
Lani sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Walau tubuhnya masih agak lemas, tapi dia memaksakan diri untuk bisa ke sekolah. Dia sudah rindu dengan teman-temannya, walau kemarin mereka baru saja bertemu.
Seperti biasa, Iva sudah menunggunya di depan lorong rumahnya. Dengan senyum, Iva menyambut sahabatnya itu. "Kamu sudah sehat, kan?"
"Sudah, cuma masih lemas saja, tapi aku masih kuat, kok."
"Ya sudah, jalannya pelan-pelan saja."
Setibanya di gerbang sekolah, kelima cowok itu sudah menunggu.
"Tuh, mereka sudah menunggu kita," bisik Iva pelan.
"Sudah sehat, kan?" tanya Reihan.
"Sudah, dari tadi aku ditanya seperti itu, bisa-bisa aku sakit lagi," canda Lani.
"Jangan dong, nanti ada yang tidak fokus," ucap Raka sambil menatap ke arah Reihan.
Seperti biasa, Reihan selalu mengambil tasnya dan membawanya hingga ke dalam kelas. Walau Lani sudah melarang, tapi Reihan tetap melakukannya.
Setibanya di dalam kelas, suasana yang semula gaduh tiba-tiba terdiam. Mereka memandangi Lani yang berjalan di samping Reihan. Terutama Riana, tatapannya penuh kebencian. Matanya mulai memerah karena menahan amarah.
"Jangan pedulikan mereka. Mereka hanya penasaran karena kejadian waktu itu," jelas Reihan. Tak lama kemudian, Imelda datang menghampirinya dan menanyakan keadaannya.
"Aku tidak apa-apa, kok. Terima kasih karena waktu itu kamu sudah membantu untuk melerai mereka."
"Aku minta maaf, karena kejadian itu kamu sampai terluka."
"Kenapa juga kamu yang harus minta maaf, bukannya Riana?" celetuk Iva kesal.
"Aku sudah menyuruhnya untuk minta maaf, tapi dia tidak mau, bahkan dia tidak merespon pembicaraanku."
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan, yang penting kamu sudah mengingatkan. Aku juga sudah memaafkan dia, kok," ucap Lani.
"Terima kasih. Aku tahu kamu itu baik dan aku salut sama kamu. Kalau begitu, aku balik dulu, ya," ucapnya sambil menuju tempat duduknya karena bel masuk sudah berbunyi.
"Kita juga mau balik ke kelas, nanti jam istirahat kita ke sini lagi," ucap Ian sambil pergi keluar dari kelas.
Walau berat, tapi Ian berusaha untuk bisa menerima kenyataan. Dia sadar, perhatian Reihan pada Lani sangatlah besar dan dia harus menerima itu walau hatinya sempat terluka.
Sementara itu, Reihan masih berusaha memantapkan hatinya. Dan hari ini, dia berencana untuk mengungkapkan perasaannya itu.
"Sebentar, temani kita latihan basket, kalian bisa, kan?" tanya Raka pada kedua gadis itu.
"Iya. Kita temani, kok," jawab Iva dengan senyum.
"Tapi, ada syaratnya," lanjut Iva.
"Apa?" tanya Raka.
"Traktir kita berdua makan siang."
"Iya, aku yang traktir makan siang, tapi Reihan yang bayar. Iya kan, Rei?"
"Iya, iya. Aku yang bayar."
Seperti biasa, aktivitas mereka saat jam istirahat yaitu lari keliling lapangan sekolah. Sudah beberapa kali mereka absen karena masalah yang menimpa Lani dan kesibukan mereka karena latihan basket.
Sementara di depan kelas, Lani dan Iva melihat mereka yang sedang berlari. Kali ini, cuaca cukup membantu karena matahari tidak terlalu terik dan langit agak sedikit mendung. Walau bermandikan peluh, tapi mereka tetap bersemangat.
"Bagaimana, masih semangat, kan?" teriak Reihan saat mereka sedang berlari.
"Semangat!!" jawab mereka serempak.
Kedua gadis itu sudah menunggu di depan kantin dan tentu saja, kantin langsung penuh ketika mereka masuk ke dalam kantin.
