Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Tidak akan ku biarkan


__ADS_3

"Apa kalian sedang mencari ibu ini?" tanya sebuah suara yang langsung membuat Akila dan juga Elbara dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Ba... bagaimana bisa mama ada bersama mu?" ucap Akila dengan tatapan yang bingung.


Viona yang mendengar pertanyaan dari Akila barusan, lantas hanya membalasnya dengan senyuman yang anggun, seakan akan sengaja menunjukkannya kepada Akila bahwa ia dan juga Akila adalah dua karakter wanita yang berbeda.


"Mama... mama ke mana saja? Akila panik tahu mencari mama sedari tadi?" ucap Akila sambil datang dan menghampiri Lina, namun Lina hanya diam saja tanpa merespon sedikit pun ucapan dari Akila barusan.


"Bu Lina sudah ketemu ya bu? syukurlah..." ucap Dona yang berlarian dari area kolam renang, ketika samar samar melihat sosok Lina di antara Elbara dan juga Akila di sana.


"Iya sus, sebaiknya suster bawa mama kembali ke Apartment ya... nanti saya menyusul." ucap Akila kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Dona.


Dona kemudian lantas menggandeng tangan Lina dan perlahan lahan mengajaknya kembali ke Apartment, menyisakan Elbara, Akila dan juga Viona di sana.


Elbara yang melihat Dona sudah mulai membawa Lina masuk, langsung dengan spontan menarik tangan Viona agar sedikit menjauh dari sana, membuat Akila yang melihat hal tersebut hanya bisa menatap kepergian Elbara dan juga Viona dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Ada apa dengan ku? bukankah mereka pergi hanya untuk berbicara?" ucap Akila dalam hati ketika melihat Elbara menarik tangan Viona menjauh dari dirinya.


***


Elbara kemudian lantas menghempaskan tangan Viona begitu saja setelah di rasa posisinya cukup jauh dari Akila.


Elbara menatap dengan tajam ke arah Viona, namun yang di tatap malah memasang wajah senyum seakan tidak terjadi apa apa.


"Ada apa sih El? bukankah aku baik karena mengantarkan ibu ibu itu pulang kepada anaknya, lalu salah ku di mana?" ucap Viona dengan nada yang santai namun berhasil membuat Elbara tersenyum dengan tipis.

__ADS_1


"Kamu tanya kesalahan mu di mana? apa perlu aku sebutkan satu persatu Vio?" ucap Elbara dengan nada yang dingin.


"Ap... apa maksud mu?" ucap Viona dengan nada yang lirih namun masih bisa di dengar oleh Elbara.


"Aku tahu dengan jelas tentang pemikiran mu itu, cih kamu kira kamu bisa menipu ku? aku tidak sebodoh itu Vio!" ucap Elbara dengan tersenyum sinis membuat Viona langsung terdiam seketika.


"Kamu dan bu Lina itu baru bertemu dan tidak tahu asal usulnya, bukankah agak sedikit aneh ketika kamu tiba tiba datang menghampiri aku dan juga Akila yang dengan kebetulan sedang mencari keberadaan bu Lina, itu saja sudah cukup aneh bukan?" ucap Elbara sambil menatap dalam dalam manik mata Viona.


Viona yang mendengar ucapan Elbara barusan, lantas kembali terdiam sambil menggigit bibir bawahnya karena bingung, karena apa yang di katakan Elbara barusan ada benarnya juga.


"Bodoh, kenapa aku tidak memikirkan kejanggalan itu sebelum melakukannya?" ucap Viona dalam hati.


"Aku... aku tadi tahu karena ibu ibu tadi menceritakannya pada ku... kamu jangan menuduh ku seenaknya!" teriak Viona lagi tak mau kalah.


Sedangkan Elbara yang mendengar jawaban Viona barusan langsung dengan spontan tertawa kemudian detik berikutnya berhenti, membuat Viona kebingungan akan ekspresi yang di tunjukkan oleh Elbara barusan.


