
Sebelum berbicara Kembali dengan
Bintang, Anabel perlahan menghapus bulir bulir air matanya, Anabel pun mulai
menatap wajah Bintang Kembali dan membuka suara.
"Sayang, dengarkan Bunda,
Seharusnya sejak awal kamu cerita ini ke Bunda.
Jangan pendam sendiri, ini bukan
masalah sepele.
Jujur Bunda pun sedikit syok setelah
Bintang cerita soal ini, tapi mungkin ini peringatan untuk Bunda agar lebih
memperhatikan anak anak Bunda dan mendengarkan mereka lebih dalam, juga tentang
apapun permintaan mereka, yang mungkin saja memiliki maksud baik seperti maksud
baik Bintang yang ingin mondok ke pesantren agar tak perlu ribut dengan Bulan,
saudara kandung Bintang sendiri.
Dan bunda benar benar menyesal karena
gak pernah dengerin permintaan Bintang.
Bulan juga gak pernah cerita ke Bunda
soal ini, tapi Bunda ingin tau dan mendengarnya juga dari penuturan Bulan
sendiri, humm..
Nanti cobalah, Bunda pancing Bulan
agar mau curhat tentang ini dengan sendirinya.
Tentu Bunda gak maksa, biar atas
kemauannya sendiri dan kamu tenang saja Bunda gak akan kasih tau Bulan bila
kamu yang memberitahu tentang hal ini." ujar Anabel mencoba menenangkan
Bintang.
"Ohya, Bunda akan coba bicarakan
hal ini secepatnya ke ayah ya, agar ayah fikirkan ulang. Tapi apa kamu mau
cerita sendiri ke ayah? bagaimana?" tanya Anabel.
"Iya Bunda terimaksih sudah mau
mendengarkan Bintang tapi mungkin sebaiknya Bunda yang bilang secara langsung
ke ayah karena Bintang juga bingung harus bilang bagaimana ke ayah, karena
jujur saja untuk mengungkapkan hal ini pun rasanya berat.
Dan maafkan Bintang ya Bunda, sudah
buat bunda ikut sedih dan menangis.
Bintang mohon bunda jangan sedih dan
nangis seperti ini ya..
Maafkan Bintang yang juga yang terlalu
lama memendamnya." ucap Bintang yang mulai menghapus bulir bulir air mata
di pipi Anabel.
"Gak papa Bunda, Bintang paham
kenapa alasan semenjak awal Bunda dan ayah tidak mengizinkan Bintang mondok.
Tidak ada kata terlambat bunda, karena
sebenarnya bila masih di izinkan Bintang kan masih bisa mondok." ujar
Bintang dengan tersenyum.
"Yaa Allah sayang, maafkan bunda
ya sekali lagi." ujar Anabel yang memeluk Bintang kembali untuk sejenak,
dan setelahnya memulai berbicara kembali.
"Iya bunda paham ini terlalu
berat untukmu dan menyampaikan ke ayah. Humm iya bunda janji, insya Allah akan
bunda sampaikan ke ayah ya. Maafkan bunda sekali lagi.
Bunda menangis karena merasa bersalah
dan menyesal, tapi kamu benar mungkin dari ini bunda bisa belajar lebih
memperhatikan dan mendengarkan keluhan ataupun permintaan anak bunda.
Kamu benar sayang, tidak ada yang
terlambat kan? semoga saja ya sayang, dan semoga ayah mau izinkan Bintang
mondok." ucap Anabel dengan tersenyum, berusaha menenangkan Bintang.
"Iya bunda, terimakasih ya sudah
mau bantu Bintang buat penyampaikan ke ayah. Humm maaf Bunda, tapi kalau boleh
tau kenapa ayah tidak mengizinkan Bintang mondok?" tanya Bintang.
"Karena ayah sangat sayang dengan
Bintang dan gak mau kehilangan atau jauh dari Bintang, sayang.. begitulah
sebabnya ayah kamu berat untuk mengizinkan kamu mondok terlebih waktu itu
perusahaan ayah juga kurang stabil tapi Alhamdulilah sekarang sudah stabil
kembali. Insya Allah nanti bunda usahakan bilang ke ayah ya.
Semoga ayah izinkan." ujar Anabel
dengan tersenyum dan memeluk Bintang kembali.
"Aamiin, terimakasih Bunda, ayah
begitu sayang ya dengan Bintang?" lirih Bintang.
