Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Sesuatu yang janggal


__ADS_3

Toilet


Setelah memasuki area toilet, Akila terlihat membasuh wajahnya sebanyak beberapa kali kemudian diam termenung sebentar, sambil menatap ke arah kaca yang terpasang pada wastafel kamar mandi tersebut.


"Kau sudah bebas sekarang Ki... saatnya kau untuk bahagia... lupakan suara Simfoni itu karena semuanya hanyalah sebuah masa lalu... ya... hanya sebuah masa lalu." ucap Akila berulang kali seakan tengah merapalkan mantra untuk memperkuat pemikirannya sendiri.


Akila kembali membasuh wajahnya sekali lagi kemudian menatap ke arah cermin tersebut, ada sedikit rasa terkejut ketika ia mengangkat kepalanya kembali dan menatap ke arah cermin, bayangan Delvano mendadak berada tepat di belakang dirinya.


Akila yang terkejut sontak langsung dengan spontan berbalik badan dan langsung menatap ke arah Delvano.


"Ap... apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Akila yang terkejut akan kehadiran Delvano yang tiba tiba.


"Aku hanya merindukan mantan istri ku saja, apa itu salah?" ucap Delvano dengan entengnya sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Akila.


Akila yang melihat Delvano mendekat, lantas sedikit melipir ke kiri dan melangkahkan kakinya secara perlahan berusaha untuk menghindari Delvano.


"Jangan mendekat! ini toilet wanita tidak sepatutnya kamu berada di sini!" pekik Akila sambil mundur secara perlahan mencoba mencari celah untuk dirinya agar bisa kabur dari sana.


Namun sayangnya bukannya celah yang Akila dapat malah cengkraman dari Delvano yang ia dapatkan ketika hendak melarikan diri barusan.


"Mau lari ke mana kamu?" ucap Delvano sambil tersenyum menyeringai menatap tajam ke manik mata milik Akila.


"Ini adalah tempat umum, jika kamu macam macam aku akan berteriak di sini, bukankah orang orang akan menolong ku?" ucap Akila mencoba untuk menggertak Delvano, namun Delvano malah tersenyum dengan sinisnya membuat Akila bingung akan ekspresi yang ditunjukkan oleh Delvano.


"Lakukan saja sesuka mu Ki, bukankah nama ku sudah buruk di luaran sana? jika mereka melihat ku live saat ini, tentu tidak apa bukan?" ucap Delvano dengan tersenyum.

__ADS_1


Akila yang mendengar ucapan Delvano tentu saja terkejut bukan main, Akila kini bahkan merutuki kebodohannya karena meninggalkan ponsel dan juga tasnya di meja, Akila benar benar tidak mengira bahwa ternyata Delvano juga ada di Resto ini.


"Lepaskan aku! lepaskan aku..." ronta Akila sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Delvano pada tangannya, namun Delvano malah mencengkeramnya dengan kuat, membuat Akila langsung meringis kesakitan.


Delvano yang mendengar teriakan Akila sama sekali tidak menggubrisnya malah langsung mencium Akila dengan brutal. Akila yang mendapat serangan secara mendadak berusaha untuk memberontak dengan sekuat tenaganya, namun Delvano malah semakin menciumi Akila dengan ganasnya.


Delvano benar benar hilang akal dan terus menjelajahi area leher Akila, hingga ketika Delvano menyesap leher Akila, Akila yang melihat ada kesempatan lantas langsung menggigit daun telinga Delvano dengan kuat, hingga membuat Delvano mundur seketika sambil memegangi daun telinganya yang terasa menyakitkan.


"Ah... kau gila apa! benar benar sialan..." pekik Delvano.


Akila yang melihat Delvano kesakitan lantas tidak ingin menyianyiakan kesempatan dan langsung hendak melarikan diri, namun tanpa Akila sadari Delvano malah langsung menarik rambutnya yang tergerai dengan kuat, sehingga Akila langsung mundur dan terjatuh membentur pintu bilik kamar mandi.


