Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Part 13


__ADS_3

Di dalam kelasnya, Adrian tidak fokus mendengarkan penjelasan guru yang sedari tadi berdiri di depan kelas. Pikirannya melayang, dia mengingat kembali saat melihat Reihan dan Lani berjalan bersama.


"Aku kenapa terus memikirkan dia?" Adrian mengeluh pelan. Entah apa yang dia pikirkan seakan beban seberat gunung sedang menindihnya.


"Kalian harus fokus belajar. Sebantar lagi, kalian akan memasuki ujian kelulusan. Jadi, Bapak harap kalian jangan main-main lagi. Kalian harus fokus agar kalian nanti bisa lulus," ucap Pak Abdi wali kelas mereka.


"Baik, Pak," sahut anak-anak di dalam kelasnya yang sontak saja membuat Adrian kaget dan membuyarkan lamunannya.


"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kamu melamun terus? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Aldo, teman semejanya penasaran.


"Tidak ada apa-apa," jawab Adrian sambil berdiri dan meminta izin ke toilet.


"Cepat, jangan lama-lama."


"Baik, Pak."


Adrian berjalan menelusuri koridor kelas. Dia terlihat murung dengan raut wajah yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Adrian yang selalu terlihat garang dan cuek, kini terlihat seperti orang yang kesepian.


Di dalam toilet, Adrian menatap wajahnya di depan cermin. Tanpa sadar, air matanya mengalir. Dia tertunduk dengan isak yang perlahan mulai terdengar. Adrian yang selalu terlihat tegar, kini bagaikan anak kecil yang sedang menangis karena kehilangan ibunya.


Adrian awalnya adalah anak yang baik. Dia anak yang penurut dan pintar. Anak-anak kelas dua belas semua tahu tentang sifat Adrian waktu dulu. Namun, semua sifatnya itu berubah ketika dia naik ke kelas sebelas. Adrian yang awalnya baik, berubah menjadi anak yang suka menindas. Tak sedikit adik kelasnya yang sudah menjadi korbannya. Itu semua karena ada alasannya. Dia hanya ingin mencari perhatian karena dia kesepian.


Selama ini, Adrian dikenal sebagai cowok yang suka mengganggu cewek-cewek di sekolah. Tak hanya itu, setiap cewek yang berusaha dekat dengannya, pasti akan berakhir kecewa.


Adrian tidak pernah menyatakan cinta pada cewek manapun. Dia bahkan telah memutuskan untuk tidak akan pernah menyukai wanita dalam hidupnya. Bahkan, dia berniat untuk menyakiti dan hanya memanfaatkan mereka saja. Namun, semenjak kehadiran Lani dalam hidupnya, semua prinsip itu seakan runtuh. Dan sekarang, dia sedang merasakan sakit luar biasa di dalam hatinya. Sakit karena melihat orang yang sangat dicintainya itu ternyata bersama orang lain.


Adrian adalah anak tunggal. Keluarganya sangat kaya raya. Ayah dan ibunya adalah pengusaha yang sukses. Dan, karena kesibukan itulah yang membuat Adrian kesepian karena perhatian kedua orang tuanya hanya tertuju pada pekerjaan mereka sehingga tidak memperhatikan anak semata wayang mereka.


Semua keperluannya sudah terpenuhi. Mulai dari uang jajan atau apapun yang diinginkannya sudah tersedia. Kalau tidak ada, maka dia hanya tinggal meminta dan pasti langsung mereka berikan, tapi sayang itu tidak berlaku ketika dia hanya meminta sedikit saja waktu dan perhatian dari kedua orang tuanya karena tentu saja mereka tidak akan menyanggupinya.


Yang lebih parahnya lagi, dia pernah melihat ibunya bersama pria lain. Dan ibunya jarang ada di rumah dengan alasan kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan ayahnya tak pernah komplain dengan hal itu, seakan itu sudah hal biasa bagi mereka. Sejak kejadian itu, Adrian mulai berubah dan mulai menjadi anak yang bandel, tapi itu semua dia lakukan karena ingin mencari perhatian kedua orang tuanya, tapi sayang itu semua percuma.


*****


Suasana di sekolah terlihat ramai karena hari ini adalah pembukaan pertandingan basket. Ada empat belas sekolah yang mengikuti kejuaraan itu. Dan tentu saja, sekolah mereka penuh dengan siswa dari sekolah lain yang datang untuk memberi semangat untuk tim sekolahnya masing-masing.


Sementara Reihan dan teman-temannya tengah bersiap karena hari ini adalah hari pertama mereka bertanding.


"Kalian harus semangat, ya," ucap Iva kepada Raka dan teman-temannya.


"Jangan khawatir, kita pasti menang, kok," jawab Raka penuh percaya diri.


"Rei, ayo cepat!!" panggil Rifal pada Reihan yang sedang berbicara dengan Lani.


"Kamu harus semangat dan aku harap kalian akan meraih kemenangan," ucap Lani yang mencoba memberi semangat pada kekasihnya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, karena sudah menemaniku selama ini dan aku tidak ingin kamu kecewa. Aku janji, kali ini tim kita pasti akan menang," janji Reihan sambil melayangkan senyumnya.


"Aku tahu, kok. Aku dan Iva akan terus menyemangati kalian. Sudah, cepat kesana mereka sudah menunggumu."


Sambil berlari kecil, Reihan menemui teman-tamannya yang sudah masuk di dalam lapangan. Sorak sorai dan tepuk tangan menghiasi kemunculan mereka. Tak lupa, Iva dan Lani yang duduk di kursi penonton turut memberi semangat dengan yel-yel khas mereka.


