Akila dalam hati dengan air mata yang meluncur membasahi pipinya.
Delvano yang melihat Akila menangis dalam diam, lantas menggeser posisinya dan menatap ke arah Akila dengan tatapan yang sendu. Di usapnya air mata yang mengalir membasahi pipi Akila dengan lembut, membuat Akila langsung menoleh ke arah Delvano dengan seketika.
"Jangan menangis Ki..." ucap Delvano namun terhenti ketika sebuah suara pintu yang di dobrak dari luar lantas terdengar.
Bruk
Bersambung
__ADS_1