Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Sebuah paket


__ADS_3

Di dalam mobil yang di kendarai oleh Rani


Terlihat Delvano kini tengah menatap kosong ke arah jalanan memikirkan kembali setiap kejadian yang baru saja ia alami. Jika melihat dari reaksi yang di tunjukkan oleh Elbara ketika Delvano mengatakan hal itu, tentunya pasti akan sangat sulit untuk kembali memisahkan keduanya. Delvano terdiam memikirkan berbagai cara ampuh untuk membuat Akila kembali bersama dengannya.


Lama suasana hening dan penuh kekosongan terjadi di dalam mobil, hingga kemudian sebuah suara Simfoni yang sangat ia kenal terdengar mulai menggema memenuhi area mobil dan membuyarkan lamunannya. Delvano yang mengetahui suara Simfoni itu berasal dari MP3 di mobilnya, lantas langsung mengernyit dengan bingung karena Simfoni itu yang di putar dengan tiba tiba.


"Apa kau yang memutar simfoni ini?" ucap Delvano yang lantas membuat Rani langsung mendongak menatap ke arah kaca spion untuk melihat reaksi bosnya itu.


"Maaf sebelumnya pak, saya hanya mempelajari sekilas dari internet tentang anda dan saya dengar anda sangat menyukai Simfoni ini mangkanya saya berinisiatif untuk memutarnya, siapa tahu bisa memberikan ketenangan untuk bapak." ucap Rani sambil sesekali melirik ke arah kaca spion.


Mendengar ucapan asistennya itu membuat Delvano lantas tersenyum dengan simpul, sebuah pemikiran gila mendadak terlintas begitu saja di benaknya, membuat Delvano seperti mendapat angin segar di kala kesumpekan yang melanda kepalanya. Rani yang melihat senyuman Delvano merasa sedikit keanehan sekaligus takut karena entah mengapa, bagi Rani senyuman Delvano barusan seperti memiliki arti lain yang terkesan sangat mengerikan bagi Rani.


Rani yang melihat senyuman bosnya itu, lantas langsung berusaha kembali fokus menatap ke arah jalanan. Sebisa mungkin Rani mencoba untuk mengacuhkan senyuman itu walau ia masih penasaran akan maksud dari senyuman Delvano barusan.


"Semoga saja bukan sesuatu yang buruk." ucap Rani dalam hati sambil terus melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota dan kembali menuju ke kantor.


***

__ADS_1


Sementara itu di ruangan pribadi yang terletak di Resto milik Akila, terlihat Elbara tangah mendudukkan dirinya di sofa ruangan Akila, sedangkan Akila terlihat tengah mengaduk secangkir kopi untuk Elbara dengan pandangan yang kosong menatap ke arah depan.


Kehadiran Delvano secara tiba tiba membuat pikiran Akila kembali di hantui rasa ketakutan yang besar, Akila mengaduk kopi secara perlahan dan terus menatap kosong ke arah depan, seakan kembali memutar kenangan tentang kehidupan pernikahannya dulu ketika bersama dengan Delvano. Helaan nafas kembali terdengar dari mulut Akila seakan berusaha untuk melepas beban berat di pundaknya.


Sedangkan Elbara yang tidak kunjung melihat Akila kembali sedari tadi, lantas langsung bangkit dari posisinya dan menyusul Akila ke pantry untuk melihat apa yang tengah Akila lakukan saat ini hingga tidak kunjung kembali sedari tadi padahal hanya membuat secangkir kopi untuk Elbara saja.


Elbara melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila, hening sesaat ketika Elbara memanggil nama Akila dengan pelan, membuat Elbara lantas mengerutkan keningnya dengan bingung karena Akila sama sekali tidak menjawab panggilannya, dan malah terus mengaduk minumannya tanpa henti.


"Ki... apa yang sedang kamu lakukan?" ucap Elbara kemudian ketika jarak keduanya hanya tersisa beberapa centi saja.


