
Kebiasaan Reihan yang selalu keluar malam, masih dia lakukan walau tidak sesering seperti di Singapura, dan itu telah membuat ibunya semakin tertekan hingga membuatnya jatuh sakit. "Pa, aku ingin bertemu dengan Lani. Bisa, kan?" tanya sang istri dengan wajah sendunya.
"Mau apa? Papa khawatir kalau nanti Adrian merasa tidak enak," jawab suaminya yang tentu saja membuatnya merasa kecewa.
Permintaan sang istri tentu saja mengganggu pikirannya, apalagi kondisinya yang semakin buruk dan ditambah lagi istrinya itu tidak ingin dibawa ke rumah sakit.
"Kamu itu, bisa tidak merubah kelakuanmu yang suka keluyuran malam-malam? Bisa tidak pikirkan sedikit saja tentang masa depanmu? Apa kamu pikir, ibumu itu tidak memikirkanmu? Gara-gara rasa bersalahnya padamu dan juga Lani, ibumu sampai jatuh sakit," ucap Fauzi yang memarahi Reihan di pagi buta karena si anak baru saja pulang pagi.
"Dan sekarang, mamamu ingin bertemu dengan Lani, tapi bagaimana mungkin karena dia itu tunangan orang," lanjut Fauzi sedih.
"Papa tahu kamu kecewa karena dulu hubungan kalian ditentang sama mama, dan sekarang mama menyesali itu. Apa kamu tidak mau memaafkan mama?"
Reihan terdiam. Air matanya jatuh mendengar perkataan ayahnya. Sesaat, dia kemudian berdiri menuju kamar ibunya, dilihatnya sang ibu yang sedang tertidur. "Ah, andai saja dulu ibu menerima Lani, mungkin ibu tidak akan sakit seperti ini," pikirnya.
Sementara itu, Fauzi masih memikirkan permintaan sang istri hingga membuatnya tidak fokus di kantor. Tanpa ragu, Fauzi pun menelepon Adrian untuk meminta izin agar Lani bisa datang menjenguk istrinya.
"Tidak masalah, nanti saya akan bicarakan sama Lani. Bapak tidak usah khawatir, Lani pasti akan datang ke rumah Bapak," jawab Adrian yang tentu saja membuat Fauzi menjadi lega.
Dengan ucapan terima kasih yang tidak henti-hentinya karena kesediaan Adrian, membuat Fauzi bisa sedikit berlega hati.
Sementara Adrian, tidak bisa menolak permintaan Fauzi walau dia tahu, Lani pernah ditolak bahkan dihina oleh mereka.
"Yang, kamu punya waktu tidak?" tanya Adrian saat mereka sedang makan siang.
"Aku selalu punya waktu buatmu. Memangnya, kenapa tanya begitu?"
"Begini, tadi Pak Fauzi menelponku. Katanya, istrinya sedang sakit dan istrinya itu ingin bertemu denganmu," jelas Adrian hati-hati.
Untuk sesaat, Lani terdiam. Entah apa yang harus dia katakan. Lani bingung, dia tidak ingin membuat Adrian cemburu bahkan kecewa, tapi dia juga tidak ingin wanita itu sakit karena menunggunya.
"Aku tidak apa-apa, kamu boleh pergi," ucap Adrian yang membuat Lani sedikit kaget.
"Aku tidak akan pergi. Aku tidak ingin membuatmu terluka, mereka itu hanya masa laluku," ucapnya sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.
Adrian tersenyum. Ditatapnya wajah tunangannya itu. Hatinya merasa nyaman, bangga dan juga bahagia karena bisa memiliki seorang kekasih yang baik dan setia seperti Lani. "Percaya padaku, aku tidak apa-apa. Aku tidak masalah, aku percaya padamu. Toh, niat kita hanya untuk menjenguk, tidak lebih," ucap Adrian yang mencoba untuk membujuk kekasihnya itu.
Karena terus dibujuk oleh Adrian, akhirnya Lani mengiyakan.
Sore itu, Lani pergi sendirian dan hanya ditemani sopir pribadi Adrian. Kedatangannya pun disambut dengan ramah.
