
Reihan baru saja turun dari mobilnya. Wajahnya terlihat lusuh karena begadang semalaman. Dengan langkah gontai, dia memasuki sebuah rumah bercat minimalis yang terlihat sangat mewah.
"Kenapa jam segini baru pulang? Kamu kemana saja?" tanya ibunya yang sudah berdiri di depannya.
"Biasa, Ma. Reihan baru habis kumpul sama teman-teman," jawabnya sambil membuka pintu kamar.
"Kenapa kamu seperti ini, kapan kamu akan berubah?"
Reihan menghentikan langkahnya. Pintu kamar yang awalnya sudah dibuka, terpaksa ditutup kembali sambil berjalan ke arah sofa dan langsung saja dia duduk bersandar di sofa itu.
Reihan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menarik nafas panjang sambil bersandar di sofa, seakan ada beban berat yang sedang dipikulnya. Perlahan, dia menatap ke arah ibunya. "Reihan tidak ingin berdebat dengan Mama. Tolong Ma, jangan menekan Reihan. Apa belum cukup selama ini Reihan mengikuti semua perintah Mama?"
Ibunya terdiam. Baru kali ini dia melihat anaknya berani berbicara seperti itu kepadanya. "Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Apa Mama salah jika ingin memilih jodoh yang terbaik untukmu?"
"Apa Mama pikir, aku akan bahagia dengan jodoh pilihan Mama? Apa Mama tahu hatiku sakit, Ma. Orang yang aku cintai sudah bersama orang lain," ucapnya dengan wajah yang mulai memerah.
"Lupakan gadis itu, dia tidak pantas buat kamu. Gara-gara kamu yang tidak bisa melupakan dia, akhirnya Mutia memutuskan perjodohan kalian."
Empat tahun lalu, Mutia memutuskan perjodohan mereka karena dia tidak tahan dengan tingkah Reihan yang suka bermain-main dengan para wanita. Dia tahu, semua yang dilakukan Reihan hanya untuk membuat dia sakit hati dan dia tidak mampu membuat Reihan melupakan Lani. Akhirnya, walau terasa berat, Mutia harus memutuskan perjodohan itu.
Bukannya berubah, malah sikap Reihan semakin menjadi. Perawakannya yang tampan, ditambah dengan uang yang melimpah sudah cukup untuk membuat wanita tergila-gila padanya. Hampir setiap malam, dia nongkrong bersama teman-temannya di sebuah diskotik yang terkenal di kota itu.
Walaupun begitu, dia adalah salah satu direktur muda di perusahaan ayahnya. Kontribusinya untuk perusahaan ayahnya sangatlah besar. Dengan pengajaran dan pengalaman yang sudah diajarkan ayahnya, membuat Reihan menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses di negeri ini.
"Sebaiknya kamu siap-siap, besok kita akan kembali ke Indonesia," ucap ayahnya ketika mereka sedang sarapan pagi.
"Tapi Pa, aku masih ingin di sini."
"Tidak perlu, biar kakakmu yang mengurus perusahaan di sini. Kamu kembali ke Indonesia dan bantu Papa urus perusahaan di sana," ucap ayahnya tegas.
Reihan tidak bisa menolak permintaan ayahnya itu. Di dalam rumah, hanya ayahnya yang paling dia hormati, bukan berarti dia tidak menghormati ibunya, tapi setidaknya ayahnya tidak memaksanya menikah dengan wanita manapun. Bukan hanya itu, ayahnya adalah orang yang paling mengerti dirinya. Karena itu, walaupun dia dekat dengan setiap wanita, tapi dia tidak pernah memberi harapan pada wanita-wanita itu apalagi harus menghabiskan malam dengan mereka.
Reihan hanya ingin melupakan masalahnya dengan nongkrong bersama teman-temannya dan sekarang dia akan kembali bertemu dengan sahabat-sahabatnya di Indonesia.
"Selamat datang, Bro," ucap Raka sambil memeluk sahabatnya itu.
"Mana yang lain?"
"Sebentar lagi mereka datang."
Tak lama kemudian, Iva keluar sambil menggendong seorang bayi perempuan cantik dalam pelukannya.
"Ini dia keponakanku yang cantik," ucap Reihan dengan senyum sambil mengambil bayi itu dari gendongan Iva.
"Bagaimana kabarnya?"
__ADS_1
"Baik. Apa kamu datang sama seseorang yang spesial dari Singapura?" tanya Iva menggodanya.
"Kalian kan tahu siapa orang yang spesial di hati aku, jadi mana mungkin aku punya orang spesial yang lain," jawabnya santai.
Suami istri itu hanya bisa saling memandang. Tak lama kemudian, Rendi dan Ian muncul di depan pintu. "Maaf, maaf, kita berdua terlambat."
