Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Aku sudah memaafkan mu


__ADS_3

Keesokan harinya


Hari ini adalah hari pembukaan Resto milik Akila, di hari pembukaannya Akila memberikan promo makan sepuasnya khusus untuk hari ini. Siapapun yang datang Akila akan membagi makanannya secara gratis. Akila memberikan beberapa brosur kepada karyawannya untuk di bagikan kepada pengguna jalan dan orang orang yang berlalu lalang di sekitaran sini. Walau Resto milik Akila tergolong kedalam Resto yang elit dan cukup besar, namun Akila sama sekali tidak mematok harga selangit dan tetap bisa di jangkau oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.


Di restonya Akila juga menyediakan privat room dan juga meeting room, untuk beberapa orang yang menyukai dengan ketenangan dan juga tempat tempat yang bersifat pribadi ketika sedang melaksanakan meeting atau hal hal yang bersifat pribadi lainnya.


Akila yang tidak ingin tinggal diam dan hanya menunggu pelanggan di Restonya, lantas mulai turun ke jalan dan membagikan beberapa brosur kepada pengguna jalan yang kebetulan berlalu lalang di sekitar area Restonya. Ketika Akila sedang sibuk membagikan brosur sebuah mobil berwarna hitam metalik nampak berhenti tepat di hadapannya. Bagian kaca pengemudi nampak terbuka secara perlahan lahan dan memperlihatkan seorang wanita yang seumuran dengannya mulai menatapnya dengan tersenyum ramah.


"Silahkan datang ke Resto kami..." ucap Akila yang mengira wanita tersebut hendak melihat brosur yang ia pegang.


"Maaf sebelumnya, apakah anda ada waktu sebentar? karena bos saya ingin membicarakan sesuatu dengan anda." ucap wanita tersebut yang lantas membuat Akila mengerutkan keningnya dengan bingung sekaligus penasaran siapa yang di maksud oleh wanita itu barusan.


"Dengan saya?" ucap Akila dengan nada lirih sambil menatap bingung ke arah wanita tersebut.


Belum habis dengan kebingungannya, perlahan lahan kaca mobil bagian kursi penumpang belakang mulai turun dan memperlihatkan Delvano mantan suaminya tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang teduh, membuat Akila yang melihat hal tersebut lantas terkejut hingga tanpa sadar menjatuhkan beberapa lembar brosur di tangannya.


"Berikan aku waktu sebentar saja Ki.. ku mohon..." pinta Delvano dengan nada yang memohon ketika pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci satu sama lainnya.

__ADS_1


**


Di dalam mobil Delvano


Suasana hening tercipta di antara keduanya, ketika Akila memutuskan untuk mengiyakan permintaan dari Delvano barusan. Sedangkan Rani asistennya memutuskan untuk menunggu di luar mobil memberikan waktu kepada kedua insan tersebut untuk mencurahkan isi hati mereka masing masing.


Keringat dingin perlahan lahan mulai menetes di pelipis Akila, entah mengapa berada berdua di dalam mobil bersama dengan Delvano seperti ini, membuat perasaan takut yang sudah berangsur angsur pulih kini mendadak kembali dan berkumpul menjadi satu membentuk perasaan gugup dan juga khawatir memenuhi hatinya.


Delvano yang melihat Akila mulai berkeringat, lantas dengan spontan langsung mengambil tisu dan bergerak hendak mengusap keringat yang membasahi area dahi Akila. Hanya saja gerakan tangan yang tiba tiba dari Delvano barusan membuat reaksi berlebihan dalam diri Akila tanpa Akila sadari, hingga membuat Delvano langsung terdiam seketika di saat melihat Akila yang seakan seperti tengah terkejut dengan wajah yang bercampur ketakutan ketika tangannya mendekat ke arah Akila hendak mengusap keringat pada dahi Akila.


"Aku hanya ingin mengusap keringat mu saja, apa aku mengejutkan mu?" ucap Delvano dengan nada yang lirih membuat Akila menjadi merasa bersalah karena reaksinya yang terlalu berlebihan.


"Aku minta maaf akan sikap ku barusan... sebenarnya ada urusan apa kamu datang hingga jauh jauh ke sini?" tanya Akila kemudian sambil masih menatap ke arah depan.


Mendengar pertanyaan tersebut, Delvano lantas menghela nafas dengan panjang sambil menyenderkan punggungnya sebentar.


"Tujuan ku ingin berbicara padamu adalah... sebenarnya aku ingin meminta maaf akan semua kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu, aku tahu aku telah berbuat salah dan menyakiti dirimu terlalu dalam selama ini. Hanya saja Ki... aku benar benar tidak bisa hidup tanpa mu... jujur saja setelah kepergian mu aku merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dalam diriku, tidakkah kamu bisa melihatnya?" ucap Delvano dengan nada yang lembut.

__ADS_1


Sedangkan Akila yang mendengar permintaan maaf tersebut, membuat Akila lantas dengan spontan langsung menatap ke arah Delvano dengan tatapan yang menelisik. Entah mengapa mendengar permintaan maaf dari Delvano sama sekali tidak mengurangi rasa traumanya, melainkan malah menjadikannya semakin khawatir mengingat Delvano selalu saja mempunyai makna terselubung di setiap kata maaf yang keluar dari mulutnya itu.


"Aku... aku sudah memaafkan mu sejak lama Van, apa yang sudah terjadi biarlah berlalu. Kini yang harus kita lakukan adalah saling menatap ke depan dan membenahi apa yang perlu di benahi, kita berdua sudah sama sama dewasa dan aku yakin kamu pasti tahu akan sesuatu yang baik dan juga buruk untuk mu." ucap Akila dengan nada yang teduh, membuat seulas senyum langsung terbit menghiasi wajah Delvano ketika mendengar ucapan Akila barusan.


"Apa kamu sungguh sudah memaafkan ku Ki?" tanya Delvano sekali lagi seakan mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang Delvano dengar bukanlah hanya halusinasinya saja.


Akila yang mendengar pertanyaan dari Delvano, lantas langsung mengangguk dengan memasang senyum senatural mungkin kepada Delvano, hanya saja Delvano yang sudah terlanjur senang ketika mendengar ucapan dari Akila barusan, malah langsung membalikkan posisi tubuh Akila agar menghadap ke arahnya kemudian memeluk tubuh kecil itu dengan erat, membawanya masuk semakin dalam ke dalam dekapannya.


Akila yang tiba tiba saja mendapat pelukan dengan erat dari Delvano tentu saja terkejut bukan main, sehingga membuatnya mematung dan tidak bisa melakukan apapun. Bukan karena bodoh atau apa, hanya saja pikiran Akila masih terjebak ke dalam masa lalu, di mana dalam pikirannya selalu saja mengatakan bahwa jika ia menolak perlakuan manis dari Delvano maka Delvano akan langsung memberi mu pelajaran, manset itulah yang masih melekat ke dalam pemikiran Akila dan membuatnya tidak berani menolak pelukan dari Delvano.


"Apa yang harus aku lakukan di saat saat seperti ini?" ucap Akila dalam hati yang terdiam mematung di pelukan Delvano.


Beberapa detik keduanya dalam posisi yang saling berpelukan, hingga kemudian sebuah suara ketukan pintu dari arah luar lantas langsung mengejutkan keduanya.


Tok tok tok


"Biarkan Akila keluar!" teriak seseorang dari arah luar mobil yang langsung membuat Delvano menatap tidak suka ke arah luar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2