Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Bersyukur bertemu orang yang tepat


__ADS_3

Keesokan harinya


Akila nampak mulai mengerjapkan matanya secara perlahan, ketika sinar mentari menembus celah celah jendela kaca dan mengenai wajahnya.


Akila melenguh secara perlahan dan mulai membuka matanya. Hening beberapa saat tidak ada yang ia lakukan, hingga kemudian bayangan tentang kejadian semalam mendadak terlintas di benaknya, membuat Akila dengan spontan bangun dari tidurnya karena terkejut.


"Astaga! apa yang sudah aku lakukan?" ucap Akila yang baru tersadar akan kelakuannya semalam yang mungkin akan layak di sebut seorang j**ang.


Satu persatu bayangan tentang bagaimana cara Akila menggoda Elbara, benar benar membuat wajahnya bersemu merah karena malu. Akila bahkan dengan spontan langsung menatap ke arah selimut untuk melihat pakaian apa yang tengah ia gunakan saat ini dan benar saja, pakaian semalam yang ia gunakan sudah berganti baju tidur dengan model piyama bercelana panjang.


"Siapa yang sudah mengganti pakaian ku? ah Akila.... bodohnya dirimu?" pekik Akila pada diri sendiri sambil mengetuk kepalanya berulang kali merutuki kebodohannya.


Akila yang sudah terlanjur malu dengan tingkah lakunya semalam, lantas mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Elbara dan pandangannya terhenti pada nampan berisi makanan yang terletak di atas nakas.


Makanlah sarapan mu, aku akan pergi bekerja sebentar...


Elbara


Melihat tulisan tersebut tepat di sebelah piring makanan, lantas membuat hati Akila sedikit lega setidaknya ia tidak akan bertemu dengan Elbara selama beberapa jam ke depan.


"Untungnya Elbara tidak meladeni ku kemarin, jika saja aku bertemu dengan orang lain pasti aku sudah habis di makan mereka." ucap Akila sambil menggoyangkan pinggulnya untuk mengecek apakah semalam sudah terjadi atau tidak.


Akila sangat bersyukur bahwa apa yang ada di bayangannya sama sekali tidak terjadi semalam, Akila tahu Elbara tidak akan pernah melakukannya kepada dirinya kecuali keduanya sudah benar benar sah.


"Ternyata Elbara benar benar laki laki yang baik, membuat ku semakin jatuh cinta pada dirinya, aku sangat bersyukur bisa di pertemukan dengan sosok laki laki seperti Elbara, walau butuh perjuangan yang keras hingga sampai ke titik ini." ucap Akila pada diri sendiri dengan senyum yang mengembang tak henti hentinya menghiasi wajah cantik Akila.


***

__ADS_1


Sementara itu di salah satu Resto yang terkenal di Ibu kota, Viona terlihat memarkirkan mobilnya di halaman depan kemudian turun dan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam Resto.


Viona yang tengah sibuk menatap ke arah beberapa meja Resto yang berjejer, lantas langsung tersenyum sinis ketika mengenali seseorang yang tidak asing di ingatannya.


"Kebetulan sekali aku bertemu dengannya di sini." ucap Viona dengan tersenyum sinis menatap tepat ke arah sudut meja.


Viona yang sudah tidak sabaran lagi, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana orang itu berada hendak datang dan menyapanya.


"Saya benar benar menantikan kerja sama kita pak, selamat bergabung dalam dunia kerja... saya rasa saya beruntung karena bisa bekerja sama dengan anda." ucap seorang klien sambil menjabat tangan Delvano dengan senyum yang mengembang.


"Terima kasih banyak telah menaruh kepercayaan besar pada perusahaan saya pak." ucap Delvano dengan senyum yang lebar pula.


"Tentu saja, kalau begitu saya permisi dahulu." ucap pria itu lagi.


"Silahkan" ucap Delvano lagi.


Viona yang melihat lawan bicara Delvano pergi, lantas semakin mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah di mana Delvano berada.


