
Di dalam mobil Elbara
Terlihat Elbara tengah mengobati jari tangan Akila yang terluka, sedangkan Akila nampak masih sesenggukan dan tidak bisa berhenti menangis walau Elbara selesai mengobati jari tangannya.
"Apakah rasanya sakit sekali?" tanya Elbara sambil mengelus pelan jari tangan Akila yang sudah di balut plester olehnya.
Akila yang mendapat pertanyaan tersebut lantas menggeleng dengan pelan sambil berusaha menghentikan tangisannya, namun sedetik berikutnya ia lantas mengangguk sambil kembali menangis hingga membuat Elbara menjadi tak tega melihat Akila yang terus terusan seperti itu.
"Jangan menangis lagi, ada aku di sini hem... tenanglah..." ucap Elbara sambil membenarkan anak rambut Akila yang berantakan.
"Apa kamu mau ku antar ke suatu tempat untuk menenangkan sedikit perasaan mu?" tanya Elbara kemudian.
"Aku... aku lelah..." ucap Akila kemudian dengan mulut yang bergetar.
"Lalu kamu mau aku bagaimana?" tanya Elbara kemudian dan langsung di balas Akila dengan gelengan kepala, hingga membuat Elbara lantas menghela nafasnya panjang ketika melihat jawaban dari Akila.
Elbara yang tidak lagi mendengar ucapan dari Akila selain isakannya yang sedari tadi menggema memenuhi mobilnya, lantas langsung melajukan mobilnya begitu saja tanpa arah dan tujuan.
Elbara melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota sambil sesekali melirik ke kursi penumpang di mana Akila masih mencoba untuk menenangkan dirinya.
Hingga hampir satu jam lebih mengemudi tanpa arah dan tujuan, Elbara memutuskan untuk menghentikan mobilnya di sebuah Villa miliknya yang terletak di puncak. Akila yang sedari tadi menangis dan diam saja, lantas baru menyadari bahwa dirinya di bawah ke puncak oleh Elbara.
Lokasi Villa kali ini berbeda dengan lokasi Villa yang di tempati Elbara ketika tak sengaja bertemu dengan Akila waktu itu. Hingga Akila lantas dengan spontan menatap ke arah Elbara seakan bertanya tentang semua ini.
"Bukankah kamu mau beristirahat? tidurlah di dalam, tidak akan ada yang mengganggu mu. Aku memilih lokasi yang jauh dari rumah mertua mu atau bahkan tempat yang selalu di datangi suami dan juga mertua mu, jadi kamu tidak perlu khawatir akan ketahuan." ucap Elbara sambil membuka sabuk pengamannya dan melangkahkan kakinya turun dari mobil.
Akila yang mendengar ucapan Elbara barusan, lantas langsung menggenggam dengan erat sabuk pengamannya sambil menggigit bibir bagian bawahnya.
"Apa keputusan ku kali ini sudah benar? aku sudah berjalan terlalu jauh, hingga tanpa sadar aku malah tidak ingin kembali ke tempat yang semestinya. Akan kah kekhilafan ku akan di maafkan?" ucap Akila dalam hati sambil meremas sabuk pengamannya dengan erat.
__ADS_1
Tok tok tok
Suara kaca mobil di ketuk dari luar, lantas membuyarkan Akila dari lamunannya. Akila yang melihat Elbara menunggu di luar kemudian langsung menurunkan kaca mobilnya secara perlahan.
"Apa kamu berubah pikiran? jika ia aku akan mengantarmu kembali ke ibu kota." ucap Elbara kemudian yang tak kunjung melihat Akila turun dari mobil
"Eh iya aku akan turun sebentar lagi." ucap Akila kemudian pada akhirnya.
**
Di dalam kamar yang terletak di Vila milik Elbara.
Akila dan juga Elbara lantas terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Elbara dengan cekatan membuka tirai yang menutup pintu kaca di mana di bagian luar langsung tembus ke arah taman dengan air mancur yang menyejukkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Istirahatlah selama yang kamu mau Ki, aku akan berjaga di luar... jika kamu butuh apa apa panggil saja aku." ucap Elbara setelah memastikan bahwa segalanya sudah baik dan aman untuk Akila tempati.