"Iya sayang, ayah, bunda dan kami
sangat menyayangi Bintang dan sudah seharusnya kita saling menyayangi
kan?" ujar Anabel menatap mata Bintang, mencoba mendalami perasaan
Bintang.
Bintang pun megangguk bersamaan bulir
air matanya yang membasahi pipinya.
"Jangan nangis dong anak Bunda."
lirih Anabel yang segera mengecup dahi Bintang penuh kasih sayang dan menghapus
bulir bulir air matanya.
"Ini tangis haru Bunda..."
lirih Bintang kembali yang membuat Anabel tersenyum.
"Boleh kan bunda meluk
Bintang?" tanyanya yang menghadap Bintang kembali.
"Boleh dong bunda." jawab
Bintang dengan tersenyum juga, dan Anabel pun memeluk Bintang kembali, setelah
mendapatkan jawaban dari Bintang.
"Makasih bunda, sayang
Bunda." ujar Bintang, yang memeluk Anabel kembali.
Anabel berjanji pada dirinya sendiri
akan lebih memperhatikan keempat anaknya dan mendengarkan apapun curhatan
mereka, karena Anabel tidak ingin sesuatu yang tidak di inginkan atau hal buruk
terjadi kepada keempat anaknya.
Dan Anabel berjanji akan segera
membicarakan tentang hal ini kepada Ferdi.
\======================
Setelah mendengar curhatan Bintang,
Anabel pun segera berbicara kepada Ferdi mengenai hal tersebut dan Ferdi pun
merespon baik dengan menyetujuinya
Anabel pun berencana akan
memberitahukan Bintang mengenai kabar bahagia ini.
__ADS_1
Setelah memasak untuk sarapan pagi,
Anabel pun segera menyediakan makanan tersebut di meja makan untuk sarapan
mereka pagi ini.
"Wah enak banget Bunda, jadi
laper kita." ucap keempat anaknya, yang membuat Anabel tersenyum sendiri.
"Iya nih, enak kelihatannya, mas
jadi laper juga. Istriku memang pintar masak." ucap Ferdi yang memuji
Anabel.
"Humm bisa aja kalian.."
jawab Anabel senyum senyum sendiri, dan segera ke dapur untuk membereskan sisa
masakan yang tercecer.
Setelah membereskannya, Anabel kembali
ke meja makan untuk makan bersama.
"Wah, ini enak banget Bunda, jadi
laperr Afnan,ini apa saja Bunda?" tanya Afnan, untuk beberapa saat Anabel
tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Afnan.
"Ini ada omelet, nasi goreng ,
ayam rica rica, oseng oseng sayur juga tempe dan Sambel, tadi bunda masakkin
itu untuk sarapan kita." jawab Anabel dengan tersenyum kembali.
"Wah, enak ya Bunda.. jadi laper,
yuk makan." ujar David yang segera memakan makanannya.
"Bismillah dulu David.."
Anabel mencoba mengingatkannya.
"Eh, iya David lupa.. hehe."
ujar David kembali, yang segera membaca bismillah, dan diikuti oleh mereka,
setelahnya mereka pun makan bersama.
Setelah beberapa menit makan mereka
selesai, Anabel mulai membuka percakapan kembali.
"Alhamdulillah, sudah habis dan
selesai makannya." ujar Anabel, sejenak mengambil nafas sebelum meneruskan
ucapannya.
"Ohya Bunda mau berbicara sama
kalian, dan kasih kabar bahagiaa untuk Bintang." ujar Anabel kembali
dengan tersenyum dan melirik ke arah Ferdi, begitupun dengan Ferdi yang tersenyum.
Sikap Ferdi dan Anabel membuat keempat
anaknya bertanya tanya dan bingung, begitupun dengan Bintang.
"Kabar apa Bunda?" tanya
Bintang lirih.
"Humm, kabar apa ya ... kasih tau
gak ya...?" ujar Anabel sengaja menggoda Bintang.
"Kasih tau dong bunda ..."
ujar David dan Afnan bersamaan.
"Iya Bunda, biar kami gak
penasaran." ucap Bulan, sedangk koan Bintang hanya diam dan mencoba
menyimak pembicaraan tersebut.
"Oke, oke bunda kasih tau,
jadi... ayah menyetujui Bintang buat mondok." ujar Anabel yang kembali
tersenyum dan mereka pun saling memandang.
"Iya, Ayah mengizinkan Bintang
mondok." ucap Ferdi dengan tersenyum.