Selesai berpelukan dengan sahabat-sahabatnya itu, mereka pun bercengkrama dan tertawa gembira. "Wah, kamu pasti punya banyak teman cewek di sana. Bagaimana, apa sudah ada yang menarik hatimu?" tanya Ian hati-hati.
Reihan terdiam. Dengan santai dia menuangkan coca-cola dingin ke gelasnya, kemudian menyeruputnya. "Kenapa? Apa ada cewek yang mau kamu kenalkan padaku?" tanya Reihan balik.
"Ya elah Rei, sejak dia pacaran sama Riana, dia sudah diikat. Dia sudah tidak bisa lagi melirik cewek lain," jawab Rendi dengan sedikit tertawa.
"Tidak begitu juga kali, malah Riana yang tergila-gila padaku. Lah kamu, jangankan punya pacar, teman perempuan saja tidak punya," kata Ian tak mau kalah.
"Aku tidak menyangka Riana bisa luluh sama kamu. Coba kalau dari dulu dia suka sama kamu, aku tidak perlu repot-repot menghadapi keganasannya itu," ucap Reihan yang membuat Ian menggaruk kepalanya.
"Mungkin pesonaku belum terpancar saat itu, makanya dia belum melirikku."
"Pesona apanya, bukannya kamu sempat ingin menghajarnya ketika di kantin dulu?" ucap Rendi mencoba mengungkit masa lalu.
"Itu, kan dulu, tapi sekarang malah aku ingin segera menikahinya," ucap Ian dengan senyum.
Suasana di rumah Raka terlihat ramai dengan celotehan sahabat-sahabatnya. Sudah empat tahun mereka berpisah dan sekarang mereka bagaikan anak sekolahan yang sedang nongkrong di kantin sekolah.
Tiga jam berlalu. Rendi dan Ian sudah pamit karena ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Sementara Reihan, masih duduk di temani oleh Raka. "Sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya Raka pada sahabatnya itu yang tiba-tiba saja membuat ekspresi wajahnya mulai berubah.
"Aku paham, tapi ini sudah enam tahun dan dia juga sudah bahagia. Aku mohon, tinggalkan kebiasaan burukmu itu. Apa dengan menggonta - ganti wanita, hatimu akan tenang?"
"Tenanglah, aku hanya bersenang-senang, tidak lebih."
"Kami hanya ingin melihatmu bahagia, jangan siksa dirimu sendiri. Kapanpun, kamu boleh datang ke rumah kami. Kalau ada masalah, datang saja ke sini, kami berdua akan senang hati membantumu," ucap Raka pada sahabatnya itu.
Reihan tersenyum. Setelah diceramahi suami isteri itu habis-habisan, Reihan pun pamit pulang.
Reihan berbaring di dalam kamarnya. Matanya enggan tertutup. Kebiasaannya yang selalu begadang dan nongkrong dengan teman-temannya saat di Singapura membuat matanya seakan paham kalau sekarang bukan waktunya untuk tidur.
Reihan kemudian bangkit dan duduk di tempat tidurnya. Dilihatnya jam dinding yang tergantung manis di tembok kamarnya. "Sudah jam segini kok mataku tidak bisa diajak tidur," ucapnya sambil mengucek-ngucek matanya sendiri.
Sudah jam tiga pagi, tapi Reihan belum bisa tidur. Walau sebenarnya, tubuhnya lelah, tapi matanya masih kuat terjaga.
"Makanya, jangan suka begadang, ini kan hasilnya," ucap ayahnya yang baru saja turun dari tangga.
Reihan hanya diam mendengar perkataan ayahnya itu. Walau dia tahu ucapan ayahnya itu benar, tapi dia masih saja sering begadang.
"Cepat tidur, besok kamu ke kantor temani Papa," lanjut ayahnya yang sepertinya tidak menyadari kalau Reihan sudah tertidur di atas sofa.
__ADS_1
Pagi mulai menyapa. Sinar matahari yang perlahan masuk dari balik jendela, terasa mulai mengganggu tidurnya. Tidurnya yang nyenyak perlahan terusik dengan omelan ibunya yang perlahan mulai mengganggu telinganya. "Ayo bangun, sudah jam berapa ini. Papa kamu sudah siap dari tadi kamu malah masih asyik tidur di sini," celoteh ibunya hingga membuat dia segera bangkit dan masuk ke kamarnya karena ingin melanjutkan tidurnya kembali.
"Mau kemana, sana ke kamar mandi," ucap ibunya sambil mendorongnya masuk ke kamar mandi dan menggantungkan handuk di bahunya.
"Kalau Mama sudah selesai menyiapkan sarapan dan kamu belum selesai mandi, kamu lihat saja Mama akan menyirammu dengan air seember," ancam ibunya sambil berjalan ke ruang makan.