"Apapun yang ada di kepala mu itu aku harap kamu bisa menghentikannya, kita sudah berpisah secara baik baik dan aku sudah memberikan padamu apa yang kau minta, jadi tidak ada alasan lagi kau bertemu dengan ku Vio... ingat itu!" ucap Elbara lagi kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Viona seorang diri.


Viona yang melihat respon Elbara tentu saja di buat semakin kesal. Viona menatap kepergian Elbara dengan tatapan yang memanas penuh dengan amarah.


"Aku tidak akan biarkan begitu saja kau bahagia El... selama aku masih ada kamu hanya milik ku seorang." ucap Viona dengan nada penuh penekanan.


***


Sementara itu Akila yang bingung harus kembali atau menunggu Elbara di sana, pada akhirnya memilih untuk duduk di bangku taman menanti kembalinya Elbara.

__ADS_1


Digerak gerakannya kedua kakinya untuk mengusir rasa bosan serta kepo yang kini tengah memenuhi pikirannya.


"Lagi pula apa salahnya jika mereka berdua berbicara? mereka pernah menjadi suami istri bukan? jadi hal tersebut masih dalam kategori yang wajar." ucap Akila dengan nada yang lirih sambil menatap ke arah bawah kakinya dengan kesal.


"Apanya yang wajar?" ucap sebuah suara yang lantas langsung membuat Akila mendongak menatap ke arah sumber suara.


"Elbara? sejak kapan kamu di sana?" tanya Akila dengan raut wajah yang terkejut.


"Sebenarnya cukup lama sih... bahkan aku sempat mendengar gerutuan mu itu..." ucap Elbara sambil memasang wajah yang seakan akan tengah berpikir kemudian mengambil duduk di sebelah Akila.


"Apa kamu mendengar ucapan ku barusan? kamu sungguh sungguh mendengarnya El? jawab aku El... kamu tidak benar benar mendengarnya bukan?" ucap Akila mencoba untuk mencari tahu apakah Elbara tengah membohonginya atau tidak.


"Tenanglah... lagi pula apa yang kamu khawatirkan? bukankah sekarang aku sudah ada di sini, jadi tidak perlu menggerutu lagi seperti itu..." ucap Elbara sambil tersenyum menatap ke arah Akila.


Akila yang di tatap, lantas langsung memalingkan muka nya dengan spontan karena saat ini wajahnya bahkan sudah hampir mirip dengan kepiting rebus. Berada di dekat Elbara benar benar membuat jantung Akila tidak baik baik saja.


"Ayolah Ki.... mengapa kamu malah menatap ke arah sana? apa wajah mu tengah bersemu saat ini? kemari biar ku lihat?" ucap Elbara sambil berusaha untuk melihat wajah Akila.


"Tidak mau!" jawab Akila dengan spontan.


"Ayolah Ki... biar ku lihat..." ucap Elbara lagi dengan nada yang menggoda.


"Hentikan El..." ucap Akila lagi kemudian bangkit berdiri dan berlalu pergi dengan langkah yang bergegas meninggalkan Elbara seorang diri di sana, sedangkan Elbara yang melihat kepergian Akila hanya tersenyum dengan lebar, sambil terus memperhatikan punggung Akila hingga menghilang dari pandangannya.


Elbara yang tidak lagi melihat punggung Akila, kemudian menghela nafasnya dengan panjang secara berulang kali. Ditatapnya suasana langit siang itu dengan tatapan yang menerawang jauh entah ke mana.

__ADS_1


"Aku yakin Viona tidak akan diam begitu saja hanya dengan gertakan kecil seperti tadi? aku harus lebih berhati hati lagi, aku benar benar tidak tahu hal gila apa lagi yang akan di rencanakan oleh Viona kedepannya." ucap Elbara dengan nada yang lirih sambil memijit pelipisnya dengan pelan yang kini terasa berdenyut.


Bersambung


__ADS_2