Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Kedai seafood


__ADS_3

"Kau belum mengetahui siapa aku dan bagaimana caraku bekerja, jika kau tahu aku yakin kau akan mengiba dan memohon pertolongan pada ku!" ucap Viona dengan nada yang meninggi.


"Oh ya?" ucap Delvano dengan nada yang meremehkan.


"Kau!" ucap Viona menggantung sambil menunjuk ke arah Delvano, membuat Delvano langsung bangkit dari kursi kebesarannya, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Viona dan menatapnya dengan tatapan yang tajam.


"Kau dan aku bahkan tidak pernah membuat perjanjian apapun, jadi kau tidak punya hak untuk mengatur keputusan ku... kau pikir kau itu siapa ha?" ucap Delvano dengan nada yang ketus membuat Viona langsung terdiam seketika di saat mendengar kata kata yang keluar dari mulut Delvano tersebut.


Viona yang kesal akan ucapan dari Delvano barusan, lantas memperbaiki posisinya kemudian bersendekap dada dan menatap ke arah Delvano dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, membuat Delvano lantas mengernyit dengan bingung ketika melihat ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Viona barusan.


Viona yang melihat Delvano terdiam kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah Delvano dan langsung mendorong tubuh Delvano dengan tiba tiba, hingga Delvano jatuh dalam posisi terduduk pada kursi kebesarannya. Viona yang melihat Delvano jatuh langsung dengan spontan naik ke atas pangkuannya, membuat Delvano menjadi terkejut akan aksi gila dari Viona tersebut.


Viona yang sudah duduk di pangkuan Delvano lantas langsung melancarkan aksinya, Viona mulai meraba area tengkuk Delvano, mencoba memancing Delvano dan memberikannya gelayar gelayar aneh agar mulai mengikuti permainan dari Viona. Delvano yang mendapat serangan secara mendadak, tentu saja merasa terkejut sekaligus merinding akan setiap sentuhan yang Viona lakukan kepada setiap area sensitifnya. Delvano benar benar merasa seperti di bawa terbang melayang hingga tanpa sadar malah melenguh, membuat Viona langsung tersenyum dengan senang seakan berhasil meruntuhkan dinding kokoh Delvano yang katanya hanya bisa takluk di bawah kungkungan seorang Akila saja.


Delvano menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh Viona hingga ketika Delvano sampai pada ujungnya, Delvano mulai meraba area rambut Viona dan mulai menjambaknya dengan kasar, membuat Viona langsung mendongak mengikuti arah jambakan tangan Delvano saat ini.


"Apa kau sedang mabuk saat ini? jangan berani beraninya menyentuh sesuatu yang bukan milik mu!" ucap Delvano dengan nada yang berbisik, membuat mata Viona langsung membulat seketika di saat menerima perlakuan dari Delvano tersebut.


Delvano yang sudah terlanjur kesal akan kelakuan dari Viona, lantas langsung mendorong tubuh perempuan itu hingga jatuh terduduk di lantai dengan rambut yang sudah acak acakan tak berbentuk di sertai lipstik miliknya yang sudah belepotan.


"Pergi dari sini dan jangan lagi menunjukkan wajah pel***r mu itu di hadapan ku!" teriak Delvano yang lantas membuat Viona terkejut bukan main ketika mendengarnya.

__ADS_1


Viona yang mendengar teriakan Delvano, kemudian bangkit dari posisinya dan membenarkan roknya yang kini sudah tidak berbentuk itu, baru kemudian merapikan rambutnya secara perlahan.


"Baiklah jika kamu ingin memilih jalan sendiri sendiri, jangan pernah salahkan aku jika Akila mu itu hanya tinggal sebuah nama saja!" ucap Viona dengan nada yang mengancam kemudian berlalu pergi dari sana meninggalkan ruangan Delvano dengan raut wajah yang penuh dengan amarah.


