
Setelah pulang kerja, Ferdi pun meletakkan tas kerjanya begitu saja, dan ia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Karena keteledorannya, Anabel pun tanpa sengaja melihat surat yang tergeletak begitu saja di tasnya yang tengah terbuka.
Anabel pun segera membaca surat tersebut dan setelahnya ia benar benar tidak tau harus mengatakan apa.
Tak lama kemudian, Ferdi pun keluar dari kamar mandi, dan terkejut melihat istrinya menangis juga tatapannya kosong seperti itu.
"Yank, kamu kenapa?" tanya Ferdi mendekati istrinya. Sedangkan yang di tanya tidak merespon sama sekali, ia masih tetap dengan pandangan kosongnya, dengan masih menggenggam kertas
tersebut bersamaan dengan bulir bulir air matanya yang membasahi pipinya.
Untuk beberapa saat kemudian, Ferdi pun menyadari bila kini suratnya berada di genggaman tangan Anabel dan kemungkinan Anabel pun sudah membacanya.
Ferdi benar benar bingung, harus berkata apa dan bagaimana, hingga ia pun mulai mendekati Anabel untuk mengizinkan Istrinya menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.
Ferdi pun mencoba menatap Anabel walau beberapa kali Anabel menolak tatapan mata Ferdi, namun Ferdi tak menyerah, hingga kini mereka saling menatap. Ferdi pun menghapus perlahan bulir bulir air mata tersebut. Mencium dahi, mata, pipi, dan bibir Anabel dengan berulangkali
mengucapkan kata maaf pada Anabel, sedangkan Anabel masih dengan keterdiamnya.
"Maafin aku ya yank. Aku juga benar benar tidak menyangka surat itu darinya dan begitupun dengan isinya. Bahkan tadi saat mengantarkan dia pulang ke jalan raya, tak ada satu katapun yang ia lontarkan padaku tentang siapa dia sebenarnya. Mungkin mas juga tidak akan tau, bila tak membaca surat ini.
"Jadi dia Anna? Anna masih hidup? berarti yang waktu itu katamu bertemu seseorang mirip Anna, kemungkinan itu benar kan? Dia memang Anna dan ia masih hidup.
Dan di surat ini, dia menyatakan dia mencintaimu dan memberikan nomernya bila kamu ataupun aku ingin dia kembali ke sini, berarti aku harus merelakanmu menikah dengannya dan aku akan di madu olehmu?" tanya Anabel, dengan bulir bulir air mata yang masih membasahi pipinya.
"Jujur, aku bingung Mas, harus berkata apa dan bagaimana.. di sisi lain aku senang Anna masih hidup, ya walaupun aku tidak tau bagaimana mungkin ia masih hidup. Tapi di sisi lain aku
sedih Mas, jujur aku rindu dengannya tapi bila aku menginginkan ia kembali berarti aku harus merelakanmu menikah dengannya? sedangkan kamu tau perempuan mana yang rela hatinya terbagi Mas? tolong katakan padaku!!" ucap Anabel.
Sedangkan Ferdi berusaha memeluk Anabel agar ia merasakan ketenangan dan tidak tersulut emosinya. Namun Anabel menolak sentuhannya hingga Ferdi pun berdiri dan sedikit menjaga jarak dengan Anabel dan menghadapkan tubuhnya ke arah belakang untuk menenangkan dirinya.
Anabel pun mencoba berdiri menghampiri Ferdi dan melanjutkan ucapannya...
"Mas, kamu lihat sendiri kan? bagaimana anak anak tadi melihat kepergian Anna atau Dina lebih tepatnya. Mereka menangis histeris mas, tidak mau makan sampai salah satu dari mereka tidak
bersekolah, dan berakhir sakit karena menangis terus.
Jujur aku juga tidak tau mengapa mereka, anakku bisa menyayangi Dina hingga seperti itu" ucap Anabel nada sedih.
