Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 34


__ADS_3

Terkadang, hidup terasa tidak adil. Di saat kita sudah bahagia dengan apa yang kita miliki, maka takdir dengan tak mau tahu datang mengambil. Di saat kita sudah siap untuk melepaskan, takdir datang dan mencoba untuk menawarkan. Dan semua itu kini sedang dialami kedua lelaki itu.


Adrian, yang sedang merasakan kebahagiaan, kini harus rela melepaskan. Dan Reihan yang sudah mulai ingin melepaskan, malah kini ditawari kebahagiaan. Dan Lani, berada di antara kedua lelaki itu.


Di dalam kamarnya, Reihan masih memikirkan tentang semua yang dikatakan Adrian padanya. Walaupun di dalam hatinya dia masih mencintai Lani, tapi dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Adrian. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin menyakiti perasaan Adrian.


Namun, mendengar pengakuan Adrian tentang penyakitnya membuat Reihan merasa kasihan padanya. Dan apa jadinya jika Lani harus merasakan kehilangan orang yang sangat dicintainya dan apa mungkin dia mampu memenuhi permintaan terakhir Adrian?


Malam itu, Lani duduk menemani Adrian di dalam kamarnya. Dia tidak ingin meninggalkan Adrian barang sedetikpun. Hampir dua bulan, Adrian terbaring tak berdaya dan selama itu juga dia masih setia menunggu. Dan kini, dia tidak ingin melepaskan kesempatan itu. Adrian sudah tersadar dan dia ingin menikmati kebersamaan mereka.


"Kenapa kamu lihat aku terus? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Adrian dengan senyum pada gadis itu yang menatapnya dengan lembut.


"Sudah lama aku tidak melihat senyummu, aku rindu kebersamaan kita seperti ini," jawab Lani sambil menggenggam tangan kekasihnya itu dan mengecupnya mesra.


Adrian tersenyum. Dibelainya rambut kekasihnya itu. "Aku minta maaf." Tiba-tiba saja Adrian meminta maaf padanya.


"Untuk apa minta maaf, kamu tidak punya salah kenapa harus minta maaf?"


"Aku minta maaf, karena aku tidak bisa lagi menemani kamu, aku tidak bisa lagi mewujudkan impian kita," ucapnya dengan menahan air mata.


"Kenapa bicara seperti itu? Kita akan selalu bersama. Aku akan menemanimu sampai kapanpun dan aku akan mewujudkan impian kita," ucap Lani tegar walau hatinya mencoba menahan tangis.


"Terima kasih karena sudah hadir dalam kehidupanku. Terima kasih karena sudah memberikan cintamu padaku. Aku sangat bahagia selama bersamamu dan aku tidak akan menyesal walau aku harus ... " ucapannya terhenti. Bibirnya bergetar hebat dan air mata yang coba dia tahan akhirnya jatuh. Melihat Adrian yang semakin sedih membuat Lani tak bisa membendung air matanya. Dipeluknya kekasihnya itu dengan erat seakan tak ingin lagi dia lepaskan.


"Aku tahu aku akan pergi dan aku ingin pergi dengan senyum bahagia. Aku tidak ingin melihatmu berduka karena aku pasti akan sedih. Karena itu, aku mohon agar kamu bisa merelakan kepergianku agar aku bisa pergi dengan damai," lanjutnya sambil memeluk gadis itu.


"Aku sayang sama kamu, sampai kapanpun kamu akan selalu ada di hatiku dan itu tidak akan pernah berubah," ucap Lani sambil menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Adrian. 


Adrian sadar, sulit bagi Lani untuk bisa mengikhlaskan kepergiannya dan dia tidak ingin gadis itu menghabiskan hidupnya sendirian hanya karena merasa bersalah padanya.


Adrian melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah gadis itu. Perlahan, tangannya menghapus air mata yang dari tadi mengalir di pipi gadis itu. "Jangan siksa dirimu seperti itu. Aku ingin kamu hidup bahagia selepas kepergianku kelak. Berbahagialah, karena aku akan bahagia jika kamu juga bahagia."


"Kamu akan baik-baik saja dan kita akan bahagia," ucap Lani seakan dia ingin mengingkari kenyataan kalau Adrian sudah tidak punya waktu lagi.


"Lani, lihat aku," ucap Adrian sambil menatap gadis itu. 