"Kalian boleh pesan apapun. Kali ini, aku yang traktir," ucap Rifal spontan.
"Apa kantin ini hanya punya kalian saja?" Tiba-tiba Riana membanting gelas di atas meja dan membentak mereka.
"Gara-gara kalian, anak-anak yang lain jadi tidak kebagian tempat untuk makan. Apa hebatnya kalian? Kalian hanya sekumpulan cowok-cowok yang sok jagoan," ucapnya sambil pergi meninggalkan kantin.
"Maksud kamu, apa? Kita makan di sini bayar, bukan gratis," jawab Raka pada gadis itu.
"Sudahlah, jangan diladeni. Biarkan saja dia," ucap Reihan.
"Lama-lama tuh cewek makin berani sama kita. Mungkin karena ada Adrian, makanya dia jadi berani membentak kita. Kalau bukan cewek, sudah aku hajar dia," ucap Ian emosi.
"Sudahlah. Selesaikan makan kalian dan kita pergi dari sini," ucap Reihan.
__ADS_1
Setelah dari kantin, Riana langsung mencari Adrian. Rasanya banyak unek-unek yang harus dia keluarkan.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Adrian ketika melihat Riana muncul dengan wajah yang kesal.
"Kenapa tiap hari aku harus bertemu dengan mereka? Tidak di kelas, tidak di kantin, mereka selalu saja bersama."
"Maksud kamu, siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan Reihan dan Lani. Aku jadi muak sama mereka berdua."
"Apa mungkin mereka berdua sudah pacaran?" tanya Adrian penasaran.
"Aku tidak peduli lagi sama Reihan. Aku sudah benci sama dia, apalagi dengan gadis itu."
Adrian diam sejenak. Sepertinya dia mulai paham dengan perasaan Riana yang harus kecewa karena orang yang disukai ternyata menyukai orang lain. Dan kini, dia sedang merasakan perasaan yang sama karena Lani lebih memilih Reihan daripada dirinya.
"Kenapa Kakak diam saja?" tanya Riana yang membuat lamunan Adrian menjadi buyar.
"Terus, kamu mau Kakak harus bagaimana?"
"Lakukan apa kek. Aku hanya ingin melihat mereka berdua berpisah."
"Ya sudah, nanti Kakak pikirkan lagi. Kamu balik saja ke kelas, biar masalahmu Kakak yang urus," ucap Adrian mencoba menenangkan adik sepupunya itu.
Riana hanya bisa mengangguk pelan. Dengan langkah malas dia meninggalkan Adrian yang masih memutar otak mencari cara untuk menghancurkan Reihan.
*****
Setelah selesai makan siang, Reihan dan teman-temannya bersiap-siap untuk latihan basket. Sementara Lani dan Iva sudah duduk di kursi penonton.
Walaupun hanya latihan, mereka terlihat sangat serius. Karena postur tubuh Reihan yang lumayan tinggi, mudah bagi dia untuk menciptakan skor. Pantas saja Reihan diidolakan cewek-cewek di sekolah ini. Bukan hanya tampan, tapi dia juga pandai main basket.
Sementara Iva terus memberi mereka semangat. Sepertinya, Iva lebih bersemangat dari mereka. Lani hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Dan Reihan, sesekali memandang ke arah Lani. Melihat sikap Reihan, Lani hanya melayangkan senyuman dan itu sudah cukup untuk membuat Reihan lebih bersemangat.
Selesai latihan, Reihan berjalan mendekati Lani dan duduk di sampingnya. Walau napasnya masih ngos-ngosan dan badan yang penuh keringat, tidak membuat Reihan merasa minder.
Melihat Reihan yang sudah duduk di sampingnya, membuat Lani segera mengambil air minum dan selembar handuk yang sengaja diletakkan di dekat tempat duduk mereka.
"Terima kasih," ucap Reihan ketika Lani memberinya air minum dan selembar handuk.
"Wah, hari ini kita punya tim suporter yang baru. Kalau suportnya kayak tadi rasanya kita bisa menang nanti," ucap Raka sambil memandang Iva yang tersenyum karena pujiannya itu.