"Aku bingung Mas, jujur hatiku belum bisa merelakanmu sepenuhnya dan membiarkan cintamu terbagi dengan yang lain begitupun hatimu yang ada nama lain selain aku. Tapi di sisi lain, aku
tidak mungkin tega melihat anak anakku, Bulan , Bintang juga David seperti itu. Lalu aku harus bagaimana Mas? aku bingung.." ucap Anabel kembali, yang mulai berjalan mendekati Ferdi.
"Mama belum tau masalah ini dan aku tidak tau bagaimana bila mama mengetahuinya." ucap Anabel kembali. Sedangkan Ferdi tetap dengan keterdiamnya dan menahan gejolak emosinya yang
siap tumpah kapan saja.
"Mas, aku tidak tau haruskah aku menyesal pernah mengenal sosok Ana?" tanya Anabel ke Ferdi.
__ADS_1
"Mas, tolong jawab. Jangan diam saja." ucap Anabel kembali.
"Mas, bingung Bel, harus menjawab apa...." ucap Ferdi.
"Kamu masih mencintai Ana kan Mas? kamu masih mengharapkannya kan? hingga kamu tak bisa menjawabnya? Bahkan mungkin kamu masih mengharapkan pernikahan dengan Ana kan Mas?
Jahat kamu mas..." ucap Anabel histeris, hingga tanpa sadar bila April telah mendengarkan pembicaraan mereka di luar pintu kamar mereka.
"Tolong hentikan ucapan omong kosong mu itu. Aku masih mencintaimu sebagai istriku dan sungguh aku tak ada niat mendua darimu. Walau mungkin dulu pernah ada rasa dengan Ana, dan mungkin sesekali detak itu masih ada.
Tapi sungguh aku tak pernah berfikir menduakanmu dan menginginkan pernikahan dengan Ana. Untuk anak anak, aku tak mengetahui bila mereka sesayang itu dengan Ana." ucap Ferdi.
Lalu aku harus bagaimana? aku pun bingung harus bagaimana dan melakukan apa. Di sisi lain, aku juga kasihan dengan anak anak dan tidak ingin kamu kehilangan sahabatmu lagi.
Tapi aku juga tidak ingin aku harus berpoligami karena aku tau pasti akan berat untuk menjalankannya. Aku benar benar bingung dan tidak tau harus berbicara apa, aku harap kamu paham." ucap Ferdi, mencoba menahan
emosinya.
Di tengah pembicaraan mereka, April pun mulai mengetuk pintu kamar mereka.
Toktoktok ( pintu di ketuk) .....
"Mas, ada yang mengetuk, tolong bukain ya. Hemm siapa ya, anak anak kah?" ucap Anabel, yang mencoba.menghapus air matanya. Karena ia tidak ingin ada yang mengetahui bila ia menangis.
"Iya, aku bukain. Mungkin Mama atau Papa ajak kita makan." ucap Ferdi yang berjalan ke pintu kamarnya, untuk membukakannya.
"Nak, makan yuk.." ucap April kembali, dengan mengetuk pintu lagi.
"Iya Ma, duluan saja bentar lagi kami nyusul untuk makan." ucap Anabel.
"Humm, tunggu mama mau berbicara bentar sama kalian. Maaf, mama tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.
Bisa tolong jelaskan ke mama apa maksud pembicaraan kalian? mengapa ada nama Ana lagi kalian sebut dan anak anak? dan Ferdi akan berpoligami? apa maksudnya?" tanya April.
"Ma, Mama tadi mendengar pembicaraan kita?" tanya Anabel..
"Humm, iya. Bisa tolong jelaskan ke Mama." ucap April.
"Ferdi mungkin akan menikah dengan Ana." ucap Anabel, lirih.
"Apa maksudnya? Fer bisa tolong jelaskan maksud Anabel apa?" tanya April.
