Ketika Cinta Harus Memilih

Ketika Cinta Harus Memilih
Baru terpikir


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu


Di kediamannya, Akila terlihat tengah bersiap untuk bertemu dengan seseorang. Akila menatap tubuhnya di cermin yang kini tengah mengenakan sebuah dress dengan motif bunga dan juga jam tangan berwarna keemasan.


Pada masa kuliahnya, Akila adalah seorang penulis blog dengan nama pena Bunga Senja, Akila atif menulis di blog sejak satu tahun belakangan ini. Di dalam blognya biasanya Akila akan membagikan beberapa tajuk bait puisi, cara pembuatan makanan, siaran radionya dan juga kegiatan lainnya yang bisa memberikan informasi kepada para pembacanya.


"Sempurna" ucap Akila sambil tersenyum dengan puas.


Setelah selesai bersiap dan memastikan bahwa semua sudah beres, Akila kemudian lantas melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk berpamitan dengan Lina sebelum kepergiannya.


"Ma Akila pergi dulu ya, mama jangan kemana mana tante sebentar lagi akan datang dan menjaga mama." ucap Akila sambil berjalan keluar dari arah kamarnya.


Akila yang baru saja keluar dari kamarnya, lantas sedikit mengernyit ketika tidak melihat keberadaan Lina di manapun.


"Ma... mama di mana?" teriak Akila kemudian ketika tidak mendapati Lina berada di manapun walau ia sudah mencari hampir ke seluruh sudut rumah.


"Mama tidak mungkin keluar bukan? aduh gawat... jika mama sampai keluar mama pasti tidak akan mengingat jalan untuk pulang ke rumah." ucap Akila dengan raut wajah yang panik.


Akila yang sudah bingung harus berbuat apa, lantas langsung keluar dan mencari ibunya di sekeliling kompleks, hingga tidak sadar telah melupakan janji temunya dengan seseorang saking bingung dan khawatirnya mencari keberadaan ibunya yang tiba tiba saja menghilang.


***


"Apa kau tahu El, akulah Bunga Senja yang asli." ucap Akila yang langsung membuat Elbara terkejut seketika di saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Akila.


"Apa? bagaimana bisa?" ucap Elbara yang terkejut akan ucapan dari Akila barusan.

__ADS_1


"Apa kau tidak percaya padaku? kalau begitu berikan aku ponsel mu." ucap Akila kemudian.


Elbara yang masih terkejut sekaligus tidak percaya lantas memberikan ponselnya begitu saja kepada Akila.


Akila menerima ponsel tersebut dan mulai berkutat dengan ponsel milik Elbara, mencoba untuk masuk ke akun blog miliknya yang sudah hampir 5 tahunan tidak ia buka.


"Lihatlah... aku tidak berbohong bukan?" ucap Akila sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Elbara.


Elbara yang melihat Akila masuk ke akun blog Bunga Senja, lantas menatap tidak percaya dan langsung merebut ponsel miliknya untuk memastikannya secara langsung.


"Kau benar benar Bunga Senja? lalu bagaimana bisa Viona juga mengaku sebagai Bunga Senja?" tanya Elbara dengan menatap bingung ke arah Akila.


"Mana aku tahu, jangan jangan kamu yang salah mengenali seseorang waktu itu." ucap Akila dengan nada yang santai.


"Aku hendak pergi menemui waktu itu, hanya saja ketika aku akan berangkat ke Kafe mama tiba tiba menghilang sebelum tante datang ke rumah untuk menjaga mama. Aku yang terlalu panik berlarian mencari keberadaan mama ke sana ke mari, dan kamu tahu? mama baru di temukan malam harinya di kompleks sebelah oleh seseorang yang mengenal mama dan bersedia mengantar mama pulang. Aku benar benar melupakan janji temu kita, ketika aku melihat ponsel dan tidak melihat kamu kembali mengabari ku aku kira kamu tidak sungguh sungguh dan hanya bermain main, mangkanya aku tidak terlalu mengurusinya walau aku tidak lagi mendapat email dari mu." ucap Akila menjelaskan segalanya.


"Aku.. aku benar benar tidak tahu, waktu itu aku melihat Viona memakai dress motif bunga dan jam tangan warna gold, aku kira itu kamu." ucap Elbara kemudian dengan perasaan yang menyesal karena tindakannya yang salah mengenali orang waktu itu.


"Sudahlah, lagi pula itu sudah berlangsung lama sekali bukan? kita juga sudah bertemu jadi salah atau benarnya itu tidaklah penting." ucap Akila kemudian.


"Tentu berbeda Ki, jika aku tahu kamu tidak datang aku pasti akan kembali berusaha bertemu dengan mu dan aku yakin orang yang aku nikahi bukanlah Viona melainkan dirimu." ucap Elbara sambil menatap ke arah Akila dengan tatapan yang serius membuat Akila langsung terdiam seketika.


"Jika waktu itu aku bertemu dengan Elbara, akankah kisah hidup ku berakhir dengan bahagia? mungkin kah aku akan lebih bahagia dari saat ini?" ucap Akila dalam hati mencoba bertanya akan takdir yang tidak pernah terjadi.


***

__ADS_1


Kediaman Delvano


Sarah terlihat melangkahkan kakinya secara perlahan mendekat ke arah Delvano yang kini tengah duduk dengan termenung menatap ke arah jernihnya air kolam renang keluarga.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sarah dengan nada yang penasaran sambil mengambil duduk di dekat Delvano.


"Tidak ada, harusnya yang bertanya seperti itu aku ma, apa yang mama lakukan di sini? tidakkah mama harusnya pulang dan mengurus perusahaan?" ucap Delvano dengan nada yang menyindir membuat Sarah lantas tersenyum dengan sinis ketika mendengarnya.


"Mama sudah menyiapkan segalanya, setelah resmi bercerai pergilah ke Singapura dan urus bisnis kita yang di sana. Jangan pulang sebelum keadaan di sini menjadi lebih baik atau mendingin." ucap Sarah sambil menyerahkan map berisi beberapa dokumen lengkap beserta tiket pesawat dan yang lainnya di sana.


Delvano yang melihat Sarah menyodorkan sebuah map, lantas hanya melirik sekilas ke arah map tersebut kemudian berdecak dengan kesal.


"Mama mengusir ku?" sindir Delvano dengan nada yang kesal.


"Mama tidak merasa pernah mengatakan hal tersebut, yang mama katakan tinggal dan urus lah perusahaan cabang di sana, di mana letak kata mengusirnya?" ucap Sarah dengan nada yang santai, membuat Delvano lantas menatap dengan tatapan yang kesal ke arah Sarah saat ini.


"Terserah apa kata mama, yang jelas aku tidak bisa jauh dari Akila apapun yang terjadi, walau kami sudah bercerai sekalipun aku akan tetap berada di dekat Akila." ucap Delvano dengan nada yang kekeh seakan menolak dengan keras perintah dari Sarah barusan.


"Kau itu jangan bodoh seperti itu, walau kau sudah bercerai bukan berarti kau tidak bisa rujuk dengan Akila bukan? pikir pakai otak jangan pakai dengkul." ucap Sarah sambil menunjuk ke arah kepalanya ketika mendengar ucapan dari Delvano barusan.


Delvano yang mendengar ucapan dari Sarah, lantas terdiam seketika seakan tengah berpikir dan mencerna ucapan dari Sarah barusan.


"Kenapa diam? baru terpikir sekarang?" ucap Sarah dengan nada yang menyindir, membuat Delvano lagi lagi terdiam ketika mendengarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2