Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 25


__ADS_3

Karena aku gak ingin lama lama di sini


bersama pembunuh ...." ujar Ana dengan nada kebencian, yang sontak membuat


mereka terkejut dan bertanya tanya dengan maksud perkataan yang di ucapkan oleh


Ana.


"Maksud kamu apa Ana?" ujar


Ferdi bertanya.


"Iya maksud kamu apa An?"


ucap Anabel.


"Tolong jelaskan kepada kami,


maksud kamu!!" tegas April.


"Apa kalian tidak tau? atau pura


pura tidak tau?" ucap Ana kembali.


"Kami benar benar tidak


tau." jawab April, memotong perkataan Ana.


"Baiklah biar aku


jelaskan..."


"Pak Hery ... dia pembunuh."


ujar Ana dengan nada penuh kebencian.


"Pembunuh??" lirih Anabel


yang tak percaya apa yang baru saja ia dengar.


"Pembunuh? hati hati dengan


perkataanmu An, Papa mertua saya bukan pembunuh !!" tegas Ferdi.


"Apa maksudmu? suami saya


pembunuh? hati hati kamu jika bicara atau kamu akan saya penjarakan karena


telah menuduh suami saya seperti itu." ujar April, sontak terkejut dengan


perkataan Ana dan mencoba menahan emosinya.


"Penjarakan? Ibu April mau


penjarakan saya? Hahahaha, ibu ... ibu, Asal ibu tau apa yang saya katakan ini


kebenaran, jika Pak Hery adalah pembunuh. Pembunuh kedua orang tuaku.."


Ana berbalik dan menatap tajam ke arah April dengan penuh kebencian dan menahan


emosinya.


"Maksud kamu apa Ana? hati hati


ya kamu jika bicara. Suami saya bukan pembunuh apalagi pembuh orang tua kamu


bahkan kami tidak mengenal orang tua kamu.


Asal usul kamu saja tidak jelas dan


bagaimana mungkin kami mengenalimu bahkan suami saya pembunuh kedua orang


tuamu? jangan bercanda...!! Jika kamu tak berhenti menuduh dan mencemarkan nama


baik suami saya, saya bisa pastikan kamu akan di penjara!! ." tegas April


yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya.


"Yang seharusnya hati hati itu


tante.


Tante hati hati dengan ucapan tante,

__ADS_1


jangan sedikit, sedikit mengatakan memenjarakan ke saya, jika tante sendiri


tidak tau kebenarannya bagaimana...!!" ucap Ana mendekat April.


"Emang bagaimana kebenarannya?


kami saja tidak memahami asal usul kamu dan siapa kamu!! ... " April tak


kalah menatap tajam ke arah Ana.


"Baik, biar saya


jelaskan..." Ana mulai mencoba menjelaskan maksud perkataannya.


"Kalian memang benar tidak


mengenali saya, tapi saya sangat mengenali pak Hery, seseorang yang telah


berhasil merenggut kedua orang tua saya dan kebahagiaan saya kala itu."


Ana berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya..


"Perkenalkan, saya Ana


khourunnisa.. Saya seorang mualaf kala itu.. Dulunya saya bukan Islam, tentu


juga dengan kedua orang tua saya. Untuk menjemput hidayahnya dan Istiqomah di


jalan yang telah aku ambil pun tak mudah karena kedua orang tuaku tak


mengizinkan aku untuk masuk Islam.


Mereka memberikan ku pilihan untuk


keluar dari rumah jika aku tetap memegang teguh agamaku atau memilih melepaskan


agamaku yang baru dan tetap di rumah.


