
Dengan terburu-buru, mereka memasuki halaman rumah sakit. Setelah menanyakan posisi kamar yang ditempati Adrian pada suster jaga, mereka kemudian menuju kamar yang di maksud.
Di depan salah satu kamar, terlihat Lani sedang menangis di sebuah kursi panjang. Dengan ditemani sang bunda, Lani terlihat sedih dengan isakan yang terasa memilukan.
Melihat Iva dan teman-temannya sudah datang membuat Lani tak kuasa menahan tangis. Iva yang melihat kondisi sahabatnya itu, segera memeluknya dan berusaha menenangkannya. "Sabar, Lan, sabar," bujuk Iva sambil mengelus lembut punggung sahabatnya itu.
"Tante, apa yang terjadi pada Adrian?" tanya Raka mencoba cari tahu pada ibunya Lani yang sementara berdiri di sampingnya.
"Tante juga kurang tahu. Katanya, dia tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri. Padahal, dia mau datang menjemput Lani untuk pergi ke acara reuni," jelasnya dengan tangis.
"Lani, Adrian ingin bertemu denganmu." Tiba-tiba saja Tante Annisa membuka pintu kamar dan menyuruh Lani masuk ke kamar. Suami istri itu pun keluar dengan mata yang memerah.
Tanpa menunggu, Lani kemudian masuk ke dalam kamar. Dilihatnya kondisi sang kekasih yang masih terbaring lemah dengan dipasangi jarum di pergelangan tangannya dan beberapa peralatan yang dia sendiri tidak paham fungsinya.
Dengan berjalan perlahan, Lani mendekati tempat tidur dan duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur itu. Dengan air mata yang terus mengalir, Lani menggenggam tangan kekasihnya itu sambil mencium lembut punggung tangannya. Dengan lembut, Lani membelai kepala kekasihnya itu sambil mencium mesra dahinya.
Adrian yang sudah tersadar, mulai menitikkan air mata dan jatuh di sudut matanya. "Maaf," bisiknya pelan.
Lani menggeleng, sambil meletakkan tangan Adrian di pipinya. "Jangan bicara dulu. Aku ada disini, kamu cepat sembuh, ya," ucap Lani lembut dengan air mata yang tak bisa ditahan.
"Jangan menangis," ucap Adrian sambil menggerakan tangannya yang berusaha menghapus air mata di pipi kekasihnya itu.
Lani mengangguk dan cepat-cepat menghapus air matanya. Dia tidak ingin Adrian bertambah sedih karena melihatnya yang terus menangis. "Aku akan menemanimu disini. Aku akan disini sampai kamu sembuh, kita akan pulang dan aku ... " ucapannya terhenti. Lani kemudian menundukkan wajahnya karena berusaha menutupi kesedihannya. Setelah berusaha menahan tangisnya, Lani kemudian memberanikan diri menatap kekasihnya itu. "Kamu harus kuat. Kamu masih ingat, kan dengan semua rencana-rencana kita?" Adrian mengangguk pelan dengan senyum di bibirnya.
"Kita akan wujudkan semua itu. Setelah kamu keluar dari sini, kita akan segera menikah. Aku akan mewujudkan semua impianmu itu. Jadi, aku mohon, kamu harus cepat sembuh," ucap Lani yang tak henti untuk menyemangati Adrian.
__ADS_1
Sementara di luar, Reihan terlihat murung karena mengkhawatirkan kondisi Lani. Melihat Lani yang bersedih dan menangis seperti tadi, perlahan membuat hatinya terasa sakit. Dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, kalau dia masih menyimpan rasa untuk mantan kekasihnya itu.
Terlihat pintu kamar terbuka, Lani kemudian keluar menghampiri teman-temannya. "Terima kasih kalian sudah datang. Aku mohon maaf, karena kalian belum bisa bertemu Adrian. Aku juga belum tahu pasti apa penyakitnya. Karena itu, aku akan menemani dia di sini sampai dia keluar nanti," jelas Lani dengan mata yang mulai sembab.
"Kamu yang kuat, ya. Kami akan selalu mendoakan Adrian agar cepat sembuh. Aku akan sering-sering datang ke sini, aku janji," ucap Iva sambil memeluk sahabat baiknya itu.
"Sudah malam, kasihan anakmu, kalian pulanglah."
Mereka kemudian pamit. Sementara Reihan, perlahan mendekati Lani dan segera memeluknya. "Kamu harus kuat, jaga kesehatan dan aku akan selalu ada untukmu," bisik Reihan yang membuat Lani menangis dan mengangguk pelan.
"Terima kasih," ucapnya sambil menghapus air matanya.
Lani kemudian meminta ibunya untuk segera pulang karena malam ini, dia akan menemani Adrian. "Mama pulang saja. Aku akan menemani Adrian di sini dan besok, Mama tolong bawa beberapa potong baju untukku, karena aku tidak akan pulang. Mama tidak keberatan, kan?"
