Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Memulai kembali dari nol


__ADS_3

SB Company


Delvano melangkahkan kakinya dengan langkah yang bergegas, di susul beberapa karyawan yang tergabung di dalam divisi yang baru saja ia bentuk.


Delvano menghentikan langkah kakinya tepat di divisi pemasaran, sebuah divisi penting di dalam sebuah perusahaan dimana tugas mereka adalah memasarkan sebuah produk perusahaan kepada konsumen dan masyarakat luas.


"Pak" sapa seorang karyawan yang melihat kedatangan Delvano barusan, membuat karyawan lainnya di dalam divisi tersebut langsung bangkit berdiri ketika menoleh ke arah pintu masuk dan melihat Delvano tengah berdiri di sana.


"Hentikan semua aktivitas kalian, kali ini divisi kalian akan mendapatkan penggeledahan secara menyeluruh, mohon kerja samanya karena bagi siapapun yang menolak penggeledahan ini kalian akan langsung mendapat peringatan atau bahkan di keluarkan secara tidak hormat dari perusahaan." ucap Delvano dengan tegas membuat semua orang di divisi itu lantas langsung terdiam sambil menelan saliva mereka dengan kasar.


Setelah memberikan pengumuman tersebut, Delvano kemudian memberikan perintah kepada Lifia untuk mulai bergerak melakukan pengecekan di divisi tersebut.


Lifia dan juga yang lainnya mulai berkeliling dan menggeledah segalanya yang ada di sana, sedangkan Delvano mulai melangkahkan kakinya secara perlahan menyusuri area divisi tersebut.


Seulas senyum terlihat terbit dari wajah tampan Delvano ketika melihat satu orang nampak mulai terlihat gelisah ketika kedatangan ia dan juga yang lainnya. Sebenarnya Delvano memang sengaja melakukan penggeledahan pertama kali di divisi pemasaran karena ia mendengar rumor bahwa salah seorang di divisi pemasaran adalah pembuat laporan keuangan palsu yang digitnya sangat tidak masuk akal.


"Aku menemukan mu!" ucap Delvano dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya ke arah pria tersebut.


Hingga ketika Delvano melihat pria tersebut mulai bergerak seperti hendak mengamankan sesuatu, Delvano langsung mempercepat langkah kakinya menghampiri pria itu.


"Faris Setiawan... nama yang bagus, apa yang akan kamu lakukan secara diam diam ketika divisi inti melakukan pengecekan?" ucap Delvano dengan tiba tiba ketika tepat berada di samping Faris.


"Anu... anu pak... saya..." ucap Faris dengan nada yang tergagap, membuat beberapa karyawan lain di dalam divisi tersebut langsung menatap ke arah Faris begitu mendengar suara Delvano dan juga Faris barusan.


Delvano mencabut satu buah flashdisk yang tertancap di komputer, kemudian menggeledah beberapa barang milik Faris dan langsung memberikan kode kepada Lifia untuk meneruskan kegiatannya.

__ADS_1


"Temui aku di ruangan ku setelah ini, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan kepadamu!" ucap Delvano memberikan perintah kemudian berlalu pergi dari sana membiarkan Lifia dan yang lainnya melakukan tugas mereka.


Beberapa karyawan divisi pemasaran terlihat saling berbisik dan membicarakan tentang Faris. Jika melihat dari bagaimana ekspresi dan kata kata yang keluar dari mulut Delvano, sepertinya Faris akan mendapat masalah yang besar kali ini.


Setelah kepergian Delvano dari divisi pemasaran, Faris nampak mulai melangkahkan kakinya untuk menemui Delvano di ruangannya.


"Sialan.. jika sampai aku tertangkap, apa yang harus aku lakukan?" ucap Faris dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ruangan Delvano.


***


Sementara itu pagi ini Akila dan juga Elbara terlihat berkeliling ibu kota mencari tempat yang pas untuk Akila membangun sebuah usaha. Setelah bercerai dari Delvano, Akila ingin mulai kembali bangkit walau harus mengulangnya kembali dari nol.


