Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 19


__ADS_3

Reihan masih duduk di depan kamar salah satu rumah sakit. Dengan perasaan khawatir, Reihan masih menunggu ayahnya keluar dari kamar itu. "Pa, bagaimana keadaan, Mama?" tanya Reihan ketika ayahnya baru saja keluar.


"Mama tidak apa-apa, cuma masih perlu istirahat dulu. Katanya tekanan darah tinggi mama naik lagi," jelas ayahnya.


Reihan menarik napas lega. Dia sempat merasa bersalah karena telah membuat ibunya pingsan.


"Seharusnya, kamu jangan membantah Mama kamu. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Lagipula, Mutia itukan teman masa kecil kamu. Kamu tidak bisa merubah keputusaan Mama, jadi kamu jalani saja dulu. Apa kamu ingin melihat Mama jatuh sakit lagi?"


"Tapi Pa, Reihan tidak menyukai Mutia, Reihan menyukai gadis lain."


"Lupakanlah gadis itu. Kalau kamu ingin melihat Mama tetap sehat, maka lepaskanlah dia," ucap ayahnya sambil kembali masuk ke dalam kamar.


Reihan merasa tertekan. Dia merasa hidupnya seakan diatur orang tuanya. Rasanya, dia ingin berontak. Kenapa di saat dia sedang bahagia dengan kehadiran Lani di sisinya, dia justru harus merasakan kehancuran yang luar biasa karena permintaan kedua orang tuanya.


Tanpa dia sadari, Mutia mendengar semua pembicaraan mereka. Dengan senyum kemenangan, akhirnya dia bisa memiliki Reihan, batinnya.


Mutia adalah anak salah satu pengusaha sukses. Karena orang tua mereka berteman, jadi mereka sering bertemu. Bisa dibilang mereka sudah dijodohkan saat masih orok. Karena kesibukan orang tuanya, mereka akhirnya harus berpisah. Padahal saat kecil dulu, mereka selalu bersama. Bahkan, karena perpisahan itu, Reihan kecil harus dibujuk selama seminggu karena terus menanyakan sahabatnya itu. Sementara Mutia, ternyata sudah menyukai Reihan sejak masih kecil, tapi tidak bagi Reihan karena perasaan Reihan padanya perlahan berubah seiring berjalannya waktu.


Sudah tiga hari ibunya terbaring di rumah sakit. Dan dia belum bisa mengambil keputusan. Hidupnya terasa seperti buah simalakama. Dia harus mengambil keputusan untuk memilih di antara dua orang yang begitu disayanginya.


"Rei, bagaimana keadaan ibumu?" tanya Lani ketika mereka baru saja sampai di gerbang sekolah.


"Sudah mulai membaik," ucapnya sambil mengambil tas dari kekasihnya itu. Kebiasaan yang suatu saat nanti akan dirindukannya.


"Semoga mama kamu cepat sembuh, ya," ucap Kania dengan senyum.


Hati Reihan bagaikan teriris. Bagaimana mungkin dia bisa menyakiti gadis itu. Dia tidak sanggup melihat gadis itu menangis. Dia tidak akan melihat senyuman itu lagi. Otaknya buntu, pikirannya tak menentu hingga panggilan Raka pun tidak didengar olehnya.


"Hei, aku panggil-panggil dari tadi kamu tidak dengar?" tanya Raka sambil menepuk bahu Reihan hingga mengagetkannya dari lamunan.


"Hah, kamu bilang apa?" tanya Reihan yang terlihat bingung.


"Tidak apa-apa, kok," ucap Lani mencoba mengalihkan perhatian Reihan sambil menggelengkan kepala pada Raka, seakan mengisyaratkan agar tidak mengganggu Reihan dulu.


Lani paham dengan sikap Reihan karena dia tahu, Reihan pasti sedang memikirkan ibunya yang sedang sakit. Karena itu, dia berusaha untuk bisa menghibur kekasihnya itu. "Jangan sedih, aku yakin ibumu akan baik-baik saja," ucapnya lembut dan penuh perhatian.


"Andai kamu tahu apa yang kini aku hadapi, aku yakin kamu pasti akan pergi meninggalkanku dan tidak akan pernah memaafkanku," ucap Reihan dalam hati.