"Iya Ma, iya," jawab Reihan agak malas dan menutup pintu kamar mandi.
Hari pertama Reihan bekerja di perusahaan ayahnya terasa membosankan baginya. Selain tugas yang menumpuk, tidak ada pemandangan wanita cantik yang bisa membuat dia bersemangat bekerja. Yang ada, hanya wanita-wanita yang sudah menikah.
"Kamu mau tidak Papa kenalkan kamu sama anaknya teman Papa? Anaknya cantik, lho?" ucap ayahnya seakan tahu kegundahan putranya itu.
"Tidak usah, Pa. Aku tidak mau tertipu lagi nanti kalau ketahuan sama mama, aku bakal dijodohkan lagi seperti dulu," ucapnya sambil pergi meninggalkan ruangan kerja ayahnya.
"Mau kemana?"
"Mau kerjalah, Pa."
Hari itu, adalah hari yang membosankan bagi Reihan. Dari balik jendela ruang kerjanya, dia melihat orang-orang berlalu lalang. Hingga matanya tiba-tiba tertuju pada seorang wanita muda yang baru saja turun dari mobilnya. Wanita itu terlihat cantik dan anggun. Di samping wanita itu, sudah berdiri seorang pria yang terlihat tampan dengan setelan jasnya hingga membuat siapapun akan terkagum-kagum melihat mereka.
"Yakin, bisa pergi sendiri?"
"Iya, kamu masuk saja. Tidak enak kalau rekan bisnismu harus menunggumu," kata wanita itu.
Setelah mencium kening wanita itu, pria itu pun masuk ke dalam ruang lobby perusahaan itu yang tak lain adalah perusahaan Reihan.
Matanya masih terus memperhatikan wanita itu. Sudah empat tahun, Reihan tidak melihat wanita itu secara langsung dan kini, wanita itu dilihatnya walau hanya dari jarak jauh.
Tanpa sadar, Reihan tersenyum sambil melihat wanita itu. Jantungnya berdetak cepat. Matanya tak ingin berpindah saat melihat senyum terpancar dari bibir mungil wanita itu. Senyum yang selalu dia ingat. Senyum yang membuatnya tidak bisa melupakannya. Senyum yang membuat dia tidak bisa berpaling pada wanita lain.
"Maaf, Bapak diminta Pak Direktur untuk ke ruangannya sekarang." Tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan kemunculan sekretaris ayahnya dan ketika dia kembali melihat keluar, wanita itu sudah tidak ada.
Reihan hanya mengangguk. Setelah merapikan jasnya, dia kemudian melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Sesampainya di sana, dia terkejut melihat Adrian yang sudah duduk berhadapan dengan ayahnya.
"Ayo, kenapa berdiri di situ. Oh iya, kalian pasti saling kenal, kan? Pak Adrian ini katanya satu sekolah sama kamu."
Perlahan, Reihan melangkah maju dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman. "Apa kabar, sudah lama kita tidak bertemu."
"Kabar baik," jawab Adrian sambil berjabat tangan.
Walau terasa gugup, tapi keduanya berusaha bersikap seperti biasa. Setelah selesai membicarakan urusan bisnis, Adrian pun memohon undur diri.
"Oh, iya, Pak Adrian, saya dengar Anda baru saja bertunangan. Kebetulan, besok malam saya akan mengadakan perayaan ulang tahun pernikahan di rumah. Kalau tidak keberatan, saya harap, Anda bisa datang dengan tunangan Anda."
"Insya Allah, saya usahakan untuk datang dan terima kasih atas undangannya. Kalau begitu, saya pamit dulu, selamat siang," ucapnya sambil meninggalkan ruangan itu dan tak lupa pula dia menyapa Reihan. "Kapan-kapan, kita bertemu lagi, sudah lama kita tidak bertemu. Aku harap, kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik, aku pergi dulu," ucap Adrian dengan santun sambil menjabat tangan dan memeluk Reihan, seakan mereka adalah sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
Baru saja Adrian keluar dari pintu lobby, Lani sudah berdiri menunggunya di depan pintu mobil. Dengan senyum, Lani mendekati Adrian dan menggandeng lengannya dengan mesra. Terlihat senyum kebahagiaan terpancar dari keduanya. Tanpa mereka sadari, Reihan menatap mereka dengan hati yang teriris karena menahan cemburu. Dia menutup kembali tirai jendela dan menahan air mata agar tidak jatuh.
Sungguh, cemburu itu sangat menyiksa. Walaupun kita ingin orang yang kita sayang bahagia, tapi apa mungkin kita akan bahagia jika kebahagiaannya bukan bersama kita?