Akila yang mendengar suara Elbara yang tiba tiba itu lantas langsung terkejut bukan main, hingga tanpa sengaja menyenggol gelas kopi yang sedang ia aduk dan mengenai tangannya.


Rintih Akila ketika percikan kopi panas mengenai pergelangan tangannya, membuat Akila lantas langsung dengan spontan mengusap tangannya berulang kali sambil berusaha meniupnya karena terasa panas begitu menyentuh kulitnya. Elbara yang melihat tangan Akila terkena kopi, lantas langsung mendekat ke arah Akila dan melihat apakah tangan Akila terluka atau tidak.


"Apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya Ki? mengapa kamu ceroboh sekali sih?" ucap Elbara sambil terus meniup tangan Akila dengan lembut berusaha untuk meredakan rasa sakit Akila.


Sedangkan Akila yang mendapat perlakuan itu dari Elbara, hanya bisa terdiam sambil termenung menatap ke arah Elbara yang kini tengah sibuk meniup tangannya yang terkena kopi barusan. Pikiran Akila melayang jauh membayangkan kembali kejadian demi kejadian yang telah ia lewati, bersama dengan Elbara yang selalu berada di sisinya Akila berhasil bangkit dari keterpurukannya dan secara perlahan menyusun kehidupan yang baru bersama ibunya. Suatu kehidupan yang selalu Akila impikan sejak dulu namun baru tercipta ketika Elbara hadir di hidupnya.

__ADS_1


Akila tidak pernah pungkiri jika kehadiran Elbara merubah segala kehidupannya, Akila yang dahulu hanya pasrah dan berserah atas segala kelakuan Delvano kepadanya, perlahan lahan mulai berani menyuarakan isi hatinya dan bergerak maju agar bisa terlepas dari jeratan Delvano yang kian menyiksanya setiap hari tanpa henti walau Akila sudah meminta Delvano untuk berhenti, namun Delvano sama sekali tidak pernah menghiraukannya.


"Aku bersyukur memiliki mu El... aku berharap Delvano tidak akan pernah menganggu kehidupan ku kali ini..." ucap Akila dalam hati sambil masih menatap kosong ke arah Elbara yang hingga kini masih berusaha untuk meniup tangan Akila.


***


Sementara itu ruangan Delvano


Dari arah pintu masuk terlihat Rani tengah melangkahkan kakinya memasuki ruangan Delvano dengan membawa sebuah kotak kecil di tangannya, Delvano yang mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah Delvano, lantas dengan spontan langsung mendongak dan menatap ke arah sumber suara. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Delvano ketika melihat Rani datang dengan membawa kotak kecil, yang Delvano sendiri memang sudah mengetahui isi dari kotak tersebut.


"Ada paket untuk anda pak." ucap Rani sambil memberikan kotak tersebut kepada Delvano.


Delvano yang menerima kotak dari Rani barusan, lantas tersenyum dengan bahagia karena sebentar lagi tujuannya akan terwujud dengan datangnya benda ini. Delvano yang sudah tidak sabar lagi untuk segera membukanya, lantas langsung mengisyaratkan kepada Rani untuk meninggalkan ruangannya agar Delvano bisa langsung membuka dan melihat isi dari kotak tersebut.


Rani yang melihat sekaligus paham akan kode yang di berikan oleh Delvano, lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Delvano.


Setelah kepergian Rani dari sana, dengan gerakan yang bergegas Delvano langsung dengan spontan membuka kotak tersebut dan melihat isinya. Dua botol kecil yang berisi cairan berwarna gelap terlihat ketika tangan Delvano mulai mengeluarkan benda itu dari kotaknya. Dengan senyum yang mengembang Delvano mulai menatap kedua benda kecil itu dengan raut wajah yang sumringah seakan seperti tengah memikirkan sesuatu saat ini.

__ADS_1


"Jika kita tidak bisa bersama di dunia ini, bukankah kita masih bisa bersama di atas sana Ki... aku akan membawa mu pergi bersama ku Ki, dengan ataupun tanpa seijin mu..." ucap Delvano dengan senyum yang mengembang.


Bersambung


__ADS_2