
Sinaran cahaya yang berasal dari lampu ruangan memancarkan kilauan cahaya yang langsung menembus manik mata Akila dalam keadaan yang terpejam.
Mendapatkan cahaya yang begitu terang di atasnya, membuat Akila secara perlahan lahan mulai tersadar dan membuka matanya.
"Aw..." rintih Akila ketika merasakan sesuatu yang hangat menyentuh area kulitnya yang terluka.
"Kau sudah sadar Ki?" tanya Elbara kemudian ketika mendengar suara rintihan Akila barusan.
Akila mengangguk dengan pelan ketika mendengar pertanyaan dari Elbara barusan. Dengan perlahan Akila mulai bangkit dan mencoba menyandarkan tubuhnya.
"Tiduran saja jika masih terasa sakit Ki..." ucap Elbara yang merasa tidak tega ketika melihat luka lebam di sekujur tubuh Akila.
"Tidak perlu aku baik baik saja..." ucap Akila dengan lirih.
"Bukankah kali ini Delvano sudah keterlaluan Ki? pria seperti dia tidak bisa di ampuni lagi!" ucap Elbara dengan nada yang penuh penekanan.
Akila yang melihat Elbara mulai terlihat emosi, lantas menggenggam dengan erat tangan pria di hadapannya itu.
"Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak membalas Delvano dengan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepadaku bukan?" ucap Akila dengan nada yang lirih.
"Tapi ini sudah keterlaluan Ki, aku tidak bisa membiarkannya berlaku semena mena seperti ini kepadamu." ucap Elbara lagi yang masih merasa tidak terima akan kelakuan Delvano.
"Tahan emosi mu El... bukankah masih ada cara lain hem?" ucap Akila dengan nada yang lembut.
Elbara yang mendengar ucapan Akila barusan, lantas menghela nafasnya secara kasar berulang kali sambil memejamkan matanya dengan singkat.
"Baiklah, jika begitu... apakah kamu sudah melakukan apa yang aku suruh kemarin?" tanya Elbara kemudian yang lantas di balas Akila dengan anggukan kepala.
**
Yang terjadi sebenarnya tepat sebelum Elbara mengantar Akila kembali ke rumah setelah dari puncak.
"Ki aku sungguh bisa membantu mu jika kamu memberiku kata kata setuju sekali saja... katakan Ki... katakan jika kamu menyetujuinya." ucap Elbara sambil menggenggam erat tangan Akila.
"..."
Elbara yang melihat Akila tidak menjawab pertanyaannya dan hanya menundukkan kepala saja, lantas langsung menghela nafasnya dengan panjang.
"Baiklah jika kamu belum menginginkannya maka aku tidak akan memaksa mu lagi." ucap Elbara kemudian sambil menarik tangannya perlahan dari tangan Akila.
Hanya saja sebelum tangan Elbara menjauh dari tangannya, Akila lantas menggamit tangan Elbara dan menangkupnya dengan erat.
"To... tolong aku..." ucap Akila kemudian dengan nada yang terdengar bergetar, membuat Elbara lantas tersenyum ketika mendengarnya.
__ADS_1
Keesokan paginya tepat setelah Delvano berangkat ke Stasiun televisi, Akila yang sudah memastikan bahwa Delvano sudah berangkat kerja, mulai melakukan semua arahan dari Elbara.
Akila memasang kamera pengawas berukuran mini di spot spot tertentu di mana Delvano biasa menyiksa dirinya.
"Maafkan aku mas" ucap Akila dengan lirih.
**
Kembali kepada Elbara dan juga Akila.
"Ya aku sudah melakukan segala hal sesuai dengan arahan mu.
"Bagus... kau sudah melakukan yang terbaik Ki, aku berjanji akan menolong mu dan membantu mu keluar dari jeratan Delvano." ucap Elbara dengan nada yang lembut seakan mencoba untuk menenangkan Akila yang tengah gelisah saat ini.
"Terima kasih banyak El..." ucap Akila dengan lirih.
"Sekarang kamu istirahatlah, aku akan mengurus sesuatu terlebih dahulu." ucap Elbara kemudian.
Akila yang melihat Elbara bangkit dan hendak berlalu pergi, lantas langsung menahan tangan Elbara hingga menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Elbara.
"Jangan pergi ku mohon..." pinta Akila dengan wajah yang memelas.
