
Ruangan Delvano
Setelah pembicaraan di telpon beberapa jam yang lalu, baik Delvano maupun Viona memutuskan untuk bertemu di kantor Delvano karena Delvano yang super sibuk sehingga membuatnya tidak bisa bertemu di tempat lain kecuali di kantornya.
Setelah mengetuk pintu ruangan Delvano, Viona terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan memasuki ruangan Delvano dan langsung mendekat ke arah Delvano kemudian mengambil duduk tepat di hadapannya, membuat Delvano yang sudah menunggunya sedari tadi, lantas di buat tersenyum ketika melihat kedatangan Viona baru saja.
Viona yang baru saja duduk, nampak mengangkat kakinya sebelah dan menyanggahnya dengan kaki satunya, membuat Viona terlihat begitu anggun dan juga s**i dengan pose duduknya saat ini. Sedangkan Delvano yang melihat cara duduk Viona barusan, hanya tersenyum dengan sinis kemudian membuang mukanya seakan enggan untuk melihat pemandangan gratis yang tersedia di hadapannya.
"Apa kedatangan mu ke sini hanya untuk menggoda ku saja? jika memang benar begitu sebaiknya kau pulang saja karena aku sama sekali tidak berminat dengan hal hal seperti itu selain dengan Akila! jadi aku harap hentikan aksimu itu!" ucap Delvano dengan nada yang tegas.
Viona yang mendengar kata kata ketus dari Delvano, lantas langsung tersenyum kemudian membenarkan posisi duduknya. Kali ini Viona menatap ke arah Delvano dengan tatapan yang serius seakan hendak memulai untuk berdiskusi.
Keduanya kemudian lantas terlibat pembicaraan yang serius seputar tentang kerja sama mereka, mungkin lebih tepatnya kerjasama antar perasaan yang masih tersisa di antara keduanya, membuat Viona maupun Delvano memilih jalan pintas untuk memisahkan Elbara dan juga Akila.
Memang tidak ada salahnya dalam mencintai seseorang hanya saja, sebuah cinta yang di dasari atas dasar obsesi pasti akan berakhir tragis dan tidak pernah tercapai, sayangnya baik Viona maupun Delvano tidak pernah menyadari bahwa cinta yang mereka rasakan adalah sebuah obsesi semata layaknya pada sebuah barang milik mereka yang selalu ingin keduanya genggam tanpa gangguan dari orang lain.
Delvano yang mendengar rencana dari Viona, hanya memasang raut wajah datar seakan akan tidak terlalu yakin atas rencana yang di ucapkan oleh Viona barusan.
"Aku rasa rencana mu ini tidaklah masuk akal, kau kira gampang mengatur semua itu?" ucap Delvano memberikan komentar pada rencana Viona barusan.
Sedangkan Viona yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum dengan cerah.
__ADS_1
"Ayolah kau jangan terlalu kolot, kita bisa membayar seorang dokter untuk berpura pura, setelah kita buat Elbara percaya baru kau dekati Akila atau kalau perlu bawa dia pergi jauh agar Elbara tidak bisa menemukan keberadaannya, bukankah itu sebuah ide bagus?" ucap Viona lagi dengan senyum yang mengembang.
"Entahlah, tapi bagi ku rencana mu ini terlalu tidak masuk akal dan memakan waktu yang lama, coba kau pikir secara logika... jarak antara kau tidur dengan hamil harus mencapai satu sampai dua bulan, sedangkan kau saja yang telah menikah 2 sampai 3 tahun dengan Elbara sama sekali tidak bisa hamil, bagaimana mungkin kau mendadak bisa hamil ketika kalian berdua sudah bercerai? tidakkah kau memikirkan sampai ke sana?" ucap Delvano sambil mengarahkan tangannya ke kepala seakan menyuruh Viona untuk lebih berpikir logis dalam menyusun sebuah rencana.
"Jika kau mengejek rencana ku, lalu sekarang ku tanya padamu, apakah kau punya rencana?" ucap Viona dengan nada yang menyindir ke arah Delvano.
Delvano yang mendengar ucapan dari Viona barusan lantas tersenyum seketika, yang kemudian membuat Viona langsung menatap dengan tatapan yang penasaran ke arah Delvano akan reaksinya barusan.
"Tentu saja... dan yang pasti lebih terdengar masuk akal dari pada rencana mu itu!" ucap Delvano kemudian yang langsung membuat Viona memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar kata kata sesumbar dari Delvano barusan.
***
Apartment Elbara
Akila yang baru saja sampai di meja makan, lantas langsung menyodorkan dua piring yang ia bawa dari dapur tepat ke arah Elbara, membuat Elbara langsung dengan spontan memasang wajah yang serius menatap ke arah dua piring saji di hadapannya.
"Ayo cicipilah, jika kali ini berhasil maka aku akan memasukkannya ke dalam menu di Resto ku nantinya." ucap Akila dengan senyum yang mengembang menatap ke arah Elbara menanti jawaban dari Elbara tentang masakannya.
Elbara yang mendengar ucapan Akila, lantas hanya menanggapinya dengan tersenyum kemudian mengambil sendok di piring kecil dan mulai menyendok saru persatu makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Perlahan tapi pasti Elbara mulai mengunyah makanan di mulutnya dengan manggut manggut, sedangkan Akila yang tidak kunjung mendengar jawaban dari Elbara, lantas langsung mendudukkan dirinya di dekat Elbara dan menatap ke arah Elbara dengan tatapan yang menanti.
__ADS_1
"Ayo katakan El... beri aku tanggapan..." ucap Akila dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Elbara.
Sedangkan Elbara malah memonyong monyongkan mulutnya dan mulai berakting seakan akan seperti juri juri di lomba masak yang ada di stasiun televisi.
"Asin" jawab Elbara dengan nada yang singkat membuat raut wajah Akila yang semula terlihat bahagia, langsung berubah menjadi cemberut ketika mendengar review langsung dari Elbara barusan yang malah membuatnya down.
Akila yang tidak percaya akan review dari Elbara, lantas langsung menarik sendok di tangan Elbara dan mulai menyendokkan makanan tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
Akila mulai mengunyah makanan hasil karyanya sendiri secara perlahan sambil mencari letak rasa asinnya, namun hingga sendokkan ketiga kalinya Akila sama sekali tidak menemukan rasa asin di masakannya.
"Elbara....." panggil Akila kemudian dengan nada yang sengaja memanjang karena baru menyadari bahwa Elbara tengah mengerjainya saat ini.
Elbara yang mendengar panggilan tersebut, hanya tertawa dengan lepas tanpa bisa Elbara tahan lagi karena melihat reaksi Akila yang sangat lucu menurutnya.
***
Sementara itu di ruangan Delvano
Setelah kepergian Viona dari ruangannya, Delvano lantas langsung membuka sebuah laci yang terletak di meja kerjanya sebelah kanan. Di ambilnya selembar foto potret diri Akila yang terlihat sangat cantik dengan senyum yang mengembang terlukis jelas di wajah Akila saat itu.
Delvano menatap foto Akila dengan senyuman yang mengembang, kemudian mengusapnya dengan perlahan secara berulang kali.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku akan memastikan kamu kembali di sisiku Ki... tidak akan ku biarkan seseorang pun mengambil mu dari sisiku." ucap Delvano dengan nada yang dingin sambil menatap ke arah selembar foto tersebut.
Bersambung