"Berjanjilah padaku, kalau kamu akan bahagia. Aku minta maaf, kalau aku meminta lebih, tapi aku tahu ada seseorang yang masih mencintaimu setulus hati. Ada seseorang yang menyayangimu, bahkan rasa sayangnya padamu mengalahkan rasa sayangku padamu. Selama ini, Tuhan hanya menitipkanmu padaku, agar aku bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupku dan aku sadar, sudah saatnya aku mengembalikanmu padanya," ucap Adrian dengan perasaan tulus.


"Maksud kamu apa? Tidak ada orang yang lebih menyayangiku selain kamu, dan aku menyayangimu lebih dari siapapun."

__ADS_1


"Aku tahu dan aku bahagia untuk itu, tapi aku mohon, bantulah aku agar bisa menemukan akhir kebahagiaanku, yaitu melihatmu bahagia bersama Reihan, karena hanya dia yang bisa menggantikanku untuk menjagamu."


Lani terdiam. Hanya air mata yang mengalir di pipinya. Entah, dia harus mengiyakan atau menolak.


"Berjanjilah padaku, aku mohon," ucap Adrian dengan nada suara yang mulai melemah.


"Kamu kenapa?" tanya Lani panik ketika tubuh Adrian perlahan melunglai di pelukannya.


"Adrian, aku mohon jangan pergi!!" teriak Lani tambah panik.


"Berjanjilah padaku," ucap Adrian yang terdengar melemah.


"Aku janji, aku janji, tapi aku mohon jangan pergi," teriak Lani panik hingga membuat orang tua Adrian datang ke kamarnya.


"Ada apa?" tanya Annisa tak kalah panik.


"Adrian, Tante, Adrian," ucap Lani sambil membaringkan tubuh Adrian di tempat tidur.


"Papa akan telepon dokter." 


"Tidak perlu, Pa," ucap Adrian sambil menggenggam tangan ibunya.


Annisa mengangguk dan berusaha tegar. Dia sudah siap dengan keadaan ini, tapi kesedihan karena melihat keadaan anak yang sangat disayanginya itu membuat dia tidak bisa menahan tangis.  "Maafkan kesalahan Papa dan Mama, kami sayang sama kamu dan kami ikhlas, Nak," ucap Annisa dengan tangis sesenggukan.


Adrian tersenyum. Tiba-tiba saja, Reihan datang dan masuk ke dalam kamar. Sepertinya, dia baru saja berlari karena nafasnya terlihat turun naik dengan cepat.


"Kamu di sini?" tanya Adrian dengan senyum di wajahnya.


"Aku tidak tahu kenapa aku bisa datang ke sini, perasaanku tidak enak tentang kamu," jawab Reihan sambil memegang tangannya.


"Akhirnya, aku bisa pergi dengan tenang," ucapnya sambil menggenggam tangan Reihan dan Lani. Mereka berdua hanya mengangguk dengan menahan tangis.


"Berjanjilah padaku, kalian akan selalu bersama. Rei, to..long ja..ga.. Laa...nniii." Perlahan, tangan Adrian mulai melemah dan akhirnya genggaman tangannya pun terlepas dengan mata yang perlahan menutup dan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.


Tangis Lani pecah. Digoyang-goyangkan tubuh kekasihnya itu yang sudah terkulai layu. Wajah Adrian yang selalu tersenyum untuknya, kini terlihat sayu. Yang ada hanya seonggok tubuh tak bernyawa. Tubuh yang selalu hangat saat dipeluknya kini telah dingin dan membeku.


Lani menangis di atas tubuh Adrian yang sudah mulai dingin. Reihan yang menyaksikan itu turut menangis, walau dia ingin memeluk gadis itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Sementara kedua orang tua Adrian berusaha untuk tegar walau air mata tak bisa mereka tahan.


"Lani, jangan seperti itu. Adrian pasti akan sedih kalau kamu menangis seperti ini," ucap Annisa sambil memeluk gadis itu walau dia sendiri tidak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


Lani kemudian menghapus air matanya. Dilihatnya lagi tubuh Adrian yang sudah ditutupi kain. Lani kemudian duduk di samping tubuh Adrian. Dibukanya kembali kain yang menutupi wajah lelaki itu, perlahan Lani mengecup dahi Adrian yang sudah terlihat pucat.


