
Pagi harinya
Arga yang tak kunjung menemukan keberadaan Elbara dari semalam, lantas ketiduran di dalam mobil yang ia parkirkan di bahu jalan karena kesal tak kunjung juga menemukan Elbara di manapun.
Suara deringan ponsel miliknya lantas membangunkan Arga dari tidurnya, ditatapnya sekitaran dengan wajah sayu khas bangun tidur, sepertinya Arga belum sepenuhnya sadar dari tidurnya sehingga ia hanya duduk termenung sambil melihat ke arah sekitaran.
Hingga tidak berapa lama deringan ponsel milik Arga kembali terdengar berdering memenuhi seluruh bagian mobilnya. Arga yang langsung tersadar setelah mendengar suara deringan ponselnya, lantas langsung meraih ponsel miliknya dan mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Arga dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa yang kau lakukan sejak semalam hingga Elbara tidak kunjung pulang juga ha?" teriak sebuah suara dari seberang sana, membuat Arga lantas langsung menjauhkan ponsel dari telinganya dengan spontan ketika mendengar suara melengking milik Viona barusan.
"Saya tidak menemukan tuan di manapun nya..." ucap Arga sambil kembali menempelkan ponsel di telinganya setelah Viona tidak lagi terdengar berteriak.
"Kau itu bodoh atau bagaimana sih? harusnya kau itu cari cara untuk menemukan bos mu, atau paling enggak kau pasang saja pelacak pada mobilnya agar kau bisa selalu mengetahui posisi bos mu dengan akurat." ucap Viona dengan nada yang kesal karena Arga tak kunjung menemukan Elbara juga padahal sedari semalam Viona menanti kabar dari Arga, namun hingga pagi datang jangankan Elbara kabar dari Arga saja Viona tidak mendapatkannya.
"Tentu saja saya tidak akan berani melakukan hal tersebut." ucap Arga dengan nada yang lirih.
"Aku kan juga bos mu, anggap saja itu perintah dariku..." ucap Viona lagi seakan memberikan perintah kepada Arga untuk melakukannya.
"Tapi tetap saja yang menggaji ku tuan Elbara bukan kau..." ucap Arga dalam hati menggerutu tapi tak berani mengutarakannya secara langsung kepada Viona.
"Huh bicara dengan mu sama sekali tidak memberikan ku solusi, dasar tidak becus!" ucap Viona dengan nada yang kesal kemudian menutup panggilan teleponnya begitu saja tanpa menunggu terlebih dahulu jawaban dari Arga.
__ADS_1
"Dasar gila... benar benar menyusahkan orang saja, gak suaminya gak istrinya sama sama membuat orang kesal saja." gerutu Arga dengan nada yang kesal sambil mengacak acak rambutnya dengan kasar karena bingung harus menghadapi Elbara dan juga Viona sekaligus.
***
Kediaman Delvano
Pagi itu Akila terlihat sudah bangun pagi pagi dan menyiapkan segala keperluan Delvano sebelum akhirnya berangkat bekerja, rawat jalan dan istirahat di rumah? itu hanyalah bualan semata dari Delvano, nyatanya Akila tetap harus melakukan tugasnya sebagai seorang istri tanpa terlewat sedikitpun.
Semenjak Delvano berhasil meraih rating dan menyelamatkan program TV yang hampir bungkus kenarin, membuat Delvano di percaya untuk membawakan beberapa liputan berita terkini di pagi hari dan juga beberapa acara Variety show, hingga pada akhirnya membuat nama Delvano semakin melejit dipertelevisian, sehingga menjadikan Delvano super sibuk dan tidak banyak waktu di rumah, bukankah itu malah bagus untuk Akila?
Akila menatap ke arah tembok bercat putih di area dapur dengan tatapan yang kosong. Pikiran Akila melayang jauh membayangkan kembali setiap adegan yang telah ia lakukan bersama dengan Elbara semalam, ciuman itu terlalu membekas di pikiran Akila hingga membuat Akila tidak fokus dan terus terdengar menghela nafasnya dengan panjang berulang kali.
"Apa yang kamu lakukan Ki!" pekik Delvano ketika melihat asap mengepul dari wajan penggorengan yang menyala tepat di sebelah Akila.
"Aw..." pekik Akila ketika jari tangannya tanpa sengaja terkena wajan penggorengan ketika berusaha mematikan kompor barusan.
"Coba ku lihat tangan mu... lagipula apa yang sedang kau pikirkan hingga sampai melamun seperti itu ha?" ucap Delvano sambil melihat jari tangan Akila yang terlihat sedikit melepuh karena mengenai wajan penggorengan yang panas barusan.
Delvano yang mengetahui jari tangan Akila melepuh lantas dengan spontan hendak mendekatkannya pada bibirnya berusaha mendinginkan luka Akila dengan air liurnya, seperti ala ala drakor.
Hanya saja Akila yang melihat Delvano hendak memasukkan jari tangannya yang melepuh ke mulutnya mengira akan menyakitinya, hingga kemudian lantas dengan spontan langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Delvano.
Delvano yang melihat respon istrinya itu, lantas langsung terkejut sekaligus terdiam.
__ADS_1
Akila yang baru saja sadar akan perbuatannya lantas langsung berusaha memutar otaknya agar Delvano tidak marah akan sikapnya barusan.
"Aku... aku hanya... bukankah ini sudah siang? kamu nanti akan terlambat jika harus membantu ku, ayo kita sarapan saja..." ucap Akila kemudian hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah meja makan, namun terhenti karena Delvano menarik tangannya dengan tiba tiba.
"Apa kau menganggap diriku ini sampah? hingga kau tak membiarkan jari tangan mu masuk ke dalam mulut ku ha?" ucap Delvano dengan nada yang penuh penekanan, membuat Akila lantas menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar suara berat Delvano barusan.
"Bukan begitu mas, kau salah paham... aku hanya tidak ingin mengotori mu, tangan ku ini kotor setelah memasak mas... bagaimana kalau ada kuman di tangan ku?" ucap Akila mencoba menjelaskan maksud gerakan yang tiba tiba tadi.
Delvano yang mendengar penjelasan Akila, bukannya mengerti tindakan Akila malah terlihat semakin marah setelah mendengarnya.
Delvano yang sudah terlanjur tersinggung akan gerakan Akila tadi, lantas langsung menarik tangan Akila dan mengangkatnya tinggi tinggi. Diarahkannya jari tangan Akila yang terluka secara cepat masuk ke dalam mulutnya, disesapnya secara kasar tangan Akila yang terluka kemudian menggigitnya berulang kali, membuat Akila lantas langsung memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menahan sakit akan kelakuan dari Delvano barusan.
Akila sama sekali tidak berani berteriak ketika Delvano menggigit jarinya atau Delvano akan semakin menjadi jadi dalam menyiksanya.
Setelah beberapa menit Delvano melakukan hal tersebut, ia kemudian lantas menghempaskan tangan Akila begitu saja dengan kasar ke udara kemudian menatap tajam ke arah istrinya.
"Aku tidak menyukainya Ki... jangan lakukan itu lagi atau aku akan marah!" teriak Delvano dengan menatap tajam ke arah Akila yang terlihat seperti menahan sakit akibat ulah Delvano, manik mata Akila kini bahkan berair namun sebisa mungkin ia tahan agar tidak tumpah di hadapan Delvano.
"Maaf..." ucap Akila dengan nada yang bergetar.
Delvano yang mendengar permintaan maaf istrinya sama sekali tidak menanggapinya dan langsung melenggang pergi begitu saja tanpa memakan sarapannya terlebih dahulu.
Bersambung
__ADS_1