
Setelah bertemu dengan Sarah di luar ruangan Delvano, Vanya kemudian lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Delvano dengan langkah kaki yang santai tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelumnya, membuat Delvano yang mendengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam ruangannya langsung mendongak kemudian mendengus dengan kesal ketika melihat pemilik langkah kaki itu adalah Viona.
Delvano menghentikan aktivitasnya ketika melihat langkah kaki Viona kian mendekat, bayangan tentang satu persatu ucapan dari Sarah barusan kembali berputar di benaknya ketika melihat kedatangan Viona di ruangannya kali ini. Apa yang di katakan oleh Sarah ada benarnya juga, semakin Delvano berusaha memisahkan keduanya dengan berbagai cara semakin membuat keduanya lengket dan tak terpisahkan. Sedangkan Delvano semakin merasa jauh dan sulit untuk menjangkau Akila. Delvano merasa Akila seperti sudah sepenuhnya pergi dan hilang dari kehidupannya saat ini.
"Apa aku mengganggu waktu bekerja mu?" ucap Viona kemudian yang lantas membuyarkan segala lamunan Delvano.
Mendengar pertanyaan dari Viona barusan, membuat Delvano lantas langsung mendongak dan menatap ke arahnya kemudian tersenyum dengan sinis, membuat Viona yang melihat ekspresi Delvano yang seperti itu menjadi bertanya tanya.
"Tentu saja kau sangat mengganggu, apa kau tidak punya pekerjaan selain hanya mengganggu ku?" ucap Delvano dengan nada yang dingin, membuat Viona sedikit bingung akan perubahan nada bicara Delvano kepadanya.
"Apa yang salah? bukankah kita akan membahas tentang rencana kita?" tanya Viona dengan ekspresi raut wajah yang kebingungan.
Sedangkan Delvano yang mendengar ucapan dari Viona barusan, lantas langsung bangkit dari tempatnya dan melangkahkan kakinya mendekati Viona dan mulai bersendekap dada. Menatap dengan tatapan yang tak biasa ke arah Viona, membuat Viona menjadi salah tingkah akan tatapan dari Delvano saat ini kepadanya.
"Setelah di pikir pikir aku rasa... melakukan cara kotor seperti itu tidaklah ada untungnya, lagi pula Akila ku itu sosok yang lembut dan pemaaf, aku yakin jika aku menunjukkan kesungguhan ku Akila akan memaafkan ku." ucap Delvano dengan tersenyum namun berhasil membuat Viona seakan terkejut akan perubahan sikap dan juga pemikiran dari Delvano.
__ADS_1
Hanya saja, Viona yang tadinya memasang wajah terkejut perlahan lahan terlihat mulai tersenyum dengan sinis menatap ke arah Delvano, membuat laki laki itu yang saat ini ganti di buat bingung akan perubahan raut wajah Viona, entah mengapa rasanya seperti Viona sedang membalikkan keadaan saat ini dan mencoba untuk kembali mempengaruhi Delvano agar mengurungkan niatnya itu.
"Kamu mau meminta maaf padanya? ya silahkan saja... lakukan hal itu dan ulangi hingga ke seribu kalinya, bukankah kau ingin menunjukkan ketulusan mu? Delvano... Delvano... mengapa kau itu sangat bodoh sekali?" ucap Viona dengan nada yang mengejek.
Mendengar ejekan Viona barusan membuat Delvano kesal hingga membuang mukanya, Delvano memang ingin menunjukkan ketulusannya kepada Akila, namun ia sama sekali tidak berniat untuk meminta maaf hingga ke seribu kalinya, bukankah itu akan sangat membosankan jika Delvano benar benar melakukannya?
Sedangkan Viona yang melihat Delvano terdiam, lantas langsung tersenyum dengan sinis. Viona melangkahkan kakinya mendekat ke arah Delvano kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Delvano, sambil memegang area dada milik Delvano, Viona lantas membisikkannya sesuatu tepat ke telinga Delvano.