Sedangkan Delvano yang mendengar ancaman dari Viona barusan, sama sekali tidak gentar dan malah tersenyum sinis menatap ke arah kepergian Viona hingga tubuh wanita itu tidak lagi terlihat pada pandangannya.


"Silahkan saja lakukan sesuka mu... aku yakin sebelum kau berhasil melakukan itu, aku dan Akila sudah mengarungi samudra menuju ke atas dengan tenang." ucap Delvano dengan senyum yang mengembang seakan meremehkan ancaman dari Viona barusan.


***


Butik


Dari arah pintu keluar, Elbara dan juga Akila terlihat melangkahkan kakinya keluar dari butik sambil membawa beberapa dus box di kedua tangan mereka. Dengan raut wajah yang bahagia keduanya nampak melangkahkan kaki mereka menuju ke arah mobil Elbara yang terparkir tak jauh dari pintu masuk butik.


Mendengar tawaran dari Elbara barusan, membuat Akila lantas terlihat berpikir sejenak seakan mencoba memikirkan sesuatu yang saat ini ingin ia makan.


"Bagaimana dengan seafood?" ucap Akila kemudian memberikan ide sambil mengerlingkan matanya ke arah Elbara agar mau menuruti kemauannya.


"Kamu yakin mau makan seafood siang siang begini?" tanya Elbara sekali lagi.


"Tentu saja mengapa tidak?" ucap Akila dengan tersenyum lebar membuat Elbara pada akhirnya mau tidak mau menuruti permintaan wanita itu.

__ADS_1


Setelah di putuskan, Elbara kemudian lantas melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju kedai Seafood favorit Akila sejak dulu. Dengan senyum yang lebar Akila kemudian melirik sekilas ke arah Elbara, sambil membayangkan kenikmatan setiap gigitan daging lobster yang lembut dengan perpaduan saus tiram yang menggoda selera, membuat Akila benar benar seperti ngiler akan kenikmatan yang sudah tergambar jelas di benaknya saat ini. Elbara yang melihat tingkah Akila yang seperti itu, hanya bisa geleng geleng kepala sambil sesekali tersenyum dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kedai seafood favorit Akila.


"Dasar perempuan..." ucap Elbara dengan nada yang lirih sambil terus fokus menatap ke arah jalanan.


***


Kedai Seafood


Elbara dan juga Akila yang baru saja sampai di kedai tersebut, lantas langsung menuruni mobilnya dan bersiap memasuki kedai Seafood andalan Akila. Kedai itu tidak lah terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil. Tema yang di usung dalam kedai ini sepertinya hanya untuk menjaga kenyamanan para pelanggan saja, karena ketika Elbara dan juga Akila masuk ke dalamnya terdapat beberapa interior yang bernuansa vintage namun di sudut lainnya terkesan minimalis, membuat Elbara hanya tersenyum ketika melihat dan masuk ke dalam kedai tersebut.


Sedangkan Akila yang mengerti akan arti dari ekspresi wajah Elbara barusan, lantas hanya tersenyum kemudian menepuk bahu Elbara dengan pelan, membuat Elbara dengan seketika langsung menoleh ke arah Akila.


"Aku tahu apa yang ada di pikiran mu saat ini? tidak perlu memikirkan konsep kedai ini, yang harus kamu pikirkan adalah cita rasa dari setiap olahan yang mereka sajikan, aku yakin kamu pasti bakal ketagihan deh." ucap Akila dengan senyum yang lebar, membuat Elbara hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang saja ketika mendengar ucapan Akila barusan.


"Baiklah... kali ini aku akan mencoba untuk mengabaikannya nyonya..." ucap Elbara dengan nada yang menggoda membuat Akila lantas tersenyum dengan kesal sambil memukul pelan bahu Elbara.


**


Sementara itu tanpa Akila sadari tak jauh dari posisinya berada, seseorang tengah memperhatikan setiap gerak geriknya dengan intens tanpa terlewat sedikitpun.


"Sebuah kebetulan yang menguntungkan untuk ku."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2