"Iya menang, tapi selesai itu aku tidak bisa berbicara lagi."
"Loh, kok bisa begitu?" tanya Raka bingung.
"Ya iyalah, karena suaraku pasti hilang gara-gara sering teriak-teriak buat menyemangati kalian." Sontak saja mereka semua tertawa mendengar ucapan Iva.
"Tidak apa-apa, aku tetap suka kok sama kamu," bisik Raka pelan di belakang telinga Iva.
Iva kemudian membalikan badannya dan mereka saling bertatapan. Baru kali ini Iva melihat ekspresi Raka yang terlihat sangat serius. Antara percaya dan tidak, Iva masih menatap wajah Raka yang membuat dia enggan memalingkan wajahnya. Perlahan, Raka mendekatinya dan berbisik pelan.
"Aku suka sama kamu, aku ingin menjadi pacarmu."
Mendengar itu, Iva tak bisa berkata apa-apa, dia hanya terdiam.
"Apa aku tidak salah dengar? Aku tidak bermimpi, kan?" Iva membatin dalam hati. Dia masih tak percaya dengan perkataan Raka barusan, hingga dia tersadar saat Raka mencubit lembut pipinya.
"Kamu mau, kan?" tanya Raka yang mambuat Iva tersadar. Dalam diam, Iva hanya menunduk dan tersenyum malu. Melihat ekspresi Iva, Raka kemudian melompat kegirangan.
"Kamu kenapa?" tanya teman-temannya saat melihat dia melompat seperti orang gila.
"Tidak ada apa-apa, kok," jawabnya tersipu malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Sementara Reihan, masih duduk di samping Lani. Ada hal yang ingin dia utarakan, tapi masih dia tahan. Hingga akhirnya, dia pun memberanikan diri.
"Sebenarnya, aku ingin minta maaf soal perlakuan Riana padamu. Aku tahu dia melakukan itu karena dia cemburu," jelas Reihan.
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak salah, kok."
"Walaupun begitu, aku harus tetap meminta maaf karena memang aku suka sama kamu dan aku ingin melindungimu agar tidak disakiti lagi oleh Riana atau siapapun."
Mendengar perkataan Reihan, Lani hanya terdiam. Dalam hatinya, dia merasa bahagia walau sebenarnya ada sesuatu yang membuat dia merasa kalau dia tidak pantas mendampingi Reihan.
"Kamu boleh tidak menjawabnya sekarang, aku akan menunggu jawabanmu."
Lani masih terdiam. Entah apa yang dia pikirkan. "Apa kamu serius dengan ucapanmu itu?"
__ADS_1
"Aku serius, bahkan sangat serius. Aku tidak main-main dengan perkataanku tadi."
"Aku ini hanya gadis biasa, hidupku jauh dari kemewahan. Status sosial kita sangat jauh berbeda dan aku tidak ingin suatu saat kamu terluka karena itu," jelas Lani pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Karena itu, aku suka dengan kesederhanaanmu. Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah suka sama kamu dan aku tidak peduli dengan status sosial kamu, aku bukan tipe cowok seperti itu," ucap Reihan serius.
"Aku ingin melindungimu karena aku benar-benar sayang sama kamu," lanjut Reihan.
Lani terdiam. Dia tahu Reihan benar-benar serius padanya. Setelah menarik nafas panjang, akhirnya Lani sudah mengambil keputusan.
"Baiklah," jawab Lani singkat.
"Jadi, bagaimana?" tanya Reihan penasaran.
Lani hanya mengangguk pelan tanda setuju.
"Benar?" tanya Reihan sekali lagi seakan tidak percaya.
Lani memandangnya dengan senyum dan menganggukan kepalanya. Sontak saja Reihan melompat kegirangan dan menarik perhatian teman-temannya.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Rendi bingung.
"Tidak kok, tidak ada apa-apa," jawabannya sama dengan Raka dan tentu saja dia menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
Lani hanya bisa tersenyum melihat tingkah Reihan. Baru kali ini, dia melihat Reihan tersenyum kegirangan dan Reihan terlihat sangat menawan.
