Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Episode Terbaru 27


__ADS_3

Setelah menenangkan dirinya dan menghapus air matanya, Ana memanggil taxi untuk ke rumah sakit mengikuti mereka. Bagaimanapun Ana juga ingin mengetahui kondisi Anabel.


Hampir perjalanan 1 jam, Ana pun sampai di rumah sakit dan segera mencari keberadaan mereka. Ana pun menayakan kepada perawat di sana tentang pasien yang bernama Anabel dan perawat tersebut menunjukkan bila Anabel sedang berada di ruang IGD, Ana pun segera ke ruang IGD untuk menghampiri mereka.


Namun Sesampainya di sana, Ana tak berani menghampiri mereka secara la Bu Bungsung, Ana sedikit menjauh dan menjaga jarak karena Ana sendiri pun tak ingin menciptakan keributan di rumah sakit ini terlebih dengan kondisi Anabel seperti itu.


Ana kini hanya bisa menyesal dengan apa yang sudah terjadi.. Apa yang baru saja ia katakan dan apa yang sudah ia lakukan.


Dan jujur saja, Ana merasakan kesakitan yang luar biasa di sudut hatinya saat Ferdi mengatakan kata kata menyakitkan itu, sebelum Ferdi keluar rumah tadi dan membawa Anabel ke rumah sakit.


Ana masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, jika Ferdi mengatakan perkataan menyakitkan itu.


Jika Ferdi sudah tak menginginkan kehadiran nya dan tak ingin melihatnya lagi. Sungguh hatinya terasa sakit saat Ferdi mengatakan hal itu. Saat ini rasanya dunianya gelap, hidupnya hancur dan tak tentu arah. Ana benar benar tidak tau akan ke mana


nantinya dirinya ini...


Ia takut bila Ferdi akan meninggalkannya dan menceraikannya, lalu akan bagaimana nasibnya dan anak yang di kandungnya? Ana sendiri tak ingin kehilangan Ferdi, sungguh Ana masih mencintai Ferdi. Dan Ana pun juga takut bila Ferdi akan


mengusirnya dari rumah itu, bagaimana nasibnya dan anaknya nanti?


Tanpa terasa bulir bulir air mata membasahi pipinya saat mengingat semuanya. Rasanya keseimbangan tubuhnya pun lemah dan hampir saja terjatuh dan seketika Ana memegang kursi yang tersedia di


sana untuk menjadi pegangan dirinya agar tak terjatuh.


#kreeeeek..... ( pintu di buka)


Ana pun terkejut saat pintu IGD di buka...

__ADS_1


"Ana, ngapain kamu di sini??" tanya April.


"Bukankah saya sudah bilang jika saya dan kami tak ingin melihat kamu lagi di hadapan kita!!" tegas April.


Tak seberapa lama Ferdi dan pak Hery pun juga keluar ruangan dan terkejut dengan kehadiran Ana di rumah sakit ini juga terlebih di depan ruangan IGD saat ini.


"Ana??.... ngapain kamu di sini?" tanya Ferdi heran. Ana pun segera menghapus air matanya karena ia


tak ingin terlihat lemah di hadapan mereka terlebih Ferdi. Ana pun kemudian berdiri dan menatap Ferdi untuk berbicara dengannya..


"Aku....aku... Hemm, gimana keadaan Anabel? apa kata dokter? tidak apa apa kan kandungan


Anabel?" ucap Ana.


"Untuk apa kamu menayakan kabar istri saya? bukankah kamu ingin ia seperti ini hingga kamu memiliki saya seutuhnya? bukankah begitu Ana khourunnisa?" tegas Ferdi yang membuat Ana


Fer, aku minta maaf... tolong jangan benci aku dan tinggalin aku. Aku masih mencintaimu Fer, ingat anak yang di kandunganku ini, dia anakmu juga." Ana memegang tangan Ferdi dan mengelus


perutnya.


Namun Ferdi menghempaskan tangan Ana begitu saja hingga hampir saja Ana terjatuh, Ana pun segera mencari pegangan kursi untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak terjatuh.


"Ferdi, kamu jangan begitu nak, bagaimanapun Ana istri kamu dan anak yang di kandungnya itu anak kamu Fer, kamu jangan seperti itu. Papa gak suka dan gak pernah ajarkan kamu seperti itu." tegas Hery pada Ferdi ketika melihat tindakan Ferdi


yang semenah menah kepada Ana juga anak yang di kandungnya.


"Tapi Pa, iya Pa.. maafkan Ferdi." Ferdi tertunduk dan menyesali atas sikapnya di depan Hery.

__ADS_1


"Nak, boleh Papa bicara sama kamu? ada yang ingin Papa bicarakan denganmu terkait ucapanmu tadi ketika di rumah." ucap Hery kepada Ana.


"Bicara apa? saya tak ingin bicara dengan pembunuh seperti anda!! ." setelah mengatakan itu Ana pun segera pergi dari hadapan Hery, karena ia tak sanggup lama lama dengan pembunuh


orang tuanya.


"Tunggu Nak, saya bisa jelaskan dan ingin bicara denganmu sebentar. Tolong jangan seperti ini dan tolong hatimu jangan terlalu di tutupi oleh kebencian dan dendam seperti ini hingga kamu tak


bisa membedakan mana yang benar dan salah.!! " Hery mencoba menasehati Ana.


"Saya bisa kok membedakan mana yang benar dan salah. Saya tau jika anda pembunuh dan selamanya tetap pembunuh sebaik apapun anda berusaha bersikap baik pada saya. Saya takkan melupakan


kejadian hari itu, di mana saya kehilangan orang yang sayang, kehilangan Papa, Mama dan calon adikku." ucap Ana yang tak lagi bisa menahan tangisnya.


"Tolong tenanglah sebentar nak, Papa ingin bicara sesuatu padamu agar kamu tak membenci hal yang tak kamu pahami kebenarannya." Hery memegang pundak Ana, berusaha menenangkan Ana.


"Jangan sentuh saya!!" Ana menghindar saat Hery ingin memegang pundaknya.


"Boleh kan Papa bicara sebentar padamu? untuk bertanya dan mengatakan apa yang seharusnya Papa katakan.. setelah itu silahkan terserah kamu mau menilai dan memandang saya seperti


apa." Hery berusaha tenang menjelaskan pada Ana.


"Baik, silahkan. Tapi aku tak ingin lama lama bicara dengan seorang pembunuh." Ana menghapus air matanya dan memberikan Hery kesempatan untuk bicara.


"Bisa kita ke arah sana saja bicaranya agar tak meganggu pasien di dalam ruang IGD ini bila kita bicara di depan ruangan ini." ajak Hery ke Ana ke tempat yang tidak terlalu ramai.


"Baik..." Ana mengikuti langkah Hery.

__ADS_1


Begitupun dengan April dan Ferdi yang juga penasaran pembicaraan mereka dan mengikuti langkah Ana juga Hery.


__ADS_2