"Saya rasa antara saya dan anda sama sekali tidak ada urusan dan saling kenal, jadi saya permisi dulu." ucap Delvano kemudian berlalu pergi meninggalkan Viona di sana.


"Saya merasa kasihan melihat anda yang sekarang, ternyata benar ya? jika seorang wanita sudah mendapatkan yang lebih baik dia akan meninggalkan suaminya dan membuangnya begitu saja." ucap Viona dengan nada menyindir yang langsung menghentikan langkah kaki Delvano dengan spontan.


"Jaga cara bicara mu itu ini tempat umum, apa kau ingin aku membuat keributan di sini?" ucap Delvano dengan nada yang penuh penekanan kepada Viona, namun Viona malah tersenyum ketika mendengarnya, seakan akan ia sengaja melakukan hal tersebut.


"Apa kau masih mencintai istri mu? ah maaf maksud ku mantan istri mu? aku bisa membantu mu untuk kembali bersamanya." ucap Viona dengan nada yang penuh keyakinan bahwa dirinya benar benar bisa membantu Delvano membawa kembali istrinya.


Delvano tersenyum dengan sinis mendengar ucapan dari Viona barusan, dengan langkah yang perlahan Delvano lantas mendekat ke arah Viona dan membisikkannya sesuatu.

__ADS_1


"Aku tidak akan percaya kepadamu, jika kau saja bisa kehilangan Elbara... apa menurut mu aku akan tertarik akan tawaran mu barusan?" ucap Delvano dengan nada yang berbisik kemudian berlalu pergi meninggalkan Viona begitu saja.


Viona yang mendengarkan dengan jelas suara bisikkan tersebut, hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Ia benar benar tidak menyangka bahwa akan di permalukan oleh Delvano melalui kata katanya sendiri.


"Benar benar sialan! dasar pria arogan yang keras kepala... lihat saja aku yakin suatu hari nanti kau sendiri yang akan datang padaku untuk mengajak bekerja sama mengembalikan semuanya pada tempatnya!" ucap Viona sambil menatap tajam ke arah kepergian Delvano, hingga punggung Delvano tidak lagi terlihat pada pandangannya.


***


Hotel Star, Ruangan Elbara.


Terlihat Elbara tengah sibuk membaca satu persatu laporan bulanan tentang pertumbuhan hotel dan juga profit keuntungan hotelnya.


Tidak ada satupun yang luput dari pengawasannya karena Elbara adalah sosok pria yang perfeksionis, sehingga membuatnya selalu ingin mendapatkan segalanya dengan hasil yang sempurna termasuk tentang menjalankan sebuah bisnis di bidang perhotelan ini.


"Apakah tentang perencanaan pembangunan hotel di daerah Jawa Barat sudah kau urus Ar?" tanya Elbara tanpa melihat ke arah Arga karena ia tahu Arga juga tengah sibuk di sofa mempelajari beberapa dokumen kerja sama penting lainnya.


"Sudah tuan, persiapannya sudah hampir 50 persen, jika tidak ada kendala mungkin minggu depan adalah peletakan batu pondasi pertama yang harus anda hadiri secara langsung tuan." ucap Arga memberikan laporan kepada Elbara.


"Apa kau sudah memasukkannya ke dalam agenda ku minggu depan?" tanya Elbara lagi.


"Sudah tuan." ucap Arga lagi.


Ketika Elbara dan juga Arga sedang asyik berdiskusi, suara deringan panggilan dari telpon duduk di meja kerjanya, lantas terdengar menggema memenuhi ruangannya yang langsung menghentikan percakapan keduanya yang tengah membahas tentang bisnis.


"Halo" ucap Elbara setelah mengangkat gagang telpon duduk tersebut.


"Maaf mengganggu pak, di lobi saat ini ada dua orang polisi yang ingin bertemu dengan bapak, apakah perlu saya katakan pada mereka bahwa anda sedang tidak ada di tempat?" ucap bagian resepsionis ketika mendengar suara Elbara di seberang sana.

__ADS_1


"Polisi? ada perlu apa mereka mencari ku?" ucap Elbara dalam hati bertanya tanya.


Bersambung


__ADS_2