Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Raut wajah yang murung


__ADS_3

Di dalam mobilnya Delvano terlihat memasang wajah yang penuh amarah, ketika melihat perlakuan Akila yang seperti itu kepadanya tadi. Delvano benar benar tidak menyangka bahwa Akila akan bereaksi seperti itu terhadapnya. Delvano memukul setirnya selama beberapa kali dengan kesal, ia sudah benar benar tidak tahan jika terus terusan seperti ini.


"Benar benar menyebalkan... awas saja kau Elbara, akan aku pastikan esok kau tidak akan bisa kembali melihat Akila di samping mu." ucap Delvano dengan nada penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah depan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Delvano kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota menuju ke suatu tempat yang mungkin akan menjadi yang terakhir ia temui sebelum kepergiannya.


***


Sementara itu di dalam mobil Elbara, suasananya begitu hening dan canggung. Baik Elbara maupun Akila sama sama terdiam dalam pikiran mereka masing masing. Elbara terlihat melirik sekilas ke arah Akila mencoba mencari tahu apa yang tengah Akila pikirkan saat ini. Helaan nafas terdengar berhembus dari mulut Akila, membuat Elbara hanya bisa terdiam tidak tahu harus berbuat apa lagi agar membuat mood Akila lebih baik.


"Apa kamu baik baik saja Ki?" tanya Elbara kemudian.


Mendengar pertanyaan tersebut Akila langsung dengan spontan menoleh ke arah Elbara, kemudian sebisa mungkin memasang senyuman agar Elbara tidak khawatir terhadapnya. Sedangkan Elbara yang melihat senyuman tersebut, lantas menggenggam tangan Akila dengan erat berusaha untuk menguatkan wanita itu agar tidak terlalu memikirkan tentang masa lalunya.


"Tidak perlu khawatir El... aku baik baik saja..." ucap Akila dengan nada yang yakin membuat Elbara langsung tersenyum ketika mendengar hal tersebut kemudian kembali fokus melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju ke arah Apartemennya.


**


Apartment Elbara


Dari arah pintu masuk, Akila dan juga Elbara terlihat melangkahkan kakinya memasuki area Apartemennya dengan langkah kaki yang gontai. Akila melepas blazer yang ia kenakan dan menaruhnya pada gantungan baju, kemudian mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu. Elbara yang melihat Akila nampak lesu, lantas mendekatkan dirinya ke arah Akila dan duduk di samping Akila.


"Apa kamu masih kepikiran tentang mantan suami mu itu?" tanya Elbara kemudian dengan nada yang lirih, namun Akila malah langsung menggeleng dengan cepat membuat Elbara mengernyit tidak mengerti akan tanggapan Akila barusan.

__ADS_1


"Lalu apa?" tanya Elbara lagi.


"Seafood ku terbuang percuma.... aku bahkan baru memakan satu ekor lobster tapi dia malah mengacaukan semuanya." ucap Akila dengan wajah yang di tekuk kesal.


Sedangkan Elbara yang mendengar jawaban dari Akila, benar benar tidak menyangka bahwa Akila akan menjawab sedemikian rupa, awalnya Elbara mengira Akila masih kepikiran akan kedatangan Delvano sehingga memasang raut wajah yang sedih seperti itu, namun ternyata ia salah sangka, membuat seulas senyuman lantas terlihat terbit pada wajah tampan Elbara.


Elbara kemudian lantas bangkit dari posisinya dan menatap ke arah Akila dengan tatapan yang menelisik, membuat Akila menjadi bingung akan arti dari tatapan Elbara kepadanya.


"Baiklah nyonya, sebagai gantinya... biarkan chef yang tidak berpengalaman ini memasakkan seafood asam manis untuk anda nyonya..." ucap Elbara dengan tubuh setengah membungkuk layaknya pelayan Restoran yang ada di drama drama korea itu.


Akila yang melihat tingkah Elbara barusan tentu saja dengan spontan langsung tersenyum, baru kali ini Akila melihat Elbara melawak di saat saat seperti ini.


"Apa kamu yakin bisa memasaknya? lagi pula di kulkas kita tidak memiliki satupun seafood yang bisa kamu olah, lalu apa yang akan kamu masak?" ucap Akila kemudian masih dengan tawa kecil yang tidak kuat ketika melihat aksi Elbara.


"Em... baiklah.. baiklah... kamu boleh pergi. Ingat... jangan terlalu lama karena nyonya mu yang satu ini tidak menyukai kata menunggu, apa kamu mengerti?" ucap Akila kemudian.


Mendengar perintah tersebut Elbara langsung memberi hormat kepada Akila, kemudian berlarian pergi ke luar dari Apartemennya untuk melaksanakan tugas negara yang baru saja ia dapatkan itu.


"Dasar" ucap Akila ketika melihat kepergian Elbara dari hadapannya.


Tidak beberapa lama setelah kepergian Elbara dari sana, Dona dan juga Lina nampak keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila, membuat Akila yang semula tersenyum ketika melihat kepergian Elbara kini kembali memasang mode serius di saat melihat langkah kaki Dona karena ia mengira ada sesuatu hal penting yang akan Dona bicarakan.


"Bu kalau boleh saya ingin mengajak bu Lina untuk berenang di bawah sambil merefresh pikiran bu Lina agar lebih jernih dan tenang." ucap Dona meminta ijin kepada Akila.

__ADS_1


Mendengar permintaan Dona, membuat Akila langsung dengan spontan menoleh ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya untuk melihat pukul berapa saat ini.


"Sekarang masih pukul 14.00, apa enggak enak nanti agak sorean sus?" tanya Akila kemudian.


"Terserah pada ibu, lagi pula semua keputusan ada pada bu Akila." ucap suster Dona dengan tersenyum.


Akila menghela nafasnya panjang ketika mendengar jawaban dari Dona barusan, sehingga pada kahirnya dengan berbagai pertimbangan Akila mengijinkan Dona untuk membawa Lina ke area swimming poll yang terletak di bawah. Sedangkan Dona yang baru saja mengantongi ijin untuk pergi, langsung berpamitan dengan Akila dan menuntun Lina untuk bergerak keluar dari Apartment menuju ke bawah.


Lina yang mendengar kata berenang tentu saja senang bukan main dan memasang raut wajah yang gembira, sambil mengikuti langkah kaki Dona yang terus membawanya keluar dari Apartemen. Akila yang melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan ibunya itu, hanya bisa geleng geleng kepala dengan senyum yang mengembang menatap ke arah kepergian Dona dan juga Lina, hingga punggung kedua orang tersebut tidak lagi terlihat pada pandangannya.


**


Satu jam kemudian


Akila yang merasa bosan terus berselancar pada ponselnya, lantas menghentikan gerakan tangannya kemudian mengambil perenggangan sebentar untuk melemaskan otot ototnya. Di liriknya arloji di tangannya yang kini tengah menunjukkan pukul 15.00 wib.


"Apa dia benar benar bisa berbelanja? mengapa lama sekali?" tanya Akila pada diri sendiri.


Sebuah deringan ponsel miliknya mendadak berbunyi di tengah tengah keheningan dirinya yang menatap ke arah pintu masuk menunggu kedatangan Elbara yang sedari tadi tidak kunjung datang juga. Akila yang terus mendengar suara nada dering ponselnya, lantas terlihat langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang tengah menelponnya saat ini.


"Delvano?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2