
Sesampainya di rumah, sebelum ia memasuki rumahnya, Anabel menghapus kembali bulir bulir air matanya yang masih membasahi pipinya, setelahnya ia segera memasuki rumahnya.
"Bel, gimana kamu uda bertemu Ferdi? dan menemuinya? mama uda mempersiapkan keperluan Bulan supaya kita segera bawa Bulan ke dokter bersama." ucap April.
"Kita bawa Bulan ke rumah sakit sendiri aja ya Ma, Mas Ferdi masih sibuk dan ada keperluan jadi mungkin lebih baik kita bawa Bulan duluan ke dokter, biar Ferdi nanti menyusul saja."
ucap Anabel kepada April.
"Hemm begitu ya, yasudah yuk kita bawa Bulan duluan ke rumah sakit. Tapi kamu tadi sudah bertemu Ferdi belum?" ucap April. Sedangkan Anabel yang di tanya hanya diam.
"Bel, jawab Mama kamu sudah bertemu Ferdi belum?" tanya April,
"Sudahlah Ma, kita langsung bawa Bulan ke rumah sakit sekarang." ucap Anabel.
"Hemm, baiklah Bel. Mama merasa ada sesuatu antara kamu dan Ferdi. Tapi ya sudalah karena yang terpenting saat ini Bulan segera di bawa ke rumah sakit." ucap April.
"Bintang, David ayo ke rumah sakit sekarang, ikut eyank sama Bunda antar Bulan ke rumah sakit. Ohya Bel, kamu juga hati hati gendhong Afnan. Biar Bulan mama yang gendong. Kamu sama fokus k Afnan," ucap April.
"Iya Ma, Bulan secepatnya harus di bawa ke rumah sakit. Biar nanti mas Ferdi nyusul saja Ma." ucap Anabel yang segera mengikuti langkah April menuju mobil.
"Iya udah yuk." ucap April dengan menaiki mobilnya. Dan mereka pun segera pergi ke rumah
sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Bulan pun segera di bawa perawat ke IGD dan segera di tangani oleh dokter..
"Dok, cucu saya sakit apa?" tanya April. sedangkan Anabel hanya berdiri sebentar dan ia duduk kembali, Anabel pun hanya diam saja, mencoba mendengarkan apa yang di jelaskan oleh dokter.
Karena sungguh hatinya tengah kacau saat ini, ia benar benar tak sanggup berdiri terlalu lama ataupun sekedar mengucapkan satu kata.
"Humm cucu ibu terkena tipes juga hati. Jadi saya minta jaga makanannya ataupun pikirannya jangan sampai stres dan kecapean. Banyak istirahat dulu y
agar cepat sembuh." ucap Dokter tersebut.
"Yaa Allah, lalu berapa hari harus di rawat di sini?" tanya April kembali.
"Insya Allah gak terlalu lama, mungkin hanya waktu 3 hari saja. Sebenarnya cepat atau tidaknya anak ibu di sini tergantung kepulihan kondisinya.
__ADS_1
Dan kepulihan kondisinya di tentukan dari banyaknya istirahatnya, bukan hanya fisiknya tapi juga pikirannya." ucap dokter itu kembali.
"Yaa Allah, ujian apalagi ini... Semoga cucu saya lekas sembuh." lirih April.
"Sepertinya cucu ibu ini banyak pikiran, tolong turuti yang dia inginkan dan jangan kasih beban pikiran ya agar kondisinya cepat pulih. Nanti apotek akan kasih resepnya ya Bu. Yasudah saya permisi dulu ya Bu, Assalamualaikum." ucap dokter tersebut.
"Iya Dok, terimakasih ya..." ucap April. Dan dokter itu pun berlalu.
"Yaa Allah, kenapa ujian ini terus menghampiri kita. Bulan semoga lekas sembuh sayang, anak mama." ucap Anabel yang menghampiri Bulan dan duduk berada di dekatnya dengan menggemgam
tangan Bulan.
"Ma, apa Bulan merindukan Anna? apa aku harus minta Mas Ferdi untuk menelfon Ana? tapi berarti dengan begitu, aku harus merelakan Ferdi menikah dengannya dong? " tanya Anabel lirih.
"Enggak Bel, Mama gak setuju. Mama gak setuju kamu minta Ferdi telfon Ana. Lagipula mama yakin Bulan sakit bukan karena merindukan Ana. Ana itu bukan siapa siapanya dan kamu orang tuanya
jadi jika pun ada yang harus Bulan rindukan itu kamu bukan Ana, yang bukan siapa siapanya." ucap April yang mulai tersulut emosi.
"Tapi Ma..." lirih Anabel, yang sudah bingung, hati dan fikirannya sedang kacau.