Sementara Lani dan Iva tengah asyik memberi semangat dan sesekali bertepuk tangan, ada sepasang mata yang terus memperhatikan tingkah mereka. Sementara semua mata tertuju pada pertandingan, tapi tatapan itu hanya tertuju ke arah Lani. Tatapan yang penuh cinta walau mungkin cinta itu takkan pernah terbalas.


Pertandingan berakhir dengan kemenangan dari tim Reihan. Walau tim lawan cukup tangguh, tapi Reihan dan teman-temannya bisa mengalahkan mereka.


Dari lapangan, Reihan memandang ke arah tribun mencari sosok Lani. Setelah melihat kekasihnya itu, Reihan lalu melayangkan senyum dan tentu saja Lani membalas senyumannya itu.


"Jangan cepat puas, ini baru pertandingan awal masih ada beberapa pertandingan lagi. Jadi, aku harap kita harus tetap kompak," ucap Reihan ketika mereka sedang beristirahat.


"Jalan kita masih panjang, jadi Bapak harap kalian harus semangat dan tetap kompak. Kalian harus banyak istirahat untuk persiapan pertandingan selanjutnya," kata pelatih ketika di dalam ruang ganti.


Di depan pintu sudah ramai dengan anak-anak yang ingin mengucapkan selamat kepada mereka. Tak hanya dari sekolah mereka saja, tapi ada juga dari sekolah lain terutama cewek-cewek.


"Mereka terlihat seperti para idol yang mau konser," ucap Iva ketika melihat sekumpulan cewek-cewek yang menunggu Reihan dan teman-temannya di depan pintu.


"Mau bagaimana lagi, mereka memang idol," lanjut Lani mengiyakan kata sahabatnya itu.


Karena banyak orang yang berdiri di depan pintu, membuat mereka susah untuk keluar dan mau tidak mau, mereka harus melayani cewek-cewek itu untuk sekedar salaman maupun berfoto bersama.


"Kak, minta foto dong biar aku update di IG aku."


"Iya, iya," ucap Raka mengamini.


Setelah puas berfoto dan bersalaman, satu persatu mulai beranjak pergi setelah keinginan mereka terpenuhi. Tinggal Lani dan Iva yang masih duduk terpaku melihat kejadian tadi.


"Wah, kalian hebat juga. Ternyata kalian punya penggemar yang cukup banyak, apalagi hampir semuanya cewek-cewek," ucap Iva ketika mereka mulai mendekati kedua gadis itu.


"Itu sudah biasa, sehabis pertandingan mereka pasti akan minta foto," jawab Ian santai.


"Kenapa? Jangan bilang kalau kalian berdua cemburu," ucap Rifal mencoba menggoda mereka.


"Siapa juga yang cemburu," jawab Iva ketus dan pergi meninggalkan mereka.


"Va, tunggu," panggil Raka ketika melihat Iva pergi dengan wajah yang kesal.


"Awas kamu kalau sampai Iva marah-marah sama aku," ucapnya pada Rifal sambil mengejar Iva.


"Kamu juga, jangan bercanda seperti itu," ucap Reihan pada Rifal.


"Maaf, maaf."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Iva hanya kesal saja karena dari tadi menunggu kalian di sini."


"Aku minta maaf, kalau kalian menunggu lama. Kamu tahu kan, pelatih kita itu kalau kasih wanti-wanti itu seperti orang lagi pidato," ucap Reihan menjelaskan.


"Tidak masalah, aku mengerti kok."


"Lebih baik kalian istirahat saja dulu, aku dan Iva akan pulang. Kita ketemu lagi besok di sekolah dan selamat karena kalian sudah menang."


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang karena pelatih belum mengizinkan kami untuk pulang."


"Tidak apa-apa, kami pulang dulu ya," ucapnya pada Reihan dan teman-temannya.


"Aku antar sampai ke depan, ya."


"Tidak usah, kamu di sini saja," ucap Lani kemudian pergi membelakangi mereka.


*****


Di antara hiruk pikuk suasana sekolah yang ramai, canda tawa dan senyum yang terlihat dari orang-orang yang berlalu lalang tidak membuat Riana ikut merasakan hal yang sama. Wajahnya yang selalu ceria, kini berubah menjadi wajah yang selalu sinis tanpa ekspresi. Apalagi sejak melihat kedekatan Lani dan Reihan, membuat dia semakin membenci gadis itu.


Riana yang selalu duduk paling depan ketika Reihan bertanding, kini sudah tak peduli lagi. Yang tinggal hanya sosok Riana yang hatinya mulai dingin karena termakan rasa cemburu dan benci.


"Va, jangan marah, Rifal cuma bercanda kok."


"Aku tidak marah, aku hanya tidak suka di olok-olok di depan teman-temanmu."


"Aku minta maaf. Kalau kamu marah-marah, aku tidak bisa konsen kalau pertandingan nanti."


"Iya, aku tidak marah. Sana balik, nanti kamu dimarahi sama pelatih."


"Benar, kamu tidak marah?"


"Iya, kita tidak marah kok." Tiba-tiba Lani muncul dari belakang mereka.


"Sana, kamu sudah ditunggu sama Reihan, lagipula kita berdua juga sudah mau pulang."


"Bener kan kamu tidak marah?"


"Iya, aku tidak marah," ucap Iva dengan senyum.


"Ya sudah. Aku balik ya, hati-hati di jalan."


"Iya."


Setelah kepergian Raka, kedua sahabat itu memutuskan untuk segera pulang. Baru saja mereka melangkahkan kaki, tiba-tiba Riana sudah berdiri di depan mereka.

__ADS_1


__ADS_2