*****
Lani dan Iva sedang duduk menunggu di bangku dekat parkiran sekolah karena Reihan dan teman-temannya sedang mengganti pakaian di kamar ganti.
"Lan, hari ini aku bahagia, deh," ucap Iva dengan senyum di bibirnya.
"Bahagia kenapa?"
"Tadi, Raka mengungkapkan perasaannya padaku," jawabnya dengan senyum sumringah dan mata yang berbinar-binar.
"Terus?"
"Terus, hari ini kita resmi pacaran."
"Raka hebat juga, aku ikut bahagia buat kalian," ucap Lani sambil mendekap sahabatnya itu.
"Terus, Reihan bagaimana?"
"Sama seperti Raka. Sebentar, maksud kamu apa?" Lani kemudian tersadar dengan pertanyaan Iva dan jawabannya sendiri.
Tanpa mendengar penjelasan Lani, Iva kemudian memeluk sambil mencubit lembut pipi sahabatnya itu.
"Wah, sepertinya mereka sudah janjian," ucap Iva senyum-senyum sendiri.
"Sepertinya, moment ini harus kita rayakan deh," lanjutnya.
"Rupanya, kamu sudah pacaran sama Reihan, ya?" Tiba-tiba Adrian dan dua temannya muncul dan berdiri di samping mereka.
"Itu bukan urusanmu. Pergi sana sebelum Reihan dan teman-temannya datang ke sini," ucap Iva sambil berdiri.
Bukannya pergi, tapi Adrian malah mendekati mereka. Lani yang semula duduk, kini harus berdiri dan mencoba untuk menghindar darinya. Namun, langkah Adrian lebih cepat hingga Lani sudah berdiri pas di depannya.
"Apa yang kamu lakukan, pergi sana!!" ucap Iva sambil mendorong tubuh Adrian. Namun percuma karena kedua temannya sudah menahannya, sementara Lani berusaha untuk melepaskan diri dari Adrian.
"Aku kan sudah bilang, aku akan merebutmu dari Reihan. Walau kamu sudah membuatku kecewa, tapi tak apa, aku maafkan kok. Lihat saja, kamu pasti akan jatuh dalam pelukanku," bisik Adrian.
"Aku tidak suka sama kamu. Aku benci sama kamu. Pergi kamu dari sini, pergi!!" teriak Lani dengan suara yang mulai gemetar.
Tiba-tiba, Reihan dan teman-temannya datang. Tanpa bertanya, Reihan langsung melayangkan pukulan ke pipi kiri Adrian. Andai tidak dicegah oleh Lani dan teman-temannya, Reihan pasti sudah menghajar Adrian.
"Jangan pernah kamu menyentuh Lani. Selama ini aku selalu diam setiap kamu berulah, tapi aku tidak akan diam kalau kamu menyentuh Lani, paham!!" teriak Reihan dengan emosi.
Adrian hanya meringis dan menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Sedangkan tatapan matanya, hanya tertuju pada Lani dan itu membuat Reihan semakin marah dan membuat Reihan ingin menonjok kedua matanya.
"Sudah, biarkan mereka pergi," ucap Rifal yang mencoba menghentikan langkah Reihan yang berusaha mengejar Adrian. Karena kesal, Reihan melayangkan tinjunya ke batang pohon hingga membuat tangan kanannya menjadi memar.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Reihan penuh khawatir pada kekasihnya itu.
"Aku tidak apa-apa," jawab Lani sambil memandangi tangan Reihan yang memar itu.
"Tidak apa-apa, kok," ucap Reihan sambil menyembunyikan tangannya ke belakang.
Dalam hatinya, Reihan sebenarnya penasaran. Kenapa Adrian selalu mendekati Lani. Dia juga ingat, waktu itu Lani berusaha menghindar saat melihat Adrian masuk ke kelas mereka dan sejak saat itu, sikapnya mulai berubah. Dan kini, Adrian berulah lagi, tapi yang membuatnya penasaran, dia sempat mendengar kata-kata Adrian pada Lani. Dan kata-kata itu terus terngiang di telinganya.
__ADS_1