Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 8


__ADS_3

Semenjak kehadiran Lani di kelas mereka, Raka dan Reihan sering didatangi ketiga sahabatnya itu. Mereka yang awalnya tidak pernah dekat dengan gadis manapun, kini dengan mudahnya bergaul dengan kedua gadis itu. Dan tanpa sadar, kedekatan mereka telah membuat cewek-cewek yang mengidolakan mereka menjadi geram. "Apa sih hebatnya kedua perempuan itu? Apalagi si Lani, baru masuk saja sudah sok-sok akrab sama Reihan dan teman-temannya," ucap salah satu cewek ketika melihat Lani sedang bercanda dengan Raka.


"Cantik sih iya, tapi sayang, gatal," jawab cewek di sebelahnya ketus.


"Kalian kenapa?" Tiba-tiba Riana muncul di dekat mereka.


"Tuh lihat, Reihan dan teman-temannya sedang asyik bercanda dengan Lani dan Iva, sampai ketawa-ketawa begitu."


"Perasaan, kita saja yang sudah kenal mereka dari kelas sepuluh tidak diperlakukan seperti itu."


Riana hanya bisa memandang ke arah Reihan dan teman-temannya. Dalam hatinya terasa sakit karena mengingat penolakan Reihan waktu itu dan perhatian yang selama ini dia curahkan untuk Reihan yang tidak pernah dianggap. "Gadis itu harus diberi pelajaran," ucapnya dalam hati.


Jam istirahat berbunyi dan seperti biasa, mereka sudah bersiap-siap untuk lari di lapangan.


"Tolong jaga seragamku, ya. Abang mau lari dulu," ucap Ian sambil memberikan seragamnya pada Lani dengan senyum mengejek pada teman-temannya.


Dengan senyum, Lani mengambil seragam itu dan melipatnya dengan rapi. Melihat tingkah Ian, Raka tidak mau kalah. Seragamnya yang baru dibukanya kemudian diberikan pada Iva.


"Seragamku juga, tolong dijaga, ya."


"Ya sudah, sini seragam kalian biar kami berdua yang jaga. Sana, cepat lari sebelum jam istirahat selesai," ucap Iva sambil mengambil seragam mereka dan mulai melipatnya dan menaruhnya di atas meja.


Setelah semua berkumpul di lapangan, mereka kemudian berlari, sementara Iva dan Lani berdiri di depan kelas sambil memandangi mereka.


Melihat kedua gadis itu memandangi mereka membuat Ian bersemangat. Sambil berlari, Ian dan Raka melambaikan tangan pada kedua gadis itu dan dibalas lambaian tangan oleh Iva. Sontak saja semua mata memandangi mereka, seolah tak percaya kalau kedua gadis itu ternyata sangat dekat dengan cowok-cowok tampan itu.


Sementara Reihan hanya bisa melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Walau sebenarnya dia merasa cemburu dengan Ian yang dengan mudahnya bisa membuat Lani tersenyum bahkan tertawa.


Dalam hatinya, Reihan mulai menyukai gadis itu semenjak pertama kali melihat dia berdiri di depan kelas. Sejak saat itu, hatinya mulai bergetar dan perasaan itu tidak pernah dia rasakan pada gadis lain.


"Ayo, temani kita ke kantin," ajak Ian pada kedua gadis itu saat mereka selesai berlari.


"Ayo," jawab Iva sambil menggadeng tangan Lani dan berjalan menuju kantin.


Setibanya di kantin, mereka bertemu dengan Adrian dan beberapa anggota gengnya dan juga Riana. Dengan sikap acuh tak acuh, Reihan dan teman-temannya duduk dan memesan teh dingin.


"Kakak lihat, kan? Cewek itu sudah semakin berani," bisik Riana pada Adrian. Adrian kemudian berdiri dan mendekati tempat duduk mereka.