"Bagaimana keadaannya, Tante?" tanya Lani yang tentu saja membuat wanita itu yang awalnya berbaring, kemudian buru-buru duduk dengan senyum di wajahnya.
"Sudah mendingan, kamu datang sama siapa?" tanya wanita itu sambil menggenggam tangannya.
"Sendirian saja, Tante."
Wajahnya yang semula lesu dan pucat, perlahan terlihat bersemangat. Senyum terpancar dari wajahnya dan tangannya yang terus menggenggam tangan Lani. "Kita bicara di ruang tengah saja," ajaknya sambil berdiri dari tempat tidur dengan semangat, seakan tidak menyadari kalau dirinya sedang sakit.
"Tapi, Tante kan masih sakit."
"Tidak apa-apa, ayo," ucapnya sambil menarik tangan Lani perlahan.
__ADS_1
Fauzi yang melihat sikap istrinya itu hanya bisa tersenyum. Dan, baru saja mereka duduk tiba-tiba Reihan muncul.
"Kebetulan kamu datang. Ayo sini, duduk gabung sama kita," panggil ibunya yang tentu saja membuat dia terkejut.
Ibunya kemudian berdiri dan meraih tangannya dan mendudukkannya bersebelahan dengan Lani. Awalnya, dia menolak, tapi melihat senyuman di wajah ibunya itu membuat dia akhirnya menuruti.
Melihat mereka berdua duduk bersama, membuat ibunya tersenyum dengan air mata yang mulai mengalir. "Mama minta maaf, karena dulu sudah membuat kalian berpisah," ucapnya sambil menghapus air matanya.
"Tante, Lani sudah memaafkan Tante, kok," ucap Lani sambil mendekati wanita itu dan langsung memeluknya.
"Tante berdosa karena sudah memisahkan kalian dan membuat Reihan hidup menderita," ucap wanita itu yang membuat tangisnya semakin menjadi.
Lani yang berusaha tegar, akhirnya ikut menangis. Bukan hanya itu, Reihan dan ayahnya juga turut menitikkan air mata.
"Reihan janji, Ma. Reihan akan turuti apa pun kata Mama," ucap Reihan sambil mendekati ibunya.
Setelah ibunya sudah tenang dan kembali tidur, Lani memutuskan untuk pamit pulang, tapi Reihan buru-buru mencegahnya karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. "Terima kasih, karena kamu sudah datang menjenguk ibuku."
Lani hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. "Jangan lagi kamu membuat ibumu sedih. Apa kamu tidak kasihan dengan ibumu itu?" ucap Lani.
"Aku minta maaf, kalau aku ikut campur, tapi ... " Lani menghentikan ucapannya. Dia tidak ingin terlihat menggurui atau ikut campur dengan kehidupan Reihan, tapi dia harus menepati janjinya pada Tante Riska, walau mungkin saja Reihan akan menolak permintaannya itu.
"Aku tahu kita sekarang hanya sebatas teman dan sebagai seorang teman, apa boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Lani sambil memandangi pemuda itu.
"Katakan saja. Jika aku mampu, aku pasti akan memberikan apa yang kamu minta."
"Tolong, lupakan aku. Jalanilah hidupmu dengan baik, jangan hancurkan hidupmu hanya karena kecewa padaku. Carilah seseorang yang bisa menemanimu disaat susah dan senang. Bantulah aku agar aku tidak hidup dalam rasa bersalah yang membuat aku tidak tenang seumur hidupku. Aku juga ingin melihatmu bahagia," ucap Lani dengan air mata yang perlahan jatuh di pipinya.
Lani mengangguk pelan dengan isakan tangis yang membuat Reihan ingin memeluknya, tapi keinginannya itu segera dia tahan. "Kalau itu yang kamu mau, baiklah. Aku akan turuti apa yang kamu minta, jangan menangis lagi," ucap Reihan dengan tatapan penuh kasih.
"Apa boleh aku memelukmu sebagai seorang teman?" tanya Reihan hati-hati.
Lani mengangguk dan menerima pelukan Reihan dengan tangisan yang membuat Reihan tidak kuasa menitiskan air mata. Dalam hatinya, mungkin ini adalah pelukan terakhir untuk seseorang yang sangat dia sayangi dan ini adalah pelukan perpisahan untuk kisah cintanya yang akan dia kubur di dasar hatinya yang paling dalam.