"Aku hanya di ruangan sebelah dan tidak akan lama, istirahatlah lebih dahulu... aku janji tepat setelah kamu bangun, aku sudah berada di samping mu." ucap Elbara dengan nada yang lembut, membuat Akila lantas secara perlahan mulai melepaskan genggaman tangannya.
Setelah Akila melepaskan genggamannya, Elbara kemudian mengelus dengan lembut rambut Akila kemudian berlalu pergi dari sana.
**
Di ruangan sebelah
Elbara terlihat tengah sibuk berkutat dengan laptop miliknya. Dengan perlahan layar laptop mulai menampilkan rekaman dari sebuah kamera pengawas di mana terbagi menjadi 6 kotak yang memenuhi layar laptop tersebut.
Elbara mencermati setiap isi dari rekaman tersebut pada tiap kotaknya, hingga sampai pada bagian di mana terlihat Akila tengah di hajar habis habisan sambil di perlakukan sebagai ****** barulah Elbara menjeda videonya.
"Benar benar pria brengsek yang tak punya adab! bagaimana bisa dia memperlakukan istrinya seperti binatang?" ucap Elbara dengan nada yang penuh emosi ketika melihat rekaman vidio tersebut.
Elbara yang terlanjur kesal, lantas langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel miliknya dan mendial nomor Arga di sana.
"Halo tuan" ucap Arga tepat ketika panggilannya terhubung.
"Hubungi semua media dan minta mereka menayangkan File yang aku kirim malam ini juga." ucap Elbara memberikan perintah.
__ADS_1
"File tentang apa ini tuan?" tanya Arga dengan penasaran karena tidak biasanya Elbara melibatkan media dalam urusannya.
"Lakukan saja perintah ku maka kamu akan mengetahuinya, dan satu hal lagi sensor bagian Akila agar tidak terlalu terlihat oleh publik." ucap Elbara lagi yang membuat Arga langsung mengerti ketika nama Akila di sebut oleh tuannya.
"Baik tuan" ucap Arga kemudian.
"Bagus" ucap Elbara sambil hendak memutus sambungan telponnya namun urung.
"Tuan tunggu..." ucap Arga tepat sebelum Elbara memutus sambungan telponnya.
"Ada apa?" tanya Elbara kemudian.
"Berkas perceraian anda sudah siap tuan" ucap Arga.
"Lalu untuk Akila?" tanya Elbara kemudian.
"Saya juga sudah menyiapkannya." ucap Arga lagi.
"Bagus, kirimkan berkas itu besok pagi kepada Viona dan juga Delvano... ingat jangan terburu buru dalam memberikan yang asli karena aku yakin mereka berdua pasti akan langsung menyobek berkas tersebut begitu sampai di tangan mereka." ucap Elbara memberikan perintah.
"Baik tuan" jawab Arga lagi, baru setelah itu sambungan telpon terdengar terputus begitu saja.
"Aku yakin kali ini kamu pasti tidak akan bisa menghindarinya lagi!" ucap Elbara dengan tatapan yang tajam ke arah depan.
**
Tengah malam di Stasiun televisi
Di ruang tunggu, terlihat Delvano tengah sibuk membaca skrip untuk berita yang akan ia bawakan sebentar lagi. Dirogohnya saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya di sana, kemudian mendial nomer seseorang pada layar ponsel miliknya.
"Halo" ucap Delvano ketika sambungan telponnya terhubung.
"Ada yang bisa saya bantu? tumben sekali seorang pembawa berita ternama menghubungi saya secara langsung." ucap seseorang di seberang sana.
"Jangan menggoda ku seperti itu..." ucap Delvano dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Baiklah baiklah ada masalah apa kamu menghubungi ku?" tanya seseorang di seberang sana.
"Aku memiliki informasi lengkap tentang siapa wanita yang berselingkuh dengan Elbara, apa kau..." ucap Delvano namun terhenti ketika sebuah siaran berita terdengar jelas di telinganya.
Berita tak sedap kali ini datang dari seorang pembawa berita ternama tanah air, sebuah rekaman kamera pengawas mendadak bocor dan menyebar ke seluruh media.
Dalam rekaman kamera pengawas tersebut terlihat seorang Delvano Sebastian menyiksa istrinya dengan membabi buta tanpa berperikemanusiaan sama sekali, berikut adalah cuplikannya.
__ADS_1
Bersambung