"Apa kalian sudah kekurangan anggota cowok sampai cewek pun kalian embat?" ucap Adrian dengan sombongnya sambil memandang ke arah Lani.


"Kamu mau tidak, bergabung dengan gengku?" tanya pemuda itu sambil melihat ke arah Lani.


Mendengar ucapan Adrian, Ian kemudian berdiri sambil memukul meja. "Maksud kamu apa? Jangan cari masalah dengan kami kalau tidak ingin kami hajar," ucap Ian marah dengan tangan yang sudah dikepalkan.


Jangankan Ian, semua anggota geng Smantilaz yang ada di kantin sudah berdiri bersiap-siap untuk berkelahi, terkecuali Reihan yang masih duduk tenang di kursinya.


"Kenapa? Kalian mau pukul aku? Nih pukul," ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke arah mereka.


Andai Reihan tidak segera mencegahnya, Ian pasti sudah memukul wajah Adrian. "Kita pergi, jangan ladeni dia. Kalian berdua, ayo berdiri," ucap Reihan pada kedua gadis itu dan membiarkan kedua gadis itu berjalan di depannya.


"Kenapa pergi, kalian takut, ya? Hei gadis cantik, penawaranku masih berlaku, loh," teriak Adrian sambil tertawa sinis.


Melihat mereka pergi, Adrian merasa di atas awan. Dia tahu kalau Reihan tidak akan meladeninya, karena itu dia berusaha untuk memancing kemarahan Reihan.


"Kenapa tadi kamu mencegahku? Kalau tadi kamu tidak mencegahku sudah aku hajar wajahnya sampai babak belur," ucap Ian sambil memukul meja dengan penuh amarah.


"Jangan terpengaruh. Dia hanya ingin membuatmu marah dan memukulnya. Setelah itu, kamu pasti akan diskors," ucap Reihan dengan sikap yang dingin walau sebenarnya dia sangat ingin menghajar Adrian.

__ADS_1


"Kami minta maaf, gara-gara kami kalian hampir berkelahi," ucap Lani pelan.


"Siapa bilang itu gara-gara kalian. Adrian itu memang tidak suka dengan kami, mungkin dia iri karena melihat kami dekat dengan kalian. Kalian berdua jangan berpikiran seperti itu," jawab Raka mencoba meyakinkan mereka berdua.


"Benar kata Raka. Jangan kalian pikirkan masalah tadi," jelas Reihan sambil memandangi Lani.


Dalam hatinya, Reihan sangat marah ketika mendengar Adrian berkata seperti itu kepada Lani. Rasanya, dia ingin menghajar wajah Adrian yang menjengkelkan itu, tapi dia berusaha untuk menahan diri karena dia tidak ingin membuat masalah yang bisa merugikannya dan juga teman-temannya.


"Untung saja tadi Kakak tidak di apa-apakan sama mereka, kalau tidak seisi kantin bisa hancur karena perkelahian kalian," ucap Riana ketika datang ke kelas Adrian.


"Jangan khawatir, Kakak hanya ingin memancing kemarahan mereka," jawabnya sambil senyum tipis di bibirnya.


"Kok, Kakak malah senyum-senyum begitu, sih? Lagi memikirkan apa?"


"Gadis itu, sepertinya Kakak suka sama dia."


"Kalian para lelaki semua sama saja. Tidak kakak, tidak Reihan, semua suka sama dia. Aku jadi tambah benci sama cewek itu," ucapnya kesal sambil pergi meninggalkan Adrian.


Melihat tingkah adik sepupunya yang cemberut, Adrian hanya tersenyum. Sejenak, Adrian mengingat kembali ekspresi itu, saat Lani menatapnya walau hanya sekilas. Dalam hati kecilnya, dia mulai merasakan perasaan suka pada Lani dan dia bertekad untuk merebut gadis itu dari sisi Reihan.


