Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Di kejar anjing


__ADS_3

"Ini salah El... ini salah... apa yang telah kita lakukan barusan itu salah..." ucap Akila dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Elbara yang terkejut akan ucapan dari Akila barusan.


Setelah mengatakan hal tersebut, Akila kemudian lantas langsung mengambil kantung kresek belanjaannya yang terjatuh di tanah kemudian berlari pergi meninggalkan Elbara begitu saja di sana tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi.


Elbara menatap kepergian Akila yang semakin jauh dengan tatapan yang bingung akan sikap Akila yang tiba tiba melarikan diri begitu saja setelah keduanya saling berbagi ciuman.


"Apakah dia menyesal?" tanya Elbara dalam hati sambil terus menatapi kepergian Akila.


Di saat pandangan Elbara sama sekali belum terputus dari kepergian Akila, suara deringan ponsel miliknya lantas membuyarkan tatapannya yang sedari tadi fokus menatap ke arah Akila.


Tanpa melihat siapa yang sedang menelponnya, Elbara lantas langsung mengusap ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo tuan... syukurlah tuan mengangkat teleponnya..." ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat Elbara terkejut dan dengan spontan langsung melihat ke arah layar ponsel miliknya yang ternyata itu adalah Arga asistennya.


"Ada apa malam malam begini menelpon?" tanya Elbara dengan nada yang sinis karena Arga selalu saja menelpon di saat yang tidak tepat.


"Anda di mana tuan? saya mencari anda kemana mana tapi tidak ketemu juga." ucap Arga lagi sambil fokus mengemudi mencari keberadaan Elbara.


"Itu tidak penting, lagi pula bukannya kau sudah pulang dan menyelesaikan tugas mu... lalu mengapa kau malah mencari ku?" ucap Elbara dengan bingung akan tingkah laku dari asistennya itu.


"Nyonya Viona mencari anda tuan, beliau takut anda kenapa napa karena sampai saat ini belum juga pulang." ucap Arga dengan nada yang sengaja di buat melas berharap agar Elbara sedikit kasihan padanya dan memutuskan untuk pulang.

__ADS_1


"Apa apaan kau? aku bahkan bukan siswa SMP yang harus selalu di cari ketika pulang malam! katakan saja padanya tidak perlu menunggu ku pulang, bukankah begitu saja sudah beres? repot amat kau!" ucap Elbara dengan nada yang kesal kemudian menutup panggilan telponnya begitu saja.


"Selalu saja muncul di saat yang tidak tepat, ah benar benar menyebalkan..." gerutu Elbara dengan nada yang kesal karena Arga selalu saja merusak moodnya di saat saat yang seperti ini.


***


Sementara itu Akila terus berlari secepat mungkin menjauh dari Elbara, Akila benar benar telah melakukan kesalahan karena membuka ruang untuk Elbara masuk dan menciumnya. Pikirannya tadi benar benar telah kacau dan kalut, hingga Akila malah terjatuh ke dalam lubang kekhilafan yang sejak awal tak pernah ingin ia sentuh walau Delvano menyakitinya sekalipun.


Akila yang terus berlari dan berlari tanpa melihat ke arah depan, lantas terkejut ketika tiba tiba seorang laki laki tengah berdiri dihadapannya.


Akila yang terkejut akan kehadiran pria itu yang tiba tiba, lantas langsung berusaha mengerem mendadak, beruntung laki laki dihadapannya langsung berbalik badan dan menggenggam tangan Akila dengan erat ketika ia hampir terjatuh.


Laki laki itu yang ternyata adalah Delvano, lantas langsung menarik tangan Akila hingga pada akhirnya Akila jatuh tepat pada dada bidang milik Delvano yang langsung memeluknya dengan erat.


Akila yang belum menyadari bahwa ia jatuh ke pelukan suaminya, lantas langsung membuka matanya dengan lebar ketika mendengar suara Delvano menggema di telinganya.


"Delvano!" batin Akila dalam hati.


"Aku... aku..." ucap Akila dengan tersendat sambil masih mencoba untuk mengatur nafasnya yang terengah engah dan melepas pelukannya secara perlahan.


"Apa yang sedang terjadi sebenarnya? lihatlah bahkan dirimu berkeringat dingin seperti ini, apa kau yakin baik baik saja?" tanya Delvano kembali mengulangi pertanyaannya karena Akila sama sekali tidak menjawab pertanyaannya barusan.

__ADS_1


"Aku tadi dari supermarket untuk membeli ini... hanya saja ketika aku pulang ada seekor anjing liar yang mengejar ku mangkanya aku berlari barusan." ucap Akila mencoba mencari alasan yang sekiranya masih masuk di akal dan bisa di cerna oleh Delvano.


"Oh ya? katakan padaku di mana anjing itu... biar aku memberinya pelajaran karena telah mengganggu istri ku." ucap Delvano dengan nada yang kesal hendak melangkahkan kakinya mencari keberadaan dari anjing tersebut, namun sayangnya langsung di tahan oleh Akila.


"Tidak perlu mas, lagi pula aku sudah sampai di sini bukan?" ucap Akila sambil berusaha mencegah Delvano untuk tidak pergi mencari keberadaan anjing itu atau semua alasannya akan terbongkar jika Delvano benar benar mencarinya.


Delvano yang melihat Akila menahan dirinya, lantas menghela nafasnya panjang. Dengan perlahan Delvano lantas menggerakkan tangannya mendekat ke arah pelipis Akila berniat untuk membersihkan peluh keringat di dahi Akila. Namun sayangnya, Akila yang sudah berkali kali mendapat siksaan dari Delvano, lantas dengan spontan langsung menutup matanya reflek akan trauma yang ia rasakan dari setiap sentuhan yang di berikan oleh Delvano.


"Lihatlah keringat mu ini, kau pasti sangat ketakutan ya? ah kasihan sekali istri ku ini." ucap Delvano dengan lembut sambil mengusap peluh keringat Akila dengan tangannya.


"Tidak perlu mas, lagi pula bukankah ini bagus untuk pemulihan?" ucap Akila sambil menurunkan tangan Delvano perlahan yang sedari tadi sibuk menyeka keringatnya.


"Kau benar juga, kalau begitu cepatlah pulih agar kita bisa segera membuat baby lagi... benarkan?" ucap Delvano kemudian sambil menarik tubuh Akila masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang, seakan tanpa merasa bersalah sama sekali akan kelakuannya yang menghilangkan nyawa putrinya sendiri.


Akila yang di tarik masuk oleh Delvano pada akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah kaki pria itu yang membawanya masuk ke dalam rumah.


Sementara itu tak jauh dari kediaman Delvano, Elbara yang tadinya berniat menyusul Akila lantas menghentikan langkah kakinya ketika melihat Delvano sedang bersama dengan Akila.


Perasaan cemburu serta amarah ketika melihat kedekatan keduanya mulai menyerang hatinya. Entah mengapa Elbara terlihat sangat marah ketika melihat interaksi keduanya, padahal hubungan Delvano dan juga Akila adalah sepasang suami istri, bukankah bermesraan adalah hal yang wajar bagi keduanya?"


Elbara menendang batu kerikil di pinggir jalan dengan kesal hingga menggelinding jauh ke jalanan di tengah gelapnya malam.

__ADS_1


"Mengapa aku tidak suka jika melihat kedekatan keduanya? apa aku sudah benar benar jatuh pada wanita itu? mengapa rasanya sangat sesak sekali?" ucap Elbara bertanya tanya pada diri sendiri setelah melihat Akila dan juga Delvano melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


Bersambung


__ADS_2