Perlahan, Reihan menatap wajah kekasihnya itu dan berharap waktu segera berhenti. Ingin rasanya dia memeluk gadis itu dan tidak akan pernah dia lepaskan lagi. Betapa hatinya hancur jika membayangkan harus berpisah dengan gadis pujaannya itu. Rasanya, dia ingin berontak dan menentang keputusan orang tuanya, tapi dia tidak ingin melihat orang tuanya terluka dan bersedih karena dirinya. Perlahan, tanpa sadar air matanya jatuh. Reihan, yang selalu terlihat tegar tak kuasa menahan sesak di dada dan memaksanya untuk menangis jua.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Lani sambil menyeka butir air mata yang perlahan mulai jatuh di pipinya. Reihan kemudian menarik tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya erat seraya mengucapkan kata maaf yang tentu saja membuat Lani menjadi bingung. "Kamu kenapa?" tanya Lani penasaran.


"Aku minta maaf. Kamu mau kan memaafkanku? Aku mohon, jangan pernah untuk membenciku," jawab Reihan dengan menahan tangis dan genggaman tangan yang semakin erat.


"Iya, iya. Aku maafkan, kok," ucap Lani dengan senyum walau dia tidak tahu apa maksud perkataan kekasihnya itu. Dia berpikir, mungkin saja pikiran Reihan saat ini sedang kalut karena memikirkan ibunya yang sedang sakit.


*****


Reihan masih menunggu di lobby rumah sakit karena hari ini ibunya keluar dari rumah sakit. Sementara Mutia duduk diam di sampingnya. "Aku minta maaf, kalau perjodohan kita ternyata membuat kamu sangat terpukul," ucap Mutia dengan wajah pura-pura sedih. "Aku tahu kamu kaget, tapi aku janji aku akan menjadi orang yang selalu ada buat kamu," lanjutnya.


"Sudah puas bicaranya? Kamu pikir dengan perjodohan ini, aku akan suka sama kamu?" tanya Reihan yang sontak saja membuat Mutia terkejut.

__ADS_1


"Kita memang berteman, tapi itu dulu. Kini, aku punya kehidupan sendiri dan kamu tahu kan kalau aku sudah punya pacar? Apa kamu ingin dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak menyukaimu?"


"Aku tidak keberatan," jawab Mutia dengan percaya diri. "Lihat saja nanti, kamu pasti akan meninggalkan Lani dan menerima perjodohan ini," lanjutnya.


"Apa kamu pikir, aku akan menerima kamu? Asal kamu tahu, aku tidak mudah untuk jatuh cinta dan cintaku hanya untuk Lani," ucap Reihan yang kemudian pergi meninggalkan Mutia yang masih duduk dengan ekspresi kesal dan marah.


"Aku tidak akan membiarkan Lani terus mendekatimu. Aku akan membuat dia pergi darimu," ucap Mutia dengan mata yang mulai memerah.


"Ma, Reihan minta maaf," ucapnya sambil menggenggam tangan ibunya.


"Mama tahu kamu tidak mau dijodohkan, tapi Mama tidak bisa membatalkan itu semua karena Mama sudah terlanjur berjanji pada orang tua Mutia. Mama harap kamu mengerti, Nak," ucap ibunya dengan air mata yang mengalir.


Reihan merasa terjebak. Dia tidak ingin membuat ibunya kecewa, tapi dia juga tidak ingin membuat Lani terluka.


*****


"Halo, Nak Raka," sapa ibunya Reihan saat menelepon Raka.


"Halo, Tante."


"Maaf, apa kamu bisa membantu Tante?"


"Bantu apa, Tante?"


"Begini, kamu pasti tahu Lani, kan. Bisa tidak, kamu bawa dia bertemu sama Tante. Ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan dengan dia."


"Bisa, Tante. Nanti Raka akan beritahu Lani."


"Siap, Tante."


"Oke, terima kasih ya, Nak Raka," kata ibunya Reihan sambil menutup telepon.


"Iya, sama-sama, Tante."


"Ada apa ini? Kok, ibunya Reihan ingin bertemu sama Lani," katanya penasaran.


Tanpa menunggu lama, Raka kemudian menemui Lani yang sementara duduk di dalam kelas. "Reihan mana?"


"Lagi ke kelas sebelah, katanya sih mau ambil buku."


"Oh. Sebentar sore, kamu ada waktu tidak?"


"Memangnya kenapa?"


"Begini, tadi mamanya Reihan telepon, katanya dia ingin bertemu sama kamu, tapi jangan beritahu Reihan soal pertemuan ini. Katanya sih, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan sama kamu."


Sejenak Lani terdiam. Ada hal penting apa hingga ibunya Reihan ingin bertemu dengannya. Entah, apa yang harus dia jawab, apakah ini berita baik atau berita buruk untuknya. "Baiklah, aku akan bertemu dengan mamanya Reihan," katanya mantap.