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Lani dan Iva sudah bersiap karena hari itu adalah tugas harian mereka. Setelah ruangan kelas mulai kosong, kelima cowok itu kemudian mengatur kursi di atas meja. Sementara kedua gadis itu mulai menyapu lantai yang tidak terlalu kotor. Bahkan, Ian juga membantu menyapu walau sebenarnya tidak berguna. Melihat sikap Ian, kedua gadis itu hanya tertawa walau biji keringat sudah memenuhi wajah mereka.


"Sudah, kamu di luar saja, nanti kami berdua yang akan menyapu kelasnya," ucap Iva.


"Ian, kenapa kamu di situ? Kamu bukannya membantu, tapi tambah bikin susah mereka saja," teriak Raka di depan pintu.


Ian kemudian bergegas keluar dari kelas. Tak lama kemudian, sampah yang tidak terlalu banyak itu diangkat ke tempat sampah oleh cowok-cowok itu.


"Kalian duluan saja, kita ke toilet dulu," ucap Iva.


"Kita tunggu di halaman parkir. Mulai sekarang, kalian akan kami antar pulang," ucap Ian dan diiyakan teman-temannya.


"Jangankan kamu, aku juga takut, apalagi saat Adrian memandangmu. Kamu lihat kan, Ian sangat marah."


"Apa kamu pernah seakrab ini dengan mereka?"


"Jangankan akrab, ditatap saja tidak pernah. Aku sendiri masih tidak percaya kalau sekarang aku berteman dengan mereka," jelas Iva sambil tersenyum.


"Itu pasti karena kamu," lanjut Iva sambil memandang sahabatnya itu.


"Maksudmu?"


"Sudah, ah. Aku tunggu di depan ya," ucap Iva dengan senyum sambil berjalan meninggalkannya.


Lani hanya memandangi kepergian sahabatnya itu, sementara dia masih membasuh wajah dan tangannya. Setelah selesai, Lani kemudian keluar dari toilet.


Dengan santainya, Lani berjalan menyusuri koridor kelas hingga tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Wah, kamu masih di sini, ya? Kebetulan kita bertemu," ucap Adrian yang  ternyata sudah berdiri di depannya.


Lani berusaha untuk tidak mempedulikannya dan mencoba untuk terus berjalan, tapi Adrian berusaha menghentikan langkahnya dan berdiri di depannya hingga dia terpojok dan tersandar ke dinding.


Dengan jarak yang hanya satu langkah, Adrian berdiri di depannya dengan wajah yang tersenyum. "Kenapa, apa kamu takut? Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin melihat wajahmu," ucap Adrian sambil mengangkat wajah Lani yang tertunduk dan langsung saja Lani menepis tangannya itu.


"Kamu mau apa? Jangan macam-macam, kalau tidak, aku akan teriak," ancam Lani sungguh-sungguh dengan suara mulai bergetar.


"Teriak saja, lagipula sekolah sudah kosong. Tidak ada yang akan mendengar teriakanmu," ucapnya dengan tatapan tajam ke wajah Lani.

__ADS_1


Lani masih tersandar di dinding dengan wajah ketakutan. Dia ingin berteriak, tapi tubuhnya seakan tidak bisa bergerak. Sementara Adrian, malah semakin mendekatkan wajahnya yang hanya berjarak satu jengkal darinya.


"Sssshhh, kenapa menangis? Aku tidak akan menyakitimu, kok," ucap Adrian sambil menghapus air mata gadis itu yang sudah terjatuh di pipi gadis itu.


"Ternyata kamu sangat cantik dan aku suka sama kamu. Apa kamu mau menjadi pacarku?" Tiba-tiba Adrian mengatakan hal itu sambil membelai rambut Lani yang terjatuh di dahinya dan tak cukup hanya itu, Adrian bahkan berusaha untuk menciumnya.


Melihat perlakuan Adrian, sontak saja membuat Lani berusaha berontak dan memalingkan wajahnya.