Sungguh aku benar benar tak sanggup


bila harus melepaskan agamaku yang baru, aku pun merasa ragu dan payah bila aku


tetap di rumah itu, mungkin aku takkan bisa Istiqomah dan membawa mereka menuju


itu. Setelah aku keluar dari rumah, aku menemukan teman yang pada akhirnya


membawaku hijrah, Rara aku bertemu dengannya dan berteman dengannya hingga Rara


mengajakku untuk tinggal di pondok bersamanya. Dan aku pun mondok di pondok


milik Rara, sahabatku. Perlahan di sana aku menemukan lingkungan baik dan aku


bisa Istiqomah. Setelah lulus dari pondok itu aku pun memutuskan meneruskan


kuliah di unervesitas Al Azhar hingga aku lulus S2 dan mengajar menjadi dosen di


sana selama 2 tahun, aku pun kembali ke Indonesia, mengajar kembali ke pondok,


bertemu Rara sahabatku dan menemui kedua orang tuaku dengan berharap aku bisa


membawa mereka masuk Islam. Meski tak mudah awalnya, karena mereka belum mau


berdamai dengan agama baruku. Tapi aku yakin, aku bisa membawa mereka karena


aku merasa perbekalan yang ku pelajari selama ini cukup untuk membuatku


memberikan pengertian, menghadapi dan mengajak mereka ke agama baruku. Dengan


perlahan, tentunya dengan izin Allah aku bisa mengajak kedua orang tuaku ke


agama Islam.


Sungguh aku bahagia dan harapan demi


harapan mulai aku rajut. Namun kejadian yang tak ku inginkan itu terjadi dan


membuat langkahku lemah juga duniaku runtuh..." Ana menarik nafas sebentar


untuk menghilangkan sesak yang ia rasakan, sebelum melanjutkan kembali


ucapannya.


"Aku mendapatkan kabar jika Papa

__ADS_1


kecelakaan dan kabar yang aku dengar teman bisnisnya lah yang membuat Papa


kecelakaan, sungguh saat itu aku benar benar tak paham dunia bisnis dan Papaku


pun meninggal. Perlahan Mamaku yang tengah hamil tua depresi mendengar kabar


Papaku yang kecelakaan karena teman bisnisnya lah yang membuat Papa kecelakaan


bahkan hingga meninggal dunia. Mama perlahan kondisinya memburuk, tak nafsu


makan, dan kesehatannya terganggu dengan kondisi mama yang tengah hamil tua.


Hingga aku pernah membawa Mamaku ke


rumah sakit jiwa namun rumah sakit jiwa tak lagi dapat menangani mamaku karena


mamaku yang seringkali membahayakan sekitar anak anak yang berkunjung di rumah


sakit tersebut bahkan karyawan di sana.


Hingga aku memutuskan merawat mamaku


lagi dan kondisi mama justru semakin memburuk dengan aku merawatnya di rumah


hingga perlahan aku benar benar kehilangan mamaku untuk selamanya dan calon


adikku yang tengah di kandung mamaku.


Ya, mamaku meninggal dan aku benar


benar kehilangan keluargaku, Papaku, Mamaku dan calon adikku. Saat itu aku


benar benar berjanji ingin membalas dendam ku kepada orang tersebut yang telah


membuat Papa meninggal hingga membuat mamaku depresi dan berakhir meninggal dengan


calon adikku. Ya Pak Hery, dia telah merenggut kebahagiaanku yang pernah ku


rajut dan saat itu perlahan harapanku pudar terlebih saat tau sahabatku Rara


meninggal dan tidak ada lagi teman berbagi cerita untukku." Ana


menghentikan ucapannya.


"Lalu maksudmu apa cerita semua


itu? dan apa hubungannya dengan suami saya?" April masih tak mengerti


maksud dari perkataan Ana.


"Iya nak, apa maksud kamu? bisa


jelaskan kepada kami. Apa salah bapak dengan cerita kamu? hingga kamu menuduh


bapak sebagai pembunuh kedua orang tuamu? bapak benar benar gak paham, tolong


jelaskan!!" Hery mulai angkat suara.


"Kalian masih tak paham maksud


cerita yang baru saja ku ceritakan? baiklah biar aku perjelas kembali Bapak


Hery..." Ana mulai mendekati pak Hery.


"Pembunuh yang aku maksud,


seseorang yang telah sengaja mencelakai Papaku karena bisnis antara mereka,


hingga papaku meninggal dan mamaku depresi hingga meninggal juga bersama calon


adikku.


Ya aku kehilangan keluargaku, Papaku,


mamaku dan calon adikku dan seseorang penyebab itu semua yang aku maksud adalah


anda Pak Hery!! belum jelas?! Anda lah penyebab orang tuaku meninggal pak


Hery!! anda lah seseorang yang ku maksud, teman bisnis papa yang membuat papaku


meninggal. Anda lah orang yang saya maksud, pak Hery!! tak paham juga? hah?!!"


teriak Ana histeris, dan pernyataan Ana membuat semua orang di sana terkejut

__ADS_1


hingga mereka kelu dan terdiam.


__ADS_2