"Ya sudah, sebentar aku jemput di depan gang."


"Baiklah."

__ADS_1


Lani masih berdiri di depan kaca di dalam kamarnya. Hatinya deg-degan ketika membayangkan pertemuan dengan ibunya Reihan. Bahkan, dia bingung harus memakai baju yang mana karena dia ingin membuat ibunya Reihan terkesan padanya.


Setelah hampir setengah jam bergelut dengan pakaian dan riasannya, kini dia sudah siap dengan tampilan yang menurutnya sudah pas. Lani terlihat cantik dengan balutan blus hitam dan celana jeans yang membuat dia terlihat natural.


Raka sudah menunggunya di depan gang. Melihat Lani yang terlihat cantik membuat Raka ingin menggodanya. "Wah, yang mau bertemu sama ibu mertua," candanya yang membuat Lani jadi malu.


"Apaan, sih. Sudah ah, tidak enak kalau mamanya Reihan menunggu kita."


"Iya, iya. Kita jalan."


Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di kafe. Karena ini pertemuan antara Lani dan ibunya Reihan, maka Raka memilih duduk di tempat yang agak jauh dari mereka.


"Sore, Tante," sapa Lani dengan ramah.


"Sore, ayo duduk."


Setelah memesan minuman, wanita itu mulai membuka suara. "Kamu pasti bingung kenapa Tante ajak ke sini. Iya, kan?" tanya wanita itu sambil menyeruput secangkir teh.


"Iya, Tante. Maaf, kalau boleh tahu, Tante ingin bicarakan apa dengan saya?" tanya Lani sesopan mungkin.


"Kamu sayang sama Reihan?" Sontak saja Lani terkejut dengan pertanyaan itu.


"Jujur saja, Tante tidak apa-apa, kok."


"Maaf, Tante, kalau saya lancang. Memang saya sayang sama Reihan," ucapnya dengan wajah sedikit tertunduk.


"Kalau begitu, kamu ingin melihat dia bahagia, kan?"


Lani menjadi bingung dengan pertanyaan yang diajukan Ibunya Reihan, tapi dia berusaha jujur dengan perasaannya. "Iya, Tante," jawabnya singkat.


"Kalau begitu, kamu bisa kan melepaskan Reihan?" Mendengar perkataan wanita itu membuat Lani kaget bukan kepalang. Dia berusaha membohongi hatinya dengan berpura-pura kalau dia hanya salah mendengar.


"Kamu bisa kan melepaskan Reihan?" tanya Ibunya sekali lagi hingga membuat dia akhirnya tersadar kalau semua yang dia dengar ternyata benar.


Lani menatap lurus ke depan. Dia hanya ingin memastikan sekali lagi kalau dia salah.


"Reihan sudah dijodohkan sejak masih kecil dengan gadis pilihan saya, jadi saya harap, kamu bisa putus sama Reihan. Saya tahu, Reihan tidak akan meminta putus lebih dulu dan dia sudah membantah setiap perkataan saya. Jadi saya mohon, kamu yang harus melepas dia karena dengan begitu dia juga akan melepasmu," ucap wanita itu yang terlihat angkuh.


"Reihan itu tidak pernah melawan setiap perkataan saya, tapi kali ini dia sudah dibutakan oleh cintamu. Jadi, kalau kamu tidak ingin melihat Reihan menjadi anak durhaka, maka lepaskanlah dia."


Lani terhenyak. Matanya tidak bisa menahan tangis. Lani terdiam. Hatinya benar-benar hancur. Sementara, Raka yang duduk di sudut sana tidak tahu menahu tentang pembicaraan mereka.


Walau hatinya hancur, Lani berusaha untuk bisa menahan agar air matanya tidak jatuh. "Kalau itu permintaan Tante, saya akan turuti," ucapnya dengan tangis yang ditahan.


"Saya akan menjauhi Reihan, Tante tidak usah khawatir. Saya janji akan segera putus dari Reihan. Maaf, saya permisi," ucap Lani sambil berdiri dan meninggalkan ruangan kafe. Raka yang melihat Lani keluar lantas mengikutinya.


"Lan, kamu kenapa? Kok kamu meninggalkan aku," ucap Raka sambil mengikutinya dari belakang.


"Kita pulang, kamu bisa kan antar aku pulang?"


"Iya, aku antar," jawab Raka walau sebenarnya dia masih penasaran.

__ADS_1


Selama perjalanan, Lani berusaha menahan perasaannya. Dia tidak ingin membuat Raka curiga. Hingga tangisan itu pecah ketika dia masuk ke kamarnya.


__ADS_2