Elbara dan Akila nampak masuk ke sebuah bangunan yang cukup luas tepat di pinggir jalan besar. Seulas senyum terbit dari wajah Akila ketika melihat struktur bangunan tersebut yang masih bagus dan juga nyaman, hanya tinggal memperbaiki beberapa bagian saja dan juga finishing, pasti akan menjadi tempat usaha yang nyaman dan mudah di jangkau karena letak posisinya yang berada tepat di sebelah jalan raya besar.


"Aku suka tempat ini..." ucap Akila dengan senyum yang mengembang.


"Bagaimana menurut mu El?" tanya Akila kemudian.


"Lumayan bagus, kalau kamu suka kita bisa membelinya." ucap Elbara kemudian, membuat agen tersebut langsung tersenyum ketika melihat kedua orang di hadapannya ini tidaklah rewel dan bertanya ini itu ketika membeli sebuah bangunan.


"Jika anda ingin membelinya mari ikut saya untuk menandatangani beberapa berkas." ucap agen tersebut.


"Tentu..." ucap Elbara kemudian.


Agen itu kemudian langsung menuntun keduanya untuk duduk di sebuah kursi dan memulai serah terima bangunan tersebut.

__ADS_1


Elbara yang tadinya hendak duduk di kursi, lantas urung karena Akila langsung menarik lengan Elbara dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Jangan lakukan apapun dan biarkan aku melakukannya sendiri El..." ucap Akila dengan nada yang berbisik, membuat Elbara lantas langsung menoleh dengan sekilas ke arah Akila.


"Hanya membelikan sebuah bangunan untuk usaha, bukankah sesuatu yang kecil Ki? lagi pula jika bukan kamu yang menghabiskan uang ku lalu siap lagi?" ucap Elbara dengan nada entengnya, membuat Akila hanya bisa bengong ketika mendengar jawaban dari Elbara barusan.


Sedangkan agen tersebut yang juga mendengar ucapan dari Elbara hanya bisa menahan senyumnya saja.


"Sepertinya cowoknya lebih bucin.." ucap agen tersebut menahan senyumannya.


"Ku bilang tidak usah El... aku masih punya tabungan, jadi biarkan aku benar benar memulai usaha ku dari nol oke..." ucap Akila lagi kemudian mengambil posisi duduk di depan agen tersebut dan bersiap untuk memulai protesnya.


Elbara yang lagi lagi mendengar penolakan dari Akila hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang. Baru kali ini Elbara bertemu dengan seorang wanita yang tidak mau di berikan sesuatu seperti kebanyakan wanita di luaran sana.


Akila kemudian lantas mendudukkan dirinya di kursi dan terlihat mulai membaca satu persatu berkas tentang bangunan tersebut, Elbara yang melihat hal itu lantas menjadikannya sebuah kesempatan bagi Elbara.


Elbara kemudian dengan sengaja mulai berdehem dan memancing agen tersebut agar menoleh ke arahnya, ketika pandangan keduanya bertemu Elbara dengan sengaja mengedipkan matanya dan berharap agen tersebut akan mengerti tentang bahasa isyarat darinya. Namun sayangnya bukannya mengerti, agen tersebut malah menatap Elbara sambil bergidik ngeri dan mengira bahwa Elbara adalah penyuka sesama jenis.


"Ih amit amit... aku tarik ucapan ku tadi yang mengatakan bahwa pria ini sangat bucin kepada si wanitanya, ternyata dia belok juga... ih benar benar menggelikan!" ucap agen tersebut dalam hati, membuat Elbara kesal bukan main karena agen tersebut tidak peka akan maksud dari kedipan matanya.


"Ah sial!" ucap Elbara dengan nada yang kesal ketika melihat tingkah aneh agen tersebut.


Ehem....


Dehem Elbara kembali yang lantas mengejutkan Akila yang tengah fokus membaca sedari tadi.

__ADS_1


"Ada apa El?" tanya Akila kemudian.


Bersambung


__ADS_2