Ibunya mengangguk pelan. Setelah memeluk anaknya itu, dia pun segera pulang.
"Kenapa, Bapak dan Ibu dari awal tidak membawanya untuk diperiksa?" tanya dokter dengan raut wajah yang sedikit kecewa.
"Maksud dokter apa? Anak kami selama ini baik-baik saja, dia tidak terlihat sedang sakit."
"Apakah, pasien tidak pernah memberitahukan tentang kondisinya pada Bapak dan Ibu?"
Suami istri itu saling memandang. Mereka bingung dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh dokter itu. "Dia sama sekali tidak pernah mengeluh tentang kondisinya. Sebenarnya, anak kami sakit apa, dok?" tanya Annisa yang mulai cemas.
Dokter menarik nafas panjang. "Dia menderita Leukimia atau kanker sumsum tulang belakang stadium empat."
__ADS_1
Sontak saja suami istri itu kaget bukan kepalang. Tanpa sadar, air mata mulai jatuh di pipi Annisa dan tiba-tiba saja dia pun menangis histeris hingga membuat suaminya jadi panik.
"Tidak mungkin, dok. Dokter mungkin salah, tidak mungkin anakku sakit seperti itu," ucap Annisa histeris karena tidak menyangka kalau anak semata wayangnya sedang sekarat.
"Ma, jangan begitu. Adrian akan tambah sedih kalau kamu menangis seperti ini," bujuk suaminya yang mencoba untuk menenangkan istrinya itu. Walau sang suami terlihat tegar, tapi rasa sedih di wajahnya tidak bisa dia tutupi.
"Kita harus bagaimana, Pa. Apa yang harus kita katakan pada Lani?" ucap Annisa dengan tangis yang makin menjadi.
Annisa hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau anak satu-satunya kini sedang bertarung nyawa karena penyakitnya. Dan apa yang akan dia katakan pada Lani kalau ternyata calon suaminya itu tak lama lagi akan meninggal.
"Apa anak saya masih punya kesempatan hidup, dok?" tanya Annisa harap-harap cemas.
Dokter menarik nafas panjang, entah apa arti dari sikap dokter itu. "Kalau tidak ada donor, kesempatan hidupnya mungkin hanya bertahan hingga tiga bulan kedepan," jawab dokter yang langsung saja membuat Annisa seperti tersambar petir. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, darahnya berdesir, wajahnya langsung pucat dan air mata yang jatuh tanpa dia sadari.
Terlintas, dia teringat dengan sikapnya di masa lalu. Di saat Adrian membutuhkannya, dia malah asyik dengan pekerjaannya. Di saat Adrian sendirian, dia malah asyik dengan teman-temannya. Hingga akhirnya, Lani hadir di kehidupan mereka dan membuat dirinya kembali dekat dengan buah hatinya itu. Namun kini, di saat dia sudah merasakan kebahagiaan dengan sang buah hati, Tuhan mengujinya dan ingin mengambil kembali titipannya itu. "Apa ini hukuman buat kita, Pa, karena pernah meninggalkan dia sendirian," ucap Annisa dengan sedih di pelukan suaminya. Sang suami pun tak bisa menahan air matanya. Dia merasa berdosa karena dulu lebih mementingkan pekerjaannya daripada anaknya.
"Kenapa, Pa? Kenapa harus Adrian? Kenapa bukan Mama saja yang sakit? Kenapa anak kita yang harus menderita seperti ini?" Tangis Annisa kian menjadi.
Sementara di dalam kamar, Lani masih duduk di sisi kekasihnya itu. Sang kekasih pun enggan untuk tidur dan memilih menatap wajah gadis itu, karena dia takut, dia tidak akan terbangun lagi dan tidak akan melihat wajah kekasihnya lagi.
"Tidurlah, aku akan di sini. Aku tidak akan ke mana-mana, istirahatlah," ucap Lani lembut sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
Andrian menggeleng pelan, terlihat tangannya bergerak dan ingin menyentuh wajah kekasihnya itu. Lani paham dan meraih tangan kekasihnya itu dan segera saja diletakkan di pipinya. "Kamu suka?" Adrian mengangguk pelan. Lani tersenyum. Diciumnya kembali tangan Adrian dan diletakkan di pipi kirinya sembari membelai rambut Adrian dengan lembut.
"Aku akan selalu menggenggam tanganmu. Aku akan ada di sini. Jadi, aku mohon, tidurlah, ya?" ucap Lani manja hingga membuat Adrian tersenyum dan mengangguk pelan.
__ADS_1
Adrian kemudian tertidur. Sementara Lani masih terjaga. Dengan lembut, Lani membelai dahi kekasihnya itu. Jari lentiknya memainkan jemari Adrian yang sesekali diciumnya hingga akhirnya dia pun tertidur di samping kekasihnya itu.