"Maaf Ma, maafin Ferdi sebelumya. Sungguh Ferdi sama sekali tak ada fikiran untuk berpoligami. Ferdi tak ingin menduakan Anabel dan Ferdi tetap mencintai Anabel menjadi istri satu satunya
Ferdi. " ucap Ferdi.
"Lalu...kenapa Anabel bilang kamu akan berpoligami? maksudnya? Bel?? Fer?" tanya April, yang masih bingung maksud pembicaraan mereka.
"Dina, asisten kemarin dia..." ucap Anabel terhenti, rasanya Kelu untuk melanjutkan apa yang akan
__ADS_1
ia katakan. Hingga tanpa sadar surat yang ia pegang sejak tadi, terjatuh dan April pun segera berjalan ke arah Anabel untuk mengambil surat tersebut.
"Surat apa ini Bel?" tanya April, yang telah mengambil surat tersebut.
"Ohya Apa hubungannya dengan Dina? tadi kalian membicarakan Ana kan? Lalu kenapa sekarang jadi Dina? Apa hubungannya dengan Ana?."
tanya April kembali.
"Dina itu Ana Ma.." ucap Ferdi, mencoba menahan Isak tangisnya.
Begitupun dengan Anab yang memalingkan wajahnya untuk menahan Isak tangisnya.
"Maksudnya? Jangan bercanda Fer, Bel,Ana sudah meninggal.." ucap April.
"Humm, baca saja Ma." ucap Ferdi, yang sudah terlalu lelah di salahkan. Dan April pun mulai membaca surat tersebut.
"Ma.." ucap Anabel, yang mencoba mencegahnya namun ia pun tak bisa melakukan apapun karena April sudah terlanjur membacanya.
"Apa ini maksudnya? ada yang bisa jelaskan ke Mama maksud surat ini?" tanya April yang mulai tersulut emosi.
"Ma, tolong tenang." ucap Ferdi.
"Tolong tenang? anak mama Anabel akan di poligami? dan kamu menyuruh mama tenang?" Kamu gila ya Fer, kamu benar benar keterlaluan." ucap April.
"Jadi Dina itu Ana? Bagaimana mungkin? jujur Mama masih gak percaya bila Ana hidup kembali dan menjadi Dina. Lalu apa Ana sudah
merencanakan ini semua?
Mama gak setuju Fer, bila kamu benar benar menikahi Ana. Kamu pergi dari rumah ini dan kamu harus pisah dengan anak mama, kamu juga tak bisa bersama dengan anak anakmu lagi.
Mama gak mau Anabel di lukai dan di duakan olehmu. Untuk cucu mama tak perlu khawatir, mama yakin Bulan, Bintang juga David pasti seiring berjalannya waktu ia akan melupakan Ana atau Dina itu. Dan mama tak menyesal keputusan Mama kemarin mengusirnya." ucap April.kembali.
"Ah, iya ayo makan turun. Mama, Papa sama anak anak sudah menunggu kalian di bawah untuk makan bersama. Ingat Fer, kamu harus memilih karena Mama tak ingin Anabel, anak mama kamu duakan dan lukai. " ucap April lagi dengan menjatuhkan surat itu ke lantai kembali kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
****
Akankah Ferdi menikahi Ana??.....
Akankah Anabel sanggup di duakan? dan menjalani bahtera rumah tangga tersebut?
Akankah Ferdi sanggup menjalani bahtera rumah tangga dengan beristrikan dua ?
Lalu bagaimanakah nasib dan perasaan Bulan, Bintang dan David bila mengetahui Dina atau Ana kembali justru menikahi Ayahnya?
Akankah seiring berjalannya waktu mereka mengetahui rencana Ana sebenarnya yang meminta untuk di nikahi?
Akankah mereka kecewa pada Ana?
Bila mengetahui kebenarannya terlebih ketiga anak Anabel yang telah menyayangi Ana.
__ADS_1
Lalu bagaimanakah bila keluarga Anabel mengetahui siapa Ana sebenarnya dan maksud dari Ana kembali ke kehidupan mereka??.....