Akila memegangi kepalanya yang terasa berdenyut akibat benturan tersebut, sedangkan Delvano malah tersenyum melihat Akila yang saat ini terkapar di lantai.


"Gigitan mu lumayan juga ya? lihatlah bahkan sampai berdarah seperti ini... tapi entah mengapa aku malah menyukainya, ya aku merindukan saat saat itu Ki... saat saat di mana kamu berada di kungkungan ku dan terus memberontak melakukan perlawanan, aku benar benar merindukannya..." ucap Delvano sambil mengambil posisi berjongkok dan menatap ke arah Akila.


Delvano mengusap wajah Akila dengan lembut, sambil menyisihkan rambut rambut Akila yang menghalangi wajah cantiknya.


"Ya tatapan seperti itu Ki... tatapan seperti itu yang aku rindukan selama ini!" ucap Delvano dengan senyum yang bahagia sambil mengusap wajah Akila perlahan dan mulai membuka kancing baju bagian atas milik Akila satu persatu.


"El..." ucap Akila lirih dengan nafas yang berat, namun Delvano malah mendengarnya sebagai sebuah des**an dan malah tersenyum dengan puas karena mengira apa yang ia lakukan bagai sebuah gayung yang bersambut.


***


Sementara itu Elbara yang tidak kunjung melihat Akila kembali, lantas di buat semakin gelisah karenanya.

__ADS_1


"Apa kau tidak sebaiknya menyusul dia El? ini sudah terlalu lama takutnya sesuatu terjadi padanya." ucap Fahmi kemudian yang seakan mengerti tentang kegelisahan yang di rasakan oleh Elbara saat ini.


"Ya kau benar, aku akan menyusulnya sebentar." ucap Elbara kemudian sambil bangkit dan membawa tas kecil milik Akila.


Elbara kemudian melangkahkan kakinya dengan bergegas, menuju ke arah kamar mandi hingga sebuah suara seseorang yang membicarakan tentang musik yang di putar di Resto ini lantas menarik perhatian Elbara.


"Bukankah simfoni ini terdengar enak? apa kau tahu siapa komponisnya?" ucap salah satu pengunjung Resto tersebut.


"Tentu saja, kalau tidak salah ini adalah Simfoni milik Hector Belioz." ucap yang lainnya.


Mendengar pembicaraan tersebut tentu saja membuat Elbara terkejut, Elbara benar benar ingat bahwa Delvano selalu menyiksa Akila dengan memutar Simfoni milik Hector Belioz, namun sayangnya Elbara tidak benar benar tahu atau bahkan mencari tahu seperti apa bunyi alunan nada dari Simfoni tersebut.


"Sialan!" pekik Elbara dengan kesal ketika baru menyadari satu hal yang salah.


Elbara kemudian lantas mempercepat langkah kakinya menuju ke arah kamar mandi dengan langkah kaki yang bergegas. Namun ketika sampai di sana yang Elbara dapatkan malah tulisan "toilet sedang di perbaiki" membuat Elbara langsung berdecak dengan kesal dan berlalu pergi mencari toilet yang lainnya karena mengira bahwa Akila tidak mungkin menggunakan toilet tersebut.


"Tunggu sebentar, di Resto ini hanya ada satu toilet wanita dan satu toilet pria yang di dalamnya terdapat beberapa bilik kamar mandi, jika memang toilet sedang rusak... tidak mungkin semua bilik ikut rusak bukan?" ucap Elbara menghentikan langkah kakinya ketika teringat akan sesuatu hal yang janggal menurutnya.


"Jangan jangan ini hanyalah sebuah trik agar tidak ada orang yang masuk ke dalam toilet." ucap Elbara.


Tanpa pikir panjang lagi, Elbara kemudian lantas langsung melangkahkan kakinya kembali ke arah toilet tersebut dan langsung mencoba untuk membuka toilet tersebut berulang kali karena posisinya yang terkunci dari dalam.


"Tunggu aku sebentar lagi Ki... tunggu aku..." ucap Elbara sambil berusaha membuka pintu kamar mandi tersebut.


Bruk...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2