
Di sebuah daerah tepatnya di salah satu taman terbuka, terlihat Akila kini melangkahkan kakinya turun dari taksi. Di tatapnya area taman terbuka hijau dengan tatapan yang menelisik, tempat ini menjadi saksi bisu pertemuan pertamanya dengan Delvano yang kala itu tanpa di sengaja.
Flashback on
Setelah lulus dengan gelar yang memuaskan, Akila mencoba melamar pekerjaan di berbagai perusahaan besar yang ada di ibu kota. Sudah banyak perusahaan yang ia masuki namun sayangnya tidak ada satu pun yang menerimanya sebagai karyawan. Di tengah perasaan lelah yang menghampirinya, Akila melangkahkan kakinya menyusuri taman terbuka hijau dan mengambil duduk di salah satu bangku taman sekedar untuk melepas penatnya.
Akila menghembuskan nafasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah sekeliling untuk memastikan suasana aman dan tidak ada orang di sana. Melihat suasana sudah mulai sepi, dengan mengambil nafas yang panjang Akila mulai berteriak meluapkan semua emosi yang ada dalam dirinya, berharap dengan begitu ia dapat mengurangi sedikit rasa stres dalam dirinya.
"AAAAAAAAA APA AKU TIDAK SEPINTAR ITU MENURUT KALIAN? APA AKU KURANG CANTIK? NILAI KU BAHKAN MEMUASKAN... TAPI MENGAPA TIDAK ADA SATUPUN PERUSAHAAN YANG MAU MENERIMAKU AAAAAAA" teriak Akila dengan sekuat tenaga melepaskan segala beban yang kini sedang ia tanggung.
Di saat suasana hatinya mulai tenang, sebuah suara benda jatuh lantas mengejutkan Akila dan membuatnya dengan spontan langsung menoleh ke arah sumber suara.
Bugh....
Seorang pria lengkap dengan stelan jasnya, terlihat sudah jatuh dalam posisi terduduk di tanah di sertai dengan dedaunan yang berserakan di sekitarnya. Jika di lihat dari bagaimana dia jatuh, sepertinya pria tersebut jatuh dari atas pohon yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya. Akila yang melihat pria itu meringis kesakitan, lantas langsung melangkahkan kakinya berlarian mendekat ke arah pria itu dengan raut wajah yang khawatir.
"Apa kamu tidak apa apa?" tanya Akila dengan cemas.
"Tidak apa apa pala mu! aku bahkan jatuh dari atas pohon dan kau masih tanya tidak apa apa? gila kali kau!" pekik pria tersebut dengan raut wajah yang kesakitan.
__ADS_1
Flashback off
Akila menatap ke arah pohon besar yang menjadi penyebab Delvano jatuh kala itu, sebenarnya bukan pohonnya yang salah namun suara Akila lah yang mengejutkan Delvano dan langsung membuatnya terjun dan jatuh ke bawah tepat setelah Akila berteriak.
Akila menggeleng dengan pelan mencoba mengusir kenangan masa lalu, yang mendadak terlintas di benaknya ketika ia melewati taman ini, hingga ketika Akila melihat sosok yang sangat familiar di ingatannya lantas mulai mempercepat langkah kakinya menuju sosok tersebut.
"Di mana mama Van? jangan bercanda seperti ini... ini bahkan sudah tidak lucu lagi..." ucap Akila namun terpotong karena ucapan Delvano kepadanya.
"Apa kamu masih ingat pertama kali aku terjatuh di pohon ini Ki? waktu itu aku marah besar karena akibat teriakanmu aku jadi terkejut dan jatuh dari atas pohon itu." ucap Delvano dengan senyum lebar sambil menunjuk ke arah pohon besar.
Sedangkan Akila yang mendengar ucapan Delvano barusan hanya terdiam dan menahan kekesalannya, tujuannya datang ke sini bukanlah untuk mengenang pertemuan pertamanya dan juga Delvano, melainkan untuk mencari tahu keberadaan Lina saat ini.