"Jika hanya mengucap kata maaf saja cukup, kau kira aku dan Elbara akan berakhir dengan sebuah sidang perceraian? jangan terlalu gegabah Van, bukankah sesuatu yang pintas lebih mengasikkan dari pada harus menunggu dalam jangka waktu yang panjang?" ucap Viona dengan nada yang berbisik, membuat Delvano langsung terdiam seketika.
Setelah mengucapkan kata kata tersebut Viona nampak tersenyum sekilas ke arah Delvano, kemudian berlalu pergi meninggalkan Delvano dan segala pemikirannya di ruang kerjanya. Melihat Viona pergi dari ruangannya, Delvano hanya menatapnya dengan tatapan yang kosong, seakan sedang bertanya tanya apakah keputusan yang ia ambil sudah sepenuhnya merupakan keputusan yang tepat?
"Di perjuangkan... di perjuangkan... apakah ucapan mama benar atau hanya sebuah iming iming semata saja?" ucap Delvano pada diri sendiri.
****
__ADS_1
Sementara itu Akila terlihat sangat sibuk menata setiap furniture yang datang siang itu di Restonya, Akila mengusung konsep vintage untuk menambah kesan estetik dan juga antik namun masih terkesan modern untuk Resto barunya. Akila sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin akan perpaduan konsep ini, namun tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru, bukan?
Akila tersenyum dengan puas ketika melihat penataan furniturnya terasa sangat memuaskan dan juga cantik tentunya. Setelah puas dan hampir menyelesaikannya, Akila kemudian melangkah kakinya ke arah sebuah sofa yang terletak di sudut ruangan tersebut di mana Elbara mengatakan akan menunggunya di sana selagi Akila masih sibuk menata segalanya bersama beberapa orang yang Akila pekerjakan untuk mengangkat angkat barang dan menata Restonya, sebelum pada akhirnya siap di buka untuk umum.
Akila melangkahkan kakinya dengan senyum yang mengembang, Akila benar benar tidak sabar ingin menunjukkan kepada Elbara hasil dari kreasinya menata Resto baru miliknya. Hanya saja ketika langkah kakinya hampir sampai di sofa tersebut, Akila terlihat menghentikan langkah kakinya ketika ia melihat Elbara tengah tertidur dengan pulasnya dengan posisi duduk di sofa tersebut, membuat Akila langsung tertegun ketika melihatnya.
"Sepertinya dia masih tidak enak badan, kasihan sekali...." ucap Akila dengan nada lirih kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Elbara.
Perlahan lahan Akila mengarahkan tangannya dan mendaratkannya tepat di kening Elbara, untuk mengecek apakah demam Elbara sudah turun atau belum. Hanya saja tepat ketika tangan Akila menyentuh kening Elbara, kelopak mata Elbara perlahan lahan mulai terbuka dan membuat Akila terkejut ketika melihatnya.
"Aku membangunkan mu ya?" ucap Akila dengan nada yang lembut, membuat Elbara lantas langsung tersenyum ketika melihat Akila.
Diam diam Elbara kemudian lantas menarik tubuh Akila dan membuat wanita itu duduk di pangkuannya. Akila yang tidak tahu apa apa tentu saja kaget akan kelakukan Elbara yang langsung memeluknya ketika Akila tengah berada di pangkuannya. Di elusnya dengan perlahan rambut Elbara seakan seperti tengah mengelus dan memanjakan bayi besar, membuat Elbara langsung tersenyum ketika mendapati perlakuan Akila itu. Akila mengecup puncak kepala Elbara sekilas namun detik berikutnya menghujaninya dengan kecupan lagi di area kepala Elbara, membuat senyum Elbara kian mereka ketika Akila melakukan hal tersebut kepadanya.
Elbara lantas mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Akila dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
"Apa kamu selalu semanja ini ketika sedang sakit? dasar bayi besar!" ucap Akila sambil mencubit gemas hidung Elbara.
Bersambung