"Aku tidak sekeji itu. Aku tidak mungkin menyakitimu, tapi kamu sudah berhasil membuat hatiku gelisah," ucap Adrian yang sudah mengurungkan niatnya itu sambil menatap lekat ke wajah Lani.


"Aku akan mendapatkanmu dan aku akan merebutmu dari Reihan. Bila perlu, aku akan menyakitinya agar kamu mau datang kepadaku," ucapnya sambil melangkah mundur dan pergi meninggalkan Lani yang masih berdiri tak bergerak.


Lani langsung terduduk dengan tatapan mata yang kosong dan air mata yang mulai jatuh di pipinya.


"Lan, kamu kenapa?" Tiba-tiba Iva datang dan berlari mendekatinya.


Lani tidak menjawab, bahkan dia seperti seseorang yang sedang bingung. Hingga akhirnya, tangisannya pecah dalam pelukan sahabatnya itu.


"Kamu kenapa?" tanya Iva ketika mereka sudah masuk ke dalam kelas. Sementara Lani, sudah bisa mengontrol diri, tapi sesekali masih terdengar sesenggukan.


"Tadi aku bertemu dengan Adrian." Lani tidak melanjutkan kalimatnya, tapi dia tertunduk dan menahan tangis.


"Kamu kenapa menangis? Memangnya dia lakukan apa ke kamu?" tanya Iva penasaran.


Lani terisak. "Dia bilang, dia suka padaku dan dia ingin aku menjadi pacarnya. Dia ingin merebutku dari Reihan dan dia akan menyakiti Reihan agar aku datang padanya," ucapnya dengan lirih.


"Aku takut, Va. Aku takut gara-gara aku, Adrian akan menyakiti Reihan," ucapnya sambil memeluk sahabatnya itu.


Lani sengaja tidak menceritakan seluruh kejadian tadi pada Iva. Adrian yang begitu berani memperlakukan dia seperti itu, telah berhasil membuat dia menjadi trauma dan takut pada Adrian. Dia ingin melupakan perlakuan Adrian walau sebenarnya itu sangat sulit.


"Tenanglah, kalau begitu aku akan ceritakan kejadian ini pada Reihan."


"Jangan Va, jangan. Apa kamu ingin mereka berkelahi gara-gara aku? Aku mohon, jangan ceritakan apapun," lanjutnya.


Melihat sahabatnya yang ketakutan membuat Iva menjadi sedih. Dia merasa bersalah karena tidak menemaninya dan dia baru ingat kalau tadi dia sempat berpapasan dengan Adrian di koridor kelas.


Sementara Reihan dan teman-temannya, masih menunggu mereka di parkiran sekolah.


"Mereka berdua kok lama," ucap Ian khawatir.


"Sebentar lagi, biasalah cewek," jawab Rifal.


"Tuh, mereka sudah datang," ucap Raka sambil menunjuk ke arah dua gadis itu.


"Ayo, kita antar pulang," ajak Ian.


"Tidak usah. Aku minta maaf, kalian sudah menunggu lama, tapi sepertinya Lani kurang enak badan. Makanya lebih baik kami berdua naik angkot saja. Tidak apa-apa, kan?"


"Kamu sakit?" tanya Ian panik.


"Tidak apa-apa, kok."


"Ya, sudah. Kalian pulang naik angkot saja dan kamu langsung istirahat biar cepat sembuh," ucap Reihan sambil menuju gerbang sekolah dan menghentikan sebuah angkot yang kebetulan lewat.


"Naiklah," ucapnya pada kedua gadis itu.


"Cepat sembuh, ya," ucap Raka ketika kedua gadis itu masuk ke dalam angkot.

__ADS_1


Lani hanya tersenyum dan bersandar di bahu sahabatnya itu dengan wajah yang masih terlihat pucat.


Sementara Reihan berusaha untuk menyembunyikan rasa khawatirnya. Mereka kemudian menaiki motornya masing-masing dan mengikuti angkot yang ditumpangi kedua gadis itu.


__ADS_2