"Aku akan memberitahu mu nanti, untuk saat ini biarkan aku mengenang masa masa pertemuan kita karena aku akan segera pergi, ini akan menjadi pertemuan terakhir kita Ki.. aku harap kamu memberikan ku waktu untuk berbicara sebentar." ucap Delvano dengan nada yang memohon sambil menatap ke arah Akila.
Akila terdiam seketika di saat mendengar kata kata Delvano barusan, raut wajah yang semula penuh kekesalan perlahan lahan menurun menjadi lebih teduh seakan simpati akan Delvano, seulas senyum terbit dari wajah Delvano ketika Akila nampak tidak segalak sebelumnya. Dengan gerakan yang perlahan Delvano kemudian lantas mengeluarkan sebuah kotak kalung yang berisi sebuah liontin bunga yang cantik untuk Akila, Akila menatap liontin tersebut dengan tatapan yang menelisik kemudian beralih ke arah Delvano dengan tatapan yang bingung.
"Apa ini?" tanya Akila dengan raut wajah yang penasaran.
"Ini adalah sebuah hadiah perpisahan dari ku, aku harap kamu tidak menolaknya." ucap Delvano dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Maafkan aku Van... tapi aku tidak bisa menerimanya." ucap Akila menolak secara halus pemberian Delvano kepadanya.
Mendengar penolakan dari Akila, membuat raut wajah Delvano sedikit berubah, namun entah mengapa di detik berikutnya Delvano malah tersenyum membuat Akila semakin bingung akan perubahan ekspresi wajah Delvano yang cepat itu.
"Ini hanya hadiah kecil dari ku, apa kamu tidak sudi menerimanya untuk yang terakhir kalinya?" ucap Delvano dengan raut wajah yang memelas.
Akila terdiam bingung harus berbuat apa, dalam hati kecilnya saat ini benar benar merasakan bahwa Delvano benar benar tulus padanya kali ini, hanya saja entah mengapa pikiran serta logikanya benar benar menolak dengan keras dan hanya berpikir bahwa ini adalah sebuah tipuan Delvano saja padanya. Akila menggigit bibir bagian bawahnya bingung harus mengambil keputusan apa, hingga beberapa menit menimbang dan tidak tahu keputusan apa yang akan ia ambil, pada akhirnya Akila memilih untuk mengangguk dan mengiyakan atau menerima hadiah dari Delvano, membuat Delvano yang melihat tanda persetujuan dari Akila barusan langsung tersenyum dengan girang.
Dengan gerakan yang cepat Delvano mulai melepas kalung tersebut dari wadahnya dan mendekat ke arah Akila berusaha untuk memasangkan kalung itu kepadanya.
"Ijinkan aku sekali ini saja Ki..." ucap Delvano lagi memberi ijin.
Mendengar hal tersebut, dengan menghela nafasnya panjang Akila lantas mengangguk dan menyibakkan rambutnya sedikit, agar memudahkan Delvano dalam memasangkan kalung tersebut di lehernya. Delvano tersenyum dengan puas ketika mendapat persetujuan tersebut, kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila dan mulai memasangkan kalung tersebut di leher Akila.
Sebuah senyuman iblis terlukis jelas di wajah Delvano, Akila yang mengira Delvano hanya sekedar memasangkan sebuah kalung ke lehernya rupanya semua itu salah besar. Tangan Delvano terlihat mulai turun dengan perlahan masuk ke dalam saku jasnya, di ambilnya sebuah suntikan yang sudah berisi cairan racun di dalamnya dan dengan gerakan yang cepat Delvano menancapkan suntikan tersebut ke arah leher Akila dan langsung memasukkan cairan racun tersebut ke dalam leher Akila tanpa pemberitahuan apapun, membuat Akila yang tidak tahu apa apa lantas terkejut dan jatuh dalam posisi terduduk di bawah.
Ah....
Bersambung
__ADS_1