
Karena aku gak ingin lama lama di sini
bersama pembunuh ...." ujar Ana dengan nada kebencian, yang sontak membuat
mereka terkejut dan bertanya tanya dengan maksud perkataan yang di ucapkan oleh
Ana.
"Maksud kamu apa Ana?" ujar
Ferdi bertanya.
"Iya maksud kamu apa An?"
ucap Anabel.
"Tolong jelaskan kepada kami,
maksud kamu!!" tegas April.
"Apa kalian tidak tau? atau pura
pura tidak tau?" ucap Ana kembali.
"Kami benar benar tidak
tau." jawab April, memotong perkataan Ana.
"Baiklah biar aku
jelaskan..."
"Pak Hery ... dia pembunuh."
ujar Ana dengan nada penuh kebencian.
"Pembunuh??" lirih Anabel
yang tak percaya apa yang baru saja ia dengar.
"Pembunuh? hati hati dengan
perkataanmu An, Papa mertua saya bukan pembunuh !!" tegas Ferdi.
"Apa maksudmu? suami saya
pembunuh? hati hati kamu jika bicara atau kamu akan saya penjarakan karena
telah menuduh suami saya seperti itu." ujar April, sontak terkejut dengan
perkataan Ana dan mencoba menahan emosinya.
"Penjarakan? Ibu April mau
penjarakan saya? Hahahaha, ibu ... ibu, Asal ibu tau apa yang saya katakan ini
kebenaran, jika Pak Hery adalah pembunuh. Pembunuh kedua orang tuaku.."
Ana berbalik dan menatap tajam ke arah April dengan penuh kebencian dan menahan
emosinya.
"Maksud kamu apa Ana? hati hati
ya kamu jika bicara. Suami saya bukan pembunuh apalagi pembuh orang tua kamu
bahkan kami tidak mengenal orang tua kamu.
Asal usul kamu saja tidak jelas dan
bagaimana mungkin kami mengenalimu bahkan suami saya pembunuh kedua orang
tuamu? jangan bercanda...!! Jika kamu tak berhenti menuduh dan mencemarkan nama
baik suami saya, saya bisa pastikan kamu akan di penjara!! ." tegas April
yang sudah tak bisa lagi menahan emosinya.
"Yang seharusnya hati hati itu
tante.
Tante hati hati dengan ucapan tante,
__ADS_1
jangan sedikit, sedikit mengatakan memenjarakan ke saya, jika tante sendiri
tidak tau kebenarannya bagaimana...!!" ucap Ana mendekat April.
"Emang bagaimana kebenarannya?
kami saja tidak memahami asal usul kamu dan siapa kamu!! ... " April tak
kalah menatap tajam ke arah Ana.
"Baik, biar saya
jelaskan..." Ana mulai mencoba menjelaskan maksud perkataannya.
"Kalian memang benar tidak
mengenali saya, tapi saya sangat mengenali pak Hery, seseorang yang telah
berhasil merenggut kedua orang tua saya dan kebahagiaan saya kala itu."
Ana berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya..
"Perkenalkan, saya Ana
khourunnisa.. Saya seorang mualaf kala itu.. Dulunya saya bukan Islam, tentu
juga dengan kedua orang tua saya. Untuk menjemput hidayahnya dan Istiqomah di
jalan yang telah aku ambil pun tak mudah karena kedua orang tuaku tak
mengizinkan aku untuk masuk Islam.
Mereka memberikan ku pilihan untuk
keluar dari rumah jika aku tetap memegang teguh agamaku atau memilih melepaskan
agamaku yang baru dan tetap di rumah.
Sungguh aku benar benar tak sanggup
bila harus melepaskan agamaku yang baru, aku pun merasa ragu dan payah bila aku
tetap di rumah itu, mungkin aku takkan bisa Istiqomah dan membawa mereka menuju
itu. Setelah aku keluar dari rumah, aku menemukan teman yang pada akhirnya
membawaku hijrah, Rara aku bertemu dengannya dan berteman dengannya hingga Rara
mengajakku untuk tinggal di pondok bersamanya. Dan aku pun mondok di pondok
milik Rara, sahabatku. Perlahan di sana aku menemukan lingkungan baik dan aku
bisa Istiqomah. Setelah lulus dari pondok itu aku pun memutuskan meneruskan
kuliah di unervesitas Al Azhar hingga aku lulus S2 dan mengajar menjadi dosen di
sana selama 2 tahun, aku pun kembali ke Indonesia, mengajar kembali ke pondok,
bertemu Rara sahabatku dan menemui kedua orang tuaku dengan berharap aku bisa
membawa mereka masuk Islam. Meski tak mudah awalnya, karena mereka belum mau
berdamai dengan agama baruku. Tapi aku yakin, aku bisa membawa mereka karena
aku merasa perbekalan yang ku pelajari selama ini cukup untuk membuatku
memberikan pengertian, menghadapi dan mengajak mereka ke agama baruku. Dengan
perlahan, tentunya dengan izin Allah aku bisa mengajak kedua orang tuaku ke
agama Islam.