Alhamdulillah Bintang bahagia, akhirnya Bintang bisa mondok juga." ucap
Bintang dengan tersenyum.
Anabel dan Ferdi yang mendengar ucapan
Bintang pun tersenyum.
"Serius Bintang mau mondok, Ayah,
bunda?" tanya Bulan, yang sedikit terkejut mendengar kabar tersebut.
"Iya serius dong, Bulan mau
mondok juga?" tanya Ferdi.
"Umm, Enggak ayah hehehe..."
jawab Bulan.
"Yaudah yuk kita lanjut makan,
nanti insya Allah akan kita urus kepindahannya ya Ayah." ujar Anabel
kepada Ferdi.
"Iya Bunda, benar. Yaudah yuk
makan" jawab Ferdi dengan tersenyum.
Dan mereka pun melanjutkan makan
mereka. Setelahnya mereka segera pergi ke sekolah, sedangkan Ferdi segera pergi
bekerja dan Anabel bersiap membersihkan rumah.
Setelah bel istirahat berbunyi, para
murid berhamburan keluar kelas masing masing untuk istirahat.
Begitupun dengan Bulan segera keluar
kelasnya dan mencari keberadaan Cleo.
"Cleo..." panggil Bulan.
"Bulan?" jawab Cleo, sedikit
terkejut dengan keberadaan Bulan.
"Humm, iya Cleo ada yang ingin ku
bicarakan sama kamu mengenai Bintang." ucap Bulan.
"Bintang? calonku? kenapa
dia?" tanya Cleo.
"Iya, calonmu..." ujar Bulan
malas.
"Kenapa dia?" tanya Cleo.
__ADS_1
"Bintang mau mondok." jawab
Bintang.
"Hah? serius Lo?" tanya
Cleo.
"Iya, gue serius." ucap
Bulan.
"Kapan? kok belum berkabar
tentang kepindahan Bintang di sekolah ini ?" tanya Cleo kembali.
"Iya, karena nanti di kabarkan
pas udah dekat atau harinya dia pindah." jawab Bulan.
"Berarti sekarang masih lama
ya?" tanya Cleo.
"Ya, enggak juga,tapi begitulah
kira kira. Intinya sekarang masih ngurus buat kepindahan, kalau uda fix harinya
baru di kabarkan, karena itu permintaan Bintang juga" ujar Bulan.
"Yah, kok calonku begitu
ya..." ujar Cleo dengan nada yang sengaja di buat buat.
"Udah deh, halu Lo...
Hahahaha." tawa Bulan pun pecah.
"Yaudah ya, gue cuman mau kasih
kabar itu.. gue duluan ya, mau lanjut ke kantin, gue lapar. Terus ke perpustakaan
nemenin Bintang, eh sholat Dhuha dulu deh." ujar Bulan.
"Tunggu, berarti Bintang lagi di
perpustakaan ya?" tanya Cleo.
"Iyaa, lagi di perpustakaan
dia." jawab Bulan.
"Baik, thanks you infonya ya. Gue
mau ke perpus dulu dah, gak jadi ke kantin." ujar Cleo, yang membuat Bulan
bingung.
"Lah? kenapa? gak laper?"
tanya Bulan bingung.
"Hahahaha laper sih. Tapi Lo
kayak gak tau gue aja sih, gue rela nahan lapar asal ketemu calon gue."
ucap Cleo senyum senyum sendiri, yang membuat Bulan pun jengkel dan paham
maksud Cleo.
Setelahnya Bulan pun segera berlalu ke
kantin meninggalkan Cleo dengan kegilaannya.
"Eh, tunggu mau ke mana?
ninggalin gue? tega bener!!" ucap Cleo yang tersadar dari lamunannya.
"Sudah sadar dari lamunan Lo?
Iya aku mau ke kantin, makan bro,
laperrrrr..
Kan Lo mau ke perpus, yasudah."
ucap Bulan ketus dan segera berlalu ke kantin.
"Issh ketus banget. Apa dia
cemburu ya sama gue karena ngejar Bintang terus? hemmm..." ucap Cleo yang
sedang berfikir.
"Sudahlah, ngapain mikirin dia?
kan dia sukanya sama Yusuf. Mending aku lekas ke perpus deh buat menemui calon
gue dan tanya tentang kepindahannya." ujar Cleo yang segera ke perpus.
***************
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen n vote nya ya 😁