
"Baiklah El... jika kamu memilih jalan yang ini maka aku juga akan memilih jalan ku sendiri..." ucap Viona lagi kemudian melajukan mobilnya meninggalkan pelataran Apartment mewah tersebut.
Viona benar benar tidak habis pikir jika selama ini baik Elbara dan juga Akila ternyata sudah tinggal bersama, entah sejak kapan Viona sendiri tidak tahu pastinya namun semakin mengetahui faktanya malah semakin membuat Viona merasa terluka dan juga telah di tipu oleh Elbara.
"Mengapa aku bodoh sekali? hingga tidak mencium bangkai tikus yang di simpan rapat oleh Elbara sejak lama." ucap Viona pada diri sendiri sambil tersenyum sinis ketika memikirkan kembali kebodohannya selama ini.
Viona terus melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota dengan perasaan yang campur aduk, hingga ketika Viona yang sudah melajukan mobilnya dengan jarak beberapa kilometer, lantas langsung menghentikan mobilnya secara mendadak di tepi jalan.
"Mengapa aku malah kabur? yang salah kan mereka... harusnya kalau perlu aku adu panco sama tuh perempuan gatel! dasar bodoh kau Vio!" ucap Viona sambil mengetuk kepalanya dengan pelan dan merutuki kebodohannya.
Viona yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan, kemudian lantas langsung memutar kembali mobilnya menuju ke Apartment Elbara hendak memberi pelajaran kepada kedua manusia itu karena telah menipunya selama ini.
"Aku tidak bisa diam saja donk, mereka yang bermain maka mereka pula yang harus menerima konsekuensinya. Bukankah hukum alam selalu saja begitu?" ucap Viona dengan nada yang penuh penekanan sambil terus fokus menatap jalanan sekitar.
***
Apartment Elbara
Elbara dan juga Akila yang baru saja datang, lantas langsung berpapasan dengan Lina dan juga suster Dona yang hendak pergi keluar untuk berjalan jalan di area taman Apartment karena memang hari ini adalah jadwal Lina untuk pergi jalan jalan walau hanya berkeliling taman Apartment saja.
"Mau jalan jalan ya sus?" tanya Akila ketika melihat Dona menggandeng tangan Lina hendak pergi keluar.
"Ia bu..." ucap Dona sambil tersenyum dengan ramah.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan saya ikut ke bawah bersama dengan kalian... menikmati suasana taman Apartment bukankah sangat menyenangkan?" ucap Akila sambil langsung menggandeng tangan Lina yang sebelahnya lagi, membuat Lina lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Akila kemudian kembali menatap kosong ke arah depan tanpa mengatakan sepatah kata apapun atau menolak permintaan Akila barusan.
"Tentu saja bu..." jawab Dona dengan tersenyum dan langsung mengiyakan permintaan Akila barusan, sedangkan Elbara yang mendengar hal tersebut hanya bisa tersenyum ketika melihat tingkah manja Akila yang menginginkan ikut ke bawah.
"El aku pergi dulu ya..." ucap Akila kemudian berpamitan kepada Elbara.
"Ya jangan lama lama" ucap Elbara yang lantas di balas Akila dengan anggukan kepala tanda menyetujui akan ucapan dari Elbara barusan..
Setelah mendapatkan ijin dari Elbara, baik Akila, Dona, dan juga Lina pada akhirnya melangkah secara bersamaan turun ke bawah untuk berkeliling sebentar di area taman Apartment.
**
Taman Apartment
Akila terlihat tengah mengajak Lina berjalan jalan mengelilingi taman sebentar, sedangkan Dona mengambil jarak sedikit menjauh dari keduanya agar baik Lina dan juga Akila bisa saling berbagi cerita antara satu sama lainnya karena memang pengidap demensia selalu melupakan segala hal yang pernah mereka lewati meskipun hal tersebut berkesan sekalipun. Jadi ketika melihat Akila menceritakan masa kecilnya kepada Lina, Dona sebagai suster yang merawat Lina selama ini tentu saja langsung paham dan memberikan ruang kepada anak dan ibu itu untuk berbagi cerita.
"Apa mama tahu, mama dulu sering memasakkan ku bubur ayam karena gigi ku sering sakit jika memakan makanan yang keras? mama dulu bahkan sampai memarahi ku karena walaupun sakit gigi aku tetap mengkonsumsi permen dalam jumlah yang banyak, apa mama ingat akan hal itu?" ucap Akila sambil menceritakannya dengan penuh semangat berharap Lina bisa mengingat memori tersebut.
Lina yang sedari tadi mendengarkan cerita Akila hanya menoleh sebentar ke arah Akila kemudian menggeleng dengan pelan, membuat Akila yang melihat tanggapan dari Lina barusan hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang.
Akila mencoba untuk tetap tersenyum walau sebenarnya perasaannya kali ini benar benar sedih.
"Jika mama tidak ingat tidak apa apa, Akila akan menceritakan banyak hal menarik lainnya di masa lalu hingga membuat mama kembali pada masa itu." ucap Akila lagi sambil mengajak ibunya untuk duduk di sebuah bangku taman yang tidak jauh dari tempatnya berada.
__ADS_1
"Sus bisa tolong belikan 3 air mineral di sana?" ucap Akila kemudian sambil menunjuk seorang pedagang asongan keliling yang kini tengah berdiri di pinggir jalan menjajakan dagangannya.
"Baik bu" ucap Dona sambil menerima selembar uang dari Akila dan berlalu pergi menghampiri pedagang asongan tersebut.
Akila membenarkan anak rambut ibunya dengan lembut sambil tak henti hentinya tersenyum menatap ke arah ibunya.
"Kita akan memulai hidup yang baru ma aku janji..." ucap Akila pada diri sendiri.
Ketika asyik menatapi sang ibu, sebuah deringan ponsel lantas mulai terdengar membuat Akila langsung dengan spontan mengambil ponsel miliknya untuk melihat siapa penelpon tersebut.
"Bukankah ponsel ini baru? mengapa sudah ada telpon masuk? harusnya gak ada yang tahu nomor telpon ku bukan?" ucap Akila bertanya tanya karena memang ia baru membeli ponsel pagi ini bersama Elbara, jadi jika tiba tiba ada panggilan masuk tentu itu tidak mungkin bukan?
"Mama jangan kemana mana ya... Akila angkat telpon dulu gak jauh kok hanya di situ.." ucap Akila sambil menunjuk area belakang bangku taman tersebut.
"Lagi pula suster Dona sebentar lagi akan kembali bukan?" ucap Akila dalam hati sambil melirik ke arah Dona yang sedang berbincang dengan pedagang asongan tersebut.
Lina yang di ajak berbicara hanya diam kemudian mengangguk, baru setelah memastikan mamanya tidak akan ke mana mana Akila lantas bangkit dan mulai menerima telponnya.
**
Sedangkan tanpa Akila sadari, semenjak tadi Akila dan juga Lina berkeliling di taman Apartment, Viona tengah memperhatikan segala gerak gerik keduanya dalam posisi yang tidak jauh dari tempat mereka.
Seulas senyum nampak terbit dari wajah Viona ketika mendapat sebuah ide berlian yang tiba tiba terlintas di kepalanya.
__ADS_1
"Sepertinya aku tahu harus melakukan apa?" ucap Viona dalam hati ketika menatap kepergian Akila untuk mengangkat sebuah telpon.
Bersambung