"Lani pamit pulang, ya, Om. Salam buat Tante, semoga Tante bisa cepat sembuh."
"Terima kasih, Nak."
Sejak saat itu, Reihan sudah tidak lagi keluar malam. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk mengurus perusahaan ayahnya. Hubungannya dengan ibunya juga sudah mulai membaik. Bahkan, dia sudah mulai dekat dengan seorang wanita yang notabene adalah anak sahabat ayahnya.
"Bagaimana hubunganmu sama Diana?" tanya ayahnya saat mereka sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Begitulah, Pa. Aku masih penjajakan dulu. Kalau aku sudah merasa cocok, aku pasti akan beritahu Papa."
*****
"Rei, kamu akan datang kan di acara reunian besok?" tanya Raka melalui telepon.
"Ya iyalah, aku pasti datang. Masa ketua geng di sekolah tidak datang."
"Jangan lupa, ajak pacar kamu juga."
__ADS_1
"Iya, iya, aku ajak, kok."
Halaman parkiran sekolah terlihat ramai dengan mobil dan sepeda motor yang terparkir rapi. Aula sekolah yang dijadikan tempat reuni disulap menjadi ruangan yang terlihat mewah dengan hiasan bunga dan balon yang menggantung di langit-langit aula.
Reihan baru saja datang ditemani seorang wanita cantik yang tak lain adalah anak dari sahabat ayahnya.
"Rei, sini," panggil Raka yang sudah duduk di temani sahabat-sahabatnya itu.
"Jadi, ini pacar kamu?" tanya Ian penasaran.
Reihan tidak menjawab, hanya anggukan kepala sudah cukup membuktikan kalau wanita itu adalah pacarnya. Wanita itu pun diperkenalkan pada sahabat-sahabatnya itu.
"Apa, Lani dan Adrian tidak datang?" tanya Rendi yang baru tersadar kalau sahabatnya itu belum terlihat.
"Katanya sih, mereka mau datang, tapi kok, mereka belum muncul juga," ucap Iva yang juga penasaran.
Karena Rifal tidak bisa datang, maka mereka melakukan video call dengannya. "Bro, bagaimana kabarnya?"
"Baik, sepertinya acaranya boleh juga."
"Kapan kamu pulang? Kita sudah rindu kumpul-kumpul seperti dulu."
"Bulan depan aku akan pulang, tunggu saja."
"Sepertinya, teman kita yang satu ini tambah ganteng saja," ucap Rendi memuji.
"Kenapa, mau aku bawakan cewek Italia buat kamu?"
"Bisa juga, sisakan satu buatku."
"Siap, yang penting kuat iman saja," ucap Rifal yang membuat mereka semua tertawa.
"Salam buat teman-teman, ya. Aku lanjut kerja dulu, nanti aku telepon lagi," ucap Rifal dengan senyum dan lambaian tangan dan dibalas teman-temannya.
Tak lama kemudian, ponsel Iva berbunyi. "Sebentar, Lani menelepon," ucapnya sambil mengangkat panggilan itu.
"Lan, kamu di mana? Kok, belum sampai juga?" tanya Iva.
"Va, Adrian Va," jawab Lani sambil menangis.
"Kamu kenapa menangis, ada apa?" tanya Iva tak kalah panik dan sontak mereka semua menjadi heran.
"Adrian masuk rumah sakit, dia tidak sadar, Va," ucap Lani dengan tangis yang semakin menjadi.
"Ya, sudah. Kita ke rumah sakit sekarang. Tunggu aku, jangan menangis begitu dong," ucap Iva yang semakin panik.
"Ayo, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang," ajak Iva dengan panik dan tentu saja mereka tidak mengerti dengan pembicaraan wanita itu.
"Va, hei, ada apa? Siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Raka sambil memeluknya.
"Adrian, katanya dia sudah tidak sadarkan diri. Ayo, aku harus ketemu Lani, kasihan dia terus-terusan menangis," ucap Iva dengan air mata yang mulai jatuh.
__ADS_1
Sontak saja mereka langsung meninggalkan tempat itu dan segera menuju rumah sakit di mana Adrian sedang dirawat.