"Aku sayang sama kamu dan selamanya kamu akan selalu ada di hatiku.Terima kasih untuk cintamu padaku. Bahagialah disana," bisik Lani pelan di telinga Adrian. Perlahan, terlihat air mata keluar dari mata Adrian yang sudah terpejam. Lani menghapus air mata itu dan juga menghapus air matanya. Lani, yang awalnya terlihat bersedih kini mulai terlihat tegar. Dia sadar, bukan tangisan yang Adrian harapkan darinya. Dan dia akan berusaha untuk ikhlas dan menerima kenyataan kalau kini Adrian sudah tak lagi bersamanya.


Sementara Reihan, hanya bisa memandangnya. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Menjelang pagi, terlihat teman-temannya sudah datang.


Iva, yang baru saja datang langsung memeluk sahabatnya itu. "Kamu yang sabar, ya," ucap Iva sambil menangis.


Lani mengangguk. Wajahnya datar. "Jangan menangis, Adrian tidak ingin di tangisi," ucap Lani sambil menghapus air mata Iva.


Sikap Lani terlihat aneh. Raut wajahnya terasa datar. Tatapan matanya seakan kosong. Yang dilakukannya hanya duduk di samping jenazah Adrian. Tanpa suara, tanpa ekspresi. Hanya tatapan yang lurus ke arah jenazah Adrian hingga pandangannya teralihkan ketika mereka mulai mengangkat jenazah itu dan membawanya dengan tandu.


Saat itulah, air matanya jatuh ketika melihat jenazah Adrian yang perlahan diturunkan ke liang lahat. Kini, tubuh itu akan sendirian. Tubuh itu akan kedinginan. Lani semakin tak kuasa menahan tangisnya hingga akhirnya dia pun terjatuh dan pingsan.


Melihat Lani yang pingsan, sontak saja membuat Reihan panik dan langsung saja digendongnya tubuh gadis itu dan dibawanya ke dalam mobil.


Orang-orang yang melihat kejadian itu tidak kuasa menahan tangis. Mereka terharu melihat Lani yang menangisi kekasihnya itu hingga pingsan.


Sementara di dalam mobil, Lani terbaring tak berdaya. Iva dan Diana langsung menemaninya dan Reihan yang enggan pergi dari sisinya.


"Dia pasti sangat sedih karena kehilangan Adrian, dia terlihat kurus," ucap Iva dengan air mata yang mulai jatuh sambil mengelus pipi sahabatnya itu.


Perlahan, Lani membuka matanya. Dia ingin kembali ke tempat pemakaman, tapi segera dilarang oleh Reihan. "Pemakamannya sudah selesai, lebih baik kamu istirahat saja di sini," ucap Reihan lembut.


"Tapi, dia sendirian di sana, aku ingin menemaninya," tangis Lani semakin menjadi. Dia ingin keluar dari mobil, tapi Reihan segera memeluknya. "Aku tahu kamu sedih, tapi tolong jangan siksa dirimu seperti ini," ucap Reihan yang mencoba membujuknya.


"Aku tidak butuh kamu, biarkan aku pergi bersama Adrian, aku mohon," ucap Lani memohon dan membuat Reihan melepaskan pelukannya dan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya.


Lani kemudian berlari ke arah kuburan Adrian yang sudah tertutup tanah. Dipegangnya sebuah kayu yang bertuliskan nama kekasihnya itu dan menangis pilu. Orang tua Adrian dan ibunya memandangnya dengan air mata yang jatuh. "Lani, ayo kita pulang, Nak," ajak ibunya sambil menuntunnya untuk berdiri.


"Tapi, Ma, Adrian kesepian. Adrian sekarang sendiri, Ma," ucap Lani hingga membuat mereka menangis.


"Adrian sudah bahagia di sana, jangan seperti ini. Adrian pasti akan sedih kalau melihat kamu seperti ini," ucap Annisa mencoba untuk membujuknya.


Mereka sangat paham dengan kondisi Lani. Mereka tahu betapa sedihnya kehilangan orang yang sangat dicintai, tapi hidup harus terus berjalan. Setelah dibujuk, akhirnya Lani mau meninggalkan kuburan Adrian walau dengan tangis yang memilukan hati.


Hidup hanya sementara. Kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil. Kita tidak tahu, kita akan bahagia atau menderita selama kita hidup. Maka dari itu, bersyukurlah. Jalani hidupmu dengan baik dan jangan takut dengan kematian karena kematian itu adalah pasti. Dan mati adalah menuju hidup yang kekal dan abadi.

__ADS_1


__ADS_2