Sungguh aku bahagia dan harapan demi
harapan mulai aku rajut. Namun kejadian yang tak ku inginkan itu terjadi dan
membuat langkahku lemah juga duniaku runtuh..." Ana menarik nafas sebentar
untuk menghilangkan sesak yang ia rasakan, sebelum melanjutkan kembali
ucapannya.
"Aku mendapatkan kabar jika Papa
__ADS_1
kecelakaan dan kabar yang aku dengar teman bisnisnya lah yang membuat Papa
kecelakaan, sungguh saat itu aku benar benar tak paham dunia bisnis dan Papaku
pun meninggal. Perlahan Mamaku yang tengah hamil tua depresi mendengar kabar
Papaku yang kecelakaan karena teman bisnisnya lah yang membuat Papa kecelakaan
bahkan hingga meninggal dunia. Mama perlahan kondisinya memburuk, tak nafsu
makan, dan kesehatannya terganggu dengan kondisi mama yang tengah hamil tua.
Hingga aku pernah membawa Mamaku ke
rumah sakit jiwa namun rumah sakit jiwa tak lagi dapat menangani mamaku karena
mamaku yang seringkali membahayakan sekitar anak anak yang berkunjung di rumah
sakit tersebut bahkan karyawan di sana.
Hingga aku memutuskan merawat mamaku
lagi dan kondisi mama justru semakin memburuk dengan aku merawatnya di rumah
hingga perlahan aku benar benar kehilangan mamaku untuk selamanya dan calon
adikku yang tengah di kandung mamaku.
Ya, mamaku meninggal dan aku benar
benar kehilangan keluargaku, Papaku, Mamaku dan calon adikku. Saat itu aku
benar benar berjanji ingin membalas dendam ku kepada orang tersebut yang telah
membuat Papa meninggal hingga membuat mamaku depresi dan berakhir meninggal dengan
calon adikku. Ya Pak Hery, dia telah merenggut kebahagiaanku yang pernah ku
rajut dan saat itu perlahan harapanku pudar terlebih saat tau sahabatku Rara
meninggal dan tidak ada lagi teman berbagi cerita untukku." Ana
menghentikan ucapannya.
"Lalu maksudmu apa cerita semua
itu? dan apa hubungannya dengan suami saya?" April masih tak mengerti
maksud dari perkataan Ana.
"Iya nak, apa maksud kamu? bisa
jelaskan kepada kami. Apa salah bapak dengan cerita kamu? hingga kamu menuduh
bapak sebagai pembunuh kedua orang tuamu? bapak benar benar gak paham, tolong
jelaskan!!" Hery mulai angkat suara.
"Kalian masih tak paham maksud
cerita yang baru saja ku ceritakan? baiklah biar aku perjelas kembali Bapak
Hery..." Ana mulai mendekati pak Hery.
"Pembunuh yang aku maksud,
seseorang yang telah sengaja mencelakai Papaku karena bisnis antara mereka,
hingga papaku meninggal dan mamaku depresi hingga meninggal juga bersama calon
adikku.
Ya aku kehilangan keluargaku, Papaku,
mamaku dan calon adikku dan seseorang penyebab itu semua yang aku maksud adalah
anda Pak Hery!! belum jelas?! Anda lah penyebab orang tuaku meninggal pak
Hery!! anda lah seseorang yang ku maksud, teman bisnis papa yang membuat papaku
meninggal. Anda lah orang yang saya maksud, pak Hery!! tak paham juga? hah?!!"
teriak Ana histeris, dan pernyataan Ana membuat semua orang di sana terkejut
__ADS_1
hingga mereka kelu dan terdiam.