"Ada apa Ki?" tanya Elbara ketika melihat Akila menghentikan langkah kakinya.
"Jangan pergi..." pinta Akila yang lantas membuat Elbara menghela nafasnya panjang.
Elbara yang mendengar permintaan Akila, lantas langsung mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi kemudian mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil menepuk bantal, seakan mengisyaratkan Akila untuk segera berlayar ke pulau impian.
"Kemarilah... aku tidak akan pergi kemana mana." ucap Elbara kemudian.
Akila yang melihat hal tersebut lantas langsung merebahkan dirinya tepat di sebelah Elbara. Elbara yang dalam posisi duduk bersandar di sebelah Akila, lantas menepuk pundak Akila secara perlahan agar Akila segera berlayar ke pulau impian.
"Tidurlah Ki... lupakan semua masalah mu..." ucap Elbara sambil terus menepuk pundak Akila, sedangkan Akila semakin memposisikan tubuhnya mendekat ke arah kaki Elbara.
**
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, barulah terdengar nafas teratur dari Akila yang menandakan ia tengah tertidur dengan lelap. Hingga kemudian keringat dingin mulai membasahi dahi Akila disertai dengan bibir yang bergetar seperti tengah ketakutan.
Elbara yang melihat hal tersebut lantas langsung mengusap peluh di dahi Akila kemudian mengusap punggung Akila secara perlahan berusaha menenangkannya.
"Tenanglah Ki.. aku ada di sini bersamamu... tenanglah..." ucap Elbara berulang kali mencoba menenangkan Akila dari mimpi buruknya.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya Ki, tapi ketika melihat dirimu seperti ini rasanya aku seperti ikut merasakan rasa sakitnya. Aku benar benar tidak bisa melihatmu terus terusan seperti ini Ki... jika semua bisa di limpahkan aku akan dengan sukarela menerimanya..." ucap Elbara dengan nada yang sendu di setiap kata katanya.
****
Beberapa jam berlalu
Akila yang tertidur dengan lelapnya, lantas langsung terbangun ketika ia baru sadar bahwa dirinya sedang tidak berada di rumah.
Akila yang terkejut lantas langsung bangkit dari tidurnya, hingga membuat Elbara yang juga sedang tertidur di sampingnya dengan posisi terduduk ikut bangkit karena terkejut akan gerakan yang tiba tiba dari Akila barusan.
"Ada apa Ki?" tanya Elbara yang terkejut akan gerakan tiba tiba dari Akila barusan.
"Jam berapa ini El? bagaimana jika Delvano pulang dan tidak menemukan aku di manapun?" ucap Akila dengan raut wajah yang kebingungan serta takut jika apa yang ada di pikirannya benar benar terjadi.
"Tenangkan dulu dirimu Ki... dengarkan aku... semua akan baik baik saja oke... sekarang pergilah dulu ke kamar mandi dan cuci wajahmu agar terlihat lebih fresh baru kemudian setelah itu kita pulang." ucap Elbara sambil menatap ke arah Akila agar bersikap sedikit lebih tenang dan tidak terburu buru dalam mengambil tindakan.
Akila yang mendengar ucapan Elbara barusan, lantas menghembuskan nafas secara perlahan kemudian mengangguk seakan mengerti akan ucapan Elbara.
Keduanya kemudian lantas bangkit dan mulai bergerak, Akila menuju ke arah kamar mandi sedangkan Elbara keluar dari kamar dan bersiap untuk pulang.
Hubungan yang terlarang ada karena kekosongan yang terjadi di antara hati setiap insan manusia. Kita tidak bisa mengarahkan kemana hati kita pergi karena pernikahan adalah sebuah takdir yang terjalin antara dua manusia. Bukankah ada istilah mencintai hanya sekali sedangkan sisanya adalah melanjutkan hidup. Ya mungkin itu adalah perumpamaan yang pas untuk menggambarkan keadaan Akila dan juga Elbara saat ini.
Bersambung
__ADS_1