"Mama bilang enggak ya gak Bel." ucap April dengan nada tegas, yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan tersebut untuk menenangkan dirinya. Sedangkan Anabel tak lagi bisa menahan Isak tangisnya dan ia membiarkan bulir bulir air mata membasahi pipinya. Dan tak beberapa menit kemudian, Ferdi pun telah sampai di rumah sakit dan segera masuk ke ruangan tersebut.
"Bulan sudah tidur ya? gimana keadaan Bulan? kata dokter apa?" tanya Ferdi.
"Mama pergi dari ruangan ini karena aku tadi membahas soal masalah kamu dan Ana. Tapi ya sudalah aku gak ingin membahasnya sekarang, karena aku ingin fokus dengan kesehatan
Bulan." ucap Anabel.
"Bulan kena tipes dan hati. Kata dokter harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran." ucap Anabel kembali.
"Yaa Allah, maafkanku yank. Tapi bukankah Bulan gak tau masalah ini? kenapa dia bisa jatuh sakit seperti itu?" tanya Ferdi.
"Hemm, sebaiknya kita bicara di luar saja." ucap Ferdi.
Dan mereka pun segera keluar dari ruangan tersebut. Dan melanjutkan menjawab pertanyaan Ferdi.
"Bulan rindu Ana mas.." ucap Anabel.
__ADS_1
"Rindu Ana?" tanya Ferdi.
"Iya, rindu Ana. Lalu aku harus bagaimana Mas?" tanya Anabel.
"Mas gak tau. Apa sebaiknya kita mencoba menghubungi Ana saja? supaya Ana datang ke sini, mungkin dengan begitu Bulan bisa sembuh, mungkin Bulan merindukan Ana saat ini." ucap Ferdi.
"Menelfon Ana? menyuruhnya datang ke sini? lalu setelah itu kamu akan menikahi Ana? iya begitu Mas? jawab aku!! Iya begitu?." ucap Anabel dengan mencoba menahan emosinya dan Isak tangisnya.
"Bel, tolong tenang." ucap Ferdi.
"Tenang? gimana aku mau tenang? kalau kamu menduakanku dengan sahabatku sendiri? " lirih Anabel.
"Terus kamu mau gimana? kamu mau Bulan sakit seperti ini? kenapa sih kamu egois? mungkin Bulan merindukan Dina, jadi biarlah dia bertemu sebentar saja dengan Dina dan aku janji Dina ke sini bukan untuk menikah denganku." ucap Ferdi.
"Jangan Bel, mama gak setuju." ucap April yang tiba tiba datang.
"Kenapa Ma? Bulan mungkin sakit seperti yang ini karena merindukan Dina atau Ana. Hanya sebentar Ma mereka bertemu lagi pula Ferdi takkan menikahinya." ucap Ferdi kembali.
"Iya sekarang kamu bisa bilang gak menikahi dia tapi nanti gak ada yang tau bila kalian sudah bertemu. Bisa saja kamu akan bilang, jika Bulan membutuhkan Dina di sisinya selalu. Terus
kamu akan nikahi Dina.
Sementara kamu tau Mama gak akan pernah merestui kalian menikah kecuali kamu terus memilih di antara salah satunya, Anabel atau Ana. Dan jika kamu lebih memilih Ana, mama gak mau liat muka kamu lagi di hadapan mama apalagi di rumah mama, karena itu keputusan yang sudah kamu putuskan. Dan mama yakin yang di butuhkan Bulan saat ini itu Anabel, bundanya. Bukan Ana yang bukan siapa siapanya.
Pokoknya Mama gak mau tau. Mama gak mau Ana kamu datangkan ke sini." ucap April.
"Gimana Bel, menurutmu?" tanya April kembali.
"Ah, entalah Ma, Anabel terlalu pusing memikirkan semuanya. Anabel terserah kalian saja.." ucap Anabel lirih, karena ia sudah terlalu pusing memikirkan tentang hal ini.
"Saran mama, kita lihat dulu keadaan Bulan untuk beberapa hari ini. Bila Bulan masih menyebut nama Ana, ya ntar kita lihat saja dulu dan bisa cari solusi yang lain." ucap April, yang masih mempertahankan pendiriannya.
"Bel, aku bingung dan aku gak paham jalan pikiran Mama kamu, ah terserah kalian sajalah. Mas permisi dulu." ucap Ferdi yang berlalu pergi, begitu saja.
"Liat itu suami kamu..." ucap April.
"Ah, entalah Ma, Anabel bingung , capek dan untuk teriak. Anabel benar benar lelah Ma dengan ini semua.." ucap Anabel yang mencoba menahan Isak tangisnya.
__ADS_1
"Ma, tolong jaga Bulan ya. Anabel titip Bulan dan anak anak, Anabel ingin menenangkan diri dulu ke sana." ucap Anabel, yang kemudian berlalu pergi.
"Ana, kenapa kamu harus masuk dalam rumah tangga anakku.." lirih April, dan ia pun masuk ke dalam ruangan Bulan.