
Keesokan paginya Anabel pun segera
menyiapkan Bihun bakso goreng sayuran untuk sarapan mereka pagi ini.
Beberapa menit kemudian telah siap dan
segera di hidangkan di meja makan.
"Sudah siap siapnya? yuk makan
ya. Bunda uda bikinin bihun bakso goreng sayuran buat kalian." ucap Anabel
dengan tersenyum kepada Ferdi dan keempat anaknya.
"Humm, enak..jadi gak sabar
makan." ucap Afnan yang selalu memuji masakan bundanya.
"Hehehe bisa aja, yaudah yuk
makan." ucap Anabel dan mereka pun segera memakannya.
Di sela mereka sarapan pagi, Bintang
dan Bulan pun mulai membuka percakapan tentang pembicaraan mereka tadi malam.
"Bunda, Ayah.. Humm Bintang, ada
yang ingin Bintang bicarakan sama Bunda boleh?" tanya Bulan, memulai
percakapan di antara mereka.
Karena Bulan tak tega melihat Bintang
yang terus menunduk dan tak berani bicara sampai sekarang. Terlebih ia sudah
berjanji kepada Bintang akan membantunya.
"Boleh, mau bicara apa? kok Bulan
yang wakilkan bicara? " tanya Anabel yang penasaran.
"Iya, kok Bulan yang wakilkan
bicara? Emang mau bicara apa Bintang?" tanya Ferdi yang juga penasaran.
"Bintang, bicaralah...."
Bulan meminta Bintang untuk memulai bicara.
"Iya Bintang, mau bicara apa?
__ADS_1
bicara saja. Jangan takut, kok sampai harus di wakilkan ke Bulan?" ucap
Anabel yang bingung juga penasaran.
"Iya bicaralah, jangan takut.
Kami tidak akan marah dan akan mendengarkan. Dan jika itu sebuah permintaan
selagi kami bisa wujudkan, akan kami wujudkan. Jadi jangan takut, bicaralah...
" ujar Ferdi dengan tersenyum.
"Bunda, Ayah... Humm Bintang mau
bicara boleh?" tanya Bintang, yang mulai membuka suara .
"Boleh, silahkan mau bicara apa?
tanya Anabel yang penasaran.
"Iya nak bicara apa? silahkan,
kami akan dengarkan..." ucap Ferdi.
"Bunda.... Bintang ingin
mondok." ucapan Bintang sontak membuat semua orang di ruangan tersebut
"Bintang ingin mondok? serius
sayang? kenapa kok tiba tiba Bintang ingin mondok? tanya Anabel yang bingung
"Humm, Bintang merasa gak nyaman
Bunda." ucap Bintang dengan menunduk.
"Gak nyaman kenapa sayang? dan
kenapa menunduk seperti itu?" tanya Anabel kembali.
"Bintang hanya takut, bila
Bintang tak bisa menjaga pergaulan Bintang, hingga pada akhirnya Bintang
terjatuh ke dalam dosa zina dan tak bisa menjaga hati Bintang ini, sebagaimana
seharusnya. Bintang tidak ingin itu terjadi Bun,... Bintang harap bunda dan
ayah paham dan mau mengabulkan permintaan Bintang ini. Sebelumnya Bintang minta
maaf mungkin permintaan Bintang akan membuat bunda juga ayah bingung dan
__ADS_1
pusing. Bintang hanya ingin mempelajari Islam lebih dalam seperti waktu di SD
Bintang... Bintang rindu hafalan, dan kegiatan agama lainnya bukan campur baur
seperti ini bunda dan kata temen temen Bintang, di sana kita akan di ajarkan
mandiri bersama teman teman dan merasakan kekeluargaan bersama mereka. Di sana
Bintang juga bisa belajar agar bisa menjadi guru dan ibu yang baik bagi calon
anak anak Bintang nantinya, di sana Bintang yakin kegiatan ibadah lebih teratur
dan menurut Bintang di pondok tempat belajar yang tepat terutama untuk
mendalami dan mengenal Islam, entah mengapa dengan begitu hati Bintang akan
merasa tenang." ucap Bintang kembali dengan masih menunduk.
"Coba tatap mata bunda dan ayah
bicaranya, kenapa harus menunduk, hem?" permintaan Anabel membuat Bintang
terdiam untuk sesaat.
"Maaf bunda, ayah,
Bintang...Bintang..." ucap Bintang ragu dan takut.
"Gak papa bicara aja ya sama
bunda dan ayah, jangan takut." Anabel memegang tangan Bintang, berusaha
menenangkannya. Sedangkan Ferdi mencoba diam dan menyimak saja pembicaraan
tersebut.
Bintang pun menenangkan dirinya
setelahnya menatap Anabel dan memulai berbicara kembali, mengulang
permintaannya yang barusan ia katakan.
***********
"Hemm kira kira bagaimakah respon
Anabel dan Ferdi ???
Dan apakah mereka